
"Masuklah ke dalam perangkapku Tuan Reihan Adam Khan yang tampan!"
- Sintiya El Malik -
Flashback kejadian Sintiya sebelum menemui Reihan...
Setelah bercinta dengan Kevin, Sintiya bangkit dari tidurnya karena suara lapar di perutnya yang bergemuruh. Dia belum sempat makan lantaran harus melayani Kevin dalam bercinta karena rasa cemburunya.
Sintiya berjalan ke meja yang terdapat nampan makanan. Ia duduk di kursi kayu berukuran sedang. Mencomot setiap makanan. Kevin masih senantiasa tidur. Namun beberapa menit ia terbangun karena mendengar suara makan Sintiya yang cukup berisik.
"Hmm sayang kamu lagi apa?" Ujar Kevin seraya mengerjapkan matanya dan menguceknya.
Sintiya menoleh, "Ini lagi makan sayang."
"Oh ya sudah." Kevin bangkit dari kasur dan berjalan tanpa sehelai pakaian. Hal ini sudah biasa Kevin lakukan dan Sintiya sudah terbiasa melihat lekuk tubuh Kevin yang telanjang.
Kevin mengambil bathrobe. Sintiya masih mengamati Kevin.
Ia pun bertanya, "Sayang kamu mau mandi?" Tanya Sintiya
"Iya."
"Tumben banget mandi malam?" Tanya Sintiya yang penasaran dan merasa aneh dengan Kevin.
"Apa kamu mau keluar?" Lanjut Sintiya bertanya. Daripada memendamnya, Sintiya lebih cenderung bertanya untuk memuaskan rasa penasarannya.
Kevin yang sedang mencari sesuatu pun menoleh, "Hmm iya aku mau keluar."
"Keluar kemana?" Tanya Sintiya yang telah mengeluarkan sisi posesifnya.
"Bertemu Brodi bentar. Ada kerjaan, kamu gak usah khawatir dan posesif gitu. Aku tak pergi dengan wanita kok." Balas Kevin memberi penjelasan pada Sintiya.
"Hmm ya sudah.."
Sintiya kembali meneruskan menyantap makanan di nampan. Sedangkan Kevin masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian Sintiya telah menyelesaikan makannya. Ia berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya. Kevin juga keluar dari kamar mandi. Bau harum Kevin setelah mandi tercium oleh Sintiya. Sintiya berjalan ke Kevin dan memeluknya.
"Sayang kau harum sekali. Kenapa sih keluar sama Brodi? Kenapa juga kamu gak ngajak aku hm!? Aku ikut ya?" Ujar Sintiya yang masih bergelayut manja memeluk Kevin. Kevin tetap berjalan meskipun tubuhnya serasa berat karena adanya Sintiya yang bergelayut manja.
Kevin melepaskan tangan Sintiya yang bergelayut manja di pinggangnya. Mendudukkan Sintiya di kasur milik mereka berdua. Lalu ia sedikit menundukkan tubuhnya di depan Sintiya.
"Sayang aku ada kerjaan jadi aku tak bisa mengajakmu. Toh kita dari kemaren sudah bersama bukan? Jadi biarkan aku mencari uang ya? Bukannya kamu mau cepat menikah denganku? Bukankah kamu mau pernikahan yang megah?"
"Jadi aku akan bekerja untuk mewujudkan impianmu itu sayang. Kamu mengerti bukan?" Bujuk Kevin seraya mengecup kening Sintiya. Dan mengecup bibir Sintiya singkat.
Blush!
Wajah Sintiya memerah seketika. Hal itu karena perlakuan Kevin yang sangat manis saat membujuk dirinya.
"Hmm iya sayang baiklah.."
Kevin mengusap-usap kepala Sintiya lembut. Lalu kembali lanjut jalan ke arah kopernya. Mengambil pakaian dan memakainya. Sintiya masih melihatnya dengan jelas.
Sintiya merasa bingung ia harus ngapain hari ini. Ia pun termenung dan terdiam sejenak. Lalu sebuah ide terlintas di pikirannya.
Aku tadi kan sudah mendapatkan nomer tuan Reihan dari Kevin. Apa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengajaknya bertemu?
Aku rasa ya inilah waktunya untukku bertemu dengan tuan Reihan yang tampan itu..
Ya aku harus mulai memancing tuan Reihan untuk menemuiku!
__ADS_1
Agar aku bisa cepat menghancurkan cinta Kirani!
Daripada tak ngapa-ngapain mending melakukan hal ini!
Sintiya mengulurkan tangannya ke arah meja. Mengambil ponselnya di atas meja. Ia sudah mendapati ponselnya di tangannya. Ia pun segera mengetikkan kata demi kata di pesan Whatsyoo nya. Ia fokus mengetik pesan, Kevin bisa melihat jelas kesibukan Sintiya.
Kevin melihat Sintiya yang sibuk ngetik sambil tertawa. Kevin merasa aneh dengan Sintiya, ia pun bertanya pada Sintiya, "Kamu sedang apa sayang? Asyik banget gitu?"
Sintiya mendongakkan kepalanya lalu menyodorkan ponselnya di depan Kevin. Kevin melihat ke arah ponsel yang disodorkan Sintiya kepada dirinya.
"Mengetik pesan? Untuk siapa?" Tanya Kevin curiga dan masih belum paham.
"Untuk Tuan Reihan." Balas Sintiya terkekeh aneh.
"Ngapain kamu kirim pesan ke dia?" Tanya Kevin dengan nada tinggi
"Untuk mengajaknya bertemu sayang." Balas Sintiya yang tak sedikitpun takut.
"Ngapain kamu bertemu Reihan! Kan aku sudah bilang.." Kevin masih belum selesai menyelesaikan ucapannya namun bibirnya sudah ditutup oleh Sintiya dengan tangannya.
"Aku bertemu dengan Tuan Reihan ya karena aku ingin memancing Tuan Reihan. Aku ingin melakukan rencanaku sayang tidak lebih kok. Ya cuma memanas-manasi doang. Daripada aku disini sendirian mending aku keluar melakukan rencanaku itu." Terang Sintiya
"Bukannya menghancurkan cinta Kirani dan tuan Reihan lebih cepat lebih baik hm!?" Tanya balik Sintiya kepada Kevin
Kevin memangut dan merasa setuju dengan hal yang diucapkan Sintiya. Ia pun menjawab, "Hm kamu ada benarnya. Ya sudah kamu boleh pergi. Tapi ingat jangan lama-lama."
Sintiya mendekap Kevin dan memeluknya. Sedikit berjinjit lalu memberikan kecupan di pipi Kevin.
"Iya sayang kamu tenang saja. Kamu juga have fun ya?"
"Hmm iya sayang. Jaga diri." Kevin mengecup kening Sintiya.
"Ya sayang."
Kevin mulai berjalan keluar pintu dari kamarnya. Sintiya hanya melambaikan tangannya. Selepas seperginya Kevin, Sintiya masih sibuk memancing Reihan. Mengirimi gambar dan menelfonnya. Sintiya masih gigih dalam usahanya memancing Reihan.
Setelah usaha yang ia lakukan akhirnya Reihan menerima ajakan bertemunya. Sintiya bersorak gembira.
"Yes akhirnya! Akhirnya tuan Reihan mau! Baiklah aku tak akan menyia-nyiakan waktu lagi!"
"Aku harus bersiap sekarang!" Setelah berujar seperti itu, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Bersiap secepat mungkin. Setelah mandi, ia bergegas mengambil dress-nya. Ia memilih dress merah menyala untuk bertemu dengan Reihan.
"Ya dress merah seksi ini tepat untuk bertemu dengan Tuan Reihan! Akan ku jerat dia dengan pesonaku!"
Sintiya berdandan secepat mungkin. Ia mengoleskan make up yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Lalu ia juga memakai lipstik merah menyala. Membiarkan rambutnya tergerai bebas. Setelah dirasa dirinya cantik. Ia pun mulai mengenakan heelsnya.
Berjalan keluar dari kamarnya. Tak lupa juga membawa ponselnya. Ia mulai berjalan dengan langkah tegak. Ia tak memedulikan pandangan orang-orang yang melihatnya. Ia terus saja berjalan ke arah resort kafe.
Di resort kafe ia bisa melihat jelas tubuh Reihan. Sintiya mengulas senyum.
"Waktunya untuk melakukan rencanamu Sintiya El Malik..."
Ya itulah sekilas kejadian sebelum Sintiya menemui Reihan..
Flashback off..
*****
Sintiya POV
__ADS_1
Setelah ku pesankan minuman dan menaruh obat ke dalam minuman Reihan. Aku pun mulai kembali ke mejanya dengan diikuti oleh seorang pelayan yang ku perintahkan untuk membawa pesananku.
Ku letakkan tanganku di bahu Reihan lalu sedikit menundukkan kepalaku agar bisa dekat di telinganya. Lalu aku berkata pelan di telinganya, "Bagaimana tuan Reihan? Apa kau sudah puas melihat foto kekasihmu itu?"
Reihan menoleh dengan cepat. Matanya menyala tajam. Raut wajah ekspresinya terlihat serius.
"Bisakah kau lepaskan tanganmu dari bahuku!" Perintahnya yang sepertinya tak suka dengan tindakanku.
Ku lepaskan tanganku, "Ah-ah iya baiklah. Kau tak usah marah seperti itu dong. Aku jadi takut." Balasku yang berusaha mendinginkan rasa marahnya.
"Duduklah!" perintahnya kepadaku
"Y-ya baiklah.."
Aku segera duduk di kursi. Reihan masih melihat ke arah ponselku. Lalu ia menyodorkan satu foto Kirani dan Kak Rafael yang berada di kamar tidur dengan tubuh yang tertutupi oleh selimut.
"Bisa kau jelaskan foto ini padaku!?" Tanyanya dengan nada serius.
Aku tersenyum sengit, "Kau mau aku menjelaskan ini tuan Reihan?" Tanyaku yang memancing emosi dan kesabarannya.
"Ya aku mau kau menjelaskan ini padaku cepat!" Tegas Tuan Reihan yang tak sabar lagi.
"Pelayan letakkan minumnya disini." Perintahku pada sang pelayan yang masih berdiri di hadapan kami berdua.
"Baik Nyonya."
Sang pelayan itu melakukan perintahku dan meletakkan minuman di meja kami.
"Kau bisa pergi sekarang." Perintahku lagi pada sang pelayan
"Baik Nyonya.."
Setelah selepas seperginya sang pelayan. Tanganku mengambil gelas yang berwarna biru dan meneguknya.
Saat aku masih sedang minum, Tuan Reihan mendesakku kembali. Mendesak untuk menjelaskan hal yang sebenarnya.
"Cepat jelaskan padaku! Jangan buang waktuku lagi!" Desak tuan Reihan kepada diriku yang sedang fokus minum. Mataku bisa melihat jelas ekspresi tuan Reihan yang sudah tak sabar untuk mendengarkan penjelasanku.
Ku hentikan minumku dan meletakkan kembali gelas di atas meja. Ku tatap wajah Reihan yang sangat tampan saat sedang tak sabar. Wajahnya sangat menggemaskan saat sedang merengut seperti itu. Apalagi saat ia mendesakku seperti seorang anak yang meminta permen ke ibunya.
"Aku haus sekali. Bisakah anda sedikit sabar? Dan biarkan aku minum terlebih dahulu." Balasku santai memberi alasan atas ketidaksabarannya.
"Tak bisa! Aku mau kau menjelaskannya cepat! Atau aku pergi saja!" Ancam tuan Reihan kepada diriku.
Aku hanya terkekeh melihat sikapnya yang sama saja seperti Kevin. Sikap tuan Reihan yang tak sabar seperti seorang anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya.
Ku ambil gelas yang berisi wisky berwarna merah. Ku letakkan di depannya.
"Jika kau mau mendapatkan penjelasan dariku. Kau harus minum ini." Ujarku memerintahkannya.
"Untuk apa?"
"Ya biar kau tak marah padaku. Dinginkan kepalamu dengan minuman lebih baik. Minumlah ini lalu aku akan menjelaskannya kepada anda tuan Reihan yang tampan." Terangku menawarinya.
Tuan Reihan masih tak bergeming. Tak mengambil gelas yang ku sodorkan padanya. Lalu sentuhkan gelas itu ke tangannya.
"So, apa kau mau meminumnya apa tidak tuan Reihan?" Lanjutkan bertanya sekali lagi seraya melihat wajahnya.
Apakah Reihan akan minum dari gelas pemberian Sintiya?
__ADS_1