
Di malam gelap dan hanya diterangi oleh cahaya bulan berpendar. Tampak sebuah mobil sedang melintas di jalan besar diantara mobil-mobil yang kini sudah cukup ramai membelah jalanan kota tersebut.
Mobil sedan tersebut terlihat baru saja meninggalkan sebuah gedung hotel bintang tujuh yang memiliki penampakan dari arah depan yang tampak mewah dan elegan. Sudah bisa dipastikan kalau hotel tersebut hanya bisa disewa oleh kalangan-kalangan tertentu saja.
Di dalam mobil yang baru saja meninggalkan halaman gedung hotel tersebut terdapat seorang laki-laki yang tengah fokus mengemudi dengan seorang wanita yang duduk di samping kiri bagian depan. Wanita itu terlihat tengah duduk sambil menoleh ke arah jalanan samping kiri dari tempatnya duduk.
Tidak ada percakapan diantara keduanya. Justru yang ada malah rasa canggung yang di dalam ruangan sempit dalam mobil sedan tersebut.
Mereka adalah Reihan dan Kirani. Pasangan kekasih yang tengah viral di jagad media sosial, sebab Kirani yang merupakan seorang model yang cukup terkenal.
Sementara Reihan sendiri adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di bidangnya. Dia pun cukup dikenal oleh beberapa orang, namun Ditambah namanya mulai naik akhir-akhir ini semenjak dikabarkan dekat dengan Kirani dan memproklamirkan diri sebagai kekasih Kirani.
Reihan yang tengah fokus mengemudi sekali-sekali melirik ke arah Kirani yang terus saja terdiam sambil menatap ke arah jalanan di samping kirinya.
Beberapa saat yang lalu mereka baru saja menghadiri sebuah pesta resepsi pernikahan salah satu model yang berada di bawah naungan agensi yang sama dengan Kirani. Tentu saja yang mendapatkan undangan adalah Kirani. Hanya saja Kirani membawa serta Reihan ke acara resepsi pernikahan itu sekaligus untuk mengenalkan Reihan sebagai kekasihnya.
Tamu yang hadir di sana cukup banyak dan bukan hanya dari kalangan model dan juga artis yang hadir di resepsi pernikahan tersebut, melainkan banyak juga dari kalangan para pengusaha yang menjadi kenalan Reihan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Reihan memecah keheningan setelah cukup lama tidak ada percakapan di antara dirinya dengan Kirani.
Kirani yang sejatinya tengah memikirkan pertemuannya dengan Sintiya El Malik yang tak lain adalah adik dari Rafael El Malik, seketika bereaksi dengan menolehkan kepalanya ke arah Reihan secara perlahan.
“Aku … Aku baik-baik saja,” jawab Kirani sedikit terbata-bata.
“Kalau kamu baik-baik saja, lalu kenapa kamu diam saja? Sikap diammu ini membuatku khawatir, Sayang,” Reihan kembali hanya melirik sekilas saja.
“Aku hanya sedang ingin diam saja. Tidak lebih dari itu,” jawab Kirani sambil tersenyum tipis.
“Sepertinya suasana hatimu sedang cukup buruk setelah kejadian tadi. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" Reihan tampak melemparkan tatapan ke arah Kirani sesekali sebab dirinya yang sedang mengemudi.
“Pergi kemana malam-malam begini?” tanya Kirani dengan kening yang mengenyit. Bukannya menjawab pertanyaan Reihan, Kirani malah melemparkan pertanyaan lainnya.
“Kamu jawab dulu, mau gak pergi ke suatu tempat bersamaku?” Nyatanya Reihan pun tetap mempertahankan untuk tidak menjawab dulu pertanyaan Kirani. Sama seperti Kirani yang juga belum menjawab pertanyaan darinya.
“Ya sudah, kalau gitu aku mau ikut denganmu. Sekarang giliranmu yang menjawab pertanyaanku. Kita mau jalan-jalan ke mana?” Kirani terlihat memicingkan matanya ke arah Reihan.
Merasa jalur yang tengah dilewati oleh mobil yang sedang dikemudikannya cukup aman, Reihan pun memutuskan untuk menoleh ke arah Kirani sambil tersenyum.
“Kita lihat saja nanti. Kau akan tahu setelah kita tiba di sana.”
“Ish … Gak pasti banget.” Kirani tampak mencebikkan bibir bawahnya dan hal itu sukses membuat Reihan merasa gemas pada Kirani. Rasanya Reihan ingin sekali menggigit bibir bawah Kirani yang seksi itu.
Suasana canggung tadi sedikit terkikis dengan percakapan mengenai pertanyaan Raihan yang ingin mengajak Kirani pergi ke suatu tempat, meskipun kini keheningan kembali terasa di dalam mobil tersebut.
Kirani kembali teringat dengan kejadian di hotel tempat acara resepsi berlangsung. Kejadian saat Sintiya tiba-tiba muncul di depannya yang tengah berbincang bersama dengan teman-teman sesama model yang kebetulan juga hadir di sana.
Dia berdiri cukup berjauhan dengan Reihan yang tadi sempat diajak seorang pengusaha untuk bergabung dengan para pengusaha lain yang kebetulan tengah saling berbincang satu sama lain.
Sintiya mendatanginya lalu meraih lengan Kirani dan menariknya menjauh dari teman-teman Kirani. Teman-teman Kirani sebenarnya hendak menolong Kirani, namun Kirani menolak dan mengatakan kalau dirinya akan baik-baik saja.
Kirani tidak pernah menyangka kalau Sintiya akan senekat Itu menemuinya tanpa mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Sintiya dengan sifat keras kepalanya yang dibalut oleh emosi langsung saja melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar oleh Kirani.
Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Sintiya itu adalah mengenai kemunculan Kirani setelah sebelumnya sempat menghilang beberapa waktu tanpa kabar. Lalu saat ini tiba-tiba sekarang dia muncul dan langsung eksis lagi di media sosial yang mengabarkan perihal kedekatannya dengan seorang pengusaha yang tak lain adalah Reihan.
Sesuai dengan yang pernah Sintiya lihat di Estagram milik Kirani kalau Kirani memang benar nyata tengah dekat dengan laki-laki lain yang tentunya bukan kakak dari Sintiya yang tak lain adalah Rafael El Malik.
“Aku bener-bener gak nyangka seorang Kirani Agista Hanindita bisa-bisanya menghianati kakakku dengan laki-laki lain. Memangnya kurang apa kakakku sama kamu? Seenak udelnya kamu menghilang dari kehidupan kakakku tanpa kabar dan sekarang tiba-tiba muncul dengan berita yang luar biasa menghebohkan,” bentak Sintiya.
Berulang kali Kirani melirik ke arah Reihan yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada dan tampak masih asik berbincang dengan teman-temannya sesama pengusaha. Kirani takut Reihan mengetahui perihal kedatangan Sintiya.
“Memang apa yang bisa aku jelaskan padamu? Kamu tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini, Sintiya. Aku jelaskan pun kamu tidak akan pernah percaya.” Kirani enggan meladeni Sintiya akan sudah pasti bisa mengacaukan perjanjian yang sudah dibuat antara dirinya dengan Rafael.
Perjanjian?
Ya, Kirani sebenarnya telah membuat kesepakatan dengan Rafael dan hal itu berkaitan erat dengan Reihan. Akan tetapi dalam perjanjian ini justru Kirani ada dalam tekanan Rafael dan tak ada satupun yang tahu, termasuk Sintiya.
Kirani sangat tahu watak keras kepala Sintiya yang sulit untuk diubah tanpa alasan yang jelas, apalagi oleh dirinya yang bukan siapa-siapanya.
Rafael saja yang merupakan kakak dari Sintiya, kadang sulit mengendalikan emosi dan sifat keras kepala sang adik.
“Tentu saja aku tidak akan percaya dengan ucapanmu. Jelas-jelas kakakku terluka karena kedekatanmu dengan
laki-laki itu. Apa karena uangnya jauh lebih banyak dari kakakku lalu kamu mengkhianatinya? Perlu kamu tahu, Kirani. Aku orang pertama yang tidak rela kakakku disakiti oleh wanita sok baik sepertimu,”
“Itu urusanmu mau percaya atau tidak. Yang jelas semua hal yang kamu tuduhkan padaku hanya omong kosong,”
“Begitu ya?”
“Iya. Lagi pula aku jelaskan pun rasanya percuma. Kamu tidak akan pernah mau menerima semua penjelasanku. Yang kamu terima hanyalah apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar saja,”
“Tentu saja, memang seperti itu adanya. Kamu tahu kenapa aku tidak percaya padamu? Karena aku sangat tahu kalau kamu itu hanya perempuan murahan yang bisanya hanya bersilat lidah.” Begitu kejam ucapan Sintiya pada Kirani.
“Terserah apa katamu. Percuma kita berbicara kalau pada akhirnya kau tetap dengan pendirianmu. Sebaiknya kamu pergi dan jangan ganggu aku lagi. Urus saja urusanmu sendiri,”
Kirana terlihat melangkah meninggalkan Sintiya yang masih dipenuhi amarah..
“Hei … Mau ke mana kamu? Urusan kita belum selesai.” Sintiya berjalan cepat untuk mengejar Kirani lalu mencengkram lengan Kirani.
“Lepaskan aku, Sintiya!” pekik Kirani sambil berontak. Dia sedang berusaha melepaskan cengkraman tangan Sintiya dari lengannya.
“Ada apa ini?”
Atensi Sintiya dan Kirani seketika teralihkan ke arah asal suara. Terutama Kirani yang saat ini begitu terkejut melihat sosok sang kekasih yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Sementara Sintiya hanya tersenyum tipis dan merasa menang.
Reihan menatap dengan sorot mata yang dipenuhi banyak pertanyaan dengan kejadian yang menimpa Kirani. Dia terlihat berjalan mendekat ke arah Kirani lalu dengan cepat dia melepaskan pegangan tangan gadis yang sepertinya usianya sama dengan Kirani.
“Siapa kamu? Kenapa kamu bersikap seperti itu padanya?” tanya Reihan pada Sintiya dengan tatapan yang tajam.
“Sudahlah, abaikan saja dia. Kita pergi saja dari sini,” ujar kirani sambil menggiring Reihan untuk kembali masuk ke ballroom hotel tempat acara resepsi pernikahan digelar.
"Sayang!"
Kirani terperanjat begitu kuat. Dia seperti ditarik secara dari alam bawah sadarnya yang tengah mengingat kejadian beberapa waktu lalu di gedung hotel tempat resepsi pernikahan temannya digelar ke arah dunia nyata secara paksa oleh sosok Reihan.
Ya, pikiran Kirani terlempar begitu jauh ke arah kejadian dirinya yang tengah adu mulut dengan Sintya. Andai Reihan tidak muncul, sepertinya kegiatan ada mulut mereka bisa saja berubah menjadi kegiatan saling jambak.
Apalagi dengan tabiat Sintiya yang keras kepala dan mudah meledak-ledak, bukan tidak mungkin Kirani akan menjadi korban kekerasan Sintiya.
“Kamu lagi mikirin apa sih? Aku sampai tiga kali manggil nama kamu loh, tapi kamu malah terus diam dan bengong,”
Kirani menatap sekeliling tempatnya berada. Dan benar saja, dia bukan berada di tempat tadi dimana dirinya habis adu mulut dengan Sintiya. Dia berada di dalam mobil milik Reihan. Bahkan mobil itu tampak sudah menepi ke bahu jalan.
“Maaf. Tadi aku … Aku tiba-tiba ingat dengan kedua orang tuaku. Sudah lama aku tidak menemui mereka," dusta Kirani.
“Baiklah kalau begitu,”
Reihan kembali melajukan mobilnya setelah sempat berhenti beberapa saat karena tiba-tiba merasa khawatir pada Kirani.
Sebenarnya Reihan tengah memikirkan ucapan terakhir Kirani dengan wanita yang baru dia ketahui bernama Sintiya. Ya, ada sedikit percakapan antara Kirani dengan gadis bernama Sintiya itu yang masih sempat terdengar oleh Reihan tepat begitu dia tiba di tempat Kirani dan Sintiya berdebat.
Sebelumnya Raihan memang mencari-cari Kirani, namun teman-teman sesama model Kirani segera menunjukkan arah Kirani yang tadi berjalan bersama seorang gadis lain ke arah jalur samping ballroom hotel.
“Sayang!”
“Iya, Kak. Ada apa?” Kali ini Kirani menoleh ke arah Reihan.
“Boleh aku bertanya?” Sebenarnya Reihan ragu dengan niatnya yang ingin mempertanyakan hal yang mengganjal hatinya setelah melihat Kirani bersama gadis bernama Sintiya itu.
“Selama aku bisa menjawabnya, pasti akan aku jawab.” Kirani kembali tersenyum tipis.
“Sebenarnya gadis tadi itu siapa? Lalu apa hubungannya denganmu? Kenapa pula dia bisa bersikap seperti itu padamu? Apa kau mengenalnya?" Akhirnya berbagai pertanyaan yang menggema di rongga dada Reihan pun terlontar begitu saja.
Kirani sempat menduga kalau Rehan tidak akan terlalu penasaran dengan kejadian tadi. Tapi nyatanya tebakannya salah. Dia justru penasaran dengan sosok Sintiya. Kirani pun memutuskan tatapannya dari Reihan dan memilih sedikit menunduk.
“Tidak ada apa-apa antara aku dan gadis itu. Lagi pula aku tidak mengenalnya,” jelas Kirani meski tak masuk ke pikiran Reihan sebab tidak mungkin Sintiya berbuat demikian bila tak mengenal Kirani.
“Lalu kenapa dia mendatangimu seperti itu kalau memang dia tidak mengenalmu?” Rasa penasaran Reihan sama sekali belum terjawab.
“Bisa jadi dia hanya salah orang. Aku sungguh tidak tahu siapa dia,” jawab Kirani tanpa sedikitpun berani menoleh ke arah Rehan lagi yang sesekali melirik ke arahnya sebab Rehan masih fokus mengemudi.
‘Maafkan aku, Reihan. Aku tidak bisa mengatakan semua ini padamu. Aku sendiri tidak pernah menyangka kalau aku akan terseret dalam masalah ini. Maafkan aku yang memang sudah berniat tidak baik padamu, Reihan,’ batin Kirani.
Perlahan Kirani meraba kepalanya. "Arght!"
“Kamu baik-baik saja, Sayang? Maafkan bila pertanyaanku ternyata membuatmu merasa tidak nyaman?” Reihan berbalik khawatir pada sang kekasih.
“Tidak apa-apa, Kak. Sepertinya ini hanya karena aku kurang istirahat saja,” Kirani terlihat memijat sedikit kening dan pelipisnya.
“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi mengenai hal tadi. Anggap saja aku percaya dengan ceritamu, Sayang.”
“Terima kasih, Kak.”
Meskipun Raihan memutuskan untuk percaya saja pada cerita Kirani, namun tetap saja Kirani merasa tidak enak karena sudah membohongi Reihan yang sudah begitu baik padanya.
Saking baik dan perhatiannya, Kirani terkadang berpikir untuk mengakhiri segala drama yang tengah dia perankan itu. Tapi pastinya Rafael tidak akan tinggal diam.
Sebisa mungkin Kirani harus tetap berpura-pura pada Reihan, agar semua hal di masa lalunya tidak terbongkar begitu saja. Terutama tentang perjanjiannya dengan Rafael. Sebab, jika Raihan tahu mengenai perjanjian itu maka Rafael bisa berbuat lebih kejam lagi padanya.
Kirani benar-benar tidak ingin menerima akibat buruk dari perjanjian yang telah dia buat dengan Rafael. Sampai sebelum semuanya terkuak, maka selama itu juga Kirani akan tetap dalam perannya dan bersikap pura-pura mencintai Reihan.
“Sebenarnya kita ini mau ke mana?” tanya Kirani setelah terdiam beberapa saat.
“Tadinya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi setelah aku pikir lagi kondisimu barusan sepertinya sedang kurang stabil. Ditambah lagi malam semakin merangkak menuju tengah malam. Bagaimana kalau kita mencari penginapan saja dan besok pagi baru kita berangkat ke sana?”
__ADS_1
“Baiklah. Aku ikut saja kemanapun kakak membawaku.” Kirani sudah sangat tahu kalau Reihan adalah laki-laki baik. Mustahil kalau Reihan akan menyakitinya.
Saat membuat perjanjian dengan Rafael, awalnya Kirani tak peduli sama sekali andai suatu hari semuanya terbongkar dan Reihan akan sakit hati.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu. Hubungan Kirani dan Reihan makin dekat dan Kirani bisa tahu kalau Reihan adalah laki-laki baik. Bahkan perhatian Reihan telah menimbulkan suatu rasa yang seharusnya tidak boleh Kirani miliki untuk Reihan.
Bagaimanapun akan ada masanya perjanjian itu tiba pada waktunya dan Kirani Harus meninggalkan Reihan dalam kesedihannya.
Mampukah Kirani melakukannya?
Mampukah Kirani menyakiti perasaan Reihan yang tulus mencintainya. Laki-laki yang perlahan mulai bersemayam di relung hati terdalam Kirani.
“Aku senang mendengarnya. Aku senang karena kau mau menerima ajakanku,”
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Reihan pun memasuki halaman sebuah hotel yang tidak terlalu besar. Reihan memesan dua kamar di mana yang satu diperuntukkan untuk Kirani dan satu lagi tentunya untuk dirinya.
Reihan mengantar Kirani ke dalam kamarnya dan memastikan kalau Kirani beristirahat dengan benar. Dan saat ini Kirani sudah berada dalam kamar yang memang diperuntukkan untuk dirinya.
Kirani berusaha memejamkan kedua matanya, akan tetapi pertemuannya dengan Sintiya tadi membuatnya kesulitan untuk tidur.
Rasa takut itu terus saja menggelayuti benaknya. Bahkan bayangan ketika dirinya dan Rafael membuat perjanjian yang tujuannya ingin menyakiti Reihan melintas di benaknya. Meski tidak pernah jelas alasan sebenarnya kenapa Rafael ingin menjatuhkan Reihan.
Malam semakin larut akhirnya rasa kantuk pun menyerang Kirani dan kini perlahan Kirani mulai memejamkan kedua matanya dan mulai menyambut kehidupannya di alam mimpi.
Waktu pun berjalan cepat. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Di kamar sebelah, bahkan Raihan sudah bangun sejak tadi. Dia terlihat sudah bersiap.
“Sebaiknya aku datangi saja kamar Kirani. Mungkin saja dia sudah bangun jam segini,” gumam Reihan sambil melangkah keluar dari kamarnya.
Kebetulan saat membooking kamar hotel, Reihan mendapatkan kamar dirinya dan kamar Kirani dengan letak yang berseberangan.
Tok … Tok …
"Sayang! Kamu sudah bangun?” Reihan terlihat menempelkan telinganya di daun pintu kamar Kirani.
Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar Kirani. Rehan pun ingin mencoba sekali lagi peruntungannya untuk mengetuk pintu kamar Kirani. Bila tetap saja tidak ada jawaban, maka kemungkinannya ada dua. Kirani yang masih tidur atau Kirani yang keluar dari kamarnya.
Tok … Tok …
"Sayang!"
Kali ini ketukan pintu dan suara Reihan dibuat sedikit lebih kencang dari sebelumnya karena takutnya Kirani masih tertidur dan tidak mendengar panggilan darinya.
Beruntung bagi Reihan kali ini. Ternyata Kirani sebenarnya masih tertidur, sebab semalam dia memang sulit tidur karena memikirkan kejadian pertemuannya secara tak sengaja dengan Sintiya.
Reihan tersenyum saat pintu kamar terbuka dan melihat penampilan kacau dan muka bantal Kirani yang baru bangun tidur. Akan tetapi Rehan sungguh-sungguh mengagumi wajah cantik alami Kirani saat baru bangun tidur.
“Memangnya ini jam berapa?” tanya Kirani dengan suara paraunya khas orang bangun tidur.
“Jam 06.15 pagi, Sayang. Kita berangkat ke tujuan sekarang." Rehan mengulum senyum saat melihat Kirani yang sedang mengucek matanya.
“Aah … Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu. Kakak tunggu saja di sini,” ujar Kirani yang langsung mendapatkan anggukan dari Reihan.
Tak menunggu lama, Reihan sudah melihat Kirani keluar dari dalam kamar mandi. Kirani terlihat berjalan ke arah meja rias dimana beberapa make-up miliknya berada.
Hanya dengan sedikit polesan make-up tipis, sudah membuat Kirani tampak makin cantik. Memang dasarnya wajah Kirani itu memang sangat cantik meskipun tanpa make up. Wajar bila Reihan tergila-gila padanya.
“Sudah siap?” tanya Reihan.
“Iya, aku sudah siap,”
Setelah membereskan barang-barang mereka masing-masing, mereka pun segera check out dari hotel tersebut dan saat ini mereka sudah kembali berada dalam kendaraan untuk melakukan perjalanan ke tujuan mereka.
Sebelumnya mereka sempat untuk sarapan terlebih dahulu sebelum benar-benar meninggalkan hotel tersebut.
“Sebenarnya kita ini mau ke mana, Kak? Sejak kemarin malam aku tanya, tapi kakak tidak juga mau menjawabnya.” kali ini Kirani serius akan marah kalau Reihan tak juga mau mengatakannya.
“Baiklah, kali ini aku akan menjawabnya. Kita akan pergi ke resort milik keluargaku atau lebih tepatnya milikku karena aku yang telah membelinya.”
“Kenapa ke resort? Memangnya mau ngapain?” Kirani terlihat mengernyitkan keningnya.
“Nanti juga kamu akan tahu dengan sendirinya,” jawab Reihan yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Kirani.
“Tuh ‘kan, kakak udah bersikap misterius lagi.” Lagi, Kirani mencebikkan bibirnya dan hal itu sukses membuat Reihan merasa makin gemas padanya.
“Sabar dong, Sayang. Nanti kamu akan tahu sendiri.” Reihan hanya terkekeh.
“Baiklah. Kalau begitu biar aku saja yang mengalah. Tapi apa boleh kalau aku tidur sejenak? Soalnya aku masih mengantuk,” pinta kirani.
“Boleh. Kalau begitu kamu tidur aja, Sayang,”
Kirani mengangguk, kemudian dia pun mengambil posisi ternyaman di kursi bagian depan sebelah kiri dengan sedikit membuat sandaran kursinya lebih landai. Hanya dalam hitungan detik saja dia sudah kembali meluncur ke alam mimpi.
Berulang kali Reihan memanggil nama Kirani, namun Kirani tak juga bangun. Itu artinya Kirani memang benar-benar sudah terlelap tidur.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa seorang dari seberang telepon sana.
“Selamat pagi juga. Apa perintahku sudah kamu dan anak buahmu jalankan?” tanya Reihan.
“Tentu saja sudah, Tuan. Bahkan sejak semalam,”
"Bagus. Rencananya kami akan ke resort tadi malam, tapi rasanya kami sudah kelelahan di perjalanan. Jadi kami memutuskan untuk menginap di hotel dan baru pagi ini kami melanjutkan perjalanan. Mungkin dalam waktu kurang dari satu jam, kami baru tiba di sana. Aku tidak mau ada kurang sedikitpun. Semua harus sesuai dengan rencana," ujar Reihan lagi dengan tegas dan wajah yang serius sambil sesekali melirik ke arah Kirani yang tertidur. Reihan agak takut kalau Kirani sampai mendengar percakapannya dengan seseorang di seberang telepon sana.
"Baik, Tuan,"
"Bagus. Aku suka dengan cara kerjamu,"
Sambungan telepon pun terputus dari arah Reihan karena memang Reihan yang menekan tombol reject.
Tak banyak bicara lagi, Reihan pun kembali fokus dengan jalanan di depannya. Reihan kembali melirik ke arah Kirani yang masih tertidur dengan posisi yang sama. Tampak lelap dan seperti tidak ada beban sama sekali.
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam saja, mobil yang dikendarai Reihan akhirnya tiba juga di tujuannya. Yaitu sebuah resort mewah yang letaknya sangat dekat dengan pantai, meskipun saat ini mobil yang dikendarainya masih berada di pinggir pantai. Sehingga memudahkan siapapun yang menginap di resort miliknya untuk melihat pemandangan pantai setiap hari.
“Bangun, Sayang. Kita sudah sampai di tujuan,”
Mendengar suara seseorang membangunkan dirinya, membuat Kirani yang tengah tertidur pun mengerjapkan kedua matanya hingga perlahan mata dengan bulu mata yang lentik itu pun terbuka.
Suara selanjutnya yang menyapa telinga Kirani adalah suara hembusan angin dan deburan ombak sebab ternyata Rehan sudah mematikan mesin mobil dan membuka jendela mobil.
Kirani mengucek matanya sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku setelah hampir satu jam tidur di jok mobil. Dia mengedarkan pandangannya diikuti dengan sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.
“Wih … Pantai. Jadi maksudnya kakak mau ngajak ke pantai?”
“Aku dengar kamu sangat menyukai pantai dan sudah lama tidak pergi ke pantai. Jadi aku ajak saja kamu kemari sekaligus menginap di resort yang aku ceritakan semalam,” ujar Reihan sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan mewah dan besar yang jaraknya mungkin hanya lima puluh meter saja dari tempat mobil Reihan berhenti,
“Terima kasih, Kak.” Kirani semakin terharu dengan perhatian Reihan padanya.
Rehan terlihat kembali menyalakan mesin mobilnya. Akan tetapi dia sama sekali tidak menutup jendela mobil di kanan kirinya. Dia biarkan udara pagi yang segar yang berhembus dari arah pantai menghembus masuk ke dalam mobilnya meski terasa dingin.
Mobil itu pun melaju masuk ke halaman resort yang pintu gerbangnya sudah dibuka lebar oleh dua orang security yang saat ini terlihat membungkukkan badannya tatkala mobil yang dikendarai oleh Reihan melintas.
Laut merupakan tempat favorit Kirani sejak dulu. Hanya saja kesibukannya sebagai model terkenal membuatnya sangat jarang bisa pergi ke pantai. Hidupnya dipenuhi oleh deadline pekerjaannya sebagai model terkenal.
Dengan antusias Kirani keluar dari dalam mobil lalu berdiri di tengah halaman resort sambil membentangkan kedua tangannya. Matanya terpejam dengan hidung yang berulang kali menghirup udara berbau pasir pantai yang sangat dia rindukan lalu menghembuskannya lewat mulut.
Reihan yang baru selesai memarkirkan mobil, terlihat melangkah mendekat ke arah Kirani yang masih dengan posisinya yang sedang tampak menikmati udara sejuk yang berhembus dari pantai ke daratan.
“Kamu suka, Sayang?” tanya Reihan yang kini sudah berdiri di dekat Kirani.
Perlahan Kirani membuka kedua matanya. “Aku sangat menyukainya, Kak.”
“Syukurlah kalau kamu memang suka karena memang ini yang aku harapkan.” Reihan tersenyum puas.
“Boleh aku bertanya sesuatu, Kak?” tanya Kirani.
“Apa itu?”
“Kenapa kakak mengajakku ke kemari?”
“Selain karena resort ini dekat tempat yang sangat kamu sukai akan tetapi sudah sangat jarang kamu datang. Aku juga ingin membuatmu merasa senang di sini,”
Kedua mata Kirani berkaca-kaca mendengarkan penuturan dari mulut Rehan yang memang selalu tulus padanya.
“Terima kasih, Kak.” Gegas Kirani menghambur ke pelukan Reihan dan memeluk Reihan dengan erat.
“Sama-sama, Sayang,” jawab Reihan sambil membalas pelukan Kirani.
“Aku ingin ke pantai sekarang,” ujar Kirani setelah pelukan mereka berakhir.
“Jangan dulu. Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam resort dan melihat-lihat bagian dalam resort. Aku yakin kamu akan suka dengan desain interiornya.” Rehan mencoba menahan Kirani agar tak pergi dulu ke pantai.
Kirani tampak berpikir sejenak. “Tapi aku ingin segera bermain di pantai, Kak. Kira-kira berapa lama kita berada di sini?”
Reihan tergelak melihat wajah khawatir Kirani. "Sesukamu saja, Sayang,”
“Benarkah? Ooh … Rasanya aku senang sekali mendengarnya. Aku kira kita di sini hanya beberapa jam saja di sini. Aku akan bermain sepuasnya di pantai.” Kirani begitu bahagia.
Reihan dan Kirani terlihat melangkah masuk ke dalam resort. Berulang kali Kirani berdecak kagum dengan interior bagian dalam resort tersebut.
“Sebaiknya kita ke kamar yang sudah disiapkan oleh kepala rumah tangga di resort ini untukmu,”
“Baiklah!”
Kirani tampak menggandeng lengan Reihan yang saat ini tengah menggiringnya ke arah sebuah kamar..
__ADS_1
“Wow … Kamar ini benar-benar luas dengan desain yang tak kalah bagus dengan bagian beberapa ruangan yang tadi aku lewati.” Kirani terus saja berdecak kagum.
“Aku memang meminta seorang desain interior terkenal untuk mendesain resort ini seperti kesukaan seseorang yang ingin aku hadiahi resort ini.” Reihan terus saja menatap ke arah Kirani.
Kirani tersenyum tipis namun dengan kening yang mengernyit. Dia tengah menebak-nebak sosok orang beruntung yang akan dihadiahi resort ini oleh Reihan.
“Selamat pagi, Tuan. Ini tiga pakaian yang Anda minta,”
Baik Reihan maupun Kirani terlihat menoleh ke arah pintu di mana saat ini berdiri seorang wanita yang merupakan kepala rumah tangga di resort tersebut.
Rehan terlihat mendekat ke arah wanita tersebut dan mengambil alih tiga pakaian yang masih dibungkus oleh plastik khusus pakaian mahal.
Perlahan Reihan mendekat ke arah ranjang lalu meletakkan tiga pakaian tersebut di mana dua diantaranya merupakan dress, sementara satu lagi adalah bikini untuk bermain di pantai.
Kirani menatap dua buah dress dengan desain yang amat sangat cantik dan sebuah bikini yang cukup terbuka. Sebenarnya hal itu bukan masalah bagi seorang Kirani yang seorang foto model yang kadang harus menggunakan pakaian seksi sekalipun. Bikin yang sedikit terbuka itu bukan hal yang aneh baginya.
“Kita ke pantai sekarang. Bersiap lalu temui aku di halaman depan.”
“Baiklah, Kak.” Kirani menurut saja dengan perintah Reihan.
“Kita akan melakukan pemotretan menggunakan semua pakaian ini,” ujar Reihan sambil menatap ke arah dua buah dress dan dan satu bikin yang pastinya akan sangat sempurna bila dikenakan oleh Kirani.
“Tapi untuk apa, Kak?”
“Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk kenangan saja dan akan kusimpan di galeri ponselku. Aku juga sudah mendatangkan seorang fotografer profesional.”
Meskipun sedikit heran, namun Kirani pun hanya menganggukkan kepalanya. Reihan tampak berjalan keluar dari kamar tersebut meninggalkan Kirani yang akan berganti pakaian menggunakan bikini dan kain pantai.
Sementara Rehan berjalan ke arah kamar lain untuk mengganti pakaiannya yang sudah dia pakai sejak semalam. Saat ini dia hanya menggunakan boxer yang panjangnya mungkin hanya satu jengkal dari pangkal pahanya. Kemudian dia menggunakan kaos singlet untuk menutupi tubuh atasnya yang kekar dan tegap.
Saat ini Rehan dan Kirani sudah berada di pantai, namun herannya pantai di mana Rehan dan Kirani berada sedikit agak sepi bila dibandingkan dengan bagian kanan dan kiri pantai yang cukup banyak didatangi pengunjung.
“Tidak perlu heran begitu. Aku sudah meminta petugas pantai untuk mengosongkan area pantai sebelah sini, sebab aku ingin kau merasa nyaman saat bermain air di sini,” ujar Rehan yang merupakan jawaban dari pertanyaan Kirani yang sebenarnya hanya menggema di dadanya.
Kirani hanya tersenyum saat mengetahui kalau lagi-lagi Reihan selalu bisa menebak isi hatinya. Ada sedikit rasa takut juga andaikan ternyata Reihan juga bisa menebak apa yang sesungguhnya terjadi.
Tak ingin membuang waktu, Kirani pun gegas bermain air pantai yang berasal dari ombak yang menyasar ke tepi pantai. Dia saling berkejar-kejaran dengan Reihan sambil terus berjalan ke arah pantai dimana air laut sudah sampai hingga batas pahanya.
Mereka tampak begitu bahagia. Bahkan untuk sesaat Kirani benar-benar melupakan semua beban pikirannya apalagi perjanjiannya dengan Rafael. Dia tertawa begitu lepas dengan suasana tersebut.
Sambil bermain pasir pantai dan membuat istana pasir, sesekali Kirani menoleh ke Reihan. Entah dia mampu melanjutkan perjanjian dengan Rafael untuk menyakiti Reihan atau tidak.
Sebab sejauh ini Reihan belum pernah sekalipun mengecewakan hatinya terhitung sejak mereka mulai dekat bahkan memproklamirkan hubungan mereka sebagai hubungan kekasih. Perasaan Kirani makin tak karuan.
Seorang laki-laki yang membawa kamera DSLR tampak mendekat ke arah Kirani dan juga Reihan. Ya, dia adalah fotografer yang sudah disewa oleh Reihan.
Tidak tanggung, Rehan menyewa jasa fotografer profesional dengan bayaran cukup mahal dengan alasan ingin mendapatkan hasil jepretan kamera yang sempurna agar Kirani merasa puas.
Lagi-lagi semuanya Reihan lakukan demi membahagiakan Kirani.
Sang fotografer itu mengambil foto Reihan dan juga Kirani dari berbagai angle yang tepat sehingga benar-benar menghasilkan sebuah karya fotografi yang sangat estetik.
Tak cukup hanya bermain air dan pasir pantai, Kirana dan Reihan pun menggelar kain yang akan mereka gunakan untuk berbaring sambil berjemur di pantai.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya. Bahkan saat jam sudah menunjukkan angka 15.00. Reihan dan Kirani pun memutuskan untuk kembali ke dalam resort. Mereka akan membersihkan tubuh mereka masing-masing lalu mengisi perut.
Saking senangnya bermain di pantai, sampai membuat mereka lupa untuk mengisi perut. Setelah makan mereka akan melanjutkan pemotretan dengan memakai dress yang tadi sudah disiapkan Reihan untuk Kirani.
Saat ini Kirani dan Reihan kembali tengah berpose di depan kamera. Tentunya masih dengan fotografer yang sama yang akan mengabadikan mereka nantinya dalam bentuk foto.
Reihan tampak sangat tampan dengan setelan jas yang memang sudah dipadukan dengan dress yang akan dikenakan oleh Kirani. Saat ini bahkan Kirani sudah berganti pakaian ke dress yang terakhir seperti permintaan Reihan.
“Boleh aku melihat semua hasil fotomu?” tanya Reihan pada fotografer tersebut.
“Tentu saja, Tuan. Anda bebas memilih foto manapun yang anda suka dan bisa membuang poto manapun yang tidak Anda sukai,” ujar sang fotografer dengan yakin.
Reihan dan Kirani terlihat sama-sama mengecek satu persatu foto yang sudah disimpan di penyimpanan kamera DSLR milik fotografer tersebut. Bila dihitung mungkin sudah ada ratusan foto mereka berdua di dalam kamera tersebut.
“Kamu suka yang mana, Sayang?”
“Aku menyukai semuanya, Kak.” suara Kirani dibuat manja dan terdengar lucu di indera pendengaran Reihan.
“Jadi tidak ada yang ingin kamu hapus?” tanya Reihan memastikan.
“Tentu saja tidak.”
“Baiklah kalau begitu.”
Reihan terlihat kembali berjalan mendekati sang fotografer. “Tolong salin semua file foto itu lalu masukan ke flashdisk dan kirimkan padaku,”
“Baik, Tuan. Akan segera saya kerjakan.”
Semua kegiatan yang dilakukan oleh Reihan dan Kirani di resort dan juga pantai tersebut benar-benar membuat Kirani amat sangat bahagia. Meskipun begitu tak sedikit waktu yang mereka habiskan di sana. Bahkan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 17.45.
“Apa kau ingin melihat pemandangan matahari terbenam di pantai?” tawar Reihan pada Kirani.
“Aku ingin sekali melihatnya, Kak.”
“Kalau begitu, ayo kita ke pantai sekarang. Pasti pemandangannya akan sangat indah sore menjelang malam seperti saat ini,” ujar Reihan yang dibalas anggukan antusias oleh Kirani.
Keduanya terlihat melangkah ke arah pantai. Kirani hanya bisa mematung begitu dirinya tiba di pantai, sebab saat ini pantai yang tadi siang digunakan olehnya dan Reihan untuk bermain kini sudah di dekor sedemikian cantiknya layaknya sebuah dinner romantis sambil melihat matahari tenggelam.
Di sana ada meja dengan dua kursi dan beberapa hidangan yang sudah tersedia di atas meja.
“Kenapa diam saja ayo kita ke sana,” ajak Reihan.
“Kak!”
“Apa, Sayang?”
“Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Ini tidak pantas aku terima.” Sesungguhnya Kirani tengah mengungkapkan kegelisahannya.
“Semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, Kirani." Begitu dalam Reihan menatap kedua bola mata Kirani yang kini justru tak berani menatap mata Reihan.
Bukannya merasa bahagia, saat ini Kirani justru merasakan rasa bersalah yang menggelayut di hatinya. Hatinya justru seperti teriris dengan semua perhatian tulus yang diberikan Reihan untuknya.
'Kenapa harus seperti ini akhirnya? Apa yang harus aku lakukan? Rasanya aku tak sanggup lagi menjalani peran ini. Reihan terlalu baik untuk kusakiti,’ batin Kirani.
“Sayang. Kamu kenapa?”
“Aku baik-baik saja kok,”
Keduanya berjalan ke arah pinggir pantai dimana air pantai masih sanggup menyapu bagian kaki meja dan kursi hingga kaki Reihan dan Kirani pun ikut basah. Akan tetapi memang hal itu yang direncanakan oleh Reihan. Reihan terlihat menarik kursi yang akan diduduki oleh Kirani.
“Kamu bisa lihat sendiri pemandangan matahari terbenam itu. Cantik bukan?” ujar Reihan.
Kirani menatap haru ke arah matahari yang perlahan seperti ditelan oleh lautan. “Cantik! Sangat cantik dan menenangkan perasaanku,” jawab Kirani tanpa sadar.
Saat Kirani masih begitu terpana melihat pemandangan indah matahari tenggelam tiba-tiba terdengar alunan musik dari arah belakangnya.
Ternyata bukan hanya kejutan makan malam romantis biasa yang disiapkan oleh Reihan, melainkan sebuah makan malam yang bahkan diiringi oleh musik dengan Reihan sendiri yang tengah bernyanyi.
Suaranya terdengar sangat indah dan merdu di telinga Kirani. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Kirani, melainkan lagu yang dipilih Reihan saat ini yang sepertinya sangat mewakili perasaan Reihan yang sangat tulus mencintai Kirani.
“Aku ingin berjalan kesana sedikit. Sepertinya menyenangkan berdiri sambil menghadap ke arah matahari terbenam,” ujar Kirani.
“Tentu saja, Sayang,”
Kirani pun berdiri lalu berjalan beberapa langkah hingga bagian bawah dressnya makin basah karena sapuan air laut.
Sementara Reihan terlihat berjalan di belakang Kirani sambil merogoh ke arah saku jas yang digunakannya dan mengeluarkan sebuah kotak.
“Sayang!”
Kirani menoleh ke arah kanan di mana Reihan berdiri. Dia melihat Reihan berlutut di depannya sambil memperlihatkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang sudah Kirani duga kalau kotak itu berisi cincin. Hal itu justru membuat hati Kirani semakin sakit, terutama setiap kali dirinya mengingat lagi perjanjiannya dengan Rafael.
Perlahan Reihan membuka kotak tersebut dan tebakan Kirani memanglah tepat. Di sana ada cincin bermata berlian dengan design yang amat cantik.
“Kirani Agista Hanindita! Maukah kamu menerima lamaranku? Maukah kamu menua bersamaku dalam ikatan pernikahan? Maukah kamu menjadi Ibu dari anak-anakku? Aku memang tidak bisa mengobati rasa sakit yang kamu rasakan di masa lalumu, tapi paling tidak aku ingin selalu menjadi pelipur laramu. Aku juga ingin menjadi sandaran hidupmu. Izinkan aku menjadi sumber kebahagiaanmu mulai detik ini hingga selamanya. Meskipun aku tak bisa memberimu cahaya bintang di langit, tapi aku berjanji akan menerangimu seperti matahari yang menerangi bumi. So, would you marry me, Kirani Agista Hanindita?”
Tatapan mata Reihan penuh harap saat meluncurkan kata-kata indah namun justru menyayat hati Kirani itu.
Akhirnya bulir bening itu pun mengalir deras dari pelupuk mata Kirani. Sementara di dalam batinnya tengah berperang. Ingin rasanya Kirani menolak lamaran Reihan. Bukan karena tidak ingin bersama dengan Reihan, namun Reihan terlalu baik untuk dirinya sakiti.
Lagi-lagi Kirani teringat dengan perjanjian yang dibuatnya dengan Rafael. Dia tak punya pilihan lain. Semoga Reihan mau memaafkannya.
“Iya. Aku bersedia!”
Moment jawaban yang meluncur dari mulut Kirani bertepatan dengan terbenamnya matahari, berganti cahaya bulan yang berpendar dan kembali menerangi langit malam.
“Yes!”
Reihan berseru dengan girangnya. Bahkan dia melompat-lompat untuk sesaat layaknya anak kecil yang dikabulkan permintaannya oleh kedua orang tuanya.
Gegas Rehan meraih tangan kiri Kirani lalu menyematkan cincin bermata berlian itu di jari manis Kirani. Reihan langsung memeluk Kirani dengan erat.
“Terima kasih, Sayang. Aku begitu bahagia hari ini. Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir selamanya. Aku mencintaimu, Kirani.”
Kirani hanya bisa mengangguk dengan derai air mata kepiluannya yang tak mau berhenti dalam dekapan hangat Reihan. Dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua ini diluar dugaannya.
‘Maafkan aku atas cinta palsu yang sudah aku berikan selama ini padamu, Kak. Tapi percayalah, mulai detik ini aku akan mencoba untuk mencintaimu,’ batin Kirani.
Lalu setelah kebahagiaan ini akankah Kirani merasa tenang? Lalu bagaimana reaksi Rafael andai tahu Kirani hendak mengkhianati perjanjian mereka bahkan telah nekat menerima pinangan Reihan?
__ADS_1