Gairah Cinta Sang Model

Gairah Cinta Sang Model
Bab 37


__ADS_3

"Memang sesulit itukah kau terbuka padaku? Padahal keterbukaan adalah bentuk kepercayaan untuk seorang pasangan"


- Reihan Adam Khan -


Reihan Khan POV


Ku coba dekati dia dengan langkah pelan seraya bertanya padanya, "Kenapa Ran? Apa tak ada hal yang bisa ku ketahui tentangmu? Aku calon suamimu Ran.. " ujarku lirih dengan suara yang menahan kekecewaanku.


Bukannya menjawab, Kirani pergi meninggalkanku. Aku terus mencoba mengejarnya dan memanggil namanya.


"Ran.. Hanin..." Teriakku memanggilnya terus menerus dengan suara keras.


Dia semakin mempercepat larinya. Berhenti pun tidak maupun menoleh sekali saja padaku tidak. Dia terus berlari dan masuk ke dalam resort. Mengabaikan panggilanku yang terus memanggilnya. Dia terus masuk ke dalam resort, berjalan ke arah kamar yang ku pesankan untuknya. Sesampai di kamarnya, Dia masuk lalu menutup pintu dengan keras.


Aku yang mencoba masuk namun aku terlambat. Kirani sudah terlanjur menutup pintu kamarnya terlebih dahulu. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Mengumpat keras dan memukul pintu.


"Ran ku mohon bukalah pintu kamarmu." Teriakku menggedor pintu kamarnya.


Saat aku tengah fokus menggedor pintu kamarnya tiba-tiba ia membuka pintu kamarnya. Aku terjatuh di lantai. Aku buru-buru bangun saat melihat Kirani yang berdiri di depan pintu.


"Sayang kamu jangan marah ya. Aku tanya bukan ada maksud yang tak baik atau menuduhmu. Aku hanya ingin mengetahui hal tentangmu yang tak pernah ku tau sayang Tidak lebih.." ujarku dengan sangat hati-hati. Aku tak mau menyulut pertengkaran lagi.


"Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi sayang. Hanya itu." Lirihku seraya memegang kedua tangannya. Membelai kedua pipinya yang gembul seraya ku pandangi matanya.


Kirani tersenyum tipis, "Semua belum waktunya kak jadi jangan paksa aku untuk terbuka. Kita masih tunangan bukan suami istri beneran. Jadi ku harap kakak tak memaksaku untuk tak terbuka. Aku tak menyukainya." Ujarnya dengan nada datar.


Aku juga ikut tersenyum mendengarnya walau getir rasanya perasaanku. Masih ku usap pipinya dan ku jawab lirih, "Ya sayang baiklah.."


"Ya sudah aku mau istirahat. Kak Reihan kembalilah ke kamar. Selamat malam." Kirani melepas tanganku. Ku mundurkan tubuhku. Setelah itu, Kirani menutup pintu kamarnya.


Aku tersenyum getir. Rasanya pahit dan tercabik-cabik sekali perasaanku ini. Entah mengapa hatiku terasa perih sekali melihat wanitaku yang masih enggan membuka dirinya.


Aku menunduk kecewa. Merasakan semuanya semakin membuatku semakin sakit.


"Ran apakah aku masih tak pantas untuk mengenalmu lebih dalam lagi?" ucapku lirih


"Sampai kapan?"


"Huft Reihan ingat ini baru awal dari permulaan hubunganmu dengan Kirani. Jadi jangan terlalu memaksanya. Buatlah dia nyaman denganmu, dia pasti akan terbuka dengan sendirinya."


"Tak perlu kau paksakan secara berlebihan.. "


"Tinggal nunggu waktu ya okey?"


Aku bermonolog pada diriku sendiri untuk menyakinkan diriku agar tak terlalu kecewa. Aku tau langkah hubunganku dengan Kirani masih cukup jauh. Jadi biarkan semuanya berjalan dan mengalir sebagaimana arusnya. Biarkan arus itu tenang agar tak menjadi air yang keruh. Karena jika kekeruhan air terjadi maka ekosistem dalam sungai akan hancur.


Dan aku tak mau hubunganku dengan Kirani hancur begitu saja. Sudah sulit sekali ku dapatkan dirinya. Aku tak mau perjuanganku berakhir sia-sia.

__ADS_1


Ku balik badan dan berjalan ke pintu kamarku. Ku buka pintu kamarku dan masuk.


Reihan Pov End..


Di sisi lain, ada seseorang yang tengah mengamati mereka berdua. Seseorang itu adalah seorang gadis yang tak lain adalah Sintiya El Malik.


Dia telah berdiri di belakang dinding sedari tadi pertengkaran Reihan dan Kirani terjadi. Dia tersenyum menyeringai setelah Reihan masuk ke dalam kamarnya.


Adapun asal mula alasan Sintiya bisa berada di sekitar kamar Reihan dan Kirani. Semua berawal dari..


Flashback..


Setelah Sintiya mengatakan ide gilanya pada kekasihnya Kevin, ia mendapatkan respon yang buruk.


Kevin melotot dan memaki dirinya dengan nada tinggi.


"APA KAU GILA SINTIYA EL MALIK?" bentak Kevin di depan wajah Sintiya. Wajar saja Kevin membentaknya karena ide gila yang dikatakan Sintiya.


"Tidak, Aku masih waras kok sayang." elak Sintiya tanpa merasa takut pada Kevin.


"Waras darimananya? Itu buktinya ide gila kamu itulah wujud dari ketidakwarasanmu Sintiya El Malik!" bentak Kevin lagi. Masih dengan mata yang melotot.


Sintiya merangkul bahu Kevin dengan membelainya, "Sayang itu bukan ketidakwarasanku. Tapi itu ide brilliant yang ku miliki. Ide yang bisa membuat rencana kita semakin lancar. Dalam sekali tembak doar Kirani akan sakit hati."


Kevin meremas kedua bahu Sintiya dengan keras hingga membuat Sintiya merasa kesakitan. Mata Kevin masih melotot karena emosinya yang naik.


"Lalu kenapa jika berkuasa? Itu justru bagus dong untuk dijadikan alat buat balas dendamku pada Kirani. Apa salahnya sih sayang!?" Sintiya masih mendebat ucapan Kevin. Sintiya masih polos dan tak mengetahui banyak hal. Dia masih ngotot untuk bertanya pada Kevin.


Kevin merasa frustasi dalam memperingati Sintiya. Ia menjambak rambutnya dan mengusap wajahnya secara kasar. Lalu mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Sintiya, "Itu salah Sintiya El Malik! Bukalah matamu itu!" balas Kevin atas pertanyaan polos Sintiya.


"Kau yang harusnya membuka matamu Kevin! Ingat ini kesempatan besar untuk kita. Kita bisa manfaatin Reihan terus langsung boom meledakkan hati Kirani hingga pecah berkeping-keping." Sintiya masih keras kepala mengelak ucapan Kevin. Kevin hanya diam saja. Tak menjawab ucapan Sintiya.


"Kau pikir aku tak mau berkorban demi kak Rafael? Aku bersedia berkorban untuk kak Rafael sayang. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk balas dendam pada Kirani. Tak ada cara lain lagi sayang. Jadi cobalah mengerti tentang hal itu sayang." Sintiya membujuk Kevin untuk menyetujui ide yang ia berikan padanya.


Kevin menatap mata Sintiya dengan dingin lalu mengalihkan pandangannya, "Jika itu sudah menjadi keputusanmu terserahmu! Aku tak peduli lagi!" ujar Kevin setelah itu pergi begitu saja dari hadapan Sintiya.


Kevin keluar dari kamar Sintiya dalam kondisi marah. Sintiya menurunkan badannya di sofa. Mengusap wajahnya dengan pelan. Memijat kepalanya yang terasa pusing karena perdebatan yang ia lakukan dengan Kevin.


"Huft aku biarkan Kevin menenangkan diri saja dulu. Toh nanti kalo tenang dia akan kembali ke kamar lagi." monolog Sintiya di dalam kamar sendirian.


Seketika rasa kantuk mulai menjalar di mata Sintiya. Dinginnya ac membuat Sintiya meringkuk dan mengambil selimut. Sintiya merebahkan tubuhnya di sofa dengan menutup tubuhnya dengan selimut.


Dalam mata yang mulai remang-remanh Sintiya menunggu Kevin kembali.


"Lebih baik aku tidur sebentar. kevin pasti membangunkanku saat makan malam nanti. Hoam.. " ujar Sintiya menguap dengan lebar.


Beberapa menit kemudian Sintiya terlelap tidur hingga setengah berlalu. Setengah jam berlalu Sintiya terbangun. Ia membuka matanya. Melihat ke sekeliling kamarnya. Ia pun menyibak selimutnya dan bangkit dari posisi tidurnya. Berjalan mengelilingi kamarnya. Membuka pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang?" panggil Sintiya pada Kevin namun tak menemukan sahutan suara sama sekali.


"Kevin kamu kemana? Kevin?" panggil Sintiya sekali lagi pada Kevin. Sintiya masih tak menemukan Kevin kekasihnya di kamarnya.


Sebuah perasaan cemas dan khawatir berkelibat di kepalanya.


Kevin kemana?


Apa dia pulang ke apartemennya?


Kenapa dia tak menghubungiku juga?


Jangan-jangan aku ditinggalkan?


Tidak! Sintiya kau tak boleh cemas!


Coba hubungi ponsel Kevin dulu!


Sintiya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya dari dalam. Setelah menemukan Sintiya memencet layar dan mencari nomer Kevin. Sintiya berusaha untuk menghubungi Kevin. Namun Kevin tak menjawab panggilan telfonnya. Tak ada jawaban sama sekali. Sintiya mengetik pesan pada Kevin dengan jumlah banyak. Namun hal yang diliatnya pesan yang Sintiya kirim ke whatyoo nya kevin hanya ceklis satu.


Sintiya semakin dibuat khawatir.


"Jika Kevin benar-benar meninggalkanku maka aku harus memastikannya! Aku harus keluar resort! Siapa tau Kevin disana atau di pantai! Ya!" pikir Sintiya dalam monolognya sendiri.


Sintiya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Berjalan untuk mencari sosok Kevin. Namun saat ia baru saja keluar dari lift, dirinya melihat dan mendengar sosok yang dikenalnya. Sintiya melihat perawakan sosok pria yang dikenalnya. Selain itu ia mendengar suara wanita yang ia kenali. Sintiya pun berjalan ke arah sumber suara. Dia berhenti di dinding. Bersembunyi di balik dinding.


Lalu ia melihat sekilas sosok Reihan dan Kirani. Ia pun mendengar suara Kirani yang tampak marah. Ya dari situlah awal mula Sintiya bisa berada di tempat Reihan dan Kirani berada.


Sintiya masih terus mendengar pertengkaran mereka berdua. Sintiya juga bisa melihat raut wajah kecewa Reihan. Sintiya melihat hingga Reihan kembali ke kamarnya karena diusir oleh Kirani. Sintiya tersenyum menyeringai puas setelah menyaksikan kejadian tersebut.


"Hoho sepertinya ini momen yang tepat untuk masuk ke dalam kehidupan Reihan. Momen yang tepat untuk diriku meracuni Reihan dan menggodanya!" monolog Sintiya di balik dinding.


"Ya besok akan ku pastikan Reihan untuk ku racuni. Namun sebelum itu aku harus mencari Kevin dulu! Agar Kevin mau membantuku!"


"Hanya Kevin yang bisa membantuku untuk balas dendam atas rasa sakit hati kak Rafael!"


"Sekarang ayo cari Kevin dulu!"


Sintiya telah menemukan jalan dari akal liciknya dan ide gilanya. Dia sudah menemukan kesempatan dan dirinya tinggal melakukannya. Saat ini hal yang ia perlukan hanyalah bantuan dari Kevin agar rencananya bisa berlangsung lancar. Oleh karena itu ia bergegas pergi untuk mencari Kevin berada.


Lalu dapatkah Sintiya melakukan rencananya ?


Akankah Kevin mau membantu Sintiya melakukan rencananya?


Rencana apa yang akan Sintiya lakukan untuk Reihan?


Nantikan di chapter selanjutnya~^^

__ADS_1


__ADS_2