
"Daddy... Daddy tahu nggak tadi siapa yang Jasmine temui di rumah Thalia?" Ucap Jasmine begitu bersemangat saat mereka berada di mobil.
"Hemm... Memangnya siapa?"
"Arjuna."
Bima menatap Listy untuk memastikan kebenaran dari ucapan Jasmine, wanita itu mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Rupanya ibu Arjuna bekerja di rumah Intan. Siapa sangka bahwa mereka akan bertemu lagi disana."
"Aku juga bertemu dengan Sheila disana dan dia juga bekerja di rumah Intan."
Listy menatap Bima tak percaya, tapi dia sedikit sanksi, karena tampaknya Bima tidak seperti seseorang yang bahagia setelah menemukan orang yang dicarinya selama bertahun-tahun.
"Bukannya kamu harusnya senang bisa bertemu dengannya lagi?" Tanya Listy penasaran.
"Aku tak berani menyapanya. Aku takut mungkin bisa saja dia kabur dariku lagi. Apa menurutmu Arjuna adalah anakku?"
"Kamu mau aku coba mencari tahu? Aku bisa bertanya pada Intan?"
"Aku sangat berterimakasih jika kamu mau menanyakannya."
"Tentu saja. Dia tak akan keberatan untuk sedikit bercerita."
"Mama, siapa itu Sheila?" Tanya Jasmine polos.
Listy membelai rambut putrinya sayang. "Wanita yang sangat cantik. Wanita yang sangat berharga bagi Daddy."
Jasmine menatap daddynya tak mengerti. Listy hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku anaknya. "Nanti kalau Jasmine sudah besar, pasti Jasmine paham apa maksud dari perkataan Mama."
Jasmine kemudian mengangguk kecil dan kembali bercerita soal Arjuna dan juga rencana sekolah mereka.
#
Setelah mengantar Listy dan Jasmine ke rumah. Bima meminta Juwan untuk menemuinya di ruang kerja.
"Aku bertemu dengan Sheila di pesta tadi. Dia bekerja di rumah itu dan memiliki seorang putra. Kamu cari tahu siapa ayah dari anak laki-laki itu." Perintah Bima pada Juwan.
"Baik, Tuan."
"Kamu boleh pergi."
Juwan pergi meninggalkan ruang kerja seperti yang diperintahkan. Bima duduk di kursi kerjanya. Membuka sebuah loker yang terdapat foto Sheila di dalamnya.
"Aku akan membawamu pulang, bagaimanapun caranya." Ucap Bima mengusap wajah foto Sheila.
Drrtt... Drrtt...
__ADS_1
Bima membuka pesan masuk. Siapa lagi kalau bukan pesan dari omanya.
Setelah Sheila pergi, Bima telah memutuskan untuk fokus mencari Sheila dan mengalikan posisi perusahaan kepada omanya.
Awalnya Bima ingin menyerahkan posisi presdir pada Dewa, tapi entah kenapa oma merasa keberatan dan memilih untuk menjaga posisi itu sementara sampai Bima siap untuk kembali.
Sudah cukup lama oma memegang posisi presdir, sepertinya ini saatnya Bima mengambil alih kembali posisinya.
Bima mengetik balasan dari pesan oma bahwa dia setuju untuk ikut makan malam besok. Rasanya posisi ini lebih bisa membantunya untuk membawa pulang Sheila kembali.
#
Plak...
Keyra menutup mulutnya tak percaya melihat suaminya ditampar begitu keras oleh mertuanya.
Sudut bibir Dewa perlahan mengalir darah. Memperlihatkan bagaimana kuatnya tamparan yang dia terima dari papanya.
Rasa kesal dan marah Tuan Rahadi dilampiaskan semua kepada wajah anaknya. "Dasar anak tidak berguna! Apa yang sudah kamu lakukan selama ini, huh?! Lihat! Lihat! Bagaimana kamu menyia-nyiakan semua kesempatan yang ada selama bertahun-tahun. Karena ketidak becusanmu sekarang perusahaan itu kembali ke tangan Bima!!"
Dewa tak menjawab dan hanya berdiri tegak di depan papanya. Mendengarkan semua makian sampai beliau puas dan pegi dengan sendirinya.
Setelah Tuan Rahadi pergi, baru Keyra berani mendekat untuk melihat kondisi suaminya.
Bukannya merasa terbantu, tapi Dewa malah menepis tangan Keyra dan pergi ke ruang kerjanya. Tanpa memperdulikan istrinya yang merasa khawatir dengan kondisinya.
Apa yang harus dikagetkan. Kenapa Keyra masih belum terbiasa dengan semuanya. Bukankah dia sudah menduga akan berakhir seperti ini saat menerima ide Dewa untuk menikah.
"Bi, nanti kalau Dewa sudah keluar dari ruang kerja, tolong buatkan bubur atau makanan yang lebih mudah untuk dimakan. Hindari makanan kering."
"Baik, Nyonya."
Keyra kembali membuang semua rasa kasihannya pada sang suami dan memilih untuk kembali ke kamarnya.
Terkadang Keyra selalu merasa bodoh harus bersimpati pada orang yang bahkan tak pernah melihat keberadaannya.
Mau bagaimana lagi? Keyra terbiasa melihat bagaimana mertuanya selalu menyalahkan suaminya untuk hal-hal yang sebenarnya bukan salahnya.
Menurut Keyra, Dewa sudah melakukan semuanya dengan sangat baik, tapi tetap saja tak pernah sekalipun menyenangkan hati papa mertuanya.
Keyra yang terbiasa diperlakukan baik di keluarganya seperti dipaksa merasa iba dan ingin meminjamkan bahunya untuk Dewa, tapi selama ini pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu selalu saja menolak semua bantuannya.
"Ingat! Kamu harus tahu dimana batasanmu." Kalimat itu selalu Dewa ucapkan pada Keyra. Membuat Keyra semakin kesal saat mendengarnya, tapi anehnya juga membuat wanita itu semakin ingin selalu berada di samping suaminya.
#
"Selamat datang kembali." Ucap Listy tersenyum lebar sambil memeluk Bima erat. Senang rasanya melihat Bima perlahan dapat bangkit kembali.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Bima.
Bima tersenyum ke arah Dewa dan menepuk bahunya. "Terimakasih untuk semuanya." Dewa membalasnya dengan senyuman ramah.
Setelah rapat direksi, mereka menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke kantor Bima.
"Apa yang terjadi pada sudut bibirmu? Apa kamu memiliki masalah dengan seseorang?" Tanya Bima khawatir melihat ada luka kecil pada wajah adiknya.
Listy yang mendengar ucapan Bima langsung memastikan sendiri dan melihat ada luka kecil disana.
"Bukan apa-apa. Hanya terlihat beberapa perkelahian kecil. Semuanya sudah ditangani dengan baik?"
"Apa kamu yakin?" Tanya Listy yang juga ikut khawatir."
"Sangat yakin," ucap Dewa mantap, "baik. Sangat disayangkan banyak pekerjaan yang menunggu. Sepertinya aku harus segera kembali bekerja."
"Sebaiknya aku juga harus kembali bekerja. Jika butuh bantuan, jangan sungkan untuk memanggilku." Ucap Listy, kemudian mengikuti Dewa pergi meninggalkan ruangan Bima.
"Aku kira kamu akan lebih lama di dalam?" Ucap Dewa terkejut melihat Listy yang menyusulnya keluar.
"Tidak. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya."
"..."
"Senang rasanya bisa melihat Bima bangkit kembali."
"Benar. Sepertinya waktu telah mengobati luka hatinya lebih baik dari siapapun."
"Menurutmu begitu?"
"Apa ada alasan lain?"
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu Bima berhasil menemukan Sheila. Oh, benar juga... Sepertinya kamu sudah bisa berhenti mencari Sheila. Tapi sebelumnya tolong rahasiakan hal ini pada Keyra dulu. Ada yang ingin kita pastikan terlebih dahulu."
"Kenapa? Apa Sheila tidak ingin kembali pulang?"
"Aku belum berani bertanya langsung padanya. Aku hanya akan menyerahkan semuanya pada Bima dan menjadi pendukung jika dia memerlukan bantuan."
"Dimana kalian menemukan Sheila? Maksudku, bahkan kita telah mencarinya sampai ke pelosok daerah di Jakarta selama bertahun-tahun."
"Benar. Takdir memang begitu lucu. Apalagi sekarang Sheila sudah memiliki seorang putra."
"Apa itu anak Kak Bima?"
"Itu juga yang ingin Bima cari tahu. Mungkin akan sedikit sulit membawa Sheila pulang, jika dia sudah memiliki keluarga. Pokoknya untuk sementara rahasiakan hal ini dari siapapun."
Dewa mengangguk mengerti. Listy menepuk bahu Dewa pelan dan kemudian pergi ke arah berlawanan dari Dewa.
__ADS_1
#