Gigolo Ku Seorang Mafia

Gigolo Ku Seorang Mafia
Bab 49 : Mengetes.


__ADS_3

"Dorrr..."


Deg....


Jantung Clarissa langsung berdetak dengan kencang, kemudian dia langsung membuka matanya. Di lihat nya Brian tengah tertawa sambil melihat ke arahnya.


"Apa yang lucu?" tanya Clarissa dengan wajah galak.


"Tidak ada, aku hanya suka melihat ekspresi ketakutan mu itu." Ucap Brian.


"Bukannya kau ingin menembak ku?" tanya Clarissa.


"Siapa yang mengatakan aku ingin menembak mu." Jawab Brian sambil menyimpan pistol nya.


"Lalu pistol itu, kau mengarahkan nya ke bawah dagu ku." Ucap Clarissa.


"Aku hanya mengetes seberapa beraninya wanita ku ini, dan lagi pula pistol itu tak ada peluru nya.." Jawab Brian santai.


"Kau.. Dasar, pria b*rengsek.." maki Clarissa kesal, dia merasa di permainkan oleh Brian.


"Tapi aku suka wanita yang tak takut seperti mu." Ucap Brian sambil membelai wajah Clarissa dengan lembut.


"Dasar pria gila, dia menodong pistol nya kehadapan Ku. Siapa pun pasti takut, bahkan orang gila sekalu pun..." Pikir Clarissa.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Brian yang tengah melihat ekspresi wajah Clarissa.


"Tidak ada, aku hanya membayangkan saat kau menembak ku." Jawab Clarissa.


"Oh... Jadi kau ingin sekali di tembak? Baiklah, aku akan menembak mu tepat di rahim mu." Ucap Brian sambil membuka celana nya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Clarissa.

__ADS_1


"Aku akan menembak rahim mu, dengan senjata pamungkas ku ini." Ucap Brian sambil menunjuk kan barang miliknya yang sudah bangun sejak dari tadi.


Clarissa yang melihat hal itu langsung memasang wajah kesal, dia baru saja bangun dan kini Brian sudah ingin melakukan hal itu lagi.


"Ah... Aku cape, aku lemes.. Aku baru sembuh, apa kau jahat..." Ucap Clarissa kesal.


"Tak apa, kau hanya butuh berbaring dan tak perlu melakukan apa-apa, biarkan aku yang bekerja untuk saat ini." Ucap Brian.


"Aku tak mau, meski begitu aku akan tetap cape dan lemas.." Jawab Clarissa.


"Aku sudah memberimu keringanan.." Ucap Brian.


"Aku ingin istirahat, apa kau tak kasihan.." Ucap Clarissa sambil mengeluarkan wajah imut nya.


"Ah... Meski kau mengeluarkan wajah seperti itu, aku bukannya kasian tapi aku malah semakin bernafsu." Ucap Brian.


"Ku mohon... Aku cape, aku ingin pulang.." Ucap Clarissa memohon.


"Pulang?" Tanya Brian.


"Terimakasih..." Ucap Clarissa senang.


"Dan aku akan mengantarkan mu langsung ke rumah mu.." Ucap Brian sambil tersenyum.


"Apa?" Tanya Clarissa dengan wajah yang terkejut.


"Sekarang kau bersiap-siap lah, mungkin setelah di rumah mu akan ada kejutan lain.." Ucap Brian sambil tersenyum meninggalkan Clarissa.


Clarissa hanya bisa pasrah, meski seberapa keras dia mencoba menyembunyikan ketiga anaknya tapi tetap saja pria itu lebih hebat darinya.


Setelah bersiap Clarissa langsung menghampiri Brian yang berada di ruang tamu sambil menyalakan sebatang rokok miliknya.

__ADS_1


"Ayo.." Ajak Clarissa.


"Oke.." Jawab Brian.


"Eh.. Tunggu, aku lupa dimana handphone ku?" Tanya Clarissa yang baru ingat jika handphone nya tak ada.


Kemudian Brian langsung memberikan sebuah paper bag kepada Clarissa, saat Clarissa membuka isinya rupanya sebuah handphone keluaran terbaru.


"Ini bukan handphone ku." Ucap Clarissa protes.


"Aku sudah menghancurkan handphone mu." Jawab Brian.


"What...?"


"Kenapa? Kau tak suka, di handphone itu terlalu banyak nomor pria." Ucap Brian.


"Mau aku menyimpan nomor pria atau tidak, itu hak ku." Ucap Clarissa membela diri.


"Dan jika aku menghancurkan handphone mu pun itu hak ku." Balas Brian sambil merangkul Clarissa dan membawanya ke dalam mobil.


Di sepanjang jalan Clarissa hanya bisa menghela nafas, dia bingung dengan situasi ke depannya nanti.


Clarissa takut jika Brian akan melakukan hal kasar kepada ketiga anak nya.


"Kenapa kau terlihat takut sayang?" Tanya Brian sambil menyentuh dagu Clarissa.


"Aku tak terlihat takut, aku hanya sedang sakit saja." Jawab Clarissa.


"Lady ku ini sedang sakit rupanya.." Ucap Brian sambil membenamkan wajahnya di leher Clarissa.


"Iya, ini semua karena orang tidak tahu malu.. Membuat ku kesakitan, kelelahan.." Ucap Clarissa tapi ucapannya langsung di potong oleh Brian.

__ADS_1


"Dan keenakan.." Sambung Brian sambil tersenyum.


Clarissa langsung membulatkan matanya saat mendengar Brian mengatakan hal itu.


__ADS_2