
Terlihat seorang pria tengah duduk sambil mengikat tali sepatunya, dan di sampingnya ada juga seorang pria yang sama-sama duduk sambil melihat layar ponsel nya.
"Jadi ini target kita selanjutnya?" Tanya Marco.
"Iya." Jawab Nicolas.
"Wow... Bayarannya sangat mahal, apa dia orang yang sangat berharga? Sampai kepala nya di hargai sepantastis itu." Ucap Marco.
"Iya." Jawab Nicolas yang masih mengikat tali sepatu nya.
"Oke, dan lagi apa orang yang menyewa jasa kita adalah orang kaya yang memiliki dendam kepada pria ini sampai mau merogoh kantong nya hanya untuk membunuhnya." Ucap Marco yang masih tak habis pikir.
Nicolas yang mendengar ucapan Marco pun langsung menatap dingin rekannya itu.
"Sebaiknya kau jangan banyak ikut campur urusan klien, tugas kita hanya memenuhi permintaan mereka, tidak lebih." Ucap Nicolas.
Mendengar ucapan Nicolas, Marco pun hanya bisa menelan air liur nya.
Pria di hadapannya itu sangatlah mengerikan, Nicolas merupakan seorang pembunuh bayaran yang sudah memenggal puluhan Mafia-mafia kelas kakap di kawasan Eropa. Dan tentu saja orang yang menyewa jasanya harus mampu membayar mahal.
"Ku dengar orang yang akan menjadi target kita adalah Mafia yang cukup terkenal di Indonesia." Ucap Marco.
"Iya." Jawab Nicolas singkat.
"Tapi kita belum tahu bagaimana kondisi tempatnya tinggal." Jawab Marco.
"Dia tinggal di pedesaan, dan itu adalah hal mudah untuk kita. Lagi pula pria itu kini sudah tak menjadi ketua Mafia lagi." Jawab Nicolas.
"Waw.. Darimana kau tahu semua itu? Apa pemimpin yang memberitahu mu? Wah.. Wah.. wah.. Dia sangat tidak adil." Ucap Marco.
__ADS_1
"Kau sebaiknya tutup mulut mu, Marco." Ucap Nicolas.
"Oke.. Oke... Aku akan tutup mulut ku ini rapat-rapat." Ucap Marco.
Setelah selesai mengikat tali sepatu nya, Nicolas pun langsung bangkit dari berjalan perlahan meninggalkan Marco.
Marco yang melihat rekannya meninggalkannya pun langsung berjalan menyusul Nicolas.
Kini Nicolas dan Marco akan melakukan penerbangan menuju Indonesia karena target mereka berada di Indonesia.
"Wow.. Pimpinan sangat perhatian, bahkan dia memberikan kita pesawat pribadi." Ucap Marco sambil melihat-lihat isi pesawat tersebut.
Pimpinan yang selalu Marco katakan adalah ketua organisasi pembunuhan yang menyewakan jasa untuk membunuh seseorang. Marco dan Nicolas merupakan bagian dari organisasi tersebut.
Nicolas nampak sangat tenang, lalu dia mengambil earphone miliknya dan langsung memasangkannya di telinga.
Kemudian Nicolas memejamkan matanya sambil menikmati alunan musik.
Clarissa terlihat tengah melamun, entah kenapa akhir-akhir ini hatinya terasa tak enak.
Kemudian Clarissa melihat handphone miliknya, dan sebentar lagi dirinya akan segera melahirkan.
"Ada apa?" Tanya Brian sambil menepuk pundak Clarissa.
Clarissa yang kaget pun nampak kesal. "Jangan ngagetin orang dong, gimana kalau aku jantungan." Ucap Clarissa.
"Ya udah, aku minta maaf. Tapi istri ku ini lagi ngelamunin apa?" Tanya Brian.
"Emm... Sebentar lagi aku akan segera melahirkan, apa kita akan melakukan persalinan di sini atau di Jakarta?" Tanya Clarissa.
__ADS_1
"Mungkin di sini karena jika di Jakarta itu akan memakan waktu, dan lagi aku tak ingin nanti istri ku sakit karena perjalanan jauh." Ucap Brian.
"Ya udah, tapi aku ingin menelpon ayah dan ibu untuk menyuruh mereka datang ke sini." Ucap Clarissa.
"Tentu saja, aku akan menyuruh Erwin dan Roki untuk membawa ayah dan ibu mu ke sini." Ucap Brian.
"Erwin dan Roki? Kenapa harus mereka? Ayah dan ibu ku bisa kok datang ke sini dengan menggunakan supir pribadi." Ucap Clarissa.
"Anu.. Sekalian aku ada urusan dengan mereka berdua, jadi biar sekalian saja membawa ayah dan ibu ke sini." Jawab Brian.
"Lalu bagaimana dengan ibu mu? Apa dia juga akan ke sini?" Tanya Clarissa.
"Ibu ku? Entahlah, soalnya ku dengar dia sedang berada di luar negeri." Jawab Brian.
Mendengar jawaban dari Brian, Clarissa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Lalu tiba-tiba datang Jesselyn menghampiri Clarissa.
"Mommy..." Panggil Jesselyn.
"Iya Jesselyn? Ada apa?" Tanya Clarissa.
"Jesselyn ingin pergi keluar dulu untuk menjemput teman Jesselyn, soalnya mereka belum tahu tempat tinggal Jesselyn." Ucap Jesselyn.
"Ya sudah, hati-hati di jalan nya yah." Ucap Clarissa.
"Oke Mommy, tapi Mommy udah nyiapin makanan kan untuk temen-temen Jesselyn?" Tanya Jesselyn.
"Sudah kok sayang." Jawab Clarissa sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Setelah itu Jesselyn pun langsung bergegas pergi meninggalkan Brian dan juga Clarissa.