
Clarissa terbangun dari tidurnya, dia meraba-raba ranjang di sebelahnya tapi Clarissa tak menemukan Brian di sampingnya.
"Brian....." Panggil Clarissa dengan nada lirih.
Entah kenapa kepala Clarissa sangat pusing dan matanya pun tak bisa melihat dengan jelas, "Brian........" Panggil Clarissa lagi dengan nada cukup keras tapi Clarissa tak mendengar jawaban dari suaminya.
Kemudian Clarissa berjalan pelan ke arah pintu keluar tapi saat Clarissa ingin membuka pintu, pintu kamarnya rupanya di kunci dan tak bisa di buka.
Dengan keras Clarissa menggedor-gedor pintu kamar dan berteriak memanggil Brian tapi tak ada jawaban sama sekali.
Kemudian Clarissa langsung berjalan ke meja di samping tempat tidur nya untuk menelpon Brian.
Dret.. Dret.. Dret...
Terdengar suara handphone Brian yang berada di kamar, seketika Clarissa langsung putus asa.
Kepala sangat pusing di tambah perutnya yang kini mulai terasa sakit.
"Arg.... Brian..." Ucap Clarissa sambil perlahan duduk di atas lantai dengan tangan yang memegangi perutnya.
"Arg... Sakit.." Ucap Clarissa sambil terus berusaha menahan rasa sakit di perut nya.
Kemudian Clarissa berusaha bangkit dan kembali berjalan ke pintu keluar, dia terus memanggil-manggil nama Brian.
__ADS_1
Brian yang tengah membereskan kekacauan rumah pun samar-samar mendengar suara Clarissa yang memanggilnya.
Dengan langkah cepat Brian langsung berlari ke kamar tidurnya dan segera membuka pintu secara perlahan.
Lalu matanya langsung di buat terkejut saat melihat Clarissa tengah duduk sambil bersandar di pintu kamar.
"Clarissa.. Ada apa?" Tanya Brian panik.
"Sakit.. Perut ku sakit...." Ucap Clarissa sambil menahan rasa sakit.
Kemudian Brian pun langsung membantu Clarissa untuk berdiri, lalu Brian membawa Clarissa ke atas ranjang.
Nampak tangan Brian langsung menyambar handphone miliknya dan segera menelpon salah satu dokter untuk segera datang ke rumah nya.
Nampak Brian sangat panik, bahkan kepanikannya lebih parah ketimbang saat menghadapi Nicolas.
Sementara ketiga anak Clarissa dan juga kedua orang tuanya tengah tertidur pulas karena Brian sengaja memberikan obat tidur agar mereka tidak terbangun saat mendengar suara gaduh.
Lalu dokter pun langsung memulai persalinan Clarissa, nampak Clarissa langsung mengeluarkan tenaganya dan berusaha mengeluarkan bayi yang ada di perutnya.
Sementara Brian hanya bisa memegangi tangan Clarissa dan menyemangati istri nya itu.
"Ayo Bu.. " Ucap dokter tersebut sambil membantu mengeluarkan bayi Clarissa.
__ADS_1
Tapi Bayi Clarissa belum juga keluar sedikit pun.
Tapi karena Clarissa yang tengah pusing pun hanya bisa menghela nafas.
"Aku.. tak kuat.." Ucap Clarissa lemah.
Mendengar hal itu Brian langsung terdiam kemudian dia segera memanggil anak Buahnya untuk memanggil ambulan.
"Bertahan Clarissa..." Ucap Brian.
Kemudian Roki pun datang dan langsung membawa ranjang, Brian kemudian secara perlahan memindahkan Clarissa ke atas ranjang rumah sakit dan segera membawanya ke dalam mobil ambulan.
Sesampainya di rumah sakit, Brian langsung memanggil dokter untuk melakukan tindakan medis ke Clarissa.
"Tapi maaf Pak, sekarang rumah sakit sudah tutup." Jawab salah seorang dokter rumah sakit dan juga suster.
Brian yang mendengar jawaban tersebut langsung menodongkan pistol nya tepat ke kepala orang tersebut.
"Apa kau ingin melayani istri ku, atau nyawa mu yang akan melayang." Ucap Brian dengan tatapan kesal.
Mendengar hal itu orang tersebut langsung memanggil suster dan juga dokter untuk segera melakukan Operasi terhadap Clarissa.
Sementara Brian hanya bisa diam dengan wajah panik dan juga khawatir, dia takut jika Clarissa kenapa-kenapa.
__ADS_1