
"Aku tak akan diam saja melihat sakit hati yang kakak rasakan! Jadi aku akan menggunakan caraku untuk membalaskan rasa hati kakak! Dan kakak gak berhak mencegahku!"
- Sintiya El Malik -
"YA KIRANI AKAN MENIKAH DENGAN PRIA LAIN!" Bentak Sintiya di hadapan kakaknya dengan suara yang lantang.
"A-APA?" Rafael ternganga mendengar perkataan adiknya. Bagaimana mungkin Kirani menikah begitu saja?
Sintiya membuka ponselnya lalu menunjukkan foto yang diliatnya di estagramnya tadi di depan wajah Rafael, "LIAT INI KAK! BIAR LEBIH JELAS!"
Rafael melihat foto yang disodorkan oleh adeknya. Tatapannya biasa saja.
"Lalu kenapa sin hal ini dipermasalahkan?" balas Rafael mengentengkan foto yang disodorkan oleh adeknya. Sejujurnya diri Rafael sudah mengetahuinya dari sebelum ditunjukkan oleh adeknya. Rafael merasa hal itu biasa saja. Karena hal ini adalah bagian dari rencana yang dibuatnya. Dan sekarang dia cukup bersikap biasa saja.
Sintiya mengepalkan tangannya karena merasa jengkel dengan balasan ucapan kakaknya. Bukannya menjelaskan, kakaknya malah menjawabnya dengan enteng. Sintiya menarik Hoodie yang dikenakan oleh Rafael lalu menatapnya dengan mata yang menyala akan kemarahan, "KAKAK TANYA KENAPA! KENAPA AKU MEMPERMASALAHKAN!? ITU KARENA HARI INI AKU MELIHAT KIRANI!"
Sintiya melanjutkan teriakannya, "YANG JADI MASALAHNYA ADALAH APA KAKAK SUDAH MENGETAHUI KEBERADAAN KIRANI SETELAH IA HILANG BEGITU SAJA!"
Rafael mengarahkan kedua tangannya ke atas. Mendekat ke bahu adiknya. Rafael menyentuh kedua bahu adeknya, "Kakak belum pernah bertemu Kirani setelah ia menghilang. Lalu jika kau melihat Kirani berarti itu tandanya Kirani sudah ditemukan dan ia baik-baik saja. Syukurlah, lalu apa lagi yang kamu permasalahkan dek?"
Rafael masih berusaha setenang mungkin agar adeknya tak merasa curiga pada dirinya. Rafael terpaksa harus berakting lantaran ia tak mau membagi hal tentang perselisihannya dengan Kevin. Bagaimanapun juga kedua nyawa gadis yang dicintainya berada di tangannya. Kedua nyawa gadis yang dicintainya bergantung padanya dan dirinya tak mau mengatakan kebenaran pada adiknya. Jika Rafael mengatakan bahwa dirinya sudah tau dari dulu maka Kevin bisa berbuat lebih pada Kirani. Dan dirinya harus menyembunyikan hal ini di depan adeknya.
Bukannya merasa tenang, Sintiya masih dibuat kesal oleh jawaban kakaknya. Sintiya menghentakkan kakinya ke lantai. Tatapannya masih menyala dan menajam.
"Oh jadi kakak merasa biasa saja? Itu tandanya kakak sudah tau bukan? Jika kakak sudah tau hal itu berarti itu tandanya kakak menyembunyikannya dariku selama ini? Lalu frustasi yang kakak rasakan kemaren itu apa karena Kirani? Apa karena kakak yang sudah mengetahui hubungan baru Kirani!?" Papar Sintiya menskakmat Rafael dengan satu pertanyaan.
Rafael yang mendengar pertanyaan Sintiya merasa tertegun. Ia tak menyangka jika Sintiya begitu cerdas menganalisis apa yang dirasakan Rafael. Rafael lupa jika dirinya memiliki seorang adek yang peka akan kondisinya dan cerdas dalam melihat ekspresi wajah seseorang. Rafael memalingkan wajahnya dari adeknya. Mencoba menerka-nerka jawaban yang akan ia katakan pada adeknya.
Melihat gelagat kakaknya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya Sintiya kembali berucap, "JAWAB KAK! JANGAN HANYA DIAM SAJA!"
__ADS_1
Rafael kembali mendengar teriakan adeknya. Ia yang awalnya memalingkan wajahnya di depan adeknya kini ia menolehkan wajahnya kembali. Kembali menatap adeknya. Rafael menghela nafas kasar, "Huft! Sintiya hal yang kemaren terjadi kakak rasakan itu bukan karena Kirani. Kakak.."
Belum menyelesaikan ucapannya Sintiya sudah menyelanya terlebih dahulu, "Jika itu bukan karena Kirani lalu karena apa! Aku sudah hapal betul apa yang terjadi pada kakak! Jadi jangan mencoba untuk bohongi aku! Itu semua tak akan mempan kak!" Sela Sintiya yang masih berteriak pada kakaknya.
Sintiya menarik lebih kuat Hoodie kakaknya. Menghujaminya dengan tatapan yang semakin kuat tajamnya.
"Kamu salah paham dek, itu bukan karena Kirani. Sungguh aku bersumpah Sintiya." Balas Rafael yang masih berusaha berakting di depan adek semata wayangnya.
Sintiya membuang nafasnya kasar. Sintiya dibuat semakin kesal pada balasan kakaknya. Sintiya merasa kakaknya sedang berpura-pura tak tau atau berusaha menutupinya? Itulah yang dipikirkan oleh Sintiya.
"Jika itu bukan karena Kirani lalu apa kakak sudah tau tentang hubungan Kirani dengan lelaki itu!" Cecar Sintiya pertanyaan pada kakaknya itu. Sintiya tak lelah untuk mencecar Rafael. Sintiya masih mencari kejujuran dan penjelasan dari mulut Rafael. Sintiya masih menunggu hal itu.
Rafael merasa lelah mendengar adeknya yang terus mencecar dirinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, "Kakak sudah jawab bukan jika kakak tak mengetahuinya. Kenapa kau masih bertanya sih dek? Kau tak percaya pada kakak. Lalu untuk urusan hubungan Kirani dengan laki-laki lain ya sudah biarkan saja. Itu bukan hal yang dipermasalahkan untuk kakak lagi. Mungkin itu sudah jadi takdir kakak jadi ya sudahlah dek."
"Kakak gak merasa sakit hati?" Tanya Sintiya
"Kakak tau gak sih apa yang ku rasakan! Aku merasa sakit hati! Aku merasa tak berguna untuk kakak! Sedangkan kakak memendamnya kesedihan kakak sendiri! Aku kecewa kak pada diriku sendiri yang tak bisa menjadi adek yang berguna untuk kakak!" Sintiya mengeluarkan semua kekecewaan yang ia rasakan pada kakaknya. Air mata luruh dari pelupuk mata Sintiya. Hal itu membuat Rafael merasa sedih. Tarikan Hoodie yang dilakukan oleh Sintiya mengendor seketika.
"Eh sintiya gak.. bukan begitu .. kamu sudah berguna untuk kakak.." timpal Rafael yang berusaha untuk menenangkan tangis adeknya.
"Tidak! Kakak masih saja menyembunyikan semua hal tentang Kirani dariku!" Elak Sintiya
"Lalu untuk apa aku berada di samping kakak jika kakak tak bisa berbagi kesedihan denganku? Apa gunanya kak?" Sintiya melanjutkannya sambil menangis tergugu. Ia tak tau sudah sebanyak apa air matanya mengalir.
Rafael menangkup wajah Sintiya. Mengusap air mata yang luruh dari pelupuk mata Sintiya, "hust dek jangan bilang seperti itu."
"Lalu aku harus bilang bagaimana lagi kak! Aku cape kak melihat kakak yang terus menyimpan masalah kakak sendiri!" Sintiya menepis tangan Rafael dan mendorong tubuh Rafael darinya.
"Aku tau aku tak akan mendapatkan kejujuran dari mulut kakak. Dan aku sadar jika kakak sakit hati selama ini. Jadi sudah aku putuskan.." lanjut Sintiya mengusap air matanya dengan kasar. Menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Melihat gelagat Sintiya yang menyala lagi kemarahannya, Rafael merasa ketar-ketir.
"Apa yang kamu putuskan sin?" Tanya Rafael seraya meneguk air liurnya dari dalam.
"Aku akan membalaskan sakit hati kakak pada Kirani! Aku tak akan membiarkan Kirani untuk bahagia! Dan akan aku pastikan sekecil apapun hal yang terjadi pada Kirani tak akan ada kebahagiaan! Tak akan ku biarkan Kirani bahagia di atas penderitaan kakak!"
"Seujung kuku pun tak akan aku biarkan Kirani hidup tenang dengan kekasih barunya itu! Aku bertekad!" Tekad Sintiya yang sudah bulat.
"Kakak sudah menyembunyikan kebusukan gadis itu maka aku yang akan bertindak!" Tegas Sintiya penuh akan tekadnya.
Setelah mengucapkan hal itu Sintiya pergi begitu saja. Rafael ternganga melihat tekad dari keputusan adeknya. Rafael tak menyangka jika Sintiya bersikap sebaliknya. Bukannya mendapatkan ketenangan Rafael malah semakin dibuat risau oleh keadaanya.
"Argh! Kenapa ini terjadi!"
Rafael tak bisa mencegah tekad adeknya. Lantaran jika Sintiya sudah maka tak akan ada siapapun orang yang bisa menghentikan termasuk Rafael kakaknya sendiri. Namun hal yang harus Rafael lakukan adalah mencegah balas dendam Sintiya pada Kirani. Meski semua sulit namun dirinya harus melakukannya.
Rafael mendial nomer Joshua. Melaukan panggilan telfon, "Jo kamu lacak keberadaan Sintiya sekarang juga dan cepat ikuti dia! Aku akan menyusulmu nanti!"
Rafael mengakhiri panggilan telfonnya dan balik arah. Melangkahkan kakinya keluar rumah. Segera masuk ke dalam mobil sport merahnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Ku mohon Tuhan jangan biarkan mereka berdua bertemu..
Dan ku mohon Tuhan lindungi Kirani serta Sintiya..
Aku tak ingin keduanya mengalami masalah dan hal yang tidak-tidak..
Rafael hanya seorang laki-laki biasa yang hanya mampu berdoa untuk kedua gadis yang ia sayangi. Namun mampukah Rafael mencegah hal yang tidak akan terjadi oleh mereka?
Dapatkah Rafael menemukan Sintiya dan mencegah balas dendam Sintiya?
__ADS_1