
"Ingin rasanya ku balaskan semua yang ku rasakan namun belum waktunya kau menerimanya!"
- Sintiya El Malik -
Dendam?
Dendam adalah sebuah wujud rasa ketidakterimaan kita terhadap hal yang didapatkan atau dirasakan oleh orang lain. Bentuk dan alasan dendam bermacam-macam. Ada dendam karena perilaku, ada dendam karena harta, ada dendam karena dikhianati, ada dendam atas masa lalu yang pernah terjadi, dan masih banyak lagi alasan dendam. Dendam itu adalah bentuk sifat jelek hati kita. Semakin kita meladeni untuk melakukan dendam maka semakin mudah kita terjebak pada jurang kegelapan.
Dendam bisa menggelapkan hati dan pikiran kita. Jadi jangan pernah mau terbawa arus untuk balas dendam. Ada beberapa penyakit hati yang tak bisa mudah untuk dihilangkan, diantaranya iri, dengki, dan salah satunya adalah dendam. Dendam adalah penyakit hati yang tak mudah untuk dihilangkan. Ia akan terus menggerogoti pikiran dan hatimu untuk melakukannya.
Namun kita sebagai manusia harus bisa menghindari dan menghilangkan sifat pendendam itu. Ya caranya meninggalkan hal atau seseorang yang membuat kita terusik / tergerak untuk balas dendam.
Lalu bagaimana dengan Sintiya?
Sintiya Pov
Aku, aku bisa melihat jelas sosok yang ku cari selama ini. Dan semua berawal dari..
Diriku yang diajak oleh kekasihku untuk pergi liburan ke resort. Awalnya aku merasa sangat bahagia. Pemandangan matahari tenggelam, kerlap-kerlip lampu-lampu di sekitar resort, angin yang berhembus dan desiran ombak yang terdengar.
Sesampai di resort aku senang tak main. Aku terpanah pada pemandangan di resort. Awalnya aku mengajak kevin kekasihku untuk turun namun ia masih harus menjawab panggilan telfon dari bosnya. Jadi mau tak mau aku harus pergi sendiri.
Ku masih terpana dengan pemandangan matahari terbenam. Aku terus berjalan tanpa sadar. Memotret setiap pemandangan dengan kameraku. Langkah kakiku membawaku pada sebuah hal yang tak pernah ku kira. Ya penglihatanku pada sosok Kirani. Semua awalnya karena aku mendengar suara seseorang yang memanggil nama Kirani. Aku yang tadinya fokus memotret kesana kemari jadi tergerak. Tergerak penasaran untuk mengikuti sumber suara.
Aku berjalan ke sumber suara lalu ku dapati seorang pasangan. Sang laki-laki yang menggoda perempuannya dan si perempuan yang tertawa. Aku bisa melihat sekilas tubuh wanita itu seperti sosok Kirani. Tapi apakah hal itu betul?
Aku masih mencoba untuk mengamati mereka berdua dari jarak yang lumayan dekat. Namun wajah wanita itu tak sedikitpun bisa ku liat. Kemudian wanita itu memanggil nama seorang laki-laki. Nama laki-laki yang disebutnya adalah Reihan.
Reihan?
Itu kan nama sosok laki-laki yang ada di postingan estagram Kirani? Yang ku liat kemaren itu?
Aku harus memastikan sekali lagi!
Aku mencoba untuk semakin mendekat. Berharap bisa melihat wajah wanita itu. Seraya ku tutupi wajahku dengan syal milikku. Saat aku berjalan mendekati wanita itu, Wanita itu membalikkan badannya ke belakang. Aku bisa melihat jelas wajah wanita itu.
Lirih aku menyebut nama Kirani, "Kirani.. "
Wanita itu melihat ke arahku. Aku tertegun saat melihat wanita itu beneran Kirani. Aku bisa melihat jelas Kirani yang masih bergelayut mesra memeluk laki-laki itu. Lalu sesaat kemudian ada tarikan seorang pria.
"Ayo sayang kita pergi. Kita harus reservasi sekarang." ucap seorang pria bermasker secara tiba-tiba
Aku yang masih termenung hanya bisa mengikuti tarikan tangan pria itu. Sekilas aku melihat pria itu adalah Kevin kekasihku. Aku awalnya mencoba memberontak tak ingin pergi. Namun Kevin kekeh menarikku. Kekuatannya lebih besar daripada aku jadi aku mau tak mau mengikutinya.
Aku dan Kevin kembali ke mobil. Sesampai di mobil ku tepis tangan Kevin.
"Kevin Apa-apaan sih kamu! Kenapa kau tarik aku! Aku ingin mendekati ****** itu lalu menamparnya! Tapi kenapa kau justru menariknya!" teriakku memarahi Kevin. Tapi Kevin masih diam saja.
"Jawab aku sayang!" bentakku meninggikan suaraku.
Kevin melepas maskernya lalu bergerak mendekatiku. Menarik pinggangku dan mendekapkan tubuhku padanya. Kevin memelukku seraya berkata, "Itu belum waktunya sayang."
"Belum waktunya apa! Aku ingin sekali menampar dia!" teriakku yang masih terbawa emosi.
"Kau bisa liat kan kalo Kirani itu emang ******! Dia emang jalan dengan laki-laki lain dengan sangat bahagia! Sedangkan kakakku? Kakakku menderita Kevin! Mengertilah hal itu!" teriakku marah-marah tak karuan di pelukan Kevin. Aku mencoba memberontak namun Kevin semakin mendekap tubuhku.
Kevin semakin memelukku erat. Aku menangis sesegukan. Merasakan kekecewaan dan kebencian yang menjadi satu.
"Sayang aku tau kau masih benci pada Kirani. Aku tau jika kamu ingin balas dendan pada Kirani. Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku mengerti rasa sakit hati yang kamu rasakan juga. Tapi sayang perlu kamu tau jika waktu balas dendam itu tidak sekarang." Tutur Kevin dengan suara yang lembut. Kevin mengelus kepalaku.
"Lalu kapan aku bisa melakukannya sayang!" desakku bertanya pada Kevin.
"Nanti saat aku sudah membuat strategi ya sayang. Sekarang simpan dendammu dan energimu. Perlahan kita akan membalas perbuatan Kirani itu. Perlahan tapi secara pasti akan menusuk dia. Kau tau istilah begini sayang 'asahlah belatimu hingga tajam. Lalu setelah tajam barulah kau tusukkan pada incaranmu' Kau tau istilah itu?" Ujar Kevin seraya melepaskan pelukannya lalu berdiri di hadapanku. Kevin meraih kedua bahuku dan menatapku dengan tatapan serius.
Aku mengangguk, "iya lalu kenapa?"
Kevin memegang kedua bahuku dan berkata serius, "Sekarang kita asah tenaga dan strategi kita baru kita menusuknya. Saat selesai kita asah maka belati itu akan jauh lebih tajam dan jauh lebih sakit saat kita menusukkannya. Kau paham kan sayang?"
"Ya sayang aku paham itu." balasku yang tak bersemangat.
Kevin menyentuh daguku lalu mendongakkan wajahku ke atas. Kami bertatapan. Aku menatapnya lesu. Seolah aku merasa kecewa.
Cup!
Kevin mengecup bibirku dengan terang-terangan di depan umum. Tak hanya di bibir tapi di pipi dan keningku juga. Emosiku yang tadi naik meluruh seketika. Ku rasakan hangatnya sapuan bibir Kevin di bibirku. Refleks aku melingkarkan tanganku di tekuk kepalanya. Menarik kepala Kevin untuk semakin dekat. Lalu ku cium bibirnya. ********** dengan sensual.
Aku tak peduli dengan orang-orang yang melihat kami berdua. Aku hanya ingin kenikmatan dari ciuman kami berdua. 10 menit kemudian ku lepaskan bibirku. Nafas kami berdua masih terengah-engah.
__ADS_1
Kevin mengangkat tubuhku ala bridal style. Lalu membisikkan kalimat padaku, "Barang kita sudah di kamar sayang. Jadi mari kita nikmati malam panas kita." ucapnya dengan nafas yang masih terengah-engah.
Aku tersenyum simpul dan membalasnya, "Bawa aku ke ranjang kita paduka pangeran. Aku sudah tak sabar dengan malam panas kita."
Kevin tersenyum menyeringai, "As your wish my lady."
Lalu Kevin berjalan ke arah resort. Menggendong tubuhku. Aku yang berada di pelukannya hanya bisa mengecup pipinya. Tak memedulikan tatapan iri para pengunjung.
Ku kira semua akan jadi mudah ketika aku bisa membalaskan dendam padanya. Namun nyatanya waktu tak tepat. Hingga aku harus mengurungkannya. Aku harus mengurungkannya lantaran aku harus melakukan malam yang penuh kenikmatan bersama Kevin.
Kevin membawaku ke kamar. Ia menurunkanku di lift. Lalu menciumku dengan brutal. Aku membalas ciuman brutalnya. Mengalungkan tanganku ke belakang Kepalaya. Kevin melingkarkan tangannya di pinggangku dan semakin menarik tubuhku untuk mendekat.
Di lift kami saling ******* bibir tanpa segan dan malu. Tak peduli dengan para pengunjung di lift.
Ting!
Lift terbuka, Kevin kembali mengangkat tubuhku. Berjalan ke kamar nomer 120. Kevin memasukkan kartu lalu pintu kamar terbuka. Lampu kamar otomatis menyala. Kevin menurunkan tubuhku di kasur king size. Kevin membuka bajunya di hadapanku. Lalu tangannya membuka kancing dressku. Kevin melorotkan dressku dengan hitungan detik saja. Pakaianku hanya tersisa pakaian dalam saja.
"Open it sayang. " pinta Kevin menunjuk pada kedua pakaian dalamku. Aku pun mengangguk dan membukanya. Kedua gundukanku menyembul keluar.
Kevin menjatuhkan diriku ke kasur. Lalu melahap bibirku seraya tangannya meremas benda favoritnya. Aku mengerang keenakan.
"Puaskan aku sayang!" perintahku
"As your wish sayang!" Kerlingan mata Kevin yang penuh gairah bisa ku liat.
Tangannya tak hanya bermain di benda favoritnya tapi juga di mahkota milikku. Ia Mengobrak-abrik setiap jenjang tubuhku. Lalu pelepasan ku dapatkan. Aku masih terdiam merasakan pelepasan lalu tiba-tiba Kevin memasukkannya ke dalam mahkotaku secara tiba-tiba. Aku mengerang dan mendesah. Kevin meneruskan gerakannya maju dan mundur. Kevin juga ******* benda favoritnya hingga basah.
Kami melakukannya tak hanya di kasur tapi juga di shower maupun di jendela. Di jendela dengan posisi berdiri pun Kevin lakukan. Terakhir di shower, entah sudah berapa kali Kevin menyemburkan benihnya di rahimku. Aku hanya merasakan kenikmatan hingga tak sadar sudah berapa kali benih kevin disemburkan.
"Sayang ini terakhir kalinya aku pelepasan hahh." ujarnya dengan mendesah
"Lakukan saja sayang. Akan ku terimaahh." balasku
"Sayang terima iniihhh!!"
Pelepasan terakhir Kevin ku terima. Aku merasakan kehangatan. Kevin melepaskan dan mengeluarkannya dari dalam mahkotaku. Kami masih terdiam.
"Sekarang kita mandi lalu tidur ya?" ucapnya
"Iya sayang."
Ku liat mata Kevin yang sudah mengantuk. Ia melihatku, "Sayang jangan lupa minum obat kontrasepsinya ya."
Kevin mengingatkanku untuk minum obat pencegah kehamilan. Aku hanya mengangguk. Lalu Kevin sudah memejamkan matanya. Tertidur pulas. Aku berjalan ke koperku. Mengambil obat di koperku. Tapi obat yang ku ambil bukan obat pencegah kehamilan tapi obat penguat rahim dan kesuburan. Ku minum obat itu berjumlah dua. Setelah selesai ku minum, ku tutup kembali koperku. Berjalan kembali ke kasur. Ikut berbaring di samping Kevin yang sudah tertidur pulas.
Ku usap perutku pelan. Berkata lirih, "Semoga kamu jadi ya nak, Maafkan aku Kevin yang bohong padamu. Tapi aku sangat ingin memiliki anak denganmu. Agar kita bisa cepat menikah."
"Cinta memang buta dan Hanya cara inilah yang bisa ku lakukan.. "
Lalu ku pejamkan mataku. Ikut tidur bersama Kevin. Larut ke alam mimpi.
Sintiya pov end..
*****
Kevin Pov
Pagi-pagi sekali aku terbangun dari tidurku. Ku rasakan sebuah tangan yang melingkar di tubuhku. Ku liat tangan itu adalah tangan milik Sintiya. Aku tersenyum tipis.
Ah ternyata semalam aku melakukan malam panas lagi bersama gadis bodoh ini..
Jika bukan karena ia bersikap onar mungkin malam panas ini tak akan terjadi..
Bercinta adalah cara terbaik meruntuhkan emosi gadis bodoh ini..
Dan entah berapa kali ku rasakan kenikmatan serta pelepasan bersama gadis bodoh ini...
Dan semua berawal dari..
Flashback..
Sesampai di resort, Gadis bodoh itu berteriak untuk keluar dari mobil. Ku izinkan dia keluar terlebih dahulu lantaran aku harus menjawab panggilan telfon dari anak buahku, Kupret.
"Apa sih Pret!" jawabku marah
"Kau mengganggu dan merusak momen saja!" makiku
__ADS_1
"Bos kami mau mengabarkan jika biaya sewa setiap kamar di resort itu naik. Jika bos tetap ingin menyewa maka kami akan transfer biaya ke orang yang bertugas." jelas Kupret
"Ya lakukan saja! Kan uangku masih cukup bukan!?" tanyaku
"Masalahnya bos.. "
"Masalahnya apa lagi hah!"
"Masalahnya uang di rekening bos tidak cukup dan kurang. Jadi kami butuh ditransfer." terang Kupret mengatakan masalahnya
"Ya ya baiklah huh! Nomernya kirim ke aku saja!"
"Ya bos, sekalian bayaran kami ya."
"Ya beres lah!"
Sambungan telfon kupret ku matikan. Ku buka ponselku dan membuka aplikasi bank. Kali ini aku membuka mobile banking milik Sintiya. Gadis itu memberitahuku tentang passowrd dan username mobile bankingnya. Aku merasa senang karena bisa menikmati uangnya. Segera saja ku transfer sejumlah uang dengan nominal dua puluh juta ke rekeningku.
Lalu ku kirimkan pesan kepada kupret.
To : Kupret
Transfer dan lunasi pembayaran resort. Lalu ambil 5 juta untuk kalian berdua. Jangan ambil gaji kalian karena aku masih belum memberi tugas! dan tugaskan orang di resort untuk membawa barangku!
Send..
Ku dapati balasan dari kupret.
From : kupret
Baik bos! Semua beres! Petugas resort sedang berjalan ke bos.
Setelah itu ku masukkan kembali ponselku ke saku. Seorang petugas resort menghampiriku. Membawakan barangku lalu memberiku kunci. Setelah itu ku berjalan mencari Sintiya gadis bodoh itu.
Berulang kali aku berjalan ke pantai. Namun tak kunjung ku temukannya. Aku merasa lelah sekali mencari gadis tengil itu.
"Kau kemana sih ****!" Monologku mengumpat karena merasa lelah tak kunjung menemukan gadis itu.
"Bikin gua cape aja huh!"
Saat aku merasa kesal karena mencarinya, ku liat seorang gadis yang tengah berpelukan mesra dengan seorang laki-laki. Gadis itu nampak familiar dengan gadis yang ku incar. Lalu ku dengar juga suara yang memanggil nama gadis yang ku incar.
"Kirani.."
Apa?
Kirani?
Apa nama gadis itu seperti nama Kirani?
Tapi kenapa ku rasa tubuh gadis itu mirip sekali dengan Kirani?
Saat aku tengah asyik melihat pasangan itu samar-samar ku liat sosok wanita memakai dress Lilac bunga-bunga dan menutupi wajahnya dengan syalnya.
Tunggu dulu? Gadis dress Lilac itu kok seperti Sintiya ya? Dugaku dalam hati
Aku harus mendekatinya!
Ya! Aku tak salah lagi!
Itu pasti Sintiya!
Aku harus menghentikannya!
Aku berjalan menghampiri wanita yang sedang jalan mengendap-endap ke pasangan itu. Aku mulai dekat dengan Sintiya. Lalu seorang gadis itu berbalik badan. Aku bisa melihat jelas wajah gadis itu.
Wajah cantik nan menawan ku liat. Dalam hati aku berkata, "Itu Kirani? Sungguh itu Kirani?"
"Berarti benar kata kupret kalo Kirani memang masih berada di resort ini! Aku harus segera menghentikan Sintiya!"
"Bisa gawat kalo Sintiya membuat kekacauan! Dan mengacaukan rencana yang ku buat! Bisa gawat!" Ujarku
Lalu dengan kecepatan penuh ku tarik tangan Sintiya segera. Menjauhkan Sintiya dari Kirani. Aku tak ingin Sintiya membuat peperangan dan kekacauan.
Setelah selesai ku jauhkan dari Kirani. Sintiya berteriak dan memberontak. Ia mencoba untuk pergi kesana lagi namun ku tahan sebisa mungkin. Pada akhirnya ku hasut dia secara perlahan. Ku katakan kata-kata yang bisa mempengaruhi pikirannya. Ku tahan dia untuk bersikap sabar. Segala upaya ku lakukan untuk menahannya. Akhirnya aku bisa menahan dan meredakan emosinya.
Ya satu-satunya cara meredakan emosi Sintiya adalah memeluknya, mencium dan melakukan kegiatan bercinta dengannya. Hanya itulah yang bisa membuat Sintiya melupakan kekesalannya.
__ADS_1
Tak apa lah sering bercinta asalkan Sintiya tak menghancurkan rencanaku. Tak peduli harus berapa kali ku melakukannya. Aku hanya ingin mencari kepuasan dan kenikmatan untuk juniorku. Dan tentunya aku tak lupa mengingatkan Sintiya untuk minum obat kontrasepsi.
Lalu aku tak bisa menahan rasa kantukku. Aku sudah lelah dan tenagaku telah terkuras abis karena bercinta dengan Sintiya. Ku terlelap tidur duluan.