Gigolo Ku Seorang Mafia

Gigolo Ku Seorang Mafia
Bab 48 : Mencari pelaku.


__ADS_3

Terlihat para pelayan tengah duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya mereka, hari ini tuannya tengah marah.


"Jadi apa sekarang ada yang ingin mengaku?" Tanya Brian sambil memainkan pistol milik nya.


Kepala koki dan anak buahnya nampak berkeringat dingin pasal nya Brian mengetahui jika obat terlarang itu di campurkan dengan makanan yang di makan oleh Clarissa.


"Jadi tak ada yang mau mengaku?" Tanya Brian sekali lagi.


"Kalau begitu aku bisa menghabisi kalian semua sekaligus.." Ucap Brian.


Brian ingin sekali menangkap orang yang berani memberikan obat terlarang kepada Clarissa, saat dia ingin melihat CCTV ternyata cctv nya itu rusak dan Brian pun tak bisa mengetahui siapa pelaku nya.


"Apa tak ada... Baiklah, aku akan hitung sampai 3.. Satu... du..a.... Ti..."


"Saya...." Seketika hitungan Brian langsung terpotong, oleh suara seorang gadis.


Kemudian Brian langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa gadis itu ke hadapan Brian.


"Jadi kau yang menaruh obat itu?" Tanya Brian sambil menodongkan pistol milik nya tepat ke kepala Pelayan itu.


"Iya..." Jawab nya singkat sambil menatap kosong ke arah Brian.


Tak ada rasa takut di matanya, gadis itu seperti seorang boneka yang hidup.


Brian melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan pelayan itu. "Jadi siapa nama mu?" Tanya Brian.


"Lisa.." Jawabnya singkat.


"Apa alasan mu melakukan itu?" Tanya Brian sambil memainkan pistol nya.


"Saya tidak suka wanita itu.." Jawabnya dengan tatapan yang masih kosong.


"Tak suka? Kenapa?" Tanya Brian sekali lagi.


"Wanita itu tak pantas berada di sisi Tuan Brian.." Jawab nya masih dengan tatapan kosong.


"Jadi siapa yang pantas.." Tanya Brian.

__ADS_1


"Saya.. Saya yang pantas berada di samping Tuan Brian." Jawab pelayan itu.


Brian hanya terdiam, kemudian dia langsung menyuruh Roki dan Erwin untuk membawa pelayan itu.


"Baiklah, karena pelaku nya sudah mengaku.. Aku jadi tak perlu repot-repot lagi untuk membunuh kalian semua.." Ucap Brian sambil melenggang pergi.


Kemudian Brian langsung menuju ke kamar tempat Clarissa beristirahat, kini kondisi Clarissa pun sudah membaik.


"Bagaimana kondisi mu?" Tanya Brian.


"Sudah membaik." Jawab Clarissa.


"Baguslah, aku masih memiliki banyak pertanyaan untuk mu." Ucap Brian dengan tatapan serius.


"Pertanyaan? Pertanyaan apa? Ah.. Tapi Sebelum itu apa kau sudah menemukan pelaku nya?" Tanya Brian.


"Sudah..." Jawab Brian.


"Syukur lah.." Ucap Clarissa.


"Pengganti? Maksudnya?" Tanya Clarissa tak mengerti.


"Nanti kau juga akan mengerti." Jawab Brian tak memberikan Clarissa penjelasan.


"Bagaimana sekarang kembali lagi ke awal? Dimana mereka?" Tanya Brian dengan tatapan serius.


"Me..reka? Mereka siapa?" Tanya Clarissa sedikit tegang.


"Tentu saja mereka, anak-anak ku." Jawab Brian.


Deg...


Jantung Clarissa langsung berdetak kencang seketika, dia seperti akan terkena serangan jantung saat Brian mengatakan itu.


"Anak? Apak maksud mu?" Ucap Clarissa mengelak.


"Iya tentu saja anak kita, Lady..." Ucap Brian sambil membelai pipi Clarissa.

__ADS_1


"Anak.. Aku tak memiliki anak dengan mu." Ucap Clarissa.


"Oke... Baiklah jika kau tak ingin mengaku, jangan salah kan aku.." Ucap Brian.


Kemudian Brian langsung menodongkan senjata nya tepat di bawah dagu Clarissa, mata Clarissa seketika langsung membulat detak jantung nya tiba-tiba menjadi sangat cepat.


Benda dingin itu menyebut kulitnya yang lembut.


Di lihat nya Brian tersenyum mengejek sambil melihat Clarissa. "Apa kau ingat ucapan mu yang dulu?" Tanya Brian.


"U.. capan yang mana?" Tanya Clarissa dengan mata yang masih menatap Brian.


"Kau mengatakan jika aku memiliki kekuasaan yang lebih besar dari mu, maka kau akan tunduk.. Dan sekarang tunduk lah.." Ucap Brian.


"Tidak.. Aku tidak akan tunduk kepada siapa pun.. Meski itu kau sekali pun.." Ucap Clarissa dengan tekat bulat nya.


"Kenapa?" Tanya Brian sambil tersenyum.


"Karena ini prinsip hidup ku, aku tak akan mau harga diri ku di injak-injak oleh dirimu atau bahkan orang lain sekalipun.." Jawab Clarissa.


Brian hanya tersenyum sambil tetap menodongkan pistol nya ke bawah dagu Clarissa.


"Kau tak takut?" Tanya Brian.


"Takut apa?" Tanya Clarissa.


"Takut jika aku menekan pelatuk ini maka peluru di dalamnya akan langsung menembus kepala mu.." Ucap Brian dengan tatapan serius.


Deg.. Deg.. Deg..


Detak jantung Clarissa semakin cepat, dia sangat takut tapi Clarissa berusaha untuk mengendalikan rasa takut nya itu.


"Tidak aku tidak takut.. Lagi pula semua makhluk hidup akan mati." Jawab Clarissa.


Brian yang mendengar jawaban Clarissa pun tersenyum, kemudian dia lebih menekankan pistolnya kepada kulit lembut Clarissa.


Clarissa hanya bisa memejamkan mata, dia tak sanggup melihat saat pistol itu di tembakan ke kulit nya.

__ADS_1


__ADS_2