
"Clarissa, bagaimana kabar mu." Ucap Pak Candra.
Clarissa langsung menyipit kan mata nya, apakah tak akan ada bencana alam menimpa tempat nya tinggal karena Pak Candra menanyakan kabar nya dengan nada yang sangat-sangat ramah.
"Baik." Jawab Clarissa singkat.
"Kami datang ke sini karena mendapatkan berita di televisi jika kamu mengalami musibah." Ucap Rani menjelaskan alasannya datang ke tempat Clarissa.
"Iya benar yang di katakan oleh ayah dan juga ibu ku, Walau di masa lalu hubungan kita tidak baik. Tapi mau bagaimana pun kita adalah saudara. Benarkan Pama? Bibi?" Ucap Sofia.
"Iya benar, yang di katakan oleh sepupu mu itu. Mau bagaimana pun kita tetap saudara, dan saya mengucapkan terimakasih kepada Kakak dan juga Kakak ipar yang sudah mau mengunjungi Clarissa." Ucap Pak Salim.
"Kamu tak usah berkata seperti Salim, karena aku juga menyayangi Clarissa seperti Putri ku sendiri karena bagaimanapun aku pernah mengurus nya dari kecil, jadi aku sangat khawatir saat tahu jika dia mengalaminya musibah." Ucap Pak Candra kepada adik nya.
"Ah, iya. Terimakasih kak." Jawab Pak Salim.
Berbeda dengan Pak Salim yang menyambut hangat kedatangan keluarga Pak Candra, Clarissa merasa ada yang aneh. Dan juga Clarissa semakin jengkel saat mendengar kata-kata manis yang di ucapkan oleh paman nya itu.
"Menyayangi ku seperti Putri nya sendiri, cih... Menjengkelkan." Pikir Clarissa.
"Dan Clarissa, paman minta maaf atas apa yang telah paman lakukan kepada mu di masa lalu." Ucap Pak Candra.
__ADS_1
"Benar Clarissa, Bibi juga minta maaf karena telah menyakiti mu di masa lalu." Sambung Rani.
"Iya Clarissa, aku juga minta maaf telah menyakiti mu dulu. Ku harap kamu mau memaafkan ku." Ucap Sofia.
Clarissa pun terdiam, "Drama macam apa ini?"
"Terimakasih atas waktu kalian yang telah menjenguk istri ku, tapi saat ini Clarissa harus istirahat." Ucap Brian.
"Baiklah, jaga kesehatan mu baik-baik Clarissa." Jawab Pak Candra.
Setelah itu Brian langsung membawa Clarissa pergi meninggalkan ruang tamu bersama dengan ibunda nya.
"Bu, kenapa paman dan bibi bisa masuk ke rumah kita?" Tanya Clarissa kepada ibunda.
Clarissa pun hanya bisa memutar bola matanya bosan, dia ingat jika ayah nya itu super duper baik hati. Dan pasti dia tak tega mengusir kakak nya sendiri yang ingin menjenguk keponakan nya.
"Sudah lah Clarissa, maafkan ayah mu yang telah mengizinkan paman dan bibi mu masuk ke rumah." Ucap Qiqi.
"Gak papa kok Bu, lagi pula mereka datang memiliki niat baik bukan. Jadi tak baik juga jika aku mengusir mereka." Ucap Clarissa.
"Kamu memang anak baik sayang." Ucap Qiqi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, anak-anak dimana Bu?" Tanya Clarissa.
"Anak-anak, mereka tadi ada di kamar nya. Selama kau tak ada di sini, mereka bertiga selalu berdiam di kamar. Bahkan nafsu makan mereka pun menurun." Ucap Qiqi dengan nada sedih.
Clarissa yang mendengar hal itu merasa bersalah karena ulah nya, anak-anak nya lah yang telah menjadi korban.
"Brian, apa kau bisa mengantar ku ke kamar anak-anak." Ucap Clarissa.
"Tentu." Jawab Brian.
Setelah itu Brian langsung mengangkat tubuh Clarissa, karena kamar anak-anak berada di lantai dua yang tidak memungkinkan untuk mengunakan kursi roda.
Sementara itu.
"Bagaimana Clarissa bisa keracunan seperti, Salim?" Tanya Pak Candra.
"Entahlah, karena saat itu aku masih berada di Amerika." Jawab Pak Salim.
"Ya Tuhan, malang sekali nasib Clarissa. Lalu apa kalian sudah menemukan pelaku nya?" Tanya Rani.
"Belum, karena pelayan yang memberikan minuman tersebut kepada Clarissa mati bunuh diri." Jawab Pak Salim.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa tabah, Salim. Mungkin ini ujian yang di berikan Tuhan kepada Clarissa." Ucap Pak Candra sambil mengelus punggung Pak Salim.
"Terimakasih kak." Jawab Pak Salim.