
"Tak ada hal yang lebih sakit selain melepaskan orang yang kita cintai untuk bahagia bersama orang lain"
- Rafael Aditya Al Malik -
Jangan lupa vote, komen dan followw aku!! ❤
Happy Reading~^^
Katakanlah sebuah kebahagiaan bukanlah milik kita seutuhnya dengan abadi. Kebahagiaan hanya semu yang tak semua berjalan dengan kekal. Ia tak akan bertahan lama dan mudah menghilang. Ya, itulah makna lain dari cinta dan bahagia.
Namun kedua makna itu memiliki persepsinya yang berbeda. Kau bisa mencintai seseorang tapi tak selama kau bisa bahagia. Sama halnya kau bisa bahagia sendiri tapi tak selamanya kau bisa mencintai. Lalu bagaimanakah yang benar?
Hal yang benar adalah kau bisa mencintai dan dicintai orang yang kau cintai hingga kau bisa bahagia dengan waktu yang ada. Hal itu bisa terjadi saat dirimu saling mencintai dengan pasanganmu. Jika cinta itu hanya sepihak maka sebuah duri siap menyakitimu. Itulah sebuah realita kehidupan seorang manusia.
Ada satu realita lagi tentang kisah cinta. Ketika seorang wanita dicintai oleh prianya maka ia akan diratukan. Dalam artian, seorang wanita akan lebih dihargai dan diperlakukan layaknya seorang ratu. Jika hanya seorang wanita yang mencintai prianya maka bersiaplah untuk merasakan belati yang mengiris hatimu. Rasa sakit akan datang bertubi-tubi dan kau harus kuat untuk menahan rasa sakit itu.
Ketika seorang pria mendapatkan cinta dari wanitanya maka dia akan mudah bersikap manja dan seorang wanita akan menjadikan prianya layaknya anak kecil.
Ketika cinta pria lebih besar pada wanitanya, maka ia akan bersikap layaknya anak kecil. Dan seorang wanita selalu siap menyambut segala sikap prianya.
Sejatinya, cinta itu begitu unik. Datang tanpa pernah kita ketahui dan datang dengan sejuta perasaan yang aneh...
Reihan Pov
Hari ini adalah hari yang tak pernah ku duga. Hari ini adalah hari yang penuh dengan sejuta makna kebahagiaan untukku. Ya, Hari ini adalah hari dimana hari jadi hubunganku dengan Kirani.
Dan semua berawal dari..
Sepulang dari meeting aku bersiap untuk pergi mengunjungi Kirani. Ya, seperti biasa ku kenakan pakaian casual kesukaanku. Sweeter abu-abu berlengan panjang dan jogger pants hitam.
Ku liat penampilanku di pantulan cermin sembari ku oles gel di rambutku. Setelah itu ku semprotkan minyak wangi di tubuhku.
Ku liat penampilanku telah sempurna.
"Ya it's perfect you are Reihan!" ujarku sendiri memuji ketampanan yang ku miliki di depan cermin. Ku berkacak pinggang melihat penampilanku yang luar biasa
"It's to meet you bidadariku! Iam coming honeyy!!" seruku bersemangat menggebu
Ku sahut sligbagku dan berjalan keluar. Aku tak sabar lagi untuk menemui Kirani.
Ku ambil kue kesukaan Kirani yang telah ku beli sepulang tadi. Lalu ku berjalan ke luar rumah.
"Silahkan tuan.. " Seorang asistenku membukakan pintu mobil untukku.
"Terima kasih Joni, Oh iya hari ini aku akan mengendarai mobil sendiri. Kau jaga rumahku dan beristirahatlah." Ujarku memberi perintah pada Joni asistenku
"Tapi tuan.. "
"Turuti perintahku dan jangan menolaknya. Kesehatanmu lebih utama Joni." Potongku pada ucapan yang akan dikatakan oleh Joni. Aku tau jika Joni sedang tak enak badan. Jadi aku berupaya untuk mencegahnya melayaniku. Aku tak ingin joni memaksakan dirinya ketika ia sakit. Dan aku peduli pada kesehatannya sebagai majikannya.
"Baiklah tuan.. " Joni mengangguk dan mengiyakan perintahku.
Lalu ku nyalakan mobilku dan Joni berjalan ke gerbang. Membukakan gerbang untukku. Lalu ku lajukan mobilku keluar dari rumahku.
Aku juga tak lupa menyalakan musik kesukaanku. Sebuah lagu bruno mars berjudul Marry You berputar.
It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes or is it this dancing juice?
Who cares, baby, I think I wanna marry you
Well, I know this little chapel on the boulevard we can go
No one will know, oh, come on girl
Who cares if we're trashed, got a pocket full of cash we can blow
Shots of patron and it's on, girl
Don't say no, no, no, no, no
Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
And we'll go, go, go, go, go
__ADS_1
If you're ready, like I'm ready
"Iam Ready yeah.. yeah.. " Seruku ikut bernyanyi dengan semangat
Aku tak tau kenapa diri ini begitu bersemangat. Entah seperti ada hal baik yang akan mendatangiku.
Tuhan, Semoga ada hal baik menghampiriku...
****
Beberapa waktu kemudian..
Aku telah sampai di halaman rumah sakit tempat Kirani dirawat. Ku parkir mobilku, setelah itu aku keluar dari mobilku. Berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Ku langkahkan kakiku menuju kamar inap Kirani. Saat diriku hendak sampai di kamar inap Kirani, ku liat siluet seseorang yang tampaknya ku kenal. Orang itu tampak duduk jongkok dan membenamkan kepalanya. Ku teliti sekali lagi.
Ku dekatkan diriku pada sosok itu. Ikut duduk di depannya.
Pakaian ini? Ini bukannya Pak Rafael?
Kenapa pak Rafael berada disini?
Apa dia habis dari kamar Kirani?
Jika benar mengapa dia seperti ini?
Aku harus tanya hal itu kepadanya!!
Ku tepuk bahunya pelan dan memanggil namanya, "Pak Rafael.."
Tak ku dengar jawaban darinya. Sekali lagi ku panggil dirinya.
"Pak Rafael apakah betul itu anda?" tanyaku dengan sopan. Memastikan sekali lagi apakah sosok di depanku itu benar pak Rafael.
Sret!
Laki-laki di hadapanku menaikkan kepalanya dan menengok ke arahku. Tatapannya tajam akan tetapi matanya sanyu. Sebulir air mata turun dari matanya.
Aku melihat jelas. Bibirku berucap seketika, "Pak Rafael is there problem?" tanyaku tanpa sadar
Tangan mengusap air matanya langsung lalu mengulas senyum padaku, "Ah aku tak tau pak Reihan."
"Yeah Really pak Reihan.."
"Lantas kenapa pak Rafael duduk jongkok disini sambil membenamkan kepala anda? Apa pak Rafael mau ke kamar kirani? Apa anda sudah kesana?" cecarku dengan berbagai pertanyaan kepadanya. Aku penasaran tentang keberadaan pak Rafael yang berada di dekat kamar inap Kirani. Dan aku masih di titik sopan saat menanyakannya.
Ia bangun dari posisi duduknya lalu berdiri. Aku pun juga ikut berdiri. Tangannya menepuk bahuku.
"Tadi saya sudah ke kamar Kirani. Terus saya duduk jongkok sambil membenamkan kepala saya karena saya habis kejedok papan disana." Bebernya sembari menunjuk sebuah papan yang tak berada kejauhan dari kamar inap Kirani.
"Dan hal itu sangat menyakitkan pak Reihan hahaha. Saya pun malu juga saat orang-orang melihatnya. Hal itu memalukan bukan? haha." paparnya sekali lagi dengan tertawa keras.
Aku pun ikut tertawa saat baru memahami penjelasannya.
"Haduh pak Rafael kok bisa sih haha. Tentu hal itu sangat memalukan haha." jawabku ikut tertawa bersama
"Ya itulah kebodohan saya pak Reihan haha."
"Pak Rafael ada-ada saja haha." Aku masih tertawa
Setelah itu, Ia mengamatiku "Pak Reihan tampan sekali hari ini. Dan aroma parfum anda sangat menggoda. Anda seperti sudah siap untuk bertemu pujaan hati anda?" tanyanya menebakku dengan ekspresi senyumnya yang menggoda
Ku garuk kepalaku yang tak gatal sebagai upaya menutupi kegugupanku dan rasa maluku karena ia mengetahui hal yang akan ku lakukan.
"Apa saya benar?" tanyanya menyenggol lengan tanganku
"Ah iya pak Rafael. Itu benar hehe.."
"Baguslah, Dia sudah menunggu anda." ucapnya
"Ah benarkah itu pak?" tanyaku yang terkejut dengan ucapannya. Hatiku berdebar saat mendengar kabar dari pak Rafael jika dirinya menunggu diriku. Apakah hal itu benar?
Pak Rafael tersenyum sekali lagi sembari memandangku, "Iya itu benar pak Reihan. Temuilah dia sekarang juga.. "
"Siap pak!! Saya juga tak sabar untuk menemuinya!" seruku bersemangat menjawab ucapannya
"Baiklah silahkan masuk ke kamarnya pak Reihan. Good luck for your loving mr. Reihan.. " Setelah itu ia hendak berjalan meninggalkanku. Akan tetapi ku cegah tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikan pak Rafael untuk perjuangan cinta saya." Ku ucapkan terima kasih pada Rafael sebagai tanda usahanya yang telah membantu diriku. Aku juga membungkukkan badanku di hadapannya.
"Apapun untuk kebahagiaan bersama aku akan lakukan. Tolong jaga Kirani di sisi anda.. "
Seakan mendapatkan mandat dari Rafael, aku pun mengangguk "Siap pak, Hal itu akan saya lakukan selalu!"
"Ya sudah saya pulang dulu.. " Pamitnya
"Baik pak Rafael, Hati-hati di jalan.. "
Setelah itu pak Rafael mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku. Aku sangat bahagia mendapatkan rekan kerja seperti pak Rafael. Bukan hanya membantu urusan kerja, ia juga ikut membantu urusan percintaanku. Meskipun aku tak tau ada hubungan apa antara dirinya dan Kirani.
Entahlah tentang hal itu bukanlah urusanku untuk mengerti hal itu. Sekarang aku hanya perlu fokus untuk mengejar cinta Kirani.
Ku busungkan dadaku dan mulai berjalan. Ku tatap kamar inap Kirani yang semakin dekat dengan langkah kakiku. Ku hembuskan nafasku.
"Fiuh Reihan, It's time for you untuk maju!"
"Raih cintamu dan bawa Kirani pada dermaga cintamu!"
Setelah ku siapkan semangat yang tinggi. Ku beranikan tanganku meraih gagang pintu dan membukanya.
Ceklek!
Ku buka pintu kamar Kirani dan mulai masuk ke dalam. Ku cari-cari keberadaan Kirani.
"Kirani.. Where are you?" tanyaku memanggil namanya
"Iam here kak Reihan.. " Seorang wanita memakai dress putih di dekat jendela kamar melambaikan tangannya kepadaku. Ya, dia adalah Kirani sang pujaan hatiku.
Aku tersenyum melihat kecantikannya. Eh melihat dirinya sih.
Ku berjalan mendekatinya. Tepat di hadapannya ku lepaskan jaket denim milikku. Lalu memakaikan padanya.
"Kamu kenapa di jendela? Kamu gak kedinginan emang Ran?" tanyaku sedikit mencemaskannya. Dia masih belum sepenuhnya sembuh dan wajahnya masih pucat pasi.
Ia tak menjawab pertanyaanku. Akan tetapi ia menarik tanganku dan memelukku erat. Aku terkejut tak main atas tindakan yang ia lakukan.
"Aku tak akan kedinginan karena pelukan kak Reihan akan selalu menghangatkanku." Tuturnya membuat denyut jantungku semakin berdebar.
Aku tak tau hal apa yang sedang ia lakukan saat ini. Entah ada gerangan apakah ia melakukan hal seperti ini.
Ku lepaskan pelukannya dan memastikan keadaanya. Ku tempelkan telapak tamganku di dahinya. Memeriksa apakah ia sakit apa tidak. Tapi semua normal saja.
"Ran ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kau bertingkah seperti ini?" tanyaku tanpa basa-basi. Menanyakan perihal yang terjadi padanya.
Ia bukannya menjawab pertanyaanku. Ia malah menarik kerah bajuku hingga kepalaku mendekat di depan wajahnya. Bibirnya semakin mendekat dan satu kecupan ku rasakan di bibirku.
"Karena aku mencintaimu kak Reihan. Dan aku baru menyadarinya saat ini.. " ujarnya dengan nafas terengah-engah
Ku tarik dagunya ke atas, "Apakah benar hal itu Ran? Apa kamu tak bohongi padaku Ran atas perasaanmu?"
Ia menggelengkan kepalanya dan mengalungkan tangannya di belakang kepalaku. Jarak kami menjadi semakin dekat. Tak ada jarak sedikitpun antara kami berdua. Hanya ada satu senti.
Mata indahnya menatap mataku dengan lekat. Tanganku memegang pinggangnya agar ia tak jatuh. Semantara mataku masih fokus menatap matanya.
"Ya aku benar kak, Aku tak bohong dan aku benar-benar mencintaimu Reihan Adam Khan." jawabnya mengatakan perasaannya kepadaku. Lalu ia kembali memberikanku kecupan di bibirku.
Ku raih pinggang semakin mendekat. Ku miringkan kepalaku tuk mendekati rona bibir indahnya. Sebelum ku berikan balasan atas kecupannya, ku minta izin padanya untuk merasakannya.
"Can I?" Tanyaku
Ia mengangguk sebagai jawaban bahwa ia menyetujui diriku untuk memberikan ciuman pada bibir manisnya. Aku mulai menundukkan diriku, mendekatkan bibirnya dan masuk ke dalam bibirnya. Bertukar saliva dengannya dengan memegang pinggangnya erat-erat.
Ia menarikku untuk duduk di sofa. Ia naik duduk di pangkuanku dan mulai memberikan sebuah manisnya asmara.
Beberapa menit kemudian..
Sebuah tanda sudah ku berikan padanya. Begitu juga dengannya. Ku usap wajahnya yang sedang memandangiku.
"Iam Really Love You Kirani Hanindita.."
"I Love you too Kak Reihan Adam Khan.. "
Ku berikan kecupan di dahinya. Berharap penuh tentang hubungan yang ku jalani saat ini bisa bertahan lama.
Aku tak menyangka jika penantianku selama ini berbuah manis. Hari ini adalah akan menjadi hari yang akan sangat ku ingat. Hari ini adalah hari jadianku merajut asmara dengan gadis yang ku cintai. Dan hari ini adalah saksi atas perjuangan cintaku padanya.
__ADS_1
Aku berjanji bahwa aku akan selalu menjaga, mencintainya dan menjadikannya sebagai pelabuhan cinta terakhirku.
Yakinlah bahwa tak ada usaha yang mengkhianati hasil dan it's my love come true!