
"Jika kau merasa lelah datanglah kepadaku tuan Reihan"
- Sintiya El Malik -
"Mr Reihan gerakkan juniormu.. "
Aku, aku tak tau apakah aku harus melakukan ini semua?
Aku hanya bisa terdiam. Tubuhku terasa panas namun pikiranku masih membuatku berpikir. Apakah hal yang ku lakukan saat ini adalah hal yang benar?
Namun sebenarnya aku tak tau mengapa tubuh ini sulit sekali untuk dikendalikan. Pikiran dan tubuhku tak lagi bisa berfikir sinkron. Rasa panas ditubuhku yang menjalar lah yang membuat pikiranku tak bisa berfikir dengan baik. Aku juga sudah terlanjur memasukkan juniorku di dalam liang kenikmatan milik Sintiya.
Entah bagaimana bisa aku bertindak seperti ini?
"Mr Reihan?" Panggil sekali lagi Sintiya pada diriku.
Ku dongakkan wajahku. Menatap kedua manik mata milik Sintiya. Kedua manik mata Sintiya terlihat bergairah. Aku hanya bergeming. Tak menjawab panggilannya atau berucap apapun.
"Kenapa tuan Reihan? Apa kau ragu?" Tanyanya sekali lagi seraya tangannya membelai pipiku. Pipiku serasa semakin panas.
"Aku tak tau apakah hal yang kita lakukan saat ini adalah benar atau tidak. Aku serasa pusing dan panas. Aku juga tak tau hal apa yang ku rasakan pada tubuh ini." Jelasku mengungkapkan semua rasa di benakku. Entah mengapa aku begitu mudah mengungkapkan perasaanku pada orang asing. Padahal selama ini aku selalu menyembunyikannya. Apa semua ini karena rasa panas di tubuhku itu?
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibirku. Ya! Sintiya mengecup bibirku secara tiba-tiba. Aku terkejut melihatnya. Namun entah kenapa hatiku bergetar hebat setelah mendapatkan kecupan dari bibir merah merona Sintiya.
"Kau tak perlu ragu lagi tuan Reihan. Kau selama ini pasti menahan rasa sakit hatimu bukan? Apalagi rasa sakit hati yang kau rasakan karena calon istrimu itu. Mengapa tidak kau nikmati malam panas ini saja? Tak ada hal yang benar dan salah disini." Ujarnya seraya mendekat ke depan telingaku
Tepat di depan telingaku, ia berbisik lirih "Tapi jika kau ingin melupakan semuanya maka nikmati panas ini bersamaku tuan Reihan." Bisiknya dengan suara yang seksi.
"Aku akan memuaskanmu tuan Reihanh." lanjut bisik Sintiya dengan suara yang mendesah.
Tak hanya berbisik, Sintiya juga menggigit telingaku. Gairah di tubuhku semakin menjadi. Semakin naik hingga tak bisa ku tahan lagi. Tapi aku hanya diam saja tanpa menggerakkan tubuhku. Walaupun juniorku telah bersarang di dalam liang wanitanya.
Reihan apa lagi yang kau tunggu?
Nikmati malam panas ini dengan gadis di depanmu!
Tak usah berfikir banyak lagi!
Kau pasti menginginkannya juga bukan!?
Tak usah munafik dan menolak gairahmu itu!
Bermain satu kali apa salahnya?
Toh gak ada yang salah?
Hal ini wajar?
Karena calon istrimu juga bekas bukan?
Kau juga berhak melepas perjakamu meski bukan bersama dengan calon istrimu?
Toh calon istrimu juga sudah melepaskan keperawanannya pada laki-laki lain. Jadi apa salahnya kau melakukan hal yang sama bukan?
Satu pikiranku berfikir untuk melakukannya. Tapi satu pikiran lain lagi menolaknya.
Reihan ingat! Kau laki-laki baik!
Tak seharusnya kau bersikap seperti ini!
Ingat sikap yang diajarkan oleh kedua orang tuamu!
Hargai wanita yang akan menjadi calon istrimu!
__ADS_1
Dan jangan lakukan hubungan intim dengan wanita lain!
Apalagi perempuan yang tak begitu kau kenal!
Kau sama saja sedang dijebak Reihan Adam Khan!
Itulah sisi dari hati nuraniku yang lain. Sisi yang menolak untuk melakukannya. Sedangkan yang lainnya mendebatnya.
Tak usah munafik Reihan!
Ingat calon istrimu itu sudah tak perawan!
Dia sudah rusak!
Jadi hal apa lagi yang kau harapkan dan jaga untuk dia?
Gak ada!
Kau berhak melakukan hal yang sama!
Selama ini juga kau pasti kecewa pada dia bukan?
Bermainlah dan lakukan malam panasmu untuk menghilangkan rasa kecewamu pada dirinya!
Itulah sekilas tentang kedua hati nuraniku yang berbeda. Sintiya semakin membelai pipiku dengan tangannya. Tangannya semakin turun ke dada bidangku. Ia membelainya dengan lembut. Selain itu ia juga menggerakkan pinggulnya. Menggesekkan miliknya dengan juniorku.
Aku yang merasakan pergerakannya tak bisa berfikir tenang lagi. Tubuhku semakin banyak panas dan birahi gairahku semakin bergetar.
Persetan dengan semuanya!
Persetan dengan kebaikan!
Persetan dengan Kirani!
Seperti Kirani melakukannya dengan Rafael!
Aku akan lakukan dengan adik Rafael!
Tak peduli resikonya!
Aku akan puaskan diriku untuk melupakan kepahitan yang ku rasakan!
Ku tarik tekuk kepalanya. Lalu menciumnya secara ganas. Membelit lidahnya dengan sensual. Tak hanya sampai disitu. Tanganku juga bergerak. Bergerak menuju kedua gundukan indah miliknya. Bergerilya dan mencubitnya. Meremasnya secara brutal.
"Kau ingin bermain denganku bukan!?" Tanyaku menekan Sintiya
"Ya, puaskan aku dengan juniormu tuan Reihan ahh." Balas Sintiya disertai melenguh panjang.
"Maka rasakanlah ini!"
Ku masukkan juniorku semakin dalam ke liangnya dan menggenjotnya. Ku gerakkan juniorku secara membabi buta di dalam liang kenikmatan Sintiya. Tanganku juga meremas kedua gundukan indahnya. Sintiya hanya diam saja. Hanya ada suara ******* seksinya yang mengisi ruang kamar.
Posisi kami yang awalnya berdiri pun berpindah ke arah kasur. Ku jatuhkan tubuh Sintiya di atas kasur. Lalu memasukkan kembali juniorku ke liang kenikmatannya. Aku kembali menggenjot miliknya. Pelan dan kasar. Gerakan yang tak jelas. Namun memiliki ritme yang memuaskan. Sintiya juga mengimbangi gerakanku. Naik turun ku gerakkan juniorku bersama milik Sintiya.
Entah berapa kali aku mengeluarkannya di dalam liang kenikmatan milik Sintiya. Kami melakukannya hingga subuh menyingsing. Entah sudah berapa kali ku lakukan hubungan intim ini dengan Sintiya.
"Ini terakhir kalinya aku melakukan pelepasan!" Teriakku seraya menjambak rambut Sintiya.
"Ya give it to me tuan Reihan!" Balas Sintiya yang meminta diriku untuk melakukan pelepasan di dalam liang miliknya lagi.
"Baiklah terima ini!"
Pelepasan terakhir ku keluarkan di dalam liang kenikmatan Sintiya. Setelah itu ku lepaskan juniorku dari miliknya. Tubuhku roboh di samping Sintiya.
Nafasku terangah-engah setelah melakukan pelepasan ini. Sintiya memeluk tubuhku.
__ADS_1
"Aku lelah huh.." Kelulu yang ambruk di samping Sintiya.
"Ya sudah mari kita tidur sejenak tuan Reihan. Terima kasih untuk malam ini." Kata Sintiya berterima kasih padaku.
Entah aku tak tau kenapa Sintiya mengucapkan terima kasih padaku?
Sudahlah hal itu tak penting lagi!
Cup!
Sintiya mengecup pipiku dan menyibak selimut untukku. Rasa kantuk sudah menjalar di mataku. Aku tak bisa merasakan hal apapun selain tidur. Ku terlelap dalam tidurku.
Dan entah hal apa yang terjadi setelah itu?
Flashback off...
Hal itulah yang ku ingat tentang kejadian semalam. Ternyata aku sudah melakukan hubungan intim dengan wanita ini. Wanita yang tak lain adalah adik dari rekan bisnisku.
Oh my lord apa yang ku lakukan! Gerutuku
Ku Jambak rambutku karena merasa sangat kesal sekali. Menggerutu terus menerus.
"Seharusnya kau tak melakukan hal ini Reihan! Apapun kondisimu itu!" Gerutuku berucap sendiri. Merutuki setiap hal yang terjadi pada semalam.
"Kau salah Reihan! Bodoh sekali!" Rutukku yang terus menggerutu.
"Hal yang kau lakukan semalam itu salah Reihan!" Rutukku lagi
"Hoam, kau tak salah tuan Reihan. Hal yang kau lakukan dah benar." Ujar seseorang yang tak lain adalah Sintiya.
Ku liat Sintiya yang menguap dan duduk di sampingku.
"Tak ada salahnya melakukan hal panas seperti semalam. Toh anda juga menikmatinya bukan?" ujar Sintiya berkomentar atas ucapanku.
Ku tautkan kedua alisku. Menatapnya penuh dengan keheranan.
"Berhenti mengatakan hal itu! Dan jangan banyak bicara!" Ucapku ketus dengan nada tinggi. Aku sangat muak mendengar perkataan Sintiya.
"Hmm okey lah, Pagi-pagi kok sudah marah begitu sih tuan Reihan yang tampan ini." balas Sintiya yang masih berusaha menggodaku.
"Minggir!" Usirku terhadap dirinya yang hendak semakin mendekat ke arahku.
Aku berdiri dari kasur tanpa sadar bahwa aku sedang tak memakai pakaian apapun.
"Tubuh anda sangat bagus apalagi permainan semalam nikmat banget. Buat aku puas dan mendesah nikmat." puji Sintiya dengan suara seksi yang menggodaku terus.
Aku merasa muak dan tak suka mendengar pujian itu. Pujian yang ia lontarkan terdengar sangat menjijikkan. Aku memilih untuk mengabaikannya dan berjalan ke bajuku. Memunguti satu persatu bajuku. Dan memakainya satu persatu.
"Anda mau kemana tuan Reihan?" tanya Sintiya
"Balik kamar lah! Kemana lagi coba!" balasku ketus
"Ngapain balik ke kamar anda?" tanya Sintiya sekali lagi yang terlihat sangat penasaran. Menanyakan hal bodoh padaku tentang alasan diriku yang balik ke kamar. Aku tak habis pikir kenapa gadis ini bodoh sekali. Padahal ia memiliki seorang kakak yang sangat hebat. Namun berbeda dengan dirinya.
Ku tajamkan mataku dan menatapnya, "Ya buat apa lagi? urusan kita sudah selesai sampai disini! mengerti kau!" tegasku dengan suara yang kencang dan tak main-main. Aku sudah lelah meladeni gadis ini. Apalagi menjawab pertanyaan bodohnya.
Saat aku hendak menaikkan celana boxerku tiba-tiba Sintiya bergelayut manja di lengan tanganku.
"Sebelum kita berpisah bagaimana kalo kita sarapan bareng?" tawar Sintiya
"Buat apa lagi?" aku sungguh tak mengerti kenapa dia mengajakku sarapan bersama. Sungguh aku sangat lelah meladeni gadis ini.
"Ya aku ingin sarapan bareng dengan tuan Reihan yang tampan." balasnya dengan senyum polosnya.
"Aku gak mau! Pergi aja sendiri!" tolakku pada ajakannya.
__ADS_1