
"Tak ada cara dan strategi yang mudah selain bukan cara ini"
Sintiya El Malik -
Kevin Pov
Aku tak tau mengapa hati ini terasa sakit sekali ketika mendengar rencana yang Sintiya buat untuk melakukan balas dendamnya terhadap Kirani. Aku cemburu ketika mendapati Sintiya yang mengejar Reihan. Terlebih lagi saat Sintiya berniat untuk berpura-pura hamil dengan Reihan.
Entah hal apa yang ada di benak pikiran Sintiya itu!?
Sungguh gila saat aku mendengar rencananya. Setelah dia mengatakan hal itu aku langsung pergi meninggalkannya. Tak peduli dia mencariku atau tidak.
Aku hanya pergi untuk menemui tom dan brodi anak buahku. Aku berjalan keluar beberapa jarak dari resort ke sebuah kafe. Di kafe night mare, aku bertemu dengan Tom dan Brodi.
Ku hempaskan pantatku ke kursi. Lalu menatap kedua anak buahku.
"Bos ada apa memanggil kami? Ada hal yang perlu kami bantu kah bos? Apa hal itu ada kaitannya dengan Sintiya? Atau Kirani?" tanya Tom kepada diriku.
"Kalian sudah pesan minuman?" tanyaku mengabaikan topik pembicaraan yang dikatakan oleh Tom. Aku merasa enggan untuk membahasnya. Oleh karena itu aku menghindarinya. Hal yang ku inginkan hanya minum dan melupakan semuanya.
"Belum bos." jawab Brodi menunduk wajahnya
"Pesankan Vodka lima botol!" perintahku
"Apa bos? Bukannya terlalu memabukkan bos jika berlebihan?" tanya Tom secara berhati-hati
Ku gebrakkan tanganku di atas meja.
Brak!
Suara gebrakan tanganku terdengar sangat keras. Meninggikan nada suaraku, "Aku bilang pesankan ya pesankan! Bisa tidak sih tidak usah banyak tanya Tom!" bentakku yang sudah merasa tak sabar lagi.
"Ba-Baik bos!" balas Tom yang langsung berdiri dan berjalan ke arah bartender bar. Meskipun tempat ini adalah sebuah kafe tetapi menjual minuman seperti bir dan vodka.
Berselang beberapa menit Tom datang beserta pelayan. Membawakan lima botol vodka dan gelas kecil. Pelayan itu menyuguhkan kepadaku. Ku langsung buka botol vodka itu dan menuangkannya ke gelas kecil itu.
Ku tegak sampai habis. Rasanya memang pahit tapi manis di lidahku.
"Bos sebenarnya ada apa dengan bos? Apa ada masalah sampai bos melakukan ini?" tanya Tom menatapku serius.
Beberapa tegukan vodka yang ku minum sudah membuat mataku blur. Kepalaku serasa pening. Namun kepeningan itu tak menghentikanku untuk terus meneguk setiap botol vodka.
"Bos jawab! Kenapa bos diam saja!" desak Tom kepada diriku.
Aku terlalu malas untuk becerita pada mereka. Aku merasa tak ada gunanya. Pikiranku lelah karena memikirkan gadis bodoh itu, Sintiya El Malik.
Tom dan Brodi terus memaksaku untuk berkata. Aku merasa lelah didesak. Akhirnya ku buka suara.
"Kalian ngerti gadis bodoh itu berencana ingin mendekati Reihan calon suaminya Kirani! Dia berniat mendekati Reihan untuk balas dendam pada Kirani!" teriakku meracau mengatakan hal yang terjadi pada gadis bodoh itu. Ya gadis bodoh yang ku maksud adalah Sintiya El Malik.
"Gadis bodoh bos? Siapa atuh bos?" tanya Brodi dengan polos.
Tom menggeplak kepala Brodi dan menyoloroh, "Sintiya El Malik bodoh! pacar bos yang sekarang! Gimana sih lu!?" maki Tom kepada Brodi. Memukul kepala Brodi.
"Oh Sintiya itu ya. Ya baru ngerti lah aku tom huh!" dengus Brodi
"Terus bos bukannya rencana itu bagus untuk bos?" tanya Tom yang masih tidak paham dengan maksud ucapanku.
__ADS_1
"Bodoh! Itu justru masalah buat gua!" sanggahku ketus
"Masalahnya buat bos apa emang?" tanya Tom lagi.
"Ya masalahnya dia mau ngaku hamil anaknya Reihan! Dan dia juga mau melakukan hubungan intim dengan Reihan! Apa kau ngerti maksudku!" sentakku balik. Aku sangat tak suka dengan orang yang banyak tanya seperti Tom.
"Hoo kalo itu mah gampang bos cara mengatasinya." ujar Tom dengan santai.
"Maksud lu apa tom hah!" Balasku membentak Tom.
"Ya hal itu ada kunci untuk mengatasi masalah itu bos. Sebenarnya hal yang perlu bos lakukan cuma satu. Bos cukup hamili beneran saja Sintiya. Dengan begitu beres dah rencana bos dan sintiya bisa berjalan dengan lancar."ucap Tom memberikanku saran yang aneh untuk ku dengar.
"** Kau lama-lama gila ya Tom!" Umpatku
"Bukan gila bos tapi sungguh rencana yang Sintiya miliki memang benar dan efektif. Bos harusnya mendukung rencana Sintiya. Sintiya bisa menjauhkan Reihan dari Kirani dan bos bisa mendekati Kirani. Setelah bos berhasil mendekati Kirani baru dah nikmati tubuh Kirani yang bos nantikan selama ini. Bukannya tujuan bos mendekati Sintiya biar bisa menikmati tubuh gadis angkuh bernama Kirani itu ya?" Ujar Tom yang mengingatkanku pada tujuan awalku tentang niatan mendekati Sintiya sebenarnya.
"Ya lu bener tom tapi!" sanggahku yang masih setengah-tengah mengatakannya.
"Tapi apa bos? Apa jangan-jangan bos sudah jatuh hati pada pesona Sintiya hm?" duga Tom yang ceplos begitu saja.
Aku melotot dan sontak menyemburkan vodka di mulutku ke wajah Tom. Brodi tertawa terbahak-bahak. Setelah itu brodi melihatku.
"Sepertinya melihat respon bos menunjukkan kalo bos beneran udah jatuh hati pada pesona gadis bodoh itu ya?" timpal Brodi seraya menggodaku.
"Apaan sih lu brodi! Jangan ngaco kalo ngomong!" sanggahku menolak perkataan Brodi.
"Tapi kenapa bos kayak tak terima gitu kalo gadis bodoh itu mendekati Reihan? Kalo bukan cinta apa lagi bos hm?" timpal Tom ikut menggoda diriku juga.
"Persetan dengan cinta! Kalian diam saja! Tak ada cinta di hidupku! Dan hanya ada nafsu pada diriku untuk Kirani! Paham kalian!" sanggahku dengan suara yang keras.
"Kalo bos merasa seperti itu harusnya bos biasa saja dong." Tom masih saja meneruskan ucapannya.
"Diam kau tom! Jangan bicara lagi! Gua mau minum dengan tenang!" perintahku melarang kedua anak buahku untuk berkata lagi. Sungguh muak aku mendengarnya. Apalagi membahas perkara cinta!
Soal gadis bodoh itu aku hanya memanfaatkannya untuk kenikmatan gairahku dan misiku!
Bukan untuk merasakan cinta pada umumnya!
Memang aku bercinta dengan gadis bodoh itu. Itu pun karena menikmati tubuh gadis bodoh itu agar birahiku terpenuhi. Dan selama ini hanya gadis bodoh itu yang bisa menyeimbangi gaya bercintaku. Itulah kenapa aku masih membiarkan dia di sisiku.
Lama memikirkan hal itu membuat kepalaku serasa pening. Mataku serasa berat dan tak bisa melihat dengan jelas. Aku hanya mendengar suara gadis bodoh itu.
"Sayang kenapa kau mabuk begini? Kalian rekan kerja Kevin bukan? Apa yang terjadi padanya hingga mabuk seperti ini?" Tanya Gadis bodoh itu kepada kedua anak buahku yang nampak ku dengar samar-samar.
"Oh begitu, Ya sudah. Ayo kita balik ke kamar sayang!" Ku dengar ia mengajakku untuk balik
"Bisa kalian bantu aku bawa tubuh Kevin ke kamar kami di resort itu?"
Hanya sekilas itu saja ku mendengarnya. Setelah itu pandanganku pun mulai tertutup. Ya mungkin Tom, Brodi dan Sintiya membawaku kembali ke kamar. Apalagi yang mereka lakukan kalo bukan itu?
*****
Aku merasa telah sampai di kamar. Tubuhku terbaring di ranjang. Sintiya terus mengomeliku. Aku hanya melihat dia yang terus mengoceh tiada henti.
"Sayang seharusnya kau telfon aku! Kalo begini kan aku khawatir!" omel Sintiya di dalam kamar.
Keadaanku sudah setengah sadar tapi masih ada rasa mabuk di kepalaku. Aku hanya duduk di ranjang kami. Memandangi Sintiya yang tengah mengomeliku.
"Kalo kau tak setuju dengan rencana yang ku buat bilang padaku! Bukan mabuk begini!" omel Sintiya lagi.
"Kau maunya apa sih sayang! Jawab aku!" desak Sintiya yang sudah lelah karena aku yang terus diam saja.
__ADS_1
Aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Kemudian berhenti di hadapannya.
"Kau mau tau aku mau apa?" tanyaku menajamkan sorot mataku
"Ya sayang, apa maumu sebenarnya. Katakan padaku biar aku bisa mengerti." jawab Sintiya dengan pandangan mata yang berbinar.
"Aku mau bercinta denganmu! Dan menghamilimu! Itu yang ku mau!" ku katakan padanya lalu langsung menyambar bibirnya. Memasukkan lidahku dan ******* apa yang ada di dalam bibir Sintiya. Sintiya awalnya diam saja lalu ku luruhkan dress yang dipakainya.
Ku tarik pinggangnya agar tubuhnya bisa ku dekap . Ku berikan sentuhan hingga ia melenguh.
Ku lakukan kegiatan bercinta beberapa kali dan di tempat yang berbeda. Menyalurkan seluruh gairah di tubuhku. Rasa vodka masih membuatku mabuk hingga terasa gairaku naik. Aku hanya terus menikmati kegiatan bercinta tanpa ku sadari.
Rasa mabuk di vodka membuatku lupa akan segala hal. Termasuk alasan diriku yang bisa begitu saja menyemburkan benihku di rahimnya.
"Jangan minum obat kontrasepsi lagi! Biarkan tumbuh biar rencana kau mendekati Reihan berjalan!" perintahku dengan suara yang lantang
"Sungguh sayang?" Tanya Sintiya yang masih ternganga tak percaya
"Ya!"
"Jadi kau setuju dengan rencana yang ku buat sayang?" Tanya Sintiya lagi memastikanku.
Aku merasa bosan mendengar suara Sintiya yang terus bertanya.
"Ya! Bisa kah kau mengerti!" Tegasku membentaknya.
Sintiya memelukku dan tersenyum seksi. Sintiya terus menggodaku hingga membuatku tak tahan. Aku merasatak bisa menahannya lagi.
"Lalu sayang larangan apa yang akan kau berikan padaku setelah ini? Katakan padaku sayang?" Goda Sintiya dengan tatapan nakal. Ia terus melakukan gerakan meresahkan. Membuat aliran desiran pada tubuhku.
Aku tak bisa menahannya lagi. Ku sambar bibirnya dan menarik kakinya ke atas lagi. Tanpa ada pemanasan ku lanjutkan aktivitas bercinta kami berdua.
"Larangannya adalah kau tak boleh bercinta dengan laki-laki manapun! Hanya aku yang bisa menikmati tubuhmu!"
"Dan kau harus siap kapan saja bercinta denganku! Kapanpun aku memanggilmu! Paham kau!"
Ku katakan dua perintah dan laranganku padanya. Sintiya menjawab dengan ******* lenguhannya.
"Ya sayanghh aku akan menuruti semua perintahmu. Kapanpun kau mau bercinta aku kan siap! Jadi mari kita buat Kevin junior!" Goda Sintiya di sela desahannya.
Birahiku semakin naik setelah mendengar suara ******* Sintiya. Dan pergulatan panas antara kami berdua terus berlanjut hingga hari berganti.
Berbagai tempat kita lakukan. Bahkan kami berdua tak mendengar suara ketukan dari pelayan. Hanya bercinta yang kami lakukan sepanjang malam hingga matahari hendak terbit.
"Terima ini!!" Teriakku saat pelepasan.
"Aku akan menerimanya sayang argh!" Racau Sintiya mendesah keras dan panjang.
Aku melakukan pelepasan pada rahim Sintiya untuk terakhir kalinya. Lalu ku bopong tubuh Sintiya ke ranjang. Ku rebahkan tubuh Sintiya di kasur king size. Lalu aku ikut merebahkan tubuhku di sampingnya. Ku peluk tubuhnya.
"Aku ngantuk. Ayo kita tidur.."
"Ya sayang aku juga mengantuk.." balas Sintiya
"Biarkan seperti ini." Titahku
"Ya sayang. Selamat tidur Kevin.."
"Hmm.."
Kami berdua pun terlelap dalam mimpi. Setelah melewati bercinta sepanjang malam. Ya aku tak tau mengapa diriku menjadi seperti ini. Entah mengapa diriku bisa melakukan hal ini?
__ADS_1
Tak ada cinta namun kenapa aku terbakar cemburu?
Tak ada yang tau hal itu...