
"Tak akan ku biarkan kau lepas dari genggamanku Kirani! Tak lama lagi kau akan jadi milikku!"
- Kevin Armando -
Sintiya Pov
Kenapa?
Kenapa aku harus hidup seperti ini?
Dan kenapa juga kak Rafael hidup terpuruk seperti ini?
Lebih tepatnya kenapa takdir begitu kejam untuk Kak Rafael?
Jika aku bisa memutar waktu aku hanya ingin hidup Kak Rafael bahagia. Apa aku bersalah selama ini?
Tentu saja aku merasa sangat bersalah. Tapi aku tak tau dimana letak kesalahanku.
Ku rasa mengenalkan Kirani pada Kak Rafael bisa mengubah hidupnya. Tenyata kenyataanya sama. Bahagia hanya sesaat dan lalu terpuruk lagi.
Hari ini adalah hari burukku. Dimana ketika aku baru saja pulang ke rumah, ku liat raut wajah bik asih yang terlihat khawatir.
Aku langsung bertanya kepada Bik Asih, "Bik ada apa? Kenapa bik asih cemas begitu?" tanyaku menegur bik asih.
Bik Asih menoleh, "Itu Non den Rafael kembali lagi.. "
"Kembali lagi apa Bik?" tanyaku yang tak memahami maksud perkataan bik Asih.
"Kembali lagi itu menyakiti dirinya Non. Tadi bibik dengar suara teriakannya. Bibik gak bisa buka kunci kamar den Rafae karena bibik gak punya kuncinya." jelas Bik Asih memberikan penjelasan kepadaku dengan gemetar.
Mendengar penjelasan bik Asih membuatku tercekat. Aku langsung berlari cepat ke kamarku. Membuka bupet kamarku. Mencari kunci cadangan kamar kak Rafael. Setelah selesai ku dapatkan, aku berlari lagi ke kamar Kak Rafael. Di depan kamarnya ku masukkan kunci kamar cadangannya. Memutarnya hingga berhasil ku buka.
Sebelum aku masuk ke dalam, ku berpesan pada Bik Asih, "Bibik siapkan air hangat dan makanan saja di bawah ya? Aku yang akan masuk ke dalam. "
Bik asih mengangguk, "Baik Non."
Lalu bik asih pergi dari hadapanku. Aku segera masuk ke dalam kamar Kak Rafael. Ku liat tubuh kak Rafael yang sedang duduk meringkuk. Dengan tatapan kosong. Memandangi pigora foto Kirani.
Sejenak ku pandangi kak Rafael dari kejauhan. Lalu tiba-tiba ia memukul kepalanya bertubi-tubi. Hatiku terasa sakit melihatnya. Ia juga mengambil vas bunga dan tangannya ingin bergerak ke arah kepalanya.
Aku berteriak memanggil namanya, "Kakak! Cukup hentikan Kak!"
Aku berlari ke arahnya. Memeluk tubuh kak Rafael dan mengambil vas bunga di tangannya. Lalu melemparkannya jauh-jauh darinya.
"Kakak kenapa sih melakukan hal ini lagi! Berhenti melukai diri sendiri bisa gak sih!" teriakku memarahinya atas hal yang ia lakukan. Ku peluk tubuh kak Rafael dengan erat. Berusaha untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan untuknya.Hanya hal itu yang bisa ku lakukan untuk meredakan emosi kemarahannya.
"Kakak gak sayang apa pada diri kakak sendiri?" tanyaku kepadanya seraya mengisak tangis di depannya.
Aku terus memaki hal yang kak Rafael lakukan pada dirinya. Hal itu ku lakukan sebagai bentuk kepedulianku padanya. Bagiku Kak Rafael adalah keluarganya satu-satunya untukku. Aku sudah tak memiliki kedua orang tua. Dan satu-satunya pengganti orang tuaku hanyalah Kak Rafael.
Di hadapanku, Kak Rafael terus merancu kata kematian. Aku marah mendengarnya. Bahkan sangat marah. Lalu ku alihkan topik pembicaraannya tentang kematian itu. Melihat darah yang terus menetes di pelipis kepalanya, Ku pinta padanya untuk mengobati luka tersebut.
Aku mendapatkan penolakan darinya. Kak Rafael memintaku untuk pergi. Aku menolak mentah-mentah permintaannya. Lalu ia berkata tegas padaku. Bahkan tak segan ia mengusirku- Adiknya.
"Aku ingin sendiri Sintiya! Jadi pergilah!"
Kata tegas pengusirannya terdengar sangat menyakitkan. Aku mengiyakan permintaannya dan pergi dari kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan keras. Tak memedulikan hal terjadi padanya.
Setelah kejadian itu, Malamku menjadi sangat mengesalkan karena aku terus memikirkan kondisi kak Rafael. Sepanjang malam juga aku merasa badmood. Ingin rasanya pergi ke kamarnya namun hatiku sangat sakit mendengar kata pengusirannya padaku tadi.
"Sebenarnya ada apa sih dengan kak Rafael arghh!!! Aku gak paham dehhh!!" ucapku berkata sendiri. Berteriak sepuas mungkin di kamarku.
Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamarku. Memikirkan hal yang sebenarnya terjadi pada kak Rafael.
Sebuah ide muncul di kepalaku.
Ah iya hubungi Joshua!
Aku bisa menanyakan hal yang terjadi pada Kakak pada Joshua!
Joshua pasti tau segala hal tentang kakak!
Joshua kan tangan kanan kak Rafael!
Ya aku harus segera menghubungi joshua!
Kenapa gua gak kepikiran dari tadi!
Ku tepuk kepalaku karena aku merasa sangat bodoh sekali tak kepikiran cara ini dari tadi.
Ku ambil ponselku di atas nakas meja. Setelah itu mendial nomer Joshua untuk ku hubungi. Aku berusaha menghubungi Joshua juga. Mencari tau hal yang terjadi pada Kak Rafael. Ku letakkan ponselku di depan telinga. Mendengar sambungan telfon. Sambungan telfon akhirnya tersambung juga setelah cukup lama aku menunggu.
"Halo non selamat malam, Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" ujar Joshua dari sambungan telfon
"Ah iya halo Jo, ada hal yang ingin saya tanyakan padamu Jo." balasku
"Iya non silahkan."
__ADS_1
Aku bersiap untuk bertanya, "Jadi Jo apa yang terjadi pada Kak Rafael sebenarnya? Sampai kak Rafael menyakiti dirinya sendiri lagi."
"Hmm saya tidak tau hal apa yang terjadi pada bos Rafael Non. Lebih baik non tunggu saja." balas Joshua yang tampak terdengar sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
Ku bertanya pada Joshua, ''Bang Joshua tidak sedang menyembunyikannya dariku kan? Ku mohon bang katakan padaku. Aku juga berhak mengetahui hal yang terjadi pada kak Rafael bukan?''
Dari balik telfon Joshua tampak menghela nafas lalu ia mulai menjawab pertanyaanku, ''Bukannya saya tak ingin mengatakannya Non tapi hal ini bukan ranah saya untuk mengatakannya. Karena saya sudah berjanji pada bos Rafael untuk tak memberitahukannya pada Non. Jadi alangkah baiknya Non tunggu saja Bos Rafael mengatakannya pada Non sendiri.''
Sudah ku duga jika Joshua tak akan mengatakannya kepadaku. Hal itu karena ya kebiasaan serta perjanjian dia dengan kak Rafael selama bekerja. Jadi apapun informasi tentang kak Rafael, Joshua tak akan memberitahukanku sebelum memiliki izin dari kak Rafael.
''Huh baiklah Joshua kalo kau tak mau mengatakannya.''
''Maafkan saya ya non. Besok saya akan kesana sepagi mungkin untuk melihat kondisi bos. Non Sintiya jangan khawatir lagi ya. Bos Rafael akan baik-baik saja kok.'' ucap Joshua berusaha untuk menenangkanku
''Ya ya Joshua. terima kasih Jo.''
Setelah itu ku matikan panggilan telfonnya. Aku merasa kesal sekali karena tak mendapatkan informasi apapun tentang kak Rafael. Ku kira aku akan mendapatkan dan nyatanya tidak. Sungguh sia-sia aku menghubungi Joshua.
Ku rebahkan badanku di kasur empukku. Mencoba mengistirahatkan ragaku agar tak terlalu memikirkannya. Bukannya aku bisa tidur dengan tenang, aku semakin saja kepikiran.
"Argh kenapa sih kepikiran terus!" teriakku menggerutu
"Udah gitu Kevin gak ada kabar dari tadi juga! Huh sungguh menyebalkan sekali hariku ini!!" gerutuku kesal mendapati hariku yang sangat menyebalkan.
Saat aku tengah menggerutu, suara dering ponselku berbunyi dengan kencang. Ku ambil dari atas nakas meja dengan malas. Ku liat nama Kevin di layar notifikasiku.
Kevin My Heart Calling..
Mataku seketika berbinar melihat nama Kevin yang menelfonku. Langsung saja ku jawab panggilan telfonnya.
"Halo Darling kamu darimana saja sih!? Aku mencarimu tau gak sih!!'' ucapku mengomelinya
"Halo sayangku Sintiya, Serindu itukah kau padaku honey?" Goda Kevin pada diriku. Bukannya minta maaf Kevin malah menggoda balik padaku.
Ku mendengus kesal, "Lagian sih gak kamu gak kak Rafael sama-sama bikin kesal dan kepikiran huh!"
Kevin menjawab dengan enteng, "Kak Rafael? Emang kenapa kakakmu itu sayang?"
Ku ceritakan semua hal yang terjadi pada Kak Rafael semua tanpa tersisa kepada Kevin. Entah kenapa aku selalu merasa tenang ketika bercerita pada Kevin. Aku telah menganggap Kevin sebagai sandaran keduaku setelah kak Rafael begitu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Dan aku rasa Kevin perlu mengetahui hal yang ku rasakan. Karena bagaimanapun diriku, aku juga memerlukan tempat untuk berkeluh kesah. Dan hanya pada Kevin aku bisa mencurahkan isi hatiku dengan nyaman.
Semandiri apapun diriku, aku juga menginginkan seseorang untuk ada dalam hidupku. Sekuat apapun diriku juga, aku juga bisa rapuh. Karena aku hanyalah manusia biasa, yang tak luput akan rasa letih dan lelah.
Ku ceritakan segala hal pada Kevin dengan terisak air mata. Aku tak tau kenapa air mata ini mudah sekali menetes saat aku bercerita pada Kevin. Mungkin aku sudah nyaman dengan Kevin. Jadi apapun yang ku rasakan, ku bisa bercerita dengan leluasa. Setelah bercerita pada Kevin.
"Sayang aku harus gimana hiks." tanyaku yang masih terisak dalam tangisku
"Sst hus sayang kamu gak boleh ngomong kek gitu ih. Kamu gak salah sayangku." Balas Kevin menenangkanku. Mendengar suara Kevin yang lirih saja sudah membuatku tenang.
"Lalu apa yang harus ku lakukan Kevin!? Aku ingin kak Rafael bahagia dan tak terpuruk lagi. Hanya itu yang ku inginkan sayang." ucapku mengatakan akan keinginanku
"Hmm baiklah kita bicarakan besok ya. Kita fikirkan bareng-bareng. Bagaimana kalo kita bertemu besok? Kamu mau tak? Ya kencan kecil-kecilan gitu sayang." balas Kevin mengajakku untuk bertemu. Lebih tepatnya berkencan.
"Emang besok kamu gak kerja sayang? Bukannya besok kamu masih harus mengurus banyak hal sayang?" tanyaku kepadanya. Aku tau kevin berusaha menghiburku tapi entah kenapa dia tiba-tiba mengajakku berkencan di kala ia sibuk-sibuknya berkerja.
"Apapun untukmu akan ku lakukan honey. Jadi jangan khawatirkan pekerjaanku okey? Yang terpenting kebahagiaanmu sayangku." balas Kevin bisa saja menghiburku.
Aku terkekeh mendengarnya, "Haha iya sayang. Besok kita bertemu. Terima kasih ya sayang sudah mau menghiburku dan memberiku banyak kebahagiaan."
"Itu sudah jadi tugasku ratuku jadi see you tomorrow. Good night babe.. "
"Good night too babe.. "
Tutt..
Sambungan telfon kami berdua pun terputus. Ku letakan ponselku di atas dadaku. Lalu melihat walpaper ponselku yang menampilkan foto diriku dan kevin.
Sayang aku bahagia memilikimu..
Aku tak sabar bertemu denganmu..
Kini rasa resahku berubah menjadi rasa bahagia. Dan semua itu karena seorang Kevin Armando.
Di balik rasa bahagia yang dirasakan Sintiya akan ada sejuta hal yang tersembunyi. Namun hal apakah itu?
******
Di pagi hari..
Sintiya keluar dari kamarnya dengan semangat. Masuk ke ruang make upnya. Berdandan rapi dengan setelan gaun tipis berwarna merah cerah. Memakai high heels lalu mengoleskan make up ke wajahnya. Membuat wajahnya secantik mungkin.
Setelah itu ia menyemprotkan parfum kesukaannya di seluruh tubuhnya. Sebuah aroma harum telah tercium dan Sintiya merasa senang. Setelah itu ia keluar dari ruang make up nya. Mengambil tasnya dan kunci mobilnya.
Sebelum keluar rumah, Sintiya melewati kamar kakaknya. Sintiya mencoba mengintip dari luar akan tetapi ada seseorang yang tiba-tiba muncul dari dalam. Membuka pintu kamar Rafael. Ya, dia adalah Joshua- tangan kanan Rafael.
"Pagi Non.. " sapa Joshua menundukkan wajahnya
"Pagi juga Jo, Jadi gimana keadaan kakak?" tanya Sintiya kepada Joshua akan kondisi kakaknya.
__ADS_1
"Sudah cukup baik non. Bos Rafael hanya butuh istirahat saja." jawab Joshua menjelaskan keadaan Rafael
Sintiya mengangguk-angguk lalu berpamitan kepada Joshua "Oh okey baiklah, Kalo begitu aku pergi dulu ya Jo."
Joshua menghentikan langkah kaki Sintiya, "Sebentar Non.."
Sintiya menoleh ke belakang, "Iya Jo kenapa?"
"Non boleh tak minta tolong? Ini berkaitan dengan bos Rafael." tanya Joshua mengatakannya
"Ya apa itu Jo?"
"Tolong pergi ke kantor bos Rafael. Tolong gantikan bos Rafael untuk bertemu dengan tuan Reihan Adam Khan. Hanya sekedar mewakili dan mengambil berkas filenya saja." ujar Joshua mengatakan permintaannya.
"Oh kalo itu bisa kok Jo." Ujar Sintiya mengiyakan permintaan Joshua.
"Baiklah non, mohon bantuannya ya non."
"Iya jo tenang saja. Aku pergi duluan jo."
Setelah itu Sintiya pergi. Keluar rumah lalu masuk ke dalam mobilnya. Mengendarai mobilnya ke apartemen Kevin. Kali ini Sintiya akan menjemput Kevin terlebih dahulu. Baru ia akan pergi ke kantor Rafael bersama Kevin.
Beberapa menit kemudian mobil Sintiya sampai di depan apartemen Kevin. Sintiya mengetikkan pesan pada Kevin. Menyampaikan pesan bahwa dirinya sudah berada di depan apartemennya.
To : Kevin My Heart
Sayang aku udah sampai di depan apartemen kamu. Keluarlah..
Send..
Setelah mengirim pesan itu Kevin membalas dan mengatakan jika dirinya sedang turun. Lima menit kemudian seorang laki-laki bertubuh atletis memakai baju turtleneck hitam dan setelan jas abu-abu keluar. Ya, dia adalah Kevin. Kekasih Sintiya El-malik.
Sintiya keluar dari mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Kevin. Kevin berjalan mendekati Sintiya. Di depan Sintiya, Kevin memberikan pelukan dan kecupan pada bibir Sintiya.
"Kamu sudah menunggu lama sayang?" tanya Kevin seraya memberikan kecupan di pipi Sintiya.
Sintiya menggelengkan kepalanya seraya menahan rasa gelinya, "Tidak sayang. Sayang bisakah kau hentikan kecupanmu ini? Ini sungguh geli dan aku malu sayang."
"Aku sangat merindukanmu honey jadi biarkan aku menikmati bau wangi leher jenjangmu sayang." tolak Kevin pada permintaan Sintiya
"Tapi sayang kita harus ke kantor kak Rafael dulu kali ini. Dan kita harus kesana secepatnya." ujar Sintiya mencoba melobi hal yang dilakukan Kevin kepadanya
"Ke kantor? Ngapain sayang?" Tanya Kevin penasaran
"Hanya mewakili kak Rafael bertemu klient nya bentar sayang setelah itu kita kencan sepuasnya." Jawab Sintiya menjelaskan pada Kevin
"Oh ya sudah ayo sayang."
Kevin membuka pintu untuk Sintiya. Mempersilahkan Sintiya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Setelah dirasa Sintiya telah masuk, Kevin ikut masuk ke dalam mobil Sintiya. Mengambil bangku pengemudi. Tak lupa Kevin memasang sabuk pengaman untuk Sintiya. Setelah itu ia bertanya kepada Sintiya.
"Kamu siap sayang?" tanya Kevin
"Siap."
Brum.. Brum..
Kevin mengendarai mobil sport milik Sintiya. Melajukan dengan kecepatan penuh. Hanya dalam hitungan 30 menit, Mobil yang Kevin kendarai sampai di kantor Rafael. Sintiya keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam kantor kakaknya. Di sampingnya diikuti Kevin dari belakang.
Sintiya masuk ke dalam lift diikuti Kevin pula. Lalu beberapa menit mereka berdua sampai di depan kantor Rafael. Sintiya baru membuka pintu Ruang Rafael lalu Ia mendapati seorang laki-laki tampan berjas hitan elegan keluar dari dalam.
Sintiya tau jika laki-laki itu adalah Reihan, Klient dari Kakaknya. Sintiya membungkukkan badannya.
"Maafkan saya tuan jika saya telat. " ucap Sintiya
"Kau siapa ya?" tanya Reihan menelisik ke arah Sintiya
"Saya adiknya tuan Rafael. Saya yang akan mewakili kakak saya untuk bertemu anda hari ini tuan Reihan." ujar Sintiya mengarahkan tangannya di depan Reihan. Mengatakan maksud dari tujuannya ia datang ke kantor.
Reihan menjabat tangan Sintiya, "Oh iya senang bertemu denganmu."
Reihan baru saja menjabat tangan Sintiya lalu ada suara yang memanggil nama Reihan.
"Kak Reihan.. "
Sontak Sintiya, Reihan dan Kevin menoleh ke arah suara itu berasal. Ya suara itu datang dari bibir seorang wanita muda nan cantik. Lebih tepatnya seorang wanita bergaun putih. Dan wanita itu adalah Kirani Agista Hanindita.
Sintiya sontak menyebut nama sahabatnya yang telah hilang itu, "Ran.. "
Begitu juga Kevin yang tanpa sadar menyebut nama Kirani, "Kirani.. "
Hal apakah yang akan terjadi setelah ini?
Pertanda apakah ini?
Apakah ini cara semesta memudahkan Kevin?
Nantikan di chapter selanjutnya~®®
__ADS_1