
Clarissa mulai membuka matanya, kepalanya sangat berat dan matanya pun langsung melihat sekeliling ruangan dan Clarissa pun sadar jika kini dia sedang berada di rumah sakit.
Di depannya ada ayah dan ibunya, sedang duduk sambil melihat ke arah Clarissa.
Clarissa hanya bisa menghela nafas panjang, kini rahasia nya sudah terbongkar.
"Jadi siapa yang telah menghamili mu?" Tanya ayah Clarissa langsung kepada intinya.
"Sudahlah, Mas.. Clarissa baru juga siuman." Bujuk sang istri.
Clarissa tak bisa berbohong lagi kepada ayah dan ibunya, dia akan menerima konsekuensinya.
"Namanya Brian." Jawab Clarissa.
"A..ku berhubungan dengan nya sebelum aku tahu jika kalian adalah orang tua kandung ku." Lanjut nya.
"Dan aku melakukan itu karena rasa sakit hati ku saat melihat tunangan ku di rebut oleh adik ku, dan itulah yang terjadi. Dan bayi ini hasilnya.." Jelas Clarissa.
"Lantas kenapa kau tak meminta pertanggungjawaban kepada pria itu?" Tanya Ayah Clarissa.
"Awalnya aku hanya tahu jika dia adalah gelandang, tapi kini aku tahu identitas aslinya. Di.a..." Ucap Clarissa ragu.
"Dia apa?" Tanya Ayahnya.
"Dia seorang mafia.. Dan aku tak ingin jika dia tahu aku hamil, dan aku tak ingin jika dia melakukan hal yang jahat kepada ayah dan juga ibu." Jelas Clarissa sambil menangis.
Ayah dan ibunya saling memandang satu sama lain, kemudian mereka langsung berjalan mendekati Clarissa dan mengelus rambut panjang miliknya.
"Sudah nak, ayah dan ibu tidak marah meski kau hamil tanpa suami. Karena bagaimanapun anak dalam kandungan mu itu adalah cucu kami." Ucap Qiqi menenangkan putri nya.
"Benar apa yang di katakan oleh ibumu, kami akan tetap menyayangi dan juga anak dalam kandungan mu." Ucap ayahnya.
__ADS_1
"Tapi... Aku telah mempermalukan nama baik kalian." Ucap Clarissa.
"Itu bukan salah mu melakukan hal itu, tapi itu adalah salah kami sebagai orang tua yang datang terlambat untuk mengajari mu, kami lah yang salah karena tak bisa memberikan arahan yang baik untuk mu.." Ucap ayah Clarissa.
Clarissa pun seketika menangis, dia sangat bahasa bisa memiliki orang tua yang sangat baik seperti mereka berdua.
Keesokan harinya.
Clarissa tengah bersiap membereskan semua barang-barang miliknya, para pelayan menatap sedih ke arah majikan yang selama ini mereka urus.
"Jangan sedih, aku hanya sebentar kok. Nanti pasti akan pulang lagi ke sini, dan kepala pelayan aku titip rumah ini kepada mu. Tolong jaga dan rawat dengan baik." Ucap Clarissa.
"Baik, Nyonya. Saya pasti akan menjaga dan merawat rumah ini sampai Nyonya kembali."
Clarissa pun tersenyum, kemudian dia teringat akan Brian. Mungkin kini Clarissa harus memulai kehidupan baru nya di Amerika sampai anak dalam rahimnya lahir.
"Ayo nak.." Ajak ibundanya.
Kemudian Clarissa dan kedua orang tuanya langsung masuk ke dalam mobil, dan setelah itu mobil langsung melaju dengan pelan menuju bandara.
Clarissa melihat para pelayan rumah nya melambai tangan sambil terus melihat mobil yang di tumpangi.
Tak beberapa lama mobil yang di tumpangi Clarissa pun sudah sampai di bandara, saat ayah dan ibunya hendak naik ke pesawat.
Clarissa menatap ke belakang, apakah dia akan merindukan negara yang telah menjadi tempat tinggal nya selama ini.
"Ayo, nak.." Ajak ibundanya.
"Baik Bu.." Jawab Clarissa.
Kemudian Clarissa langsung masuk ke dalam pesawat, dia dan keluarganya nya mengambil kelas bisnis dan di sana Clarissa mendapat kan pasilitas lengkap.
__ADS_1
Clarissa hanya diam sambil melihat keluar kaca pesawat, entah kenapa hatinya terasa hampa dan kosong.
Tapi demi kebaikan dirinya dan juga kedua orang tuanya, Clarissa harus pergi dari sini. Di tambah ayahnya masih memiliki bisnis di Amerika.
"Kamu gak papa kan sayang?" Tanya ibundanya.
"Gak papa kok Bu.." Jawab Clarissa.
Sementara itu.
Brian tengah duduk sambil menghisap rokok miliknya, entah kenapa perasaan sedang campur aduk tak menentu.
Brak...
Terdengar suara pintu di buka dengan kencang menampilkan ekspresi wajah anak buah Brian.
"Bos.. Wanita mu pergi ke luar negeri, dia juga membawa banyak barang." Ucapnya memberikan informasi.
Seketika Brian langsung terdiam, dengan cepat Brian pun langsung bangkit dan menyuruh anak buah nya untuk memblokir bandara dan tak boleh mengizinkan satu pesawat pun pergi.
Dengan raut wajah kesal Brian langsung ke bandara tempat Clarissa hendak pergi, "Bagaimana?" Tanya Brian.
"Semua pesawat di berhentikan jadwal penerbangan nya, tapi ada salah satu yang terburu lepas landas." Jelasnya.
Kemudian Brian langsung menyuruh anak buahnya mencari Clarissa tapi hasil nya nihil, dan kini Brian tahu bahwa pesawat yang lepas landas itu adalah pesawat yang membawa Clarissa.
"Bagaimana? Apa kita langsung menyiapkan pesawat untuk mengejarnya?" Tanya Roki.
"Tidak usah biarkan saja.." Jawab Brian sambil berjalan pergi.
"Tapi..." Roki langsung menghentikan ucapan nya saat melihat majikannya sudah berjalan jauh.
__ADS_1
Brian hanya memasang ekspresi datar, jadi ini akhir dari segalanya.