
Bima tak begitu menikmati suasana pesta. Dia bahkan tak tahu dimana Jasmine sekarang. Selama ada Listy, tentu Jasmine akan baik-baik.
Bukan karena ini pesta yang membosankan, hanya saja Bima seperti melihat sosok Sheila diantara kerumunan para tamu.
Sosok itu begitu menganggu Bima. Bahkan dia tak begitu peduli dengan beberapa orang yang menyapanya ramah.
Bima hanya perlu memastikan bahwa yang dilihatnya memang Sheila. Walaupun sebenarnya Bima rasa kemungkinannya kecil bahwa wanita yang dilihatnya adalah Sheila.
Bagaimanapun Bima hanya ingin memastikannya dan pada akhirnya sama seperti sebelumnya. Semuanya sia-sia. Dia sudah memeriksa semua tamu dan semuanya adalah orang yang dia kenal.
Dimanapun Bima mencari, sosok Sheila seperti hanya bayangan dalam angan-angannya.
"Mbak Sheila, ini mau ditaruh mana ya?"
Bima langsung berbalik saat mendengar seseorang memanggil nama Sheila dengan begitu jelas.
Seorang pelayan acara tampak tengah berbicara dengan seorang wanita yang membelakangi Bima.
Wanita itulah yang sebelumnya pelayan itu panggil Sheila. Bima mendekat dan beberapa saat hanya berdiri di belakang si wanita.
Pelayan yang menghadap ke arahnya pun dibuat bingung karena Bima hanya terdiam.
"Maaf, apa ada yang bisa dibantu?" Tanya pelayan itu menawarkan bantuan.
"Shei-la...?"
Wanita itu hanya terdiam, sedangkan si pelayan yang merasa sungkan akhirnya pergi meninggalkan mereka.
Namun bersamaan dengan perginya si pelayan, wanita di depan Bima juga akan beranjak, tapi Bima menahannya untuk pergi.
Bima tidak membiarkan wanita itu pergi sebelum dia memastikan apakah dia benar Sheila atau bukan.
#
"Jasmine... Kan Mama sudah bilang jangan pergi jauh-jauh dari Mama." Listy menghampiri Jasmine yang selalu saja lepas dari pengawasannya.
__ADS_1
"Mama lihat! Ternyata Arjuna pindah ke rumah Thalia."
Listy menatap anak yang ditunjuk Jasmine. Ternyata Bima dan Jasmine tak membual tentang apa yang mereka diskripsikan tentang Arjuna.
Listy tersenyum melihat bagaimana putrinya sangat bersemangat sekarang. Di sebelah Bima juga ada Artha.
Listy cukup terkejut Artha bisa akrab dengan orang lain. Karena setahu Listy anak pertama sahabatnya ini cukup tertutup terhadap orang lain selain keluarganya.
Thalia dan Intan menghampiri Listy dan yang lain di taman. "Kamu kenal dengan Arjuna, Lis?"
Listy berbalik ke arah sahabatnya itu. Dia tersenyum ramah. "Bukan aku, tapi Jasmine yang mengenalnya. Mereka berteman sebelum Arjuna pindah kesini."
"Oh ya? Bagaimana mereka bisa saling kenal?"
"Aku juga tidak begitu yakin. Aku tahu Jasmine putriku, tapi dia selalu saja mengejutkanku."
"Sepertinya ini lebih bagus. Aku berencana menyekolahkan Arjuna dan Thalia di sekolah yang sama. Pasti lebih menyenangkan kalau Jasmine juga sudah mengenal Arjuna. Thalia jadi punya lebih banyak teman sekarang."
"Benar. Aku juga lebih senang jika Jasmine sudah mengenal beberapa anak sebelum masuk sekolah, tapi bagaimana bisa Arjuna tinggal disini?"
Kemudian Intan mengajak mereka semua untuk kembali ke dalam menikmati pesta. Karena sepertinya mereka belum menikmati hidangan yang tersaji.
#
"Maaf... Sepertinya Anda salah orang." Balas wanita itu pergi meninggalkan Bima, tapi Bima masih enggan untuk merelakannya pergi.
Karena wanita itu terus memalingkan wajah darinya, terpaksa Bima memakai cara sedikit tidak sopan.
Diputarnya paksa tubuh si wanita sampai Bima bisa melihat bagaimana wajah wanita itu sebenarnya.
"Apa yang sebenarnya Anda lakukan?" Tanya wanita itu marah pada Bima.
Bima terpaku sejenak. Walaupun wanita di depannya memiliki rambut sebahu dan juga memakai kacamata. Bukan berarti Bima tak mengenalinya.
"Maaf, sepertinya aku salah mengira kamu dengan kenalanku." Ucap Bima melepaskan rengkuhannya pada si wanita.
__ADS_1
Setelah tubuhnya bebas, wanita itu langsung pergi meninggalkan Bima dengan wajah tertunduk.
Bima masih menatap punggung wanita itu sampai tak terlihat olehnya. Dia tahu itu Sheila, tapi tak ingin membuat keributan saat ini.
Bima menghentikan seorang pelayan yang lewat tepat di sebelahnya. "Apa wanita tadi bekerja di tempat katering ini?" Tanya Bima menunjuk ke arah Sheila.
"Mbak Sheila? Oh Mbak Sheila bekerja di rumah ini, Pak. Bukan di tempat katering kami." Balas si perempuan sebelum akhirnya Bima mengangguk mengerti dan membiarkan pelayan wanita tadi pergi.
"Aku menemukanmu." Ucap Bima tersenyum dan pergi dari sana. Dia mungkin akan kembali lagi besok. Lagipula tidak sulit untuk kembali ke tempat ini.
#
Setelah pesta merupakan waktu yang lebih melelahkan dari pada persiapan acara. Karena sebagian besar sudah selesai, Sheila meminta izin untuk beristirahat lebih awal.
Sebenarnya Intan sudah menyarankan agar Sheila beristirahat lebih awal, karena sepertinya dia kurang enak badan. Wajahnya terlihat sangat pucat, kelelahan.
Saat kembali ke kamar, Sheila sudah melihat Arjuna tidur diperlukan Nek Isha.
Perlahan Sheila mendekati Arjuna. Berbaring disebelah putranya sambil memeluknya.
Rasa tegang saat Bima berbicara padanya tadi masih Sheila rasakan sampai sekarang. Perasaan Sheila kini bercampur aduk karena kejadian tadi.
Ada rasa bersyukur tapi juga ada sedikit rasa kecewa saat Bima tak bisa mengenalinya.
Tentu saja, kini Bima sudah memiliki keluarga bahagia bersama Listy. Lagipula Sheila hanyalah masa lalu Bima. Kenapa Sheila harus terkejut dengan fakta itu.
Meskipun Sheila sudah tahu, tapi pada kenyataannya kini sebutir air mata menetes di pipinya.
Lucu. Padahal dia yang memilih untuk meninggalkan Bima, tapi dia juga yang paling tersakiti.
Sebutir air mata Sheila kini bertambah lebih banyak. Dia terisak dalam diam. Namun isakannya terhenti saat Arjuna berbalik untuk memeluknya.
Sheila mengusap air matanya. Tak sepantasnya dia bersedih. Dia harus kuat untuk Arjuna. Sekarang dia memiliki Arjuna yang harus dia bahagiakan. Dia tak harus memerlukan hal lain. Cukup putranya sebagai sumber bahagianya.
#
__ADS_1