
Vino nampak menatap kesal dan takut ke arah Brian, dia tak menyangka jika pria itu akan berani menyerangnya di saat anak buahnya sedang bertugas menjaga senjata-senjata miliknya.
"Kenapa? Kenapa kau hanya diam? Kau takut?" Tanya Brian.
"Takut.. Cih, hanya seekor semut yang takut kepada mu.." Ucap Vino.
Kemudian Vino berjalan mendekat ke arah Brian, Brian pun dengan santai langsung menodongkan senjata milik tepat ke kepala Vino.
"Kau ingin membunuh ku?" Tanya Vino sambil tersenyum mengejek.
"Cih... Membunuh mu langsung itu terlalu mudah dan membosankan, tapi menyiksa mu hingga mati lebih menyenangkan." Ucap Brian sambil tersenyum.
Nampak Brian langsung memberikan kode kepada anak buahnya, Vino yang melihat hal itu langsung segera lari tapi seketika tubuh Vino langsung di tangkap oleh anak buah Brian.
"Lepaskan aku.. Akan ku pastikan kau membayar mahal atas perbuatan mu itu Brian.." Maki Vino sebelum di seret ke sebuah ruangan.
Sementara itu..
Fransiska yang masih dalam keadaan sadar dan setengah sadar pun mulai membuka matanya, kepalanya terasa pusing.
"Argh..."
Telinga Fransiska pun mendengar suara-suara bising tembakan dan juga teriakan.
"Apa yang terjadi.." Gumam nya.
Fransiska pun perlahan mulai bangkit dari ranjang miliknya, dia berjalan dengan perlahan sambil berpegangan ke benda-benda dan juga tembok.
__ADS_1
Melalui lubang di pintu Fransiska melihat banyak orang yang baru di lihat tengah membawa senjata, dan di depan kamar Fransiska terlihat banyak noda darah dimana-mana.
"Apa yang terjadi, kenapa bisa banyak darah seperti ini.." Gumam Fransiska.
Kemudian Fransiska berjalan dengan kepala yang masih pusing ke sebuah ruang monitor yang berada di kamar tidurnya.
Dari rekaman cctv yang ada, Fransiska melihat banyak anak buahnya sudah tewas di bunuh oleh orang-orang yang tidak di kenal itu.
"Siapa? Siapa yang telah melakukan ini semua.." Gumam nya.
Kemudian Fransiska mencari di setiap layar monitor, tapi dia tak melihat adanya Vino. "Kemana pria itu.." Gumam Fransiska dengan memasang wajah panik.
Kemudian Fransiska langsung mencari handphone milik nya untuk memanggil semua anak buah nya untuk kembali ke markas.
"Sial kemana handphone ku..." Ucap Fransiska karena dia tak bisa menemukan keberadaan handphone miliknya.
Fransiska sekarang hanya bisa diam sambil melihat dari layar monitor, kemudian matanya langsung tertuju pada salah satu layar yang menampilkan Vino yang tengah di seret keluar dari sebuah ruangan dengan tubuh yang sudah berlumuran darah.
Air mata Fransiska pun langsung mengalir, kekasihnya sekaligus atasannya sudah tewas di tangan orang lain.
"Ini tidak mungkin..." Gumam Fransiska.
Kemudian Fransiska langsung melihat salah seorang yang tengah tersenyum sambil melihat kekasihnya yang sudah tidak bernyawa itu.
"Brian...." Satu nama itu yang keluar dari mulut Fransiska.
"Beraninya kau membunuh Vino... Beraninya kau melakukan itu." Ucap Fransiska kesal bercampur marah.
__ADS_1
Tapi dengan cepat Fransiska segera menyeka air matanya, ini bukanlah saat nya dia bersedih. Sekarang dia harus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini, karena cepat atau lambat orang-orang itu pasti akan menemukannya.
Fransiska berjalan mengelilingi kamar nya, dan dia melihat lubang pentilasi yang bisa di bilang cukup besar.
Dengan kepala yang masih pusing Fransiska langsung naik ke atas, meski di kesulitan tapi Fransiska pun bisa naik ke atas dan bersembunyi di lubang pentilasi yang mengarah ke setiap ruangan.
Di dalam sana, Fransiska melihat banyak orang yang masuk ke kamar nya dan mencari-cari dirinya.
Dan kini Fransiska hanya bisa bersembunyi di tempat itu sampai semua orang pergi.
Sementara itu.
Brian tengah duduk sambil menghirup rokok miliknya, kini musuh bebuyutan nya pun telah tewas.
"Bagaimana apa masih ada lagi orang?" Tanya Brian.
"Tidak ada.." Jawab Roki.
"Oh, iya. Kalian cari ruang monitor dan hancurkan semua rekaman cctv nya." Ucap Brian.
"Baik Bos.." jawab Roki.
"Tapi bukannya Vino memiliki kaki tangan seorang wanita, tapi kita belum menemukan wanita itu." Ucap Erwin.
Brian pun terdiam sejenak, benar saja dia melupakan satu orang. "Kalau begitu, cari wanita itu." Perintah Brian.
"Baik Bos.." Jawab mereka berdua serempak.
__ADS_1