Good Husband?

Good Husband?
Sembilan (Dewa dan Listy)


__ADS_3

Beberapa tamu silih berganti mendatangi Sheila dan Bima hanya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


"Selamat Kak atas pernikahannya."


Sheila berbalik ke arah suara dan mendapati seorang pria berwajah tegas yang memiliki sedikit siluet Bima dan juga seorang wanita cantik di sebelahnya.


"Sheila perkenalkan ini Dewa, dia adik sepupuku dan wanita ini adalah Listy, dia sahabatku dari kecil."


Sheila tersenyum ramah menyambut uluran tangan keduanya. Tapi senyum Sheila berubah menjadi canggung saat merasa aneh pada keduanya. Sheila menebak kemungkinan mereka tak menyukainya.


"Kita sudah bertemu di hari pernikahan, kan? Tapi maafkan aku harus belaku tak sopan untuk tak menyapa kakak ipar. Salahkan suamimu yang langsung kabur membawamu pergi," jelas Dewa meminta maaf pada Sheila.


"Tidak perlu meminta maaf. Itu bukan salahmu," jawab Sheila lirih.


"Aku juga merasa sangat menyesal karena tidak hadir dihari pernikahan kalian. Maafkan aku." Sesal Listy merasa bersalah pada Bima tanpa melirik ke arah Sheila sama sekali.


Sudah jelas bahwa disini Listy seperti tak menganggap keberadaan Sheila. Sedari tadi Listy hanya tersenyum ke arah Bima saja tanpa perduli bagaimana reaksinya.


"Aku tak keberatan karena hari pernikahan merupakan harinya istri. Jadi sebaiknya kamu memilih meminta maaf kepada Sheila."


Sheila menatap Bima bingung. Apa Bima tak merasa bahwa wanita di depannya ini terlihat tak suka padanya. Tapi kenapa dia harus berkata seperti itu. Bagaimana jika wanita ini semakin mengibarkan bendera perang padanya?


Sheila menatap Listy yang berhenti tersenyum mendengar kalimat Bima. Namun tak berselang lama dia kembali tersenyum ke arah Sheila yang jelas itu bukan senyum yang sama dengan yang dia tunjukkan kepada Bima.


"Benar. Bodohnya aku. Tentu saja aku juga akan meminta maaf kepada Sheila. Aku sedang ada urusan di US kemarin dan itu sedikit urgent."


"Tentu saja," balas Sheila akhirnya.


"Kalau begitu boleh aku pinjam sebentar Bima untuk berdansa? Aku takut akan merindukan sahabat kecilku ini nantinya."


"Tentu saja, silahkan. Kamu hanya perlu meminta izin darinya," balas Sheila sambil tersenyum. Lagipula dia tak berani menolak permintaan Listy. Dia merasa harus bersikap sopan disini.


Sebenarnya Sheila sedikit tak suka saat Bima dengan mudah menerima ajakan Listy berdansa. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Toh dia sendiri yang mengizinkannya.


"Kalau begitu, apa kamu bersedia?" tanya Dewa mengulurkan tangannya pada Sheila.


"Tapi aku tidak pandai berdansa. Mungkin kakimu akan tersiksa jika harus berdansa denganku."


"Bagus sekali, aku bisa mengajarimu. Kamu harus melihat seberapa cepat aku dapat mengajari orang."

__ADS_1


Merasa Dewa bukan orang yang mudah menyerah, akhirnya Sheila menerima ajakannya. Dan benar saja, baru juga dua langkah tapi Sheila sudah menginjak kaki Dewa.


"Oh, maaf." Sesalnya.


Dewa tertawa renyah melihat bagaimana paniknya wajah Sheila sekarang. "Tidak apa-apa, jangan khawatir. Lagipula apa yang bisa dilakukan tubuh kecil seperti ini pada kakiku?"


Ucapan Dewa berhasil mengurangi sedikit rasa bersalah Sheila.


"Oh maafkan aku. Apa aku sudah menyinggung perasaanmu karena menilai tubuhmu kecil. Maafkan mulut lancangku ini."


"Tidak, tidak. Tidak perlu minta maaf. Aku tidak tersinggung sama sekali."


"Benarkah? Beruntungnya aku. Aku takut mungkin kamu sakit hati dan akan mengadu pada kakakku," balas Dewa sambil tersenyum jahil.


Mereka kembali melanjutkan sesi dansa mereka dengan Dewa yang terus berusaha mengajari Sheila cara berdansa. Tentu saja mereka berulang kali gagal dengan kaki Dewa yang selalu menjadi korbannya.


Baru setelah beberapa kali, akhirnya mereka lancar berdansa dan Sheila sangat bersyukur dengan hal itu. Sebenarnya Sheila sudah meminta berhenti, tapi Dewa terlihat tak ingin menyerah untuk membantunya berdansa.


Setelah mulai lancar Sheila akhirnya baru bisa melihat Bima dan Listy yang berdansa dengan jarak tak jauh darinya.


"Mereka terlihat serasi, kan? Seperti pasangan dari negeri dongeng.. oh maaf, sepertinya aku salah bicara lagi. Maafkan aku. Seharusnya aku tak mengatakan hal itu padamu."


"Kamu juga berpikir seperti itu?" Sheila hanya membalas pertanyaan Dewa dengan senyuman tipis.


"Sejujurnya aku mengira bahwa mereka berdua akan menikah suatu hari nanti, tapi ternyata aku salah. Siapa yang mengira bahwa Kak Bima lebih memilihmu daripada cinta pertamanya."


Sheila menghentikan kakinya dan menatap Dewa penuh. "Apa maksudmu?"


"Kamu belum tahu? Aku kira Kak Bima sudah cerita? Oh bagaimana ini? Seharusnya aku tak mengatakan apapun."


"Maaf, aku menginginkan istriku kembali," ucap Bima tiba-tiba berada di belakang Sheila.


"Tentu saja, tentu kamu bisa mengambilnya," ucap Dewa dramatis sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dari pinggang Sheila.


Kemudian Bima membawa Sheila menjauh dari keramaian. Sejujurnya dia tak terlalu nyaman berada ditengah keramaian seperti ini.


"Jadi, apa yang kalian bicarakan sampai terlihat begitu akrab? Kupikir kalian baru bertemu hari ini?" tanya Bima tegas.


Sheila menatap Bima tak mengerti. Apa jangan-jangan Bima mendengar percakapannya dengan Dewa. Apa dia takut Dewa membocorkan hubungannya dengan Listy?

__ADS_1


Sekarang sepertinya Sheila mulai tak suka dengan nada suara Bima yang satu ini. Jika Bima tak suka dengan suatu hal dia cenderung menekan intonasi pada setiap kalimatnya. Membuat Sheila dipaksa patuh mengikuti semua perkataannya.


"Bukan apa-apa. Dewa hanya mengajariku berdansa, tidak lebih."


"Kamu harusnya meminta izinku jika akan berdansa dengan pria lain." Jelas Bima yang masih belum merubah intonasi bicaranya.


"Dengar, aku tak memiliki hal penting yang bisa dibahas dengan Dewa, tapi bukankah sebaliknya, kamu yang memiliki banyak hal yang ingin dibahas bersama Listy? Dan sekedar mengingatkan bahwa Dewa itu saudaramu bukan pria lain. Lagipula kamu sedang berdansa dengan Listy. Apa kamu ingin aku merusak suasana manis kalian?"


"Kamu meninggikan suaramu padaku?" ucap Bima tak percaya.


"Ya tentu saja. Jika kamu bisa, kenapa aku tidak?"


"Kita pulang." Bima menarik tangan Sheila pergi. Sheila berusaha melepaskan genggaman tangan Bima padanya tapi tak berhasil. Tenaga Bima terlalu besar untuk Sheila tangani sendiri.


"Apa kamu akan selalu seperti ini? Selalu memperintahku kapanpun kamu mau?"


"Kita bahas ini di rumah."


"Kenapa harus di rumah? Lagipula ini pesta kita. Bagaimana bisa kita meninggalkan para tamu?"


"Aku akan bicara pada Oma nanti, kita pulang dulu. Kita urus dulu surat pranikah kita."


Sheila berhenti meronta saat Bima mengungkit tentang surat pranikah itu. Akhirnya dia luluh dan menurut untuk diajak pulang oleh Bima.


#


Sheila mengulurkan kembali surat pranikah yang telah ditandatangani itu pada Bima. Entah kenapa dia menjadi lega setelah mendatanganinya.


Setelah menyimpan surat itu Bima menunjukkan 2 tiket kepada Sheila. "Hadiah dari Oma. Kamar hotel dan tiket pesawat ke Paris."


Sheila sedikit terkejut. Apa mereka akan pergi bulan madu? Tapi apa Sheila harus bolos kelas untuk ini? Tidak bisa. Dia tidak ingin menjadi bahan omongan satu kampus.


"Kamu tak suka Paris? Ingin pergi ke tempat lain?" tanya Bima kemudian.


"Aku sepertinya merasa sedikit keberatan jika harus keluar negeri," jelas Sheila.


"Bagaimana kalau Lombok?" tanya Bima mengusulkan yang kemudian diterima dengan senang hati oleh Sheila.


"Baik. Kita akan pergi ke Lombok akhir pekan ini."

__ADS_1


#


__ADS_2