Good Husband?

Good Husband?
Tiga Puluh Empat (Pesta Ulang Tahun)


__ADS_3

Hari ini Sheila tampak lebih sibuk dari biasanya. Walaupun keluarga Thalia sudah memesan katering untuk pesta ulang tahun anaknya, tapi Sheila secara pribadi diminta Intan untuk membantu mengatur mereka.


Melihat bagaimana Sheila mengatur pesta Artha kemarin, Intan jadi semakin percaya bahwa Sheila bisa mengatur mereka sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Tidak hanya keluarga besar, bahkan Intan juga mengatur para penata rias untuk merias Arjuna.


Sesuai dugaan mereka juga sangat terpesona dengan ketampanan bocah laki-laki itu.


Bahkan Intan tak keberatan saat mereka semua mengira bahwa Arjuna adalah anaknya.


Tidak hanya Arjuna, sebenarnya Artha juga sangat tampan. Hanya saja tampannya Arjuna lebih seperti boneka hidup. Sedangkan Artha lebih cenderung lebih tampan dari anak laki-laki yang lain.


Artha sendiri tak mempedulikan itu. Yang ada dia jadi lebih tenang setelah adanya Arjuna. Jadi sekarang orang-orang tak lagi mengusiknya.


Bahkan setelah dirias Artha lebih memiliki banyak waktu luang untuk bermain game yang biasanya tidak bisa dia lakukan.


Karena hari-harinya selalu disibukkan dengan les ini itu. Padahal dia hanya ingin bisa bermain.


"Kak Artha main apa?" Tanya Thalia sambil menggandeng Arjuna di sebelahnya.


Artha melihat para perias itu ternyata telah pergi, dia melirik ke arah Arjuna sebentar sebelum melanjutkan bermain game.


"Game. Jangan ganggu. Kamu main sama Arjuna dulu sana."


Thalia memasang wajah tak suka karena Artha mengabaikannya. Kemudian bdia jadi punya ide.


"Aku juga mau main." Ucap Thalia sambil duduk di sebelah Artha mencoba mengintip game apa yang dimainkan kakaknya.


"Jangan... Nanti kakak dimarahi mama dikira ngajarin kamu main game."


"Ya makanya jangan main game. Ini kan ulang tahunku, mana kadonya?"

__ADS_1


"Ada. Di meja dekat kue ulang tahunmu." Balas Artha tak melepaskan pandangannya pada ponsel.


Thalia cemberut lagi. Tiba-tiba saja terdengar suara papa mereka yang sepertinya akan menaiki tangga.


Artha langsung melempar game ditangannya dan berpura-pura mengobrol dengan adiknya.


"Kalian masih disini? Ayo segera ke bawah. Mama mana?"


"Nggak tahu, Pa. Bukannya Mama dibawah, ya?" Mendengar jawaban putrinya, Satya kembali turun untuk mencari istrinya.


Setelah papanya pergi, Artha langsung mencari ke tempat dia melempar game tadi.


Beruntung ternyata Arjuna ada di belakang dan menangkap game milik Artha, jadi barang itu tidak harus hancur terlempar di lantai.


"Aku menangkap tadi." Ucap Arjuna lirih sambil menyerahkan barang di tangannya pada Artha.


"Kamu bisa menyimpannya." Ucap Artha kemudian pergi dan turun ke bawah duluan.


Arjuna jadi menunduk sedih. Entah kenapa dia merasa Artha tak suka dengan keberadaannya.


"Apa Kak Artha membenciku?" Tanya Arjuna dengan nada sedih.


"Mana mungkin. Bahkan aku tak dibolehkan memegang benda ini, tapi dia memberikannya padamu. Bagaimana mungkin dia membencimu?" Jelas Thalia.


"Apa aku boleh menyimpan ini?" Tanya Arjuna ragu, karena sepertinya barang ini cukup mahal.


"Kalau Kak Artha sudah bilang itu milikmu, tentu saja kamu harus menyimpannya."


#


Para tamu sudah mulai berdatangan. Pesta ini lebih tepat disebut pesta pertemuan keluarga daripada pesta ulang tahun anak pada umumnya.

__ADS_1


Karena umur Thalia masih cukup muda, jadi tentu saja para tamu juga menyertakan keluarga besarnya saat datang.


Setelah papanya selesai mengucapkan kata sambutan dan acara utama pemotongan kue selesai, Artha memilih untuk keluar untuk pergi ke taman.


Sejujurnya dia tak begitu suka berada di antara keramaian. Artha lebih nyaman sendiri di tempat sunyi.


Melihat Artha pergi keluar, diam-diam Arjuna mengikutinya dan perlahan mendekati Artha yang sedang duduk sendirian di bangku taman.


Arjuna tak berani memanggil Artha dan memilih untuk berdiri diam di sebelah Artha sambil memegang erat game pemberian dari Artha.


Merasa ada orang lain disekitarnya, Artha mencoba memastikan berbalik. "Aggghh... Astaga! Kamu ngapain disini?" Artha terlonjak kaget mendapati Arjuna berdiri diam di dekatnya.


"Ini..." Arjuna menunjukkan benda di tangannya.


"Iya, kenapa?"


"Aku benar-benar boleh menyimpannya?"


"Iya, itu untukmu. Lagian, papa tidak mungkin mengizinkan aku memainkannya."


"Tapi aku tidak bisa memainkannya."


"Mau aku ajari?"


Arjuna mengangguk kecil. Kemudian Artha mengisyaratkan Arjuna untuk duduk di sebelahnya.


Bocah itu menurut dan melihat bagaimana Artha memainkannya. Setelah beberapa kali naik level, Artha membiarkan Arjuna untuk bermain dan akan mengoreksi jika permainannya keliru.


Mereka berdua tiba-tiba saja lupa tentang pesta dan memilih untuk bermain game di taman. Namun tiba-tiba saja seseorang datang memeluk Arjuna yang entah darimana.


"Ternyata ini beneran kamu." Ucap gadis itu riang tak percaya.

__ADS_1


"Jasmine?" Arjuna juga tampak senang melihat gadis yang tiba-tiba saja datang memeluknya tadi.


#


__ADS_2