
"Rasakan sensasi dariku biar kau bisa melupakan tentang dirinya!"
- Sintiya El Malik -
Reihan POV
Nyut.. nyut..
Denyut di kepalaku terus berputar. Aku merasa pusing sekali. Aku mencoba untuk membuka mata. Hal yang pertama ku liat adalah diriku yang tak memakai sehelai pakaian. Lalu ku liat di sampingku ada seorang wanita yang tengah tertidur. Wanita itu juga tak memakai sehelai pakaian. Hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya.
Wanita itu?
Dia bukannya Sintiya El Malik? Adik dari tuan Rafael?
Lalu hal apa yang sebenarnya terjadi antara diriku dan dia?
Aku hanya ingat jika dia mengajakku untuk bertemu dan membicarakan tentang Kirani..
Namun kenapa berakhir di atas ranjang?
Aku merasa tubuhku lengket dan berkeringat. Aku mencoba untuk mengingat kembali hal yang terjadi semalam.
Flashback kejadian semalam...
Waktu itu setelah di kafe resort, aku pergi ke tempat Sintiya mengajakku. Kami janjian bertemu di kafe. Di kafe resort itu Sintiya tak menjelaskannya. Ia hanya memberiku foto lalu meninggalkanku sendirian. Aku hanya bisa mengamati satu persatu foto yang diberikan oleh Sintiya. Foto yang diberikan Sintiya adalah foto Kirani dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah klienku sendiri yaitu tuan Rafael Aditya Al Malik.
Beberapa saat kemudian Sintiya kembali ke meja. Aku tentu langsung meminta penjelasan terhadap foto yang ia berikan padaku. Bukannya menjawab, Sintiya malah santai minum dan mencuekiku. Aku merasa sebal saat dicueki. Ku ancam dia jika dia tak segera memberi penjelasan maka aku akan pergi saja. Daripada menunggu hal yang tak jelas.
Sintiya malah menawariku segelas minuman yang dipesannya. Menyodorkan pada diriku. Ia memberi penawaran padaku. Penawaran itu adalah ia akan menjelaskan jika aku mau minum segelas minuman yang ia sodorkan pada diriku.
Aku tak tau minuman apa yang ia sodorkan padaku. Aku merasa bingung apakah aku harus menerima tawarannya apa tidak?
Jika aku tak menerimanya maka aku tak akan mendapatkan informasi apapun terkait Kirani. Dan aku akan semakin mati penasaran. Akhirnya mau tak mau ku terima tawaran minumannya. Ku tegak dengan sekali tegukan. Setelah itu barulah ia berucap banyak. Menjelaskan padaku jika Kirani adalah mantan dari calon dari Rafael. Selain itu, Sintiya juga mengatakan bahwa Kirani pernah menjadi ****** dari Rafael.
Tentu aku marah saat mendengar wanita yang ku cintai dihina oleh Sintiya. Aku tak terima. Ku tantang Sintiya untuk memberikan buktinya namun ia hanya diam. Ku putuskan untuk pergi saja namun saat aku baru melewatinya, Sintiya berucap jika ia memiliki bukti. Ia mengajakku untuk pergi ke tempat dimana bukti itu berada.
Tentu aku mau pergi bersamanya. Karena hanya dengan melihat bukti itu aku bisa tau kenyataan yang sebenarnya. Aku tak akan mau mendengar wanita lain menghina wanita yang ku cintai. Jadi aku akan membuktikannya jika perkataannya adalah salah.
Ia memintaku untuk mengikutinya. Hal itu aku lakukan karena aku penasaran dengan penjelasan Sintiya. Jadi mau tak mau aku mengikutinya.
Aku diajak oleh Sintiya ke sebuah kamar. Disana aku masuk dan Sintiya memutarkan sebuah video untukku. Aku duduk di sofa dan Sintiya pun ikut duduk di sampingku. Video berdurasi 10 menit itu menyala. Samar-samar aku melihat wajah dari wanita itu adalah seseorang yang ku kenali.
__ADS_1
Sintiya mengatakan padaku jika Kirani pernah menjadi ****** dari tuan Rafael. Bahkan Sintiya juga mengatakan bahwa video itu adalah adegan Kirani dan Rafael saat melakukan hubungan intim. Sintiya mengatakan jika ia mendapatkan video itu dari asisten agensi kakaknya.
Aku marah saat melihat video yang dinyalakan oleh Sintiya El Malik.
"Jadi tuan Reihan sekarang anda sudah tau kebenarannya bukan? Ya Kirani adalah ****** dari kakakku. Ia kabur saat kak Rafael hendak menikahinya." Ucap Sintiya yang ku dengar samar-samar.
"Akan tetapi mengapa sekarang dia malah memilih untuk menikah dengan anda? Sungguh munafik sekali Kirani itu!" Hina Sintiya pada Kirani
Aku tak setuju dengan ucapan Sintiya. Justru Kirani memilihku dengan perasaan yang nyata. Namun hanya ada satu pertanyaan di pikiranku. Sebenarnya hubungan apakah yang dimiliki oleh Kirani dan Tuan Rafael di masa lalu?
"Sebenarnya apa hubungan Kirani dan Kakakmu itu Sintiya?" Tanyaku tanpa menunggu lagi. Ya, aku rasa aku harus mengetahui hal ini. Karena bagaimanapun juga aku tak boleh judge seseorang tanpa tau kebenarannya.
Sintiya tersenyum, "Bukankah semua foto yang anda liat di ponsel saya sudah cukup jelas?"
"Maksut kamu? Aku tak paham." balasku
"Ya hubungan apalagi kalo bukan hubungan spesial tuan Reihan. Lebih tepatnya hubungan kekasih eh calon pasangan yang akan menikah." balas Sintiya menekan kata calon pasangan.
"Perlu anda tau, jika mereka sudah sering melakukan hubungan intim. Bahkan di agensi juga." ujar Sintiya yang masih setengah tapi ku potong
"Tidak mungkin! Kirani tidak mungkin melakukan hal itu! Dia wanita terpandang! Dan tak akan pernah melakukan hal itu!" potongku mengelak perkataan Sintiya yang mengatakan bahwa Kirani melakukan hal itu karena terbiasa. Aku kenal betul kirani bukan gadis yang kotor. Dia gadis yang baik dan memiliki high value. Selama ini juga ia tak pernah segan untuk dekat dengan laki-laki manapun termasuk diriku.
"Video itu sudah menunjukkan bahwa Kirani adalah gadis kotor tuan Reihan. Bukankah anda melihat jelas wajah wanita itu di video itu? Apa anda masih tak percaya?" cecar Sintiya terhadap diriku yang masih terdiam kaku.
Aku melihat jelas foto itu. Foto itu adalah foto Kirani dan Rafael yang berada di atas ranjang. Kirani yang memeluk Rafael dengan tubuh yang tertutupi selimut dan Rafael yang mengecup kening Kirani. Aku bisa melihat jelas leher jenjang Kirani yang sedikit tertutup selimut namun masih terpampang jelas.
Lalu Sintiya memutar sebuah video dengan baground ranjang yang sama di foto. Ku dengar video itu.
"Ahh.. Faster kak Rafael.. "
"Rann iam cumming.. "
"I love you Ran.. "
"I love you too kak Rafa.. "
Ya dua kalimat itu yang membuat diriku merasa kaget dan hatiku terbakar seketika. Tubuhku kaku saat mendengarnya. Aku tak bergeming sekali saat memandangi video itu.
"Jadi? Apa anda sudah percaya sekarang tuan Reihan?" tanya Sintiya yang membuyarkan lamunanku.
"Tak mungkin.. "
__ADS_1
"Aku tau hal ini sakit tuan Reihan. Namun ada satu hal yang bisa menyembuhkannya." ucap Sintiya yang kian mendekat ke tubuhku.
Sintiya menyentuh pipiku dan mengusapnya. Lalu usapannya ke bibirku. Tubuhku merasa bergetar dan panas. Aku tak tau mengapa tubuhku merasakan panas seperti ini.
Sintiya menjatuhkan ponselnya ke lantai lalu naik ke pangkuan pahaku. Ia terus menggerakan tangan membelai wajahku. Aku tak bisa menolaknya. Aku hanya pasrah. Pikiranku berusaha menolak namun tubuhku menerimanya.
Sintiya mengecup bibirku dengan sensual. Aku tanpa sadar membuka bibirku. Lidah kami saling bertautan. Membelit satu sama lain. Tanganku bergerak tanpa sadar ke belakang kepalanya. Mendekatkan kepalanya agar ciuman kami semakin dalam.
Tak hanya sampai situ, Sintiya juga menggerakkan pinggulnya dan bergesekan dengan liangnya. Membuat juniorku bangun.
"Wanna play mr reihan?" tanyanya menawariku setelah melepaskan ciumannya.
Aku tak menjawab. Aku hanya diam. Aku mencoba untuk mengusir rasa panas yang menjalar di tubuhku.
"Can we play tuan Reihan?" tanya Sintiya kembali padaku.
Aku tak menjawab. Hal itu membuat Sintiya semakin menggesekkan miliknya di atas juniorku yang masih tertutup. Aku merasa terangsang. Aku tak bisa menahannya lagi. Rasa panas yang menjalar di tubuhku membuatku tak bisa berpikir lagi.
"So do you wanna play with me mr Reihan?" tanyanya sekali lagi memastikanku.
"Do it! Lakukan samapai aku merasa puas!" teriakku menjawab pertanyaannya dan ajakannya.
"As your wish mr Reihan!"
Sintiya meluruhkan celanaku. Ia juga membuka penutup segitiganya. Ia menarikku untuk berdiri. Aku hanya diam dan menurutinya saja. Sintiya tak hanya meluruhkan celanaku, ia meluruhkan semua baju yang ku kenakan. Begitu juga dengan dress merah yang dipakainya. Semua dilepaskan tanpa adanya sehelai baju yang tersisa di tubuh kami berdua.
Sintiya memelukku dan mencium bibirku dengan ganas. Aku pun juga membalasnya dengan lebih ganas. Saling membelitkan lidah kami berdua. Tanpa sadar, ku bawa tubuh Sintiya ke sudut dinding. Di sudut dinding, ku tarik kakinya sebelah kanan untuk naik ke atas.
Ku lepaskan ciumanku dan menatap matanya. Seolah meminta persetujuannya.
"Yes mr Reihan puaskan aku dan mari nikmati malam panas kita berdua." ujarnya menyetujui hal yang akan ku lakukan.
Tanpa basa-basi ku masukkan senjataku ke liang kenikmatannya.
Blesh!
Senjataku masuk dengan sempurna. Sintiya melenguh panjang dengan suara indahnya. Aku merasa jika inilah pertama kalinya ku masukkan senjataku di liang mahkota seorang wanita.
Aku merasa terdiam sejenak. Namun Sintiya memanggilku.
"Mr Reihan gerakkan.. "
__ADS_1
Aku, aku tak tau apakah aku harus melakukan ini semua?
Apakah hal yang ku lakukan saat ini adalah benar?