
Setelah kejadian di rumah utama beberapa hari yang lalu, Sheila sudah tak mendengar kabar dari Listy lagi.
Bahkan saat Sheila berkunjung ke kantor Bima, Sheila juga tidak melihat keberadaan Listy dimanapun.
Mengetahui hal itu seharusnya Sheila senang, tapi entah kenapa dia tak merasa senang sama sekali. Apalagi setelah kejadian itu Bima juga sedikit berubah.
Sheila mencoba mengerti bagaimana perasaan Bima, tapi nyatanya dia tak berhasil untuk mengerti.
"Hai, kakak ipar." Sapa Dewa dari kejauhan.
Sheila hanya tersenyum melihat Dewa yang berlari kecil kearahnya.
"Datang untuk makan siang bersama Kak Bima lagi?"
Sheila mengangguk kecil. Dia juga menunjukkan tas bekalnya kepada Dewa. Ya, akhir-akhir ini Sheila memang mencoba memasak untuk Bima dan juga melakukan makan siang di kantor bersama.
Sheila juga mengambil kelas sore agar bisa memasak sarapan dan juga makan siang untuk Bima.
"Woah.. istri teladan. Irinya." Ucap Dewa memasang wajah sedih yang dibuat-buat.
Walaupun Dewa hanya mengatakannya sebagai lelucon, tapi Sheila jadi merasa iba padanya. Tidak hanya Bima, mungkin Dewa juga terkejut saat mendengar pacarnya menyukai orang lain.
Atau mungkin bahkan selama ini Dewa sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu.
"Ingin aku buatkan juga untukmu besok?"
"Aku takut akan merepotkan kakak ipar. Jika sampai aku membuatmu kelelahan, sepertinya Kak Bima akan menelanku hidup-hidup."
Sheila menggeleng pelan. "Mas Bima tidak suka daging, tapi kamu harus menerima apapun yang aku masakan. Tentu saja rasanya tidak akan seperti masakan koki hotel berbintang."
"Tentu saja aku akan memakannya jika kakak ipar yang memasak. Bahkan aku merasa sangat terhormat untuk itu."
"Apanya yang terhormat? Kak Dewa selalu berlebihan. Kalau begitu sepertinya aku harus segera ke atas."
__ADS_1
"Baik, aku juga harus segera makan siang sebelum tak ada tempat lagi untukku."
Sheila tersenyum ramah dan melambaikan tangan ke arah Dewa yang mulai keluar dari gedung.
#
"Iya, Mas. Ini udah jam pulang. Sheila tunggu di cafe depan kampus ya."
"..."
"Iya."
Sheila menutup sambungan teleponnya. Ini sudah hari keempat Sheila mengikuti kelas sore. Sangat disayangkan sebenarnya dia jadi tak banyak memiliki waktu untuk bertemu Gia.
Tapi beruntung Bima akhir-akhir ini juga banyak kerjaan yang mengharuskannya pulang sampai larut malam. Jadi setelah pulang kerja, Bima bisa langsung menjemput Sheila.
Saat malam sekolah cukup sepi karena tak banyak siswa yang memilih untuk ikut kelas sore.
Sheila hanya fokus menatap ke arah jalan yang masih diterangi lampu. Berbeda dengan beberapa ruangan yang tak terpakai dengan keadaan lampu yang mati.
Setelah melewati gedung dan sudah sampai di halaman depan. Entah hanya sedang berhalusinasi, tapi Sheila merasa ada seseorang yang tengah mengikutinya.
Sheila semakin mempercepat langkahnya agar bisa sampai ke jalan raya lebih cepat.
"Hai sayang..." Sapa seseorang sambil merangkul bahu Sheila sok akrab.
Sheila hampir berteriak jika tangan pria itu tak membekap mulutnya. "Ini aku Handyan. Mari kita berpura-pura dekat sampai ke gerbang depan, mengerti?"
Sheila mengangguk mengerti, kemudian Handyan melepaskan bekapannya. Juga Handyan melepaskan rangkulannya setelah sampai di jalan raya.
Handyan melirik lagi ke arah gedung sekolah. "Sepertinya dia tidak mengikuti kita sampai kesini."
"Tadi beneran ada yang ngikutin aku dari belakang, Kak?"
__ADS_1
Handyan mengangguk. "Kamu seharusnya jangan jalan sendirian malam-malam begini."
"Kak Handyan lihat wajahnya nggak?"
Handyan menggeleng pelan. "Kamu ikut kelas sore?"
"Iya, Kak. Kak Handyan ikut kelas sore juga?"
"Enggak, cuma ada rapat kerja BEM aja."
"Ooo..." Sheila mengangguk walaupun tak mengerti. Dia tak begitu tertarik dengan kegiatan kemahasiswaan seperti BEM atau sejenisnya.
Obrolan keduanya berhenti saat sebuah mobil terparkir di depan Sheila.
"Ayo masuk." Ucap Bima dari dalam mobil. Juwan turun dan membukakan pintu untuk Sheila.
"Aku duluan ya, Kak. Terimakasih kasih sebelumnya."
"Iya sama-sama."
Bima juga sempat menyapa Handyan sebelum mobil berjalan pergi.
"Kamu dekat sama kakak kelasmu itu?" Tanya Bima akhirnya.
"Tidak terlalu. Kebetulan aja Kak Handyan ada kegiatan sampai malam."
Sebenarnya Sheila ingin bercerita tentang orang yang mengikutinya tadi, tapi dia urungkan setelah mengingat Bima masih memiliki banyak pekerjaan.
Apalagi Sheila juga belum sepenuhnya yakin bahwa orang tadi sedang mengikutinya. Bisa saja kan mereka berdua tadi salah mengira dan orang tadi juga hanya mahasiswa yang lewat, sama sepertinya.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Bima, karena Sheila terdiam seperti memikirkan sesuatu cukup lama.
Sheila menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, cuma capek aja. Rasanya cepet-cepet pengen tidur."
__ADS_1
Bima mengangguk mengerti dan memerintahkan Juwan untuk melajukan mobil lebih cepat.
#