
Clarissa nampak kesakitan karena pisau kecil itu sedikit menggores pergelangan tangannya.
Clarissa yang merupakan seorang CEO selalu membawa perlengkapan untuk keselamatan diri nya, karena Clarissa pun memiliki banyak musuh di dunia bisnis dan tak sedikit pula yang ingin mencelakai nya.
Tali yang berada di tangan Clarissa pun segera terputus, kemudian Clarissa langsung membuka tali yang mengikat kaki nya.
"Bedebah... Beraninya menculik seorang wanita." Gumam Clarissa kesal.
Kemudian Clarissa melihat jam yang berada di dinding ruangan itu, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Clarissa dengan perlahan berjalan ke arah pintu, pintu nya pun rupanya terkunci dari luar.
Clarissa pun mengeluarkan jepit rambut kecil yang berada rambut miliknya, Clarissa berusaha membuka pintu ruangan itu. Dia sudah belajar dari teman nya cara membuka pintu yang di kunci dengan jepit rambut seperti ini dan membutuhkan waktu lama sampai bisa menguasai hal itu.
Karena Clarissa harus mengantisipasi jika dirinya di culik oleh orang lain, "Keahlian ku sangat berguna.." Ucap Clarissa.
Tapi sebelum pintu berhasil di buka, Clarissa mendengar suaranya langkah kaki yang mendekat.
Dengan cepat Clarissa kembali ke kursi dan mengikat kembali tali di kaki nya, tangannya pun di letakkan di belakang seakan-akan tengah di ikat.
Brak..
Pintu ruangan terbuka nampak seorang pria kekar masuk ke dalam ruangan. Clarissa menebak jika orang itu adalah penjaga untuk nya.
Kemudian tersirat sebuah ide licik di kepalanya. "Tuan.." panggil Clarissa dengan nada rendah dan sedikit.
Pria itu pun langsung menoleh ke arah Clarissa, nampak Clarissa memajukan sedikit bibir tipis nya.
"Saya kebelet pengen ke toilet.." Ucap Clarissa dengan wajah yang sengaja di buat si imut mungkin.
"Tak bisa, tahan saja.." Jawab Pria itu yang tetap melihat ke arah Clarissa.
"Uh.. Ku mohon.." Ucap Clarissa memohon.
"Baiklah, kalau begitu. Kau buang air di sana saja.." Ucap Pria itu sambil menunjuk ke sudut ruangan.
__ADS_1
Clarissa pun mengangguk kepalanya, kemudian pria itu membukakan tali di kaki Clarissa.
"Berbalik lah, saya malu.." Ucap Clarissa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Pria pun hanya meneguk air liurnya, Clarissa sangatlah menggoda, kemudian pria itu langsung membalikkan tubuhnya.
Clarissa perlahan mengangkat kursi dan memukulnya langsung ke kepala botak pria itu.
"Dasar bedebah..." Maki Clarissa sambil terus memukul.
Pria itu nampak memegangi kepalanya, "Arg.. Beraninya kau.." Ucapnya.
Clarissa pun kembali mencari barang-barang di ruangan itu dia langsung mengambil sebuah tongkat baseball dan segera memukul tepat di kepala pria itu.
Nampak pria itu terbaring lemas di lantai, Clarissa hanya bisa diam menatap dirinya. "Apa dia mati?" Tanya Clarissa karena dia melihat darah mengalir dari kepala pria itu.
Tak ingin ambil pusing Clarissa langsung mengambil kunci dan segera keluar dari ruangan itu.
karena Demi nyawa nya Clarissa harus melakukan hal itu.
Sementara itu.
Begitu juga dengan Brian, dia sudah mulai berjalan melalui pintu depan.
"Siapa kalian..." Ucap para penjaga yang berada di depan pintu masuk.
Dor... dor.. dor... dor..
Tanpa menjawab ucapan mereka Brian langsung menembak mati para penjaga itu, tatapan dingin dan serius terlihat jelas di wajah tampan nya.
Maria hanya bisa meneguk ludahnya sendiri, sudah lama Maria tak menjalankan misi lapangan dan kini Maria bisa melihat lagi ekspresi menyeramkan dari wajah Bos nya itu.
"Apa kau baik-baik saja, Maria?" Tanya Rendi.
"Aku baik.." Jawab Maria.
__ADS_1
"Kalian berdua jangan lengah.." Ucap Brian.
Maria dan Rendi pun hanya menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di pintu belakang...
Deri, Tania, Bima dan Arjuna tengah mengendap-endap masuk, setiap penjaga yang ada langsung di tusuk oleh pisau kecil tepat di leher mereka oleh Tania.
"Ayo..." Ucap Deri sambil membawa senjata milik nya.
Bima dan Arjuna pun memasang Landmine di setiap tempat yang sering di pijak oleh musuh.
"Siapa kalian..." Teriak seorang pria.
Dor... Dor.. Dor...
Tania kembali menembak langsung pria itu tepat di Kepalanya meski seorang wanita, tapi kemampuan nya patut di acungi jempol.
Tak beberapa lama terdengar suara langkah kaki, Bima pun mendekati kan kuping nya ke lantai. "6 orang..." Ucapnya.
Kemudian Deri segera menyuruh Bima, Tania, dan Arjuna untuk sembunyi.
Mereka berempat pun mengeluarkan sebuah alat yang berada di pinggang mereka, dan saat di tekat alat itu mengeluarkan sebuah tali, dan ujung tali itu langsung menembak ke atas langit-langit.
Dan saat di rasa kuat kuat mereka langsung menekan sebuah tombol yang membuat tubuh mereka terangkat ke atas.
Deri, Arjuna, Tania dan Bima pun kini berada di atas langit-langit ruangan. Di bawahnya ada 6 orang musuh dengan senjata lengkap tengah memeriksa keadaan.
"Ada mayat.." Ucap salah satu dari mereka.
"Siapa yang melakukan itu." Ucapnya.
Kemudian Bima pun memberi kode untuk segera menembak orang-orang itu di saat mereka lengah.
Dor... Dor... Dor.. Dor...
__ADS_1
Seketika mereka berenam pun langsung tewas di tempat, kemudian Deri, Tania, Arjuna dan Bima pun segera turun.
Perlahan mereka kembali meneruskan perjalan tak lupa di sepanjang jalan mereka memasang bom tempel.