
"Apa yang sedang kamu lakukan? Dimana Arjuna?" Tanya Bima memeluk Sheila yang tengah berdiri di dekat balkon.
Hari ini Bima pulang cukup larut. Karena bukan hanya pekerjaan kantor yang sedang dia urus. Sekarang Bima tidak bisa gegabah seperti sebelumnya.
Bima harus lebih hati-hati untuk menangani Om Hendra. Tentu saja dia bukan perkara yang mudah mengingat bagaimana dia menyembunyikan semua kebusukannya selama puluhan tahun.
"Arjuna sudah tidur. Apa kamu mendengar kabar dari Kak Keyra? Aku mengkhawatirkannya." Ucap Sheila menurunkan ponsel yang sedari tadi menempel di telinganya.
"Dia mungkin akan baik-baik saja."
"Dia menghubungimu?" Bima mengangguk.
"Pasti sekarang dia sedang khawatir sendirian."
"Tenang saja. Dia punya banyak orang yang bisa membantunya."
Bima sedikit mendongak. Menatap langit malam dengan posisi yang sama. Kedua tangannya masih melingkar di tubuh Sheila.
"Apa kamu akan tetap memaafkan Dewa jika dia bukan pelakunya?"
Sheila melepas Kungkungan di tubuhnya dan berbalik menatap Bima. "Apa ada kemungkinan Kak Dewa bukan pelakunya?"
Bima tersenyum kecil sambil mengelus rambut Sheila perlahan. "Aku sedang menyelidikinya."
Tampak ada rasa bersyukur menghampiri Sheila, Bima bisa melihat dengan jelas hal itu. "Apa kamu begitu berharap Dewa bukan pelakunya?"
Sheila mengangguk. "Aku tak ingin melihat Kak Keyra sedih."
Bima menatap Sheila tak mengerti. Apa selama Sheila menghilang, dia juga kehilangan ingatan tentang apa yang telah Keyra perbuat padanya?
"Apa kamu lupa? Keyra pernah berbuat hal buruk padamu."
Sheila mengangguk kecil. "Aku tahu, tapi bagaimana juga dia kakakku. Aku tidak akan mungkin tega melihatnya kesusahan."
Buma tersenyum penuh syukur menatap betapa cantiknya Sheila sekarang. Bukankah dia memiliki wanita yang luar biasa?
"Jika memang Dewa pelakunya, bisakah kamu membebaskannya? Lagipula dia juga adikmu."
"Aku akan mempertimbangkannya nanti."
"Terimakasih."
__ADS_1
Bima mengecup kening Sheila lebut. Membuat Sheila terpejam merasakan perasaan Bima yang tersampaikan lewat ciuman itu.
#
Hendra terdiam sejenak dan kemudian langsung tersenyum melihat Bima duduk di sofa ruangannya. Melihat Hendra sudah menyadari keberadaannya, Bima juga tersenyum ke arah Hendra.
"Masih sepagi ini tapi tuan presdir kita sudah berada di kantor pusat? Sungguh sangat pekerja keras."
Hendra duduk berhadapan dengan Bima. Tentu saja senyumnya tak berkurang sedikitpun. Ada beberapa pertimbangan dalam diri Bima melihat bagaimana reaksi omnya saat melihat keberadaannya.
Jika sebelumnya Bima tidak melaporkan Dewa pada polisi, tentu hal ini akan wajar. Tapi setelah semua yang Bima lakukan kepada Dewa, bukankah Hendra sangat tenang untuk seorang ayah yang berhadapan dengan pelapor anaknya.
"Apa ada yang bisa Om bantu untukmu?"
"Kenapa Om Hendra berpikir aku kemari untuk meminta bantuan?"
Hendra mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. "Yah... Karena tidak seperti biasanya kamu datang kesini secara langsung jika tidak benar-benar ada yang mendesak."
"Sebenarnya aku datang kesini untuk meminta maaf soal Dewa."
"Dewa? Kenapa kamu meminta maaf soal Dewa. Kamu hanya melakukan tugasmu sebagai suami."
"Om tidak kecewa padaku karena melaporkan hal ini pada polisi?"
"Sebenarnya.. ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan pada Om Hendra."
"Tanyakan apapun jika Om bisa membantumu."
Bima menyerahkan beberapa berkas kepada Hendra. Wajah yang awalnya memperlihatkan senyum itu perlahan menjadi serius.
"Apa ini?"
"Laporan keuangan kantor cabang selama beberapa tahun terakhir. Sebenarnya karena ada beberapa laporan, jadi aku diam-diam memeriksanya. Bagaimana menurut Om Hendra?"
"Ada yang memalsukan laporan keuangan perusahaan? Bagaimana bisa?"
"Benar. Aku juga cukup terkejut. Apa mungkin Om tahu siapa yang melakukan hal ini?" Pancing Bima. Dia ingin melihat bagaimana Hendra bereaksi. Walaupun dia sudah mengira Hendra tidak akan mengaku semudah itu.
Selama beberapa saat Hendra terdiam, akhirnya dia menyebutkan satu nama. "Apa mungkin ini juga perbuatan Dewa?" Tanya Hendra seakan terkejut dengan pemikirannya sendiri.
"Kenapa bisa Dewa? Bagaimana mungkin kepala manager di perusahaan pusat bisa memalsukan laporan tahunan perusahaan cabang?"
__ADS_1
"Sebenarnya selama kamu tak menjadi presdir, posisi wakil perusahaan cabang sudah lama kosong. Dewa mengusulkan mengisinya untuk sementara. Astaga.. harusnya aku tak mengizinkannya menempati posisi itu jika akhirnya seperti ini."
Bima menahan sekuat tenaga untuk tak tertawa mendengar penjelasan Hendra. Bagaimana bisa seorang ayah mengkambinghitamkan anaknya sendiri. Anak satu-satunya.
"Bedebah sialan! Beraninya dia mencuri uang perusahaan! Aku akan pastikan dia akan membusuk di penjara." Geram Bima yang sebenarnya dia tunjukkan pada Hendra.
Bima menatap Hendra yang masih memasang wajah tenang. "Maaf Om Hendra, aku tahu Dewa adikku, tapi aku tak mungkin bisa memaafkannya begitu mudah."
"Tentu saja. Tolong.. tolong jangan minta maaf lagi. Om sangat malu sekarang."
"Tidak. Om Hendra tidak perlu malu. Aku sangat berterima kasih karena Om Hendra tak menutupi perbuatan Dewa."
"Hanya itu yang bisa Om lakukan sekarang." Hendra menepuk bahu Bima sambil tersenyum ramah. "Om sangat bangga padamu. Terkadang kamu selalu mengingatkan Om kepada mendiang papamu."
Dahi Bima mengerut saat terjadi tiba-tiba saja papanya tiba-tiba saja disebut dalam percakapan ini. "Aku tentu masih jauh dari apa yang telah dicapai papa dulu."
"Tentu saja. Papamu benar-benar pria yang luar biasa. Tapi semuanya memang perlu proses. Walaupun begitu, aku jauh lebih menyukaimu di bandingkan papamu."
Melihat Bima yang tak paham dengan ucapannya. Hendra langsung menggeleng. "Mungkin karena kamu keponakanku, tentu kamu lebih menyenangkan. Papamu terlalu serius, bahkan diluar dari pekerjaan dia juga sangat serius."
"Tapi aku sangat ingin menjadi seperti papa."
"Tentu saja. Semua orang pasti ingin menjadi seperti papamu. Dia orang yang luar biasa."
Hendra kemudian memeluk Bima sebentar dan menepuk bahunya. "Sangat disayangkan kecelakaan itu merenggut keduanya dan membuatmu trauma bahkan sampai tak bisa dlberada dibelakang kemudi."
"Sudah jalannya mereka harus pergi. Tuhan lebih menyayangi mereka."
"Benar. Tentu saja banyak yang menyayangi mereka." Hendra masih menepuk bahu Bima pelan. Dia tersenyum ramah ke arah Bima, yang anehnya membuat Buma semakin membenci senyum itu.
Setelah itu Bima memutuskan untuk pamit pergi. Merasa kejadian tadi sedikit emosional dan mengingat keduanya lama tidak bicara begitu dalam, Hendra menawarkan untuk mengantar Bima sampai ke lobby.
Tentu saja Bima menolak dengan alasan tak ingin merepotkan. Apalagi dia sudah mengganggu pekerjaan Hendra pagi-pagi seperti sekarang.
Menyerah akhirnya Hendra mengantarkan Bima sampai di depan pintu lift saja.
"Silahkan, Tuan.." Ucap Juwan membukakan pintu mobil untuk Bima.
"Juwan, aku ingin kamu menyelidiki tentang kecelakaan kedua orang tuaku juga."
Juwan terhenti sejenak saat akan menyalakan mesin mobil. "Baik, Tuan "
__ADS_1
#