
"Dari mana saja kau.." Ucap Sofia yang baru melihat Alvin pulang ke rumah.
"Tadi ada teman ngajak ketemu." Ucap Alvin.
"Cih.. Teman yang mana, bukannya semua teman mu itu pergi menjauh yah. Lagi pula orang buta mana sih yang mau temenan sama orang pengangguran kaya kamu." Ucap Sofia.
Alvin yang kesal hanya bisa menatap tajam ke arah Sofia.
"Apa liat-liat kaya gitu, cepat pergi sana. Beresin rumah, bukannya keluyuran." Ucap Sofia sambil melenggang pergi.
Alvin hanya bisa menatap kesal ke arah Sofia, "Tunggu saja, akan ku balas perbuatan mu. Sofia." Gumam Alvin.
Setelah itu, Alvin langsung berjalan ke arah dapur, seperti biasanya dia menyiapkan makanan untuk Sofia karena kini Alvin bagaimana seorang pembantu di rumah itu.
Terlihat mata Alvin melihat sekeliling, dan saat tidak ada orang Alvin langsung memasukkan sebuah cairan ke dalam makanan Sofia.
Kemudian dengan perlahan Alvin langsung membawa makanan itu ke kamar Sofia.
"Ini makanan untuk mu." Ucap Alvin kepada Sofia.
"Gitu dong, jadi orang harus tahu diri. Bukan cuman harus di suruh doang, inget yah. Kini kamu tuh gak lebih cuman babu di rumah ini, jadi sadar diri. Walaupun status mu suami ku, tapi bagi ku, kau yang sekarang tak lebih hanyalah BABU.." Ucap Sofia.
Alvin pun langsung memasang ekspresi sedih sambil tersenyum. "Meski kau menganggap ku seorang pembantu, tapi aku mencintaimu dengan tulus Sofia." Ucap Alvin.
"Cih.. Cinta? Tulus? Jaman sekarang tuh yah udah gak berlaku cinta yang tulus. Yang sekarang tuh paling penting itu duit. duit... Dan kamu cowok gak berduit cuman sampah." Ucap Sofia.
__ADS_1
Kemudian Sofia dengan kasar langsung mengusir Alvin dari kamar nya, Alvin yang keluar kamar pun seketika langsung tersenyum senang. Ekspresi sedih nya yang tadi hanyalah akting semata.
"Baiklah, akan kita lihat nanti. Siapa yang akan menjadi sampah yang sebenarnya." Gumam Alvin sambil berjalan pergi.
Sementara itu..
Terlihat Brian tengah duduk santai sambil menikmati video kiriman dari Jesselyn yang tengah memperlihatkan Clarissa yang sedang menjalani terapi.
Sebuah senyuman tipis terukir jelas di wajah Brian, dia tak sabar ingin melihat Clarissa bisa berjalan lagi seperti dulu.
Tapi momen bahagia Brian yang tengah melihat video istri nya pun langsung hancur oleh kedatangan Roki dan juga Erwin.
"Bos... Ku dengar kau menyuruh suami dari adik ipar mu untuk kerja sama?" Tanya Roki yang langsung pada intinya.
Memang pada saat bernegosiasi dengan Alvin, Roki dan Erwin sedang tidak ada di tempat.
"Apa itu tidak terlalu beresiko, terlebih lagi apa yang kau rencanakan?" Tanya Erwin.
"Aku hanya memberikan sebuah ramuan spesial untuk wanita itu." Ucap Brian.
"Tapi memang nya suami wanita itu akan tega melakukan hal itu kepada istrinya sendiri." Ucap Erwin yang masih tak bisa percaya.
"Erwin - Erwin.. Itulah kenapa kau harus cepat-cepat menikah." Ucap Brian.
"Menikah? Aku hanya bertanya, lalu apa hubungannya dengan menikah." Ucap Erwin.
__ADS_1
"Kau tahu, wanita itu di bagi menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah wanita yang tulus mencintai mu apa adanya dan yang kedua adalah wanita yang hanya mencintai mu ketika kamu memiliki segala nya." Ucap Brian menjelaskan.
"Lalu?" Tanya Erwin yang masih tak paham.
"Menurut mu, jika seorang wanita mencintai kita di saat kaya dan memperlakukan kita seperti raja lalu di saat kita sudah tidak memiliki segala nya dia memperlakukan kita seperti binatang. Kategori yang cocok untuk wanita itu?" Tanya Brian.
"Dia tidak mencintai kita apa adanya? Ah, maksud ku tidak tulus." Jawab Erwin.
"Betul sekali, dan istri dari pria itu adalah tipe wanita yang tidak tulus. Dan kau tahu bagaimana perasaan seorang pria jika dia sudah tidak memiliki apa-apa lalu harga diri nya di injak-injak?" Tanya Brian lagi.
"Dia akan dendam." Ucap Erwin.
"Betul sekali, dan orang yang sudah dendam dan ingin membalaskan dendam nya pasti akan melakukan segala cara agar dendam nya terbalaskan. Terutama seorang pria." Ucap Brian mengakhiri ucapannya.
"Kami mengerti yang anda maksud Bos." Ucap Roki yang tak ingin memperpanjang penjelasan yang tak penting itu.
"Bagus, apa ada pertanyaan?" Tanya Brian.
"Tidak Bos." Jawab Roki lagi.
Erwin yang melihat temannya memotong-motong ucapannya hanya bisa menatap kesal, sebab dirinya masih memiliki segudang pertanyaan.
"Ah, iya. Kami ke sini juga ingin melaporkan pergerakan anak buah Vino." Ucap Roki sambil memberikan beberapa dokumen yang berisikan data-data dan juga Foto-foto anak buah Vino yang tengah melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Menurut ku, pasti masih ada salah satu orang yang masih hidup saat itu. Dan kini dia yang memimpin anak buah Vino." Ucap Roki.
__ADS_1
"Iya, lagi pula aku tahu siapa orang nya. Dan tenang saja, kita akan membereskan hal itu nanti." Ucap Brian.
"Baiklah bos.." Ucap Roki.