
Sheila diturunkan di dekat taman yang sepi dengan kondisi yang berantakan. Tentu saja mereka juga mengancam Sheila untuk tutup mulut jika tak ingin mereka menyebarkan video yang mereka ambil.
Sheila terisak pedih di balik semak-semak taman. Dia merasa hancur, kotor, hina. Dunianya terasa hancur dalam semalam.
Sebenarnya apa salahnya sampai mereka melakukan hal keji seperti ini? Dosa apa yang dia perbuat sampai dia harus diperlakukan seperti ini? Sekarang Sheila bisa apa?
Bagaimana dia menjelaskan kepada Bima nanti? Bagaimana jika Bima tahu dan merasa jijik padanya? Dan juga keluarganya.. orangtuanya selalu menjunjung tinggi nama baik keluarga. Bagaimana jika mereka tahu hal ini terjadi pada putrinya? Pasti mereka merasa sangat kecewa.
Sheila bangkit berjalan tanpa arah di sepanjang jalan. Dia tak tahu harus kemana yang pasti dia tidak mungkin pulang ke rumah.
Sheila menatap mobil yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Dia pikir jika dia mati sekarang mungkin semua penderitaannya tak perlu berlarut-larut.
Sheila berhenti sejenak di pinggir jalan. Dia mengepalkan tangannya yang gemetaran. Dia mulai menutup mata dan melangkah ke jalan raya saat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
"Neng, awas!!!"
Sheila merasakan ditarik mundur oleh seseorang hingga jatuh ke tanah. Dia membuka matanya dan melihat seorang nenek juga terjatuh di sebelahnya saat menariknya tadi.
"Ya Allah neng.. hati-hati. Banyak mobil nanti neng bisa tertabrak."
Sheila menatap nenek yang menolongnya. Tak jauh dari si nenek ada berserakan beberapa kardus yang sepertinya beliau tinggalkan saat menolongnya.
Mungkin nenek itu salah mengira bahwa Sheila ingin menyeberang jalan dan kemudian menolongnya saat sebuah mobil hampir menabraknya.
"Maaf ya neng tangan nenek kotor. Tadi baru ambil beberapa kardus."
Nenek itu berusaha untuk bangkit dengan tertatih. Melihat beliau kesusahan bangun, Sheila langsung berdiri dan membantunya.
"Terimakasih, neng."
"Saya yang harusnya berterima kasih karena nenek sudah menyelamatkan saya."
"Eneng tidak apa-apa?"
Sheila menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, Nek. Nenek bagaimana? Apa ada yang terluka?"
Nenek itupun juga ikut tersenyum ramah. "Nenek baik-baik saja, Neng."
Perlahan nenek itu mengusap kedua bahu Sheila. "Neng.. seberat apapun hidup yang diberikan kepada kita, kita harus bersyukur pada yang memberi hidup. Menyerah dengan cara seperti ini tidak menyelesaikan masalah apapun. Apalagi eneng cantik begini. Kenapa harus membuat keputusan seperti ini."
Tanpa Sheila sadari sebulir air mata mengalir di pipinya. Padahal dia kira nenek yang menolongnya hanya salah mengira dengan apa yang akan dia lakukan, tapi kenyataannya beliau sadar bahwa Sheila hampir saja mengakhiri hidupnya.
"Saya tak tahu lagi harus bagaimana, Nek.. hiks.."
Sang nenek memeluk Sheila penuh iba. Beliau tak tahu apa yang dialami wanita cantik ini sampai harus berpikir pendek.
__ADS_1
Karena merasa tak tega dan kasihan. Beliau akhirnya menawari Sheila untuk pergi ketempatnya agar bisa istirahat sejenak.
#
Bima membanting ponselnya marah saat tak mendapat petunjuk apapun. Sialnya di area Sheila menghilang tidak terdapat CCTV satupun.
Dia juga baru saja menghajar Juwan habis-habisan karena tak bisa menjaga Sheila dengan baik.
Bahkan dalam sekejap area sekolah sudah di datangi oleh polisi dan beberapa mahasiswa yang masih berada di sana harus pulang terlambat untuk dimintai keterangan.
Drrt.. Drrt..
Bima membiarkan Juwan pergi saat mendengar getar dari ponsel Sheila. Layar ponsel menunjukkan sebuah panggilan dari nomer tak bernama.
"Halo?"
Bima mengangkat panggilan itu. Namun selama beberapa detik orang di seberang tak kunjung bersuara.
"Sheila? Apa ini kamu?"
'Mas Bima...'
"Sheila, kamu dimana sekarang, sayang? Katakan kamu dimana dan aku akan segera menjemputmu."
'Mas maaf, sepertinya aku nggak bisa melanjutkan pernikahan kita lagi.'
'Aku serius, Mas. Sepertinya aku nggak bisa menerima semuanya. Aku tahu Mas Bima dan Kak Keyra hanyalah masa lalu, tapi setelah aku pikirkan kembali, aku benar-benar tak bisa menerimanya.'
"Sayang.. aku tahu aku salah. Katakan kamu dimana sekarang. Mari kita bicarakan baik-baik."
'Maaf, Mas.. hiks.. maaf aku nggak bisa. Dan sampaikan maafku juga pada mama dan papa. Maaf, telah mengecewakan mereka. Maaf..'
Setelah meminta maaf sambil menangis sambungan telepon pun terputus.
"Sayang? Sheila? Shel?"
Bima berusaha menelepon balik nomer yang digunakan Sheila untuk menelepon, tapi hanya suara dari operator yang dia terima.
Bima langsung memanggil Juwan untuk segera melacak nomer yang digunakan Sheila. Dia juga memerintahkan orang untuk menelusuri seluruh area Jakarta.
Sedangkan Bima sendiri juga langsung mengambil kunci mobilnya untuk mencari Sheila sendiri. Dia sama sekali tak ingin dugaannya menjadi kenyataan.
Jika mendengar dari ucapan Sheila, dia seperti ingin menghilang. Tidak hanya dari hidup Bima, melainkan dari kehidupan semua orang disekitarnya.
#
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di area bawah jembatan sungai. Mobil itu berhenti tak jauh dari mobil lain yang lebih dulu terpakir disana.
Seorang pria keluar dari mobil dengan setelan jas dan datang menghampiri pria lain dengan pakaian santai yang tengah bersandar nyaman di mobilnya.
Pria dengan pakaian santai itu memberikan sebuah flashdisk kepada si pria berjas.
"Aku sudah melakukan yang kau minta. Jangan lupa dengan janjimu." Ucap pria itu saat menyerahkan flashdisk.
"Jangan khawatir. Kau pikir sedang berurusan dengan siapa."
"Tentu saja. Aku tak pernah meragukanmu."
Kemudian pria berjas itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan pria lainnya disana.
#
Sheila meminum air yang disuguhkan oleh Nek Isha. Sheila merasa sangat malu saat melihat bagaimana Nek Isha hidup berjuang sendiri dengan umur yang tak muda lagi.
Beliau tinggal di area kumuh yang berada jauh dari kota. Tinggal disebuah gubuk reyot dengan mengumpulkan kardus dan botol bekas sebagai penyambung hidup.
Beliau yang tak memiliki siapapun bisa bertahan dengan berbagai cara untuk bertahan hidup, sedangkan Sheila yang diberikan tubuh sehat bugar oleh Tuhan hampir saja dia sia-siakan.
"Maaf ya, Neng. Seadanya. Nenek hanya punya air putih."
Sheila menggeleng pelan. "Ini sudah lebih dari cukup, Nek. Terimakasih banyak."
"Eneng rumahnya dimana?"
Sheila menggeleng pelan sambil menunduk. Sekarang dia sudah tidak punya lagi tempat untuknya pulang.
Melihat bagaimana raut wajah Sheila, Nek Isha mengira bahwa mungkin Sheila tak memiliki tempat tujuan.
"Kalau, neng mau, neng bisa tinggal disini. Tapi ya begini adanya, kalau hujan yang biasanya bocor sana sini. Tapi lumayan untuk tidur daripada kedinginan diluar."
Sheila menggeleng lagi sambil tersenyum. "Terimakasih, terimakasih, Nek." Lirih Sheila sambil terisak.
Sheila sangat bersyukur. Bahkan Nek Isha tak tahu asal usul Sheila, tapi beliau sangat baik mau menampungnya. Bahkan beliau juga tak bertanya lebih jauh yang semakin membuat Sheila merasa nyaman.
Sheila menarik nafas panjang sambil mengusap air matanya. "Nenek punya gunting?" Tanya Sheila yang memutuskan akan memotong rambutnya dan memilih hidup baru.
Dia juga merogoh saku jaketnya dan menemukan beberapa lembar uang di dalamnya.
Sepertinya Sheila akan membeli nomer baru untuk menghubungi keluarganya. Setidaknya mereka tak perlu terlalu khawatir. Sheila juga berharap Bima bisa menerima keputusannya saat ini.
Sheila belum siap untuk dibenci Bima dan keluarganya, jika sampai mereka mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
#