
Clarissa dan Brian yang masih dalam posisi saling memeluk pun kini mereka saling memandang satu sama lain dengan wajah yang ceria dan juga bahagia.
"Ada apa? Kau sangat senang?" Tanya Brian.
"Aku tidak senang, biasa saja.." Jawab Clarissa.
"Benarkah?" Tanya Brian sambil memegangi kedua pipi Clarissa.
"Hentikan.." Jawab Clarissa sambil melepaskan tangan Brian.
"Kenapa? Aku suka memegangi pipi mu yang tembem itu. Apalagi..." Ucap Brian menggantung kan kata-kata miliknya.
"Apalagi, apa?" Tanya Clarissa.
"Apa lagi barang milik mu, yang tembem." Jawab Brian.
"Dasar pria mesum, dari dulu kau sangat mesum." Maki Clarissa.
"Tapi kau sangat menyukai pria mesum ini, bukan?" Tanya Brian sambil tersenyum.
Clarissa hanya bisa menggelengkan kepalanya kesal dengan sikap Brian yang sangat PD akan segala hal.
"Clarissa." Panggil Brian dengan wajah yang serius.
"Apa?" Tanya Clarissa yang penasaran melihat ekspresi wajah Brian.
" Aku Mencintai mu, tapi..." Ucap Brian menggantung kan kata-kata nya.
"Tapi apa?" Tanya Clarissa.
"Aku tak bisa menikahi mu." Jelas Brian.
"Tak bisa? Kenapa?" Tanya Clarissa kaget dengan wajah yang menampilkan kekecewaan.
"Maksud ku bukan tak bisa, tapi belum bisa." Jelas Brian.
__ADS_1
"Kenapa belum bisa?" Tanya Clarissa.
"Aku yang seorang Mafia, memiliki banyak musuh. Dan aku tak mau kau dan anak-anak kita terluka.." Jelas Brian.
"Tapi mau sampai kapan?" Tanya Clarissa.
"Aku berjanji setelah musuh-musuh ku hancur, aku pasti akan menikahi. Cepat atau lambat, aku pasti akan menikahi mu." Ucap Brian.
"Tapi kapan, Brian? jika kau memiliki pemikiran seperti itu, itu memang bagus. Tapi mau sampai kapan kau bisa melakukan hal itu? Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama, mungkin sampai bertahun-tahun." Ucap Clarissa.
"Dengarkan aku, aku berjanji. Sebentar lagi aku akan menghancurkan Vino dan juga anak buahnya. Dan setelah itu aku akan menikahi mu dan memberikan status yang pasti untuk anak kita." Ucap Brian.
"Tapi aku takut.." Jawab Clarissa.
"Takut Kenapa?" Tanya Brian sambil memegangi kedua pipi Clarissa.
"Aku takut jika bukannya kau yang menghancurkan mereka. Tapi mereka lah yang berhasil menghancurkan mu.." Ucap Clarissa.
"Kau percaya kepada ku kan?" Tanya Brian.
"Tentu saja aku percaya akan kemampuan mu dan juga anak buah mu, tapi kadang takdir selalu berkata lain. Brian.." Ucap Brian.
"Takdir itu tak bisa di lawan Brian, apa lagi di ubah." jawab Clarissa.
"Tentu saja bisa.." jawab Brian.
"Terserah kau saja.." Ucap Clarissa.
Kemudian Brian langsung memeluk tubuh Clarissa dan begitu juga dengan Clarissa yang membalas pelukan Brian.
"Aku rindu hangatnya tubuh mu, Clarissa." Ucap Brian to the points.
"Aku masih datang bulan, Brian." Jawab Clarissa langsung pada intinya.
"Tapi ini sudah lama." Jawab Brian.
__ADS_1
"Sudah lama apanya, baru juga 2 hari. Kau bilang lama." Oceh Clarissa memaki-maki Brian.
"Baiklah, untuk sekarang aku mengalah." Jawab Brian.
"Hari sudah malam, ayo kita pulang." Ajak Clarissa.
"Baiklah, aku akan menelpon anak buah ku untuk datang." Jawab Brian.
Kemudian Brian langsung menghubungkan anak buahnya untuk menjemput dirinya.
"Clarissa.." Panggil Brian.
"Ada apa?" Tanya Clarissa.
"Ingat ucapan ku yang tadi hanya kita berdua yang tahu, dan untuk ketiga anak kita. Tak boleh kau kasih tahu." Jawab Brian.
"Kenapa?" Tanya Clarissa.
"Biarkan, saja. Dan lagi saat berada di depan mereka kita harus pura-pura hubungan kita tak baik." Jawab Brian.
"Kenapa?" Tanya Clarissa.
"Biarkan, aku ingin lihat bagaimana ketiga anak kecil itu berusaha menyatukan kita." jawab Brian.
"Memang nya mereka berusaha menyatukan kita?" Tanya Clarissa.
"Tentu saja, dari awal aku sudah tahu rencana mereka dari mulai mengajak Maria, bahkan anak kecil penjual bunga. Dan juga mereka yang meninggal kita berdua di sini." Ucap Brian.
"Wow... Aku tak tahu akan hal itu." Jawab Clarissa.
"Iya, mereka yang ingin mempermainkan ku dengan trik murahan seperti itu. Maka aku akan mempermainkan anak-anak kecil itu dengan kecerdasan ku." Ucap Brian.
"Mereka hanya anak kecil." Ucap Clarissa.
"Iya aku tahu, tapi ini juga sekaligus memberi mereka pelajari agar tak mencampuri urusan orang dewasa." jawab Brian.
__ADS_1
Clarissa pun memikirkan apa yang Brian katakan, "Emm.. Baiklah, aku setuju mengikuti rencana mu." Jawab Clarissa.
"Baiklah." Ucap Brian senang.