
"Aku tak pernah tau masa lalumu namun apakah aku tak berhak untuk mengetahuinya? Padahal aku adalah calon suami Ran.. "
- Reihan Adam Khan -
Reihan Pov
Ku kira liburan yang ku lakukan bersama dengan Kirani akan terasa bahagia. Nyatanya tidak! Ada kerikil kecil yang mengganggu liburanku dengan Kirani.
Ya awalnya memang berlangsung sesuai rencanaku. Mulai dari aku yang melamarnya dan dia yang bersedia untuk menerima lamaranku. Semua memang berhasil sesuai apa yang ku inginkan. Namun kelanjutan rencanaku adalah liburan tenang dengan Kirani. Bukan ketenangan yang bisa ku nikmati namun sebuah gangguan dari seorang gadis dari adik klien rekan kerjaku. Ya, siapa lagi kalo bukan Sintiya El Malik.
Aku, aku tak tau mengapa ia gencar menganggu Kirani. Aku pun tak tau hubungan apa yang dimiliki oleh Sintiya dan Kirani. Aku pun tak tau mengapa Sintiya mengusik liburanku dan Kirani. Ya, semuanya pun aku tak mengetahuinya.
Awal pertemuanku, Kirani dan Sintiya pun sangat aneh. Pertemuan itu kala aku menunggu tuan Rafael rekan bisnisku untuk memberikan sebuah file dariku. Dari situlah aku bertemu dengan Sintiya, adik dari tuan Rafael. Dan waktu itu juga Kirani pun melihat Sintiya dengan tatapan ketakutan. Namun sekarang tidak? Mengapa?
Sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua?
Lalu gangguan itu kembali terjadi saat aku menikmati dinner kami berdua di kafe resort. Sintiya datang ke meja kami. Mengatakan banyak hal, menggodaku dan mencecar Kirani untuk marah. Sintiya pun dengan lancangnya makan tenderloin beef pesanan Kirani. Tak hanya makan, Sintiya pun minum jus milik Kirani. Dan Kirani membiarkan. Tapi mengapa Kirani membiarkannya begitu saja? Itulah yang ada di pikiranku.
Aku dan Kirani sama-sama berusaha untuk mengusir Sintiya namun Sintiya tak segera pergi dari kami berdua. Hingga pada akhirnya Kirani mendorong tubuh Sintiya hingga terjatuh di lantai. Aku shock melihat sikap Kirani yang berani melakukan itu. Kirani tetap berkata dengan tenang tanpa adanya kecaman apapun.
Ya, aku tau jika Kirani adalah sosok yang lembut dan pendiam. Dan baru kali ini aku melihat sisi lain dari Kirani. Ku kira setelah Kirani berusaha mendorong Sintiya, seorang laki-laki muncul di hadapan kami berdua. Menolong Sintiya yang terjatuh. Lalu ia menyalahkan Kirani atas kejadian jatuhnya Sintiya.
Di saat perdebatan antara Kirani dan Laki-laki itu terjadi, Sintiya mendekatiku dan menarik kerah bajuku. Menciumku secara tiba-tiba tanpa ku sadari. Kala itu bibirku yang terkunci sontak terbuka. Sintiya ******* bibirku di hadapan seluruh orang. Aku hanya berdiri kaku. Tak membalas ciuman Sintiya sama sekali.
Lalu Kirani memisahkan tubuh Sintiya dariku. Mendorongnya sekali lagi dengan keras hingga terdengar suara 'Bruk'
Ku liat mata Kirani yang menyala akan kemarahannya. Kirani mengacungkan jari tengahnya di hadapan Sintiya. Kirani pun berkata, "Sekali lagi kau dekati kami maka aku tak akan segan berbuat hal kasar Sintiya El Malik!"
Setelah mengatakan itu Kirani menarik tanganku. Mengajakku keluar dari kafe resort itu. Hal yang ku dengar terakhir di kafe Sintiya berteriak.
"Akan ku pastikan kau tak akan bahagia dengan tuan Reihan! Ingat Kirani aku memiliki kartu As masa lalumu! Jadi bersiaplah!" teriak Sintiya yang ku dengar terakhir kalinya.
Aku tak tau apa yang dimaksud oleh Sintiya. Namun aku yakin jika ada hubungan diantara Sintiya dan Kirani. Namun apakah Kirani sebenarnya mengenal Sintiya?
Aku tak tau hal itu. Aku tak bisa mencerna semuanya. Masih ada banyak hal pertanyaan yang ada di kepalaku.
Ran sebenarnya apa maksud semuanya?
Apakah kau memiliki hubungan dengan Sintiya?
Aku harus mencari tau hal itu..
Aku harus mengetahuinya karena aku adalah calon suamimu Ran...
__ADS_1
******
Kirani terus menarik tanganku hingga sampai di pantai. Kirani masih diam membisu dan tak mengatakan hal apapun. Aku terus memanggil namanya namun ia tak menoleh sedikitpun.
"Sayang berhenti dulu. Aku lelah sekali." ujarku yang sudah terengah-engah.
Kirani menghentikan langkahnya. Melepaskan tarikan tangannya di tanganku. Kirani tak berbalik badan. Ia masih senantiasa memunggungiku. Aku pun berjalan di dekatnya. Berdiri sejajar di hadapannya. Ku tatap wajahnya yang senantiasa menunduk. Ku raih kepalanya dan mendongakkan ke atas agar aku bisa melihatnya.
Kini aku bisa melihat wajah dan ekspresinya yang ditekuk. Ku belai pipinya dengan pelan seraya bertanya, "Kau marah padaku?"
Kirani hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau berkata apapun. Lalu ku ajukan pertanyaan lagi padanya, "Kau kecewa padaku karena aku tak berusaha menghindari ciuman Sintiya?" tanyaku dengan hati-hati. Aku tak mau Kirani merasa tersinggung hingga menyakiti perasaannya.
Kirani menganggukkan kepalanya. Ku rengkuh tubuhnya dari belakang lalu ku katakan maaf padanya, "Maafkan aku sayang. Aku tak bisa menghindarinya. Tapi sungguh aku tak membalas ciuman itu. Karena.. " ujarku yang masih setengah-tengah. Mencoba untuk memancingnya untuk berkata.
Kirani membuka suaranya, "Karena apa?"
Ku dekatkan kepalaku ke arah dekat telinganya. Di depan telinganya, ku tundukkan kepalaku agar bisa membisikkan sesuatu padanya. Setelah dekat baru ku bisikkan sesuatu padanya, "Karena ciuman bibir calon istriku lebih manis ketimbang ciuman gadis bernama Sintiya itu sayang." bisikku menggombalinya.
Setelah ku katakan itu aku yakin jika wajah Kirani kini bersemu merah. Aku kembali menegakkan posisi berdiriku. Melihat wajah Kirani yang memerah. Kirani memalingkan wajahnya dariku karena rasa malunya. Aku bisa melihat itu.
Aku terkekeh, "Ternyata calon istriku bisa malu juga ya kiw kiw." godaku menjawil dagunya.
Kirani menyikut dada bidangku. Ia membalas perkataanku dan mendengus, "Berhenti menggombaliku kak huh!" protesnya
Aku menghentikan langkahku. Kirani pun ikut berhenti. Ku putar posisiku untuk berdiri di belakang Kirani. Ku lingkarkan kedua tanganku di pinggang Kirani. Memeluknya dengan erat. Meletakkan kepalaku di bahu Kirani.
"Sayang kamu tau gak apa yang lebih indah dari senja?" ku ajukan pertanyaan pada Kirani.
"Apa? Emang ada?" Kirani bertanya balik padaku.
"Ada. Kamu bisa jawab gak? Kamu tau gak?" ujarku
"Gak tau aku. Coba katakan padaku apa itu sayang?" Kirani penasaran dengan jawaban pertanyaan yang ku ajukan.
"Yah kok kamu gak mau usaha jawab dulu sih. Coba jawab dulu deh." balasku yang tak ingin memberitahu jawabannya pada Kirani. Aku ingin Kirani menjawabnya terlebih dahulu baru ku katakan jawabanku..
"Laut?"
"Salah."
"Mentari?"
"Salah."
__ADS_1
"Terus apa dong!! Udah ah gak tau aku!" ujar Kirani yang menyerah begitu saja
Aku terkekeh lalu menolehkan wajahku agar bisa melihat mata Kirani. Aku pun berkata, "Kamu mau tau jawabannya?"
Kirani langsung mengangguk cepat. Aku tersenyum melihat respon cepatnya itu.
Aku tersenyum simpul lalu mengatakan jawabannya, "Jawabannya adalah wajahmu saat bercinta denganku." ujarku menggodanya
Langsung saja ku terima sikutan lebih keras dari tangannya. Aku hanya terkekeh geli melihat respon Kirani. Aku bisa melihat jelas seulas senyuman terbit di bibir Kirani. Senyumku pun ikut mengembang.
Aku berjalan mendekatinya. Berdiri sejajar di sampingnya. Setelah sejajar ku raih tangannya. Menggenggamnya erat. Lalu ku peluk tubuh Kirani. Kirani membalas pelukanku. Memang awalnya ia menolak dan merasa malu namun lama kelamaan Kirani membalas pelukanku. Ku dekap erat tubuhnya. Ku sibak lembut anak rambutnya. Lalu ku berikan kecupan di dahinya, pipinya dan bibirnya.
"Aku beruntung sekali memiliki calon istri sepertimu sayang." Ungkapku akan rasa kagum pada diri Kirani. Kirani tersenyum tipis dan menyembunyikan wajahnya di dekapanku.
Aku terkekeh, "Kau lucu sekali sayang kalo lagi malu gitu. Membuatku semakin mencintaimu muwehehe."
"Berhenti menggodaku Kak Reihan!"
Aku tertawa keras. Aku masih terus gencar menggodanya. Semakin malu Kirani membalas godaanku maka semakin lebar ku tertawa. Suasana senja pun menghilang. Matahari berganti menjadi bulan. Ku eratkan pelukanku agar Kirani tak kedinginan.
Sejenak aku masih kepikiran tentang hal tadi. Aku berpikir untuk bertanya padanya. Aku merasa tak nyaman jika terus menyimpan rasa penasaranku itu. Jadi ku putuskan untuk bertanya.
"Sayang bolehkah aku bertanya padamu?" Tanyaku membuka pembicaraan setelah lama kita saling diam.
"Ya tanyakan saja Kak.."
"Jadi aku mau tanya, Apakah kau pernah mengenal Sintiya? Apa maksud dari ucapannya yang menyebutmu mantan calon kakak ipar?"
Ku ajukan pertanyaan yang mengganjal di hatiku. Tak peduli respon apa yang ku dapatkan.
Setelah ku bertanya hal itu, Kirani melepaskan pelukanku. Memundurkan dirinya dariku. Seolah memberi jarak denganku. Kirani menundukkan wajahnya. Menekuk wajahnya dengan ekspresi sedih.
"Jangan pernah tanya tentang hal itu lagi kak!" Katanya tegas padaku.
"Tapi kenapa? Apa aku tak boleh mengetahui hal tentangmu Ran?"
"Aku bilang tidak ya tidak! Bisakah kau paham hal itu kak!" Bentak Kirani pada diriku untuk pertama kalinya.
Aku terkejut melihatnya yang berani membentak diriku. Baru kali ini Kirani membentakku.
Aku semakin yakin jika ada hubungan antara Kirani dan Sintiya. Tapi hubungan apa?
Reihan mulai curiga nih..
__ADS_1
Namun akankah Reihan dapat mengetahui hubungan yang dimiliki oleh Sintiya dan Kirani?