
Akhir-akhir ini Sheila menjadi lebih dekat dengan Handyan karena hanya dia yang bisa Sheila ajak bicara selama di kampus. Apalagi setelah kejadian ada orang yang membuntutinya beberapa saat yang lalu.
Sekarang Sheila jadi sedikit menyesal harus pindah jadwal kelas. Dia jadi merindukan Gia, tapi mereka jadi jarang bisa bertemu karena jadwal kelas yang selalu bertubrukan.
Sheila menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang dikenalnya.
"Hai, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Listy yang langsung disetujui oleh Sheila.
Sebelumnya Sheila mengirim pesan ke Juwan untuk menjemputnya beberapa saat lagi dengan alasan yang cukup masuk akal tentunya.
Setelah berpisah dengan Handyan, mereka memutuskan untuk singgah di cafe dekat kampus.
"Aku ingin meminta maaf kepadamu secara langsung perihal kemarin. Seharusnya aku tidak bertindak kekanak-kanakan seperti itu."
Sheila cukup terkejut. Dia tak menduga bahwa Listy bisa berlapang dada tentang semuanya.
Sheila jadi berpikir sejenak. Jika dia berada diposisi Listy, apa dia bisa melepaskan Bima semudah itu?
"Juga aku sudah berbicara langsung dengan Bima. Kami sudah memutuskan untuk menjaga jarak terlebih dahulu, jadi kamu tak perlu khawatir lagi."
Mendengar nama Bima membuat Sheila mengingat lagi tentang kejadian kemarin.
"Kamu bisa memegang kata-kataku." Tambah Listy meyakinkan. Dia salah sangka dan berpikir bahwa Sheila tak ingin mempercayainya.
"Apa kamu yakin? Kamu sudah menyukai Mas Bima dari lama."
Listy tersenyum getir. "Memang benar aku mencintai Bima. Bahkan sampai sekarang aku masih berharap bisa berada di posismu, tapi ada saatnya aku merasa harus merelakan semuanya dan membiarkan orang yang aku cintai bahagia."
"Dan menurutmu Mas Bima akan bahagia dengan keputusan yang kamu buat sekarang?"
"Ini bukan hanya keputusanku, tapi aku juga mendiskusikannya bersama Bima. Sepertinya ini yang terbaik. Walaupun Bima akan lebih sibuk karena harus meng-handle semua pekerjaan sendiri."
"..."
"Tapi kamu tenang saja. Setelah aku menata hatiku kembali. Aku akan berusaha kembali menjadi teman masa kecil Bima yang dulu. Tidak lebih. Aku juga sudah mengobrol dan meminta maaf pada oma."
"Aku tidak begitu mengenalmu, tapi entah kenapa aku merasa harus percaya padamu untuk saat ini."
"Terimakasih. Itu sangat berarti bagiku."
__ADS_1
"Sama-sama."
#
"Dok, ada tamu yang menunggu dokter di ruang kantor." Ucap salah satu pegawai Keyra saat dia baru sampai di kliniknya.
"Siapa? Aku tidak memiliki janji dengan siapapun."
"Beliau bernama Pak Bima dan mengatakan bahwa Dokter Keyra tak mungkin menolak untuk bertemu dengannya."
Keyra tersenyum simpul. "Dia benar. Undur semua jadwal, kita akan buka sedikit terlambat dan bawakan minum ke dalam."
"Baik."
Keyra membuka pintu kantornya dengan senyum lebar. "Lihat siapa yang sudah berada di klinikku sepagi ini. Apa kamu sudah membuat keputusan?"
"Apa saja yang kamu katakan pada Sheila kemarin?"
"Apa? Kenapa kamu begitu ketakutan seperti itu? Wajah yang ketakutan ini sangat tidak cocok dengan Bima yang biasanya."
"Kamu akan mengatakannya atau tidak?"
"Aku tidak ada waktu untuk meladenimu."
"Tidak sopan. Kenapa aku harus menurutimu saat kamu bahkan tidak mau menolongku?"
"..."
"Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan pada Sheila. Dia tahu aku tak mungkin berbohong. Lagipula berbohong untuk menang bukan gayaku."
"..."
"Jadi menurutmu bagaimana? Apa yang akan dia pikirkan tentangmu sekarang? Sepertinya dia akan sangat sakit hati."
Bima memasang wajah marah dan bergegas pergi dari tempat itu. Keyra tertawa senang melihat raut wajah Bima sekarang. Membuatnya merasa sedikit terhibur.
#
"Iya kak? Gimana?"
__ADS_1
"..."
"Sheila kabur dari rumah lagi?"
"..."
"Aku kurang tahu, Kak. Kita udah jarang ngobrol setelah dia pindah jadwal. Soalnya kita jarang ada waktu buat ketemu."
"..."
"Iya, Kak. Nanti kalau ada kabar dari Sheila, aku langsung hubungi Kak Bima."
"..."
"Iya, Kak. Sama-sama."
Gia menutup teleponnya dan menatap Sheila yang terduduk diam di atas ranjangnya.
"Thanks ya, Gi." Ucap Sheila dan Gia hanya bisa menghembuskan nafas berat.
Gia tidak habis pikir dengan temannya ini. Kenapa dia selalu saja kabur ke tempatnya saat memiliki masalah.
Bahkan sekarang dia harus berbohong segala dan dipaksa masuk dalam skenario masalah rumah tangganya.
Gia juga tak tahu apa yang terjadi dan bingung harus menasehati Sheila seperti apa. Semalam Sheila hanya datang ke kosnya tanpa kabar dan tiba-tiba mengatakan bahwa tak ingin pulang ke rumah.
Wanita di depannya ini seperti bukan temannya. Sheila yang biasanya pasti akan langsung menangis dan menceritakan semuanya, tapi kali ini Sheila hanya diam. Bahkan Sheila juga mematikan ponselnya.
"Lo juga masih belum pengen cerita?" Tanya Gia duduk di sebelah Sheila.
Sheila menggeleng pelan. Walaupun Sheila terlihat murung, namun Gia bersyukur bahwa Sheila masih mau makan.
"Ya udah, habisin makanannya. Gue berangkat ke kampus dulu. Kalau mau pergi kunci kamarnya lo taruh di tempat biasanya aja."
Sheila mengangguk mengerti. "Thanks banget ya, Gi. Gue selalu aja ngerepotin elo."
"Nggak perlu sungkan. Lo jangan pernah lupa kalau gue selalu ada buat elo."
Sheila mengangguk mengerti. Mereka berpelukan sebentar sebelum Gia berangkat ke kampus.
__ADS_1
#