
"Tuan, supir truk itu sudah ditemukan."
"Aku akan menumuinya sekarang."
"Baik, Tuan."
#
Saat sampai dimana tempat supir truk itu di tahan oleh Juwan, Bima bisa melihat sepertinya Juwan terlebih dahulu menanyainya hingga membuatnya babak belur seperti sekarang.
"Tuan...maafkan saya, Tuan.. tolong kasihani saya. Tolong jangan sakiti keluarga saya.. semua salah saya. Tolong, Tuan..."
Bima menatap ke arah Juwan. "Keluarganya?"
"Berada di ruangan lain, Tuan."
Bima mengangguk mengerti dan kembali memfokuskan diri pada supir truk yang bersimpuh di bawah kakinya. "Jadi, apa benar kamu mabuk saat itu?"
"Benar, Tuan. Bahkan sudah ada hasil tes urine yang memastikan saya mabuk saat itu."
"Lalu kenapa kamu kabur tepat setelah dibebaskan?"
"Saya hanya merasa takut, Tuan. Karena saya baru tahu jika kedua orang yang saya tabrak bukan orang sembarangan. Saya hanya takut mungkin ada yang tidak terima dan menyerang saya setelah saya bebas "
"Lalu bisa kamu jelaskan bagaimana bisa seorang mantan narapidana memiliki rumah di kawasan elit ibu kota? Bukannya istrimu bahkan lebih berkekurangan saat kamu berada di penjara?"
Sopir itu terdiam sejenak. Dia tak tahu harus menjawab apa karena tak berpikir Bima akan tahu sampai sedetail ini. Padahal rumah mewah itu tidak sedang mereka tempati. Mereka hanya akan mendatanginya beberapa kali.
"Maaf, Tuan.. saya tidak tahu apa maksud Tuan."
"Kalau begitu, mungkin beberapa pukulan bisa membuatmu mengerti. Pukul dia." Perintah Bima pada bawahan Juwan yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Tuan... Ugh! Tuan saya mohon ampun. Tuan.. ugh.." Mereka terus menendang tubuh sopir itu hingga tersungkur di lantai.
"To-longgg.. uhuk.. tolong.. ampuni saya.. tolong.." supir itu sampai batuk berdarah saat mulutnya mulai berucap.
"Bawa istri dan anaknya kemari." Perintah Bima pada Juwan.
"Tidak, Tuan saya mohon, jangan. Baik saya akan mengaku. Tolong jangan sakiti anak dan istri saya. Saya akan mengaku.."
"Kalau kamu mengaku sekarang, mungkin kamu akan masuk ke dalam penjara lagi karena telah mengubah kesaksianmu."
__ADS_1
"Saya tidak perduli Tuan.. saya hanya ingin keluarga saya selamat.. tolong.. tolong jangan sakiti keluarga saya.. hiks.."
Bima menatap ke arah Juwan, kemudian Juwan mengangguk mengerti.
Juwan memerintahkan para bawahannya untuk membawa sopir ini ke tempat lain.
Tentu saja mereka tidak bisa membawa orang yang babak belur untuk dijadikan sebagai saksi.
#
Setelah supir itu mengaku dan mau untuk dijadikan sebagai saksi, akhirnya Bima melaporkan omnya kepada polisi. Untuk kali ini Bima bahkan tak bermaksud untuk menutupi aib omnya. Dia membiarkan media tahu tentang semua kebusukan yang dilakukan omnya.
Seharian bunyi telepon perusahaan terus berdering nyaring tanpa henti. Membuat Bima dengan senang hati melakukan konferesi pres karena banyaknya media yang tertarik dan meminta penjelasan lebih lanjut.
Tentu saja, siapa orang yang tidak tertarik dengan kisah kelam keluarga konglomerat.
Banyak orang menyukai hal-hal berbau misterius seperti ini. Tanpa terkecuali para wartawan.
"Kita adakan konferensi pres sekarang juga. Siapkan semuanya sesegera mungkin." Ujar Bima pada Jessica dan juga yang lain.
"Baik, Pak."
Mereka langsung bergegas mengangkat telepon untuk segera mempersiapkan apa yang Bima perintahkan.
Bima percaya kalau omanya kuat. Karena itu yang membuatnya mampu dan berani melakukan hal ini.
Mungkin setelah ini harga saham mereka juga akan turun. Meskipun Bima sudah mengantisipasi hal itu, tapi dia belum tahu akan jatuh sampai batas mana saham itu anjlok.
Dia hanya akan mencoba yang terbaik sebisanya.
#
Melihat begitu rumitnya keadaan, Diana meminta Bima untuk datang ke kediaman utama. Sebenarnya Diana juga meminta Sheila ikut datang, tapi Bima menolaknya. Dia lebih suka membuat Sheila nyaman dengan meninggalkannya di rumah kedua orangtuanya. Bima tak ingin Sheila ikut dalam permasalahan ini, walaupun dia adalah korbannya.
"Jelaskan.. apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kamu menjebloskan Om dan juga adikmu sendiri ke dalam penjara? Apa semua tuduhan itu benar?" Tanya Diana kepada cucu tertuanya itu.
Bima menatap Listy yang berada tak jauh dari omanya berdiri. Walaupun ini masalah keluarga, tapi tugas Listy sekarang sudah seperti tangan kanan omanya. Mungkin omanya tidak akan keberatan jika Listy mendengar semuanya.
"Maaf, Oma.. walaupun mungkin Oma sulit menerimanya, tapi semuanya benar. Bima minta maaf jika kedepannya mungkin akan ada hal yang membuat Oma lebih terkejut."
Diana menggeleng tak percaya. Tidak mungkin Hendra melakukan hal keji itu kepada kakaknya sendiri. Walaupun mereka bukan saudara kandung, tapi bagaimana bisa seorang adik mencelakai kakaknya sendiri?
__ADS_1
"Apa kamu sudah memiliki bukti yang kuat tentang hal ini?"
Bima mengangguk yakin. "Maafkan Bima, Oma."
Diana terduduk lemas. Dia kenal betul seperti apa cucunya ini. Bima tidak mungkin mengambil keputusan secara gegabah.
"Oma!!!" Teriak Listy panik dan menghampiri Diana yang terduduk di lantai.
"Maaf, Oma.. Bima harus pergi," dia melangkah mundur lalu menatap Listy sejenak. "Tolong jaga Oma baik-baik."
"Kamu yakin ini yang kamu inginkan?"
"Aku yakin semua ini yang terbaik. Aku tidak ingin melihat pembunuh kedua orangtuaku berbas berkeliaran diluaran sana. Tidak perduli jika mereka keluargaku sendiri." Ucap Bima tegas. Listy hanya bisa mencoba mengerti Bima dan menghormati keputusan yang telah dibuatnya sekarang.
Listy membiarkan Bima pergi. Dia masih memiliki tugas untuk menjaga oma.
"Listy.."
"Iya, Listy disini. Oma tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Kita percayakan semuanya pada Bima."
"Apa semua ini salah Oma? Apa Oma telah gagal mendidik anak?" Oma mulai terisak.
"Tidak Oma. Semua ini bukan salah Oma. Oma jangan pernah mengalahkan diri sendiri. Sebaiknya kita ke kamar. Kita bicarakan hal ini di kamar." Diana mengangguk kecil.
Listy membantu Diana untuk berdiri dan mulai memapahnya menuju kamar.
Tak lupa dia memberikan segelas air yang memang sudah ada di meja nakas.
Beruntung air itu sepertinya sangat membantu. Kini Oma terlihat lebih tenang.
"Listy, sepertinya Oma ingin beristirahat saja. Sebaiknya kamu juga pulang dan beristirahat di rumah."
"Tidak. Listy akan tetap disini, di samping Oma. Oma bisa tidur kalau Oma mau. Listy akan tetap berada disini."
"Terimakasih."
Listy membantu Diana membenarkan letak selimut. Dia berjalan ke arah sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur.
Listy memilih untuk duduk disana sambil menjaga Diana. Dia juga mulai membuka tab-nya untuk memantau perkembangan kasus ini via online.
Hembusan nafas panjang terus dia keluarkan saat melihat konferensi yang dilakukan Bima.
__ADS_1
Sesekali Listy juga menatap iba ke arah Oma yang tengah terlelap. Diumur beliau yang sudah tidak muda lagi. Beliau harus melihat sendiri bagaimana keluarganya saling menghancurkan.
#