
'Aku akan ke rumahmu.'
Itu isi pesan dari Arjuna. Tumben, batinnya. Biasanya Jasmine yang akan sering datang ke rumah Arjuna. Ada angin apa sampai Arjuna memutuskan untuk datang menemuinya sendiri.
'Apa kamu kesini dengan daddy dan juga mamamu?' Balas Jasmine.
'Tidak. Aku datang sendiri.'
Aneh. Jasmine merasa pasti ada sesuatu. Tidak mungkin Arjuna datang menemuinya kalau tidak ada apa-apa.
Jangan-jangan Arjuna baru saja membuat kesalahan sampai membuat papanya marah dan memutuskan untuk mengusir Arjuna itu dari rumah?
Makanya Arjuna tiba-tiba sekali ingin pergi ke rumahnya dan hal ini merupakan kejadian langka. Selama ini Arjuna kesini kalau tidak dengan orangtuanya ya hanya untuk datang mengantar jemput Jasmine ke sekolah.
Aduh, bagaimana ini? Apa tidak apa-apa jika Jasmine membantu menyembunyikan Arjuna? Jasmine belum siap dicoret dari KK oleh mamanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Suara rendah Arjuna berhasil membuat Jasmine terlonjak kaget. Dia refleks menengok ke arah pintu kamarnya yang sudah terbuka lebar.
"Kenapa kamu masuk begitu saja? Ini kan kamar perempuan. Seharusnya kamu mengetuk pintu lebih dulu."
"Apa maksudmu? Aku sudah mengetuk pintu sampai tanganku merah, tapi kamu nggak juga membukanya. Lihat ini!" Arjuna menunjukkan punggung jari-jarinya yang benar-benar memerah.
Melihat punggung tangan Arjuna yang terluka membuat Jasmine merasa bersalah. "Maafkan aku. Kalau begitu aku akan mengambilkan kotak P3K."
Jasmine mengambil kotak P3K dari laci lemarinya. Dia mengeluarkan beberapa antiseptik untuk mengobati goresan di tangan Arjuna.
Tak lupa Jasmine juga meniup luka di tangan Arjuna agar rasanya tidak perih setelah diberikan obat.
Arjuna sangat menikmati bagaimana Jasmine mengurusnya dengan sangat baik. Dia tersenyum senang melihat Jasmine meniup luka ditangannya.
"Apa lukanya perih?" Tanya Jasmine khawatir sambil menatap Arjuna khawatir.
Arjuna menggeleng kecil. "Sepertinya sudah mendingan."
Jasmine mengangguk mengerti lalu membereskan kotak P3K-nya.
"Apa kamu tahu kenapa aku kesini?" Tanya Arjuna kemudian.
Jasmine menggeleng pelan. Jasmine berdoa semoga saja apa yang dia pikirkan tidak benar-benar terjadi.
"Kamu belum mendengarnya?" Tanya Arjuna penuh selidik.
Jasmine menggeleng. "Mendengar apa?"
"Kamu benar-benar belum tahu kalau aku akan dijodohkan?" Tanya Arjuna lagi memastikan.
Deg. Jasmine membeku. Walaupun semuanya memang tidak terjadi seperti yang dia pikirkan, tapi dia tidak tahu bahwa kenyataannya lebih buruk.
Bagaimana daddy-nya berbuat sejahat itu? Padahal daddy harusnya tahu bagaimana Jasmine sangat mencintai Arjuna. Kenapa Arjuna harus dijodohkan?
Arjuna meraung kesal dan berbaring di atas tempat tidur Jasmine. "Aku benar-benar kesal dengan papa dan mamaku sekarang. Bagaimana bisa mereka memutuskan hal itu sendirian tanpa persetujuanku."
Arjuna yang merasa sedari tadi tak mendengar respon dari Jasmine, akhirnya bangkit dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa kamu diam saja? Aku datang kesini untuk mendengarkan tanggapanmu."
Jasmine menggeleng kecil. Kini dia kembali fokus pada Arjuna.
"Kamu pasti sangat kesal." Ucap Jasmine akhirnya.
"Tentu saja aku kesal. Kenapa para orangtua selalu begitu kolot. Bayangkan, ini sudah tahun berapa? Dan mereka masih saja mau menjodohkan anaknya."
__ADS_1
"Benar. Mereka memang kolot." Ucap Jasmine memberikan tanggapan singkat.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Arjuna memastikan karena sedari tadi Jasmine mendadak linglung.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu sudah mencoba berbicara dengan Daddy?" Tanya Jasmine lebih sedikit antusias.
"Sudah. Kamu mungkin sudah tahu bagaimana jawaban papaku. Siapa yang bisa membantahnya kecuali Mama. Tapi bagaimana bisa aku meminta bantuan Mama kalau Mama juga mendukung hal ini."
"Apa kamu sudah tahu siapa yang Daddy jodohkan denganmu?" Tanya Jasmine sedih.
"Tentu saja aku tahu."
"Bagaimana menurutmu tentang perempuan yang mau dijodohkan denganmu itu?"
"Apa yang ingin kamu tahu?"
"Apa dia cantik?"
Arjuna berpikir sejenak. "Emm.. kupikir lumayan."
Jasmine melirik ke arah Arjuna tajam. "Mana ada lumayan! Kalau cantik bilang saja cantik!!"
"Aku kan hanya menjawab. Kenapa aku jadi kena marah?"
"Kamu pasti suka kan sama dia."
"Yahhh... Sedikit."
Jasmine langsung memukuli Arjuna dengan bantal. "Bilang saja sebenarnya kamu senang kan kalau dijodohkan! Kamu pasti datang kesini hanya untuk pamer!"
"Jasmine.. please.. tolong berhenti.. Jasmine"
Dengan nafas tersengal dan wajah marah Jasmine menghentikan aksi memukulnya dan berganti menatap Arjuna sinis.
Mata Jasmine melotot tak percaya. "Lihat! Kamu bahkan punya fotonya! Dasar laki-laki! Bilangnya nggak mau! Padahal hatinya senang."
"Mau lihat nggak?"
"Nggak!"
"Yakin?"
Jasmine berpikir sejenak. Sepertinya dia akan coba menilai perempuan ini sedikit. Mari kita lihat siapa yang lebih cantik, perempuan itu atau dirinya.
"Mana coba sini."
"Ini."
Arjuna memperlihatkan sebuah foto Jasmine saat masih kecil.
"Kamu salah buka foto." Ralat Jasmine.
"Oh ya. Mana coba kulihat." Arjuna mengambil lagi ponselnya dan mengecek foto yang dia buka.
"Nggak kok. Aku nggak salah buka."
"Maksudnya?"
"Papa mau jodohin kita berdua."
"Jadi aku? Aku yang mau dijodohin sama kamu?!" Tanya Jasmine tak percaya sambil tersenyum lebar.
Arjuna mengangguk. Dia juga tersenyum namun senyumnya menghilang saat tiba-tiba Jasmine juga berhenti tersenyum.
__ADS_1
"Tunggu dulu. Apa kamu nggak setuju dengan perjodohan ini? Bukannya kamu bilang tadi lagi kesel sama Daddy?"
"Iya. Aku memang nggak setuju."
"Kenapa?!" Ucap Jasmine tak terima. Bukannya selama ini Arjuna juga selalu bersikap seolah-olah juga suka pada Jasmine?
"Bukankah ini menjengkelkan?"
"Apanya yang menjengkelkan?!!" Jasmine semakin meninggikan suaranya.
"Kenapa kamu jadi marah?"
"Siapa yang marah?!!!"
"Kamu! Oke. Jangan marah dulu. Biar aku jelaskan kenapa perjodohan ini menjengkelkan."
"Karena kamu nggak suka aku yang akan menjadi istrimu?"
"Bukan begitu."
"Lalu apa?!"
"Makanya dengarkan dulu kalau orang mau bicara. Kamu diam dulu. Giliran aku yang ngomong."
Jasmine mengangguk patuh walaupun hatinya masih kesal. Awas kalau sampai jawaban Arjuna tidak membuatnya senang.
"Aku merasa perjodohan ini sangat menjengkelkan. Bagaimanapun juga aku akan tetap menikah denganmu walaupun tanpa perjodohan. Apa kamu nggak berpikir jika kita menerima perjodohan ini seakan-akan kita terpaksa untuk menikah. Padahal aku akan tetap menikah denganmu tanpa paksaan dari siapapun." Ujar Arjuna bangga.
Dia merasa sudah seperti laki-laki paling keren di dunia setelah mengucapkan kalimat panjang tadi.
Jasmine berdiri. Arjuna juga ikut berdiri. Dia sudah siap akan membuka kedua lengannya lebar-lebar untuk Jasmine. Namun siapa sangka bukannya memeluk, Jasmine justru memukul perut Arjuna.
"Dasar!!! Rasakan!!! Siapa suruh kamu jadi laki-laki paling menyebalkan di dunia ini!"
"Aduh.. aduh.. tapi kan kamu tetap suka." Ucap Arjuna walaupun sambil merintih kesakitan. Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghalau semua pukulan Jasmine, namun gagal.
Jasmine merasa semakin kesal karena tak bisa mengelak apa yang baru saja Arjuna katakan. Sehingga pukulan yang dia berikan pun semakin brutal.
"Aduh.. ampun.. please tolong berhenti."
"Rasakan!" Teriak Jasmine penuh kekesalan.
"Jasmine kalian ngapain diatas? Jangan berantem. Cepat bawa Arjuna turun. Kita makan malam bersama." Ucap Listy dari lantai satu.
"Mama udah pulang?" Tanya Jasmine kaget pada Arjuna.
"Sudah. Menurutmu siapa yang mengizinkanku langsung masuk ke dalam kamar."
"Kamu minta izin mamaku?" Tanya Jasmine tak percaya.
"Tentu saja. Aku nggak mungkin masuk ke kamarmu begitu saja kalau nggak ada izin."
"Jasmine! Ayo capat makan malam." Teriak Listy lagi.
"Iya, Ma." Jawab Arjuna.
"Apa yang kamu lakukan." Jasmine mengeplak bahu Arjuna kesal saat Arjuna dengan santainya memanggil mamanya bukan dengan panggilan 'tante' seperti biasa.
"Apa? Kan Tante Listy sebentar lagi juga akan menjadi mamaku. Ayo turun, nanti mama kelamaan nunggu."
Jasmine hanya bisa meraung gemas. Tapi dia tak bisa membalas Arjuna lagi karena mamanya terus memanggil namanya. Dia harus bergegas turun sebelum mamanya bertambah marah.
#
__ADS_1