Good Husband?

Good Husband?
Tiga Puluh Satu (Dia Akan Pergi)


__ADS_3

Sheila pulang terlambat hari ini karena ada acara di rumah majikannya, jadi dia juga membantu sampai selesai acara.


Sheila melihat Arjuna tengah tertidur di atas meja. Di depannya ada sekotak pizza yang membuat Sheila heran dari siapa anaknya mendapatkan pizza ini.


"Dia bersikeras untuk menunggumu pulang. Padahal Nenek sudah memintanya untuk tidur."


"Darimana pizza ini, Nek?" Tanya Sheila membuka kotak pizza itu yang masih utuh.


"Pizza itu dari ayah gadis kecil teman Juna." Jelas Nek Isha.


"Teman?" Tanya Sheila heran.


"Anak dari daycare yang tak jauh dari sini. Sepertinya Juna berteman dengan seorang anak di penitipan itu."


"Kenapa mereka memberi Juna pizza, Nek?"


"Tadi mereka datang ke rumah untuk membawa Molly ke dokter hewan. Mereka juga mengajak mampir untuk makan pizza."


Sheila mengangguk mengerti dan berusaha mengangkat Arjuna untuk dipindahkan ke tempat tidur.


Merasa ada yang memegangnya, Arjuna jadi terbangun dan menatap ibunya senang. "Ibu sudah pulang? Lihat aku bawa pizza untuk ibu."


"Nenek bilang ini dari teman Juna, ya?"


Arjuna mengangguk semangat. "Ibu, apa Juna bisa main di daycare? Jasmine bilang Juna bisa datang dan main disana tanpa dihukum."


"Kenapa Juna ingin main disana?"


"Karena disana banyak mainan." Ucap Arjuna gembira.


"Kemarin kan ibu juga bawa mainan yang banyak."


"Tapi tidak ada yang menemani Juna main, Bu. Juna ingin main bersama teman-teman juga."


Sheila menatap Juna khawatir. Dia bingung harus bagaimana mengatakannya pada Arjuna.


Mungkin anak yang bernama Jasmine bisa saja baik dengan anaknya, tapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana jika mereka membully Arjuna karena tidak sama dengan kalangan mereka.


"Sayang.. Juna sayang Ibu, kan?" Sheila memegang kedua tangan anaknya. Mencoba menyampaikan apa pendapatnya tanpa menyakiti perasaan anaknya.


Arjuna mengangguk kecil sambil tersenyum. Tentu saja tidak ada di dunia ini yang dia sayangi melebihi ibunya


"Kalau Ibu melarang Juna main kesana apa Juna mau mendengarkan Ibu?"


Arjuna menurunkan tangannya yang sebelumnya berada di tangan Sheila. Senyum Arjuna menghilang. Dia tidak marah, hanya merasa sedih.


"Kenapa Juna tidak boleh main kesana, Bu?"

__ADS_1


"Disana bahaya karena harus menyeberang jalan raya. Nanti kasihan Nenek harus mengantar Juna kesana."


"Tapi Ibu bisa mengantarkan Juna sebelum berangkat kerja, nanti Juna bisa minta tolong Daddy Jasmine untuk mengantarkan Juna pulang."


"Juna ingat kalau kita tidak boleh selalu merepotkan orang lain."


Arjuna mengangguk kecil. Kini dia hanya terus menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.


"Sayang.." Sheila mengusap rambut anaknya sayang, "bagaimana kalau kita pindah ke tempat kerja Ibu? Nanti disana Juna bisa bertemu Ibu setiap hari dan Juna bisa sekolah nantinya." Tawar Sheila akhirnya.


Sebenarnya Sheila sudah menolak tawaran majikannya untuk tinggal disana. Sebenarnya majikan Sheila sangat baik, hanya saja Sheila tak ingin Arjuna melihat bagaimana dia bekerja.


Sheila juga takut jika pada akhirnya Arjuna akan bekerja disana. Apalagi majikannya menjanjikan untuk menyekolahkan Arjuna. Walaupun tidak dikatakan secara langsung, tapi Sheila takut anaknya harus membalas budi kepada mereka seumur hidupnya.


Sheila hanya ingin Arjuna seperti anak lainnya. Bermain bersama teman sebaya yang juga setara dengannya.


"Nanti disana juga ada banyak mainan." Ya, disana cukup banyak mainan dari anak majikannya yang sudah tak terpakai.


Kemarin Sheila hanya membawa beberapa yang sebenarnya masih banyak segudang tumpukan mainan lain disana.


Akhirnya Arjuna berbinar lagi saat mendengar kata mainan dan bisa bersekolah. Sudah lama Arjuna sangat ingin masuk sekolah.


Tak lama Arjuna bergembira, dia baru ingat tentang Jasmine. Kalau nanti dia pindah berarti dia tidak bisa bertemu lagi dengan Jasmine.


Belum sempat Arjuna mengatakan rasa keberatannya, tapi ibunya sudah berdiri menghampiri neneknya.


#


Setelah ibunya mengatakan akan pindah seminggu lagi. Arjuna memutuskan untuk meminta tolong ke tetangga yang selalu menjaganya untuk menyeberang jalan besar.


Arjuna tahu sang ibu melarangnya untuk bermain di daycare. Setidaknya Arjuna harus berpamitan terlebih dahulu pada Jasmine. Dia tak ingin Jasmine menunggunya yang tak mungkin datang kesini.


Tetangganya mengantarkan Arjuna sampai pos satpam. Arjuna menjelaskan pada pak satpam jika ingin bertemu dengan Jasmine.


Pak satpam mengingat bahwa Bima mengatakan untuk membiarkan seorang anak bernama Arjuna masuk jika anak itu datang ke daycare.


"Siapa namamu, Nak?"


"Namaku Arjuna."


Kemudian Pak Satpam itu membawa Arjuna masuk ke dalam daycare untuk bergabung bersama anak yang lain. Sedangkan ibu tentangga memilih menunggu Arjuna di pos satpam.


#


Jasmine tampak tersenyum gembira melihat anak laki-laki yang dibawa pak satpam. Dia langsung menarik Arjuna untuk bermain bersama.


Miss Iren mendatangi Jasmine untuk bertanya siapa anak yang dia bawa. Jasmine memperkenalkan anak itu bernama Arjuna.

__ADS_1


Miss Iren mengangguk mengerti. Tidak hanya satpam, tapi seluruh pengasuh juga diberitahu oleh Bima perihal Arjuna.


Miss Iren menatap takjub bagaimana tampannya Arjuna. Dia merasa pasti kedua orangtuanya sangat bangga memiliki anak setampan ini.


Dengan wajah putih, mata hitam bulat yang berkilauan, serta bibir kecil tapi penuh dan cantik, seperti boneka. Bahkan Miss Iren berpikir bahwa Arjuna terlalu cantik untuk seorang anak laki-laki.


"Bagaimana kalau kita kenalkan Arjuna kepada yang lain juga?" Tanya Miss Iren pada kedua anak itu.


Seperti yang Miss Iren duga, beberapa anak yang lain tampak tertarik dengan Arjuna.


Walaupun tampak keberatan akhirnya Jasmine mengizinkan Miss Iren untuk membawa Arjuna ke depan untuk diperkenalkan kepada teman-temannya.


"Anak-anak sebentar kita berkumpul dulu ya.. ada yang ingin berkenalan dengan kita. Ayo Arjuna perkenalkan dirimu."


Arjuna menatap Miss Iren ragu. Namun akhirnya dia mencoba memperkenalkan diri. "Namaku Arjuna." Ucapnya lirih, tapi karena suasana disana hening mereka masih bisa mendengar ucapan Arjuna dengan jelas.


Tidak hanya Jasmine, tampaknya beberapa anak gadis yang lain juga tertarik dengan Arjuna.


"Arjuna tinggal dimana?" Tanya gadis lain.


Belum sampai Arjuna menjawab, tapi Jasmine sudah membawa Arjuna pergi. "Dia temanku. Kenapa kamu tanya dimana dia tinggal? Dia tinggal sangat jauh dari sini. Kamu tidak akan tahu rumahnya." Balas Jasmine sebelum membawa Arjuna pergi.


Beberapa anak protes pada Jasmine karena membawa Arjuna pergi. Miss Iren bergegas mengalihkan perhatian mereka pada hal lain agar tidak terjadi keributan.


"Mereka menyebalkan." Gerutu Jasmine, "kamu mau main apa?" Tanya Jasmine yang langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum saat berhadapan dengan Arjuna.


"Sebenarnya aku datang kesini bukan untuk bermain." Jelas Arjuna.


Jasmine menatap Arjuna tak mengerti. "Lalu?"


"Aku ingin berpamitan denganmu. Kemarin ibuku mengatakan kami akan segera pindah, jadi aku tidak bisa datang kesini."


"Apa? Kenapa begitu?" Tanya Jasmine tak senang.


"Maaf dan terimakasih untuk kemarin. Pizzanya enak dan obat kucingku, obat itu sangat membantu."


"Apa kamu akan pindah jauh?"


"Aku tidak tahu."


Kemudian Arjuna berpamitan untuk pulang. Pengasuh lain diminta Miss Iren untuk mengantar Arjuna sampai ke pos satpam.


Setelah Arjuna pergi tiba-tiba Jasmine mulai menangis keras. Membuat beberapa pengasuh disana bergegas menghampirinya. Menanyakan alasan dia menangis.


"Arjuna.. tidak akan bermain disini lagi.. dia mau pergi..." Ucapnya sambil menangis.


Miss Iren dan yang lain berusaha menenangkan Jasmine, tapi menenangkan Jasmine bukanlah pekerjaan yang mudah. Gadis ini sangat keras kepala dalam hal apapun.

__ADS_1


#


__ADS_2