
"Apa yang harus ku katakan, aku cacat.." Ucap Clarissa sambil terus menangis.
"Kau tidak cacat Clarissa, bagi ku kau adalah wanita yang paling sempurna." Jawab Brian.
"Kau bohong..." Ucap Clarissa.
Kemudian Brian memeluk istrinya yang berada di pangkuan nya itu.
"Aku tak masalah jika kau tak bisa berjalan sekali pun, karena yang ku cintai adalah diri mu, hati mu dan aku tak peduli bagaimana keadaan fisik mu." Ucap Brian.
Clarissa pun terdiam sambil memeluk Brian, tak terdengar lagi suara tangisan dari mulut kecil Clarissa.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak." Ucap Clarissa.
"Mereka baik-baik saja." Jawab Brian.
"Bukan itu, apa mereka tahu keadaan ku yang sekarang?" Tanya Clarissa.
"Belum, mereka belum mengetahui kondisi mu saat ini." Jawab Brian.
Clarissa pun terdiam, "Ada apa?" Tanya Brian yang melihat istrinya itu tengah bersedih.
__ADS_1
"Aku takut, jika anak-anak tak menerima keadaan ku. Dan bagaimana jika saat mereka masuk sekolah, mereka di ejek oleh teman-temannya karena memiliki ibu yang cacat." Ucap Clarissa.
"Tidak, hal itu tak akan terjadi. Mau bagaimana keadaan mu, anak-anak pasti akan menerima keadaan mu dan jika suatu saat teman-teman nya mengejek anak-anak kita, aku yang akan turun tangan dan memberi pelajaran kepada orang tua mereka agar mendidik anak nya dengan benar." Ucap Brian dengan serius.
Clarissa pun tersenyum, kemudian dia memeluk Brian. Clarissa takut jika Brian akan meninggalkan nya sama seperti mantan tunangannya yang meninggal kan nya demi wanita yang lebih sempurna dari pada dirinya.
"Tapi apa kau benar tak akan meninggalkan ku?" Tanya Clarissa dengan suara yang pelan sambil menyembunyikan wajah nya di dada bidang Brian.
Tapi meski pelan, Brian masih tetap bisa mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Clarissa.
"Tentu saja, aku tak akan pernah meninggalkan mu." Jawab Brian.
"Tak akan ada wanita yang lebih sempurna dari mu Clarissa." Jawab Brian.
Clarissa pun kembali terdiam sambil memeluk Brian.
"Sekarang hari sudah malam, sebaiknya kau tidur. Karena besok kita akan pergi berobat." Ucap Brian.
"Berobat kemana?" Tanya Clarissa.
"Aku punya kenalan seorang dokter hebat, dan besok kita akan menemuinya." Ucap Brian sambil mengangkat tubuh Clarissa dan membawanya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Tapi Brian, aku masih memikirkan anak-anak."
"Memang nya ada apa? Sampai kau terus memikirkan anak-anak?" Tanya Brian.
"Kau ingat kan saat seminggu terakhir aku mengabaikan mereka semua dan aku takut jika mereka akan marah." Ucap Clarissa yang menyesali perbuatannya.
"Tenang saja, mereka bertiga pasti akan mengerti apa yang sedang kau alami. Dan besok kita sekalian pergi ke rumah mu untuk bertemu dengan anak-anak." Ucap Brian.
"Tapi kau yakin mereka tak akan membenci ku?" Tanya Clarissa yang masih ragu.
"Tentu saja, Mereka sangat menyayangi mu dan mana mungkin mereka bertiga sampai membenci mu." Jawab Brian.
"Tapi aku cacat, aku takut jika mereka akan malu memiliki seorang ibu yang cacat." Ucap Clarissa yang masih memikirkan hal itu.
"Aku sudah mengatakan kepada mu, mereka bertiga tak akan malu dan juga tak akan membenci mu Clarissa. Karena mereka sangat menyayangi mu." Ucap Brian berusaha meyakinkan Clarissa.
"Tapi..." Sebelum selesai bicara Brian langsung memotong perkataan Clarissa.
"Sudah sekarang kau tidur, oke." Ucap Brian sambil menyelimuti tubuh Clarissa.
Dan tak beberapa lama Clarissa pun tertidur di pelukan Brian, Brian yang melihat istrinya tengah tertidur pulang pun hanya bisa tersenyum iba.
__ADS_1