
Bima tersenyum saat merasakan sup tofu yang dia makan. Rasanya benar-benar pas dilidahnya. Ini sup yang sama seperti buatan Tiwi dan para juru masak yang berada di kediaman utama.
"Itu yang buat Sheila sendiri loh tadi. Katanya kamu suka sup tofu, jadi dia maksa buat itu sendiri."
"Mama apa sih." Ucap Sheila kesal karena mamanya jadi tukang adu.
Bima menatap Sheila sambil tersenyum. Ternyata istrinya ini benar-benar berlatih memasak.
"Ini enak." Puji Bima yang membuat Sheila tambah lebih malu lagi.
"Ini karena Tiwi yang jago ngajarin Sheila masak." Balas Sheila merendah, tentu saja masih dengan wajah malunya.
"Kalau itu sudah jelas. Seharusnya kamu menambah gaji Tiwi. Mungkin saja dia jafi tertekan saat mengajarimu memasak." Ucap Bima dengan nada bercanda.
"Mas Bima apa sih?! Sheila juga bisa masak loh walaupun dikit-dikit. Coba tanya Mbak Nia, jangan salah ya, aku di rumah juga pernah masak. Walaupun tidak seenak masakan Mas Bima."
"Kak Bima bisa masak?" Tanya Keyra tak percaya.
"Iya, bisa."
"Wah.. aku baru mendengarnya. Sepertinya nggak ada yang nggak Kak Bima bisa." Puji Keyra kagum.
"Karena itu juga sekarang aku belajar masak, Kak. Aku nggak mau dimasakin Mas Bima terus. Sekali-kali aku juga harus masak buat Mas Bima." Jelas Sheila.
Mama dan papa Sheila saling memandang satu sama lain sambil tersenyum. Mereka senang saat melihat semuanya baik-baik saja, bahkan lebih baik dari yang mereka bayangkan.
"Benar, sebenarnya oma berencana mengadakan pesta kecil di rumah utama, untuk merayakan kesembuhan Sheila. Oma mengundang mama, papa dan Keyra akhir minggu ini."
Sheila menatap Bima tak percaya. "Aku cuma demam biasa, Mas, kenapa harus buat pesta segala?"
"Jangan kaget, oma memang seperti itu."
Sheila hanya bisa maklum dan melanjutkan menghabiskan makan siangnya.
#
Sheila memandang diam ke arah tempat tidurnya. Benar juga, kenapa dia tidak memikirkan hal ini. Tempat tidurnya hanya berukuran normal, tidak seperti milik mereka yang ada di penthouse.
Mendengar suara gemericik air yang sudah dimatikan, Sheila langsung buru-buru masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya.
Sheila hanya bisa mendengar suara langkah kaki Bima di dalam kamarnya. Sheila menebak mungkin sekarang Bima sedang mengenakan pakaian yang dipinjamkan papanya untuk suaminya itu.
Sheila terus berdoa pada Tuhan agar Bima tak membangunkannya. Sheila tak ingin menjadi canggung.
Walaupun mereka sudah pernah melakukan hal yang lebih jauh sari sekedar tidur bersama, tapi kali ini berbeda. Waktu itu Sheila sedang dibawah pengaruh alkohol.
__ADS_1
Apalagi sekarang mereka tengah berada di kamarnya. Dimana ini tempat paling privasi milik Sheila dan tak pernah ada pria yang masuk ke dalam sini kecuali papanya dan tukang AC.
Sheila merasakan sapuan pelan dan sedikit hawa dingin di wajahnya.
"Selamat malam," ucap Bima sambil mengecup kening Sheila dan kemudian ikut naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya.
Setelah merasa Bima sudah mulai tertidur, Sheila baru bisa bernafas lega. Dia berbalik untuk mengintip Bima yang memang sudah pulas.
Sheila hampir meraih wajah Bima tapi dia urungkan niatnya. Dia tak ingin membangunkannya. Mau bilang apa dia kalau sampai Bima membuka matanya nanti.
Sheila memegang tempat dimana Bima mengecupnya tadi. Perutnya terasa aneh saat dia kembali membayangkannya. Belum lagi mereka tengah berbaring bersama di tempat tidur miliknya.
"Bodoh Sheila, bodoh. Udah tidur aja."
Sheila kembali menarik selimutnya untuk tidur. Tanpa dia ketahui ada orang lain yang berusaha untuk menahan diri agar tidak tertawa dan mengacaukan semuanya.
Ya, Bima belum tidur. Sebenarnya dia tahu kalau Sheila hanya berpura-pura tidur dan Bima hanya mengikuti skenario istrinya. Lagipula siapa orang yang bisa tidur saat orang di sebelahmu seaktif Sheila.
Sebenarnya dia memang berniat untuk segera tidur, tapi siapa sangka istrinya akan berbuat semenggemaskan ini.
Sayangnya Bima hanya bisa membayangkan bagaimana wajah Sheila saat ini. Pasti lebih menyenangkan saat dia melihatnya sendiri.
#
Seperti biasa pagi ini Sheila diantar oleh Bima dan juga Juwan ke kampus. Sheila hanya berbincang kepada Bima seadanya. Sepertinya dari tadi pagi Sheila masih merasa canggung pada Bima.
Gia berlari menghampiri Sheila saat mobil Bima sudah menjauh pergi.
"Bagaimana pagimu hari ini, Nyonya Rahadi?" Goda Gia.
"Apaan sih, Gi. Nggak usah aneh-aneh deh."
"Kenapa lo? Gue lihat komat-kamit sendiri tadi. Mau beralih jadi dukun lo?"
Pertanyaan Gia mengingatkan Sheila dengan pikiran aneh di otaknya lagi.
"Udahan ya ngusulin gue please, masih pagi banget ini."
"Karena masih pagi, makanya gue punya banyak energi buat ngusilin elo."
"Hai, Shel.."
"Oh, hai.." balas Sheila kikuk karena dia tidak kenal pada orang-orang yang menyapanya tadi.
"Lo harus terbiasa disapa kayak gitu. Itu baru pemanasan aja."
__ADS_1
"Please jangan. Gue mau hidup aman, nyaman, damai, sejahtera."
"Tenang, Shel. Kan lumayan lo bisa tambah-tambah relasi."
"Iya deh, semoga aja gue cepet beradaptasi."
"Hai, Shel.."
Sheila dan Gia berhenti saat Handyan berdiri di depan keduanya.
"Sekarang lo susah banget ya dicarinya, Shel."
"Maaf, Kak. Ada apa ya?" Tanya Sheila bingung sambil melirik ke arah Gia meminta penjelasannya. Sedangkan Gia hanya menggedikan bahu tak mengerti.
"Tugas kelompok kita." Jelas Handyan yang langsung membuat Sheila menepuk jidatnya.
"Astaga, Kak. Iya, iya. Nanti gue kirim file-nya via email ya, Kak. Sorry banget."
"Kenapa nggak langsung kita pindah sekarang, biar bisa langsung gue edit. Kamu nggak sibuk, Kan?"
"Emm, maaf tapi kita ada kelas, Kak." Potong Gia kemudian.
"Oh sorry. Kalau gitu gue tunggu email-nya aja deh, daripada nanti kalian telat masuk kelas."
"Iya, Kak. Sorry banget ya. Nanti selesai kelas langsung dikirim. Kita ke kelas dulu ya, Kak."
"Oke."
Setelah itu Gia buru-buru menarik Sheila menjauh dari Handyan. Sheila menatap Gia aneh karena tiba-tiba menarik pergi tangannya.
"Shel, lo kayaknya harus hati-hati sama Kak Handyan deh."
"Lo ngomong apa sih, Gi. Emangnya kenapa sama Kak Handyan?"
"Bukannya gimana-gimana ya, Shel. Tapi akhir-akhir ini Kak Handyan selalu aja nyariin lo."
"Kan kita satu kelompok. Mungkin dia nyari gue buat ngumpulin tugas?"
"Iya juga sih... Eh tapi enggak. Terserah deh. Pokoknya lo harus hati-hati sama Kak Handyan. Soalnya gue denger kabar aneh gitu."
"Kabar aneh apa?"
"Gue pastiin dulu deh. Nanti kalau udah pasti, lo gue kasih tahu. Pokoknya hati-hati aja dulu sama Kak Handyan."
"Iya, iya. Lo lama-lama kayak Mas Bima. Udah buru masuk kelas."
__ADS_1
Sheila mendorong tubuh Gia pergi. Tak peduli dengan wajah masam sahabatnya itu.
#