Good Husband?

Good Husband?
Delapan (Pesta Pernikahan)


__ADS_3

Setelah jam paginya di kampus selesai, Sheila langsung di jemput oleh Jesicca. Sekretaris Bima itu membawa Sheila ke salon yang bahkan di dalamnya banyak artis ternama ibu kota yang tengah menikmati pelayanan salon.


Tapi bukannya duduk bersama mereka, Sheila malah dibawa ke ruangan pribadi yang dikhususkan untuk tamu VIP yang sebenarnya memang membuatnya lebih nyaman.


Ini pertama kalinya Sheila bertemu dengan Jessica. Dilihat dari penampilannya saja Sheila sudah bisa menebak bahwa Jesicca merupakan wanita yang tak hanya cantik tapi juga cerdas.


Kenapa Sheila tak pernah berpikir bahwa pekerjaan Bima akan di kelilingi oleh wanita berkelas seperti Jesicca. Bahkan untuk membayangkannya saja membuat Sheila kesal.


"Apa Bu Sheila memerlukan sesuatu?" Tanya Jesicca saat melihat Sheila begitu ekspresif.


Untuk pertama kalinya Sheila merasa senang saat dipanggil 'Bu' oleh seseorang. Itu menunjukkan bahwa Jesicca hanyalah karyawan suaminya.


Tapi lihat! Bahkan Jesicca juga bisa membaca isi pikiran Sheila, sama seperti Bima. Sheila jelas bukan tandingannya.


Tunggu dulu, kanapa Sheila jadi over thinking seperti ini? Sadar Sheila, dia karyawan suamimu. Jangan bersikap berlebihan.


"Ibu Sheila?"


"Oh iya, sepertinya aku butuh minum."


Lalu salah seorang pegawai salon berjalan ke meja dan mengambil minuman yang sudah dipersiapkan dari awal oleh pihak salon.


"Terimakasih," ucap Sheila menerima gelas itu dari staff salon.


"Sama-sama."


Akhirnya Sheila menipis semua pikiran buruknya. Lagipula jika Bima menyukai Jessica, bukankah seharusnya dia sudah menikahi Jessica dari lama. Bukan malah memilih menikah dengan dirinya.


#


Entah sudah baju keberapa yang Sheila coba tapi nyatanya dia ataupun Jessica merasa tak ada yang cocok.


Jikapun Jessica setuju maka Sheila yang merasa keberatan karena gaun itu terlalu terbuka. Dan saat Sheila memilih baju yang nyaman Jesicca tak akan setuju karena menurutnya gaun itu kurang pas untuk dikenakan dalam acara yang akan mereka datangi.


"Apa belum selesai?" Tanya Bima yang baru sampai ke butik.


"Maaf Pak Bima, sepertinya akan sedikit membutuhkan waktu lebih lama."


"Baik. Jesicca kamu boleh pulang, setelah ini aku sendiri yang akan mengurusnya."


"Baik, Pak. Saya permisi." Jesicca kemudian pergi meninggalkan butik.

__ADS_1


"Tak ada yang sesuai dengan seleramu?" Tanya Bima pada Sheila yang baru keluar dari ruang ganti.


Sheila terlonjak kaget melihat keberadaan Bima di butik. "Mas, Disini. Dimana Jessica?" Tanyanya pelan.


Sheila melirik wajah Bima yang tanpa ekspresi seperti menilainya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pandangan itu membuat Sheila merasa seperti ditelanjangi.


"Aku menyuruhnya pulang. Ambil tasmu, kita pindah ke tempat lain," ucap Bima sambil melangkah pergi.


Sheila menurut dan berjalan mengekor di belakang Bima berusaha menyamai langkah lebarnya.


Sheila tak berani bertanya kemana mereka akan pergi. Apa mereka akan berangkat seperti ini saja? Dengan baju yang Sheila kenakan sekarang? Apa tidak apa-apa?


Juwan menghentikan mobil mereka di depan butik lainnya. Sheila manatap butik itu dari luar kaca mobil. Tulisan 'House of Ayla' tertulis besar di pintu masuk butik.


Sheila kenal tempat ini. Dari yang Sheila tahu gaun-gaun di sini harganya luar biasa mahal. Bahkan gaun dengan harga 3 digit merupakan hal lumrah untuk dilihat jika berbicara tentang House of Ayla.


Sheila sedikit tahu tentang butik ini karena Keyra memiliki beberapa koleksi mereka. Juga Mama dan Kakaknya takkan berhenti membahas tentang gaun itu seharian jika Keyra baru membelinya dengan tabungannya sendiri.


"Kita akan cari gaun yang sesuai seleramu disini."


Sheila menatap Bima tak percaya. Apa pria ini yakin membawanya kemari? Karena Sheila sendiri tak memiliki kepercayaan diri untuk masuk ke dalamnya.


Sheila menggeleng cepat. Mana mungkin dia pernah datang ke tempat-tempat seperti ini. Walaupun Sheila wanita, tapi hidupnya sangat asing dengan baju yang disebut gaun.


Lagipula dia juga jarang pergi ke pesta, karena Papanya lebih suka mengajak Mama atau kakaknya.


Jikapun Sheila hadir ke pesta, dia sudah terbiasa dengan gaun yang disiapkan oleh sang Mama yang mungkin diambil dari lemari Mamanya.


"Silahkan sebelah sini, Nyonya," ucap seorang pelayan butik yang seperti sudah tahu apa yang dibutuhkan Sheila.


Sheila menatap ke arah Bima bingung. Tapi Bima hanya memberi arahan untuk mengikuti pelayanan itu.


Sheila dibawa ke ruangan yang cukup luas. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang memiliki tirai pada pintunya. Terdapat juga sofa panjang yang terlihat nyaman, juga beberapa gaun yang sudah tergantung seperti memang disiapkan untuknya.


Pelayanan itu mempersilahkan Sheila memilih gaun untuk dicoba. Sebenarnya hampir keseluruhan gaun disini Sheila suka. Mereka semua cantik tapi terlihat simple dan yang paling penting tidak terlalu banyak menunjukkan bagian tubuhnya.


Sheila hanya memilih acak gaun yang akan dia coba. "Ohh.." pekiknya tertahan saat tak sengaja melihat label harga dibaju.


Sheila tak jadi mengambilnya. Dia mencoba memilih kembali gaun yang memiliki digit paling kecil disana tapi nihil. Semua gaun sama mahalnya.


Akhirnya dia memilih acak sambil memejamkan mata dan bergegas ke ruang ganti.

__ADS_1


#


Sheila tak percaya ternyata Bima membiarkan dirinya untuk memilih gaunnya sendiri. Sheila sempat berpikir Bima akan memintanya mencoba semua gaun yang ada hanya untuk menilai mana yang cocok dimatanya.


Sikap Bima membuat pemilihan gaun berakhir lebih cepat. Sheila juga sangat senang dengan gaun yang dipakainya karena terasa sangat nyaman.


Mereka sampai di gedung pesta. Sheila tampak canggung saat dia memasuki acara. Semua mata tertuju padanya tanpa komando dari siapapun.


"Oh astaga, bintang utama kita sudah datang," ucap Diana sambil memeluk Sheila sayang.


"Sayang.." Sheila berbalik melihat papa dan mamanya disana dan langsung memeluk keduanya.


Sheila hampir saja terhanyut dalam haru jika tak ada yang menginterupsi mereka.


"Wow.. kamu terlihat luar biasa," ucap Keyra menelaah gaun yang dipakai Sheila. Tentu saja Keyra hafal setiap karya Ayla karena dia pengagumnya.


"Kakak juga di sini?" Tanya Sheila tak percaya dan berbalik memeluk Keyra.


"Tentu saja, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk kedua kalinya."


"Terimakasih.." lirih Sheila disela pelukan mereka.


Sheila langsung melepaskan pelukan mereka saat sadar ini bukan waktunya untuk reuni keluarga.


Sheila menatap Bima meminta maaf tapi Bima hanya tersenyum membalasnya. Sheila bersyukur sepertinya dia sedang tak melakukan kesalahan saat melihat bagaimana reaksi Bima.


"Kemarilah." Bima meraih tangan Sheila dan membawanya ke depan para tamu.


Beberapa tamu sudah menjadikan keduanya pusat perhatian bahkan sebelum sampai di depan sana.


"Sebelumnya saya meminta maaf karena akan menggangu sedikit kesenangan kalian..."


Para hadirin tertawa kecil sambil bergurau tidak setuju dengan ucapan Bima. Lagipula merekalah alasan diadakannya pesta ini.


"Saya sangat berterima kasih atas kehadiran para tamu undangan disela waktu sibuk kalian. Dan tentu saja waktu berharga itu tidak akan sia-sia untuk memperkenalkan istri tercinta saya, Sheila Putri Wijaya."


Para tamu riuh bertepuk tangan dan Sheila hanya menatap semuanya dengan senyum ramah.


"Terimakasih atas perhatiannya. Silahkan menikmati kembali pestanya." Bima menutup kalimatnya dan kembali menggandeng Sheila untuk menikmati pesta.


#

__ADS_1


__ADS_2