Good Husband?

Good Husband?
Dua Puluh Satu (Penjelasan)


__ADS_3

Setelah selesai pesta, Oma meminta Sheila dan Bima untuk menginap saja. Lagipula pesta berakhir saat dini hari, jadi menginap adalah ide yang bagus.


Setelah makan malam tadi Sheila masih setia mendiamkan Bima. Bima memang pernah berhadapan dengan wanita yang marah, tapi baru kali ini Bima menghadapi orang yang marah dengan mendiamkannya selama ini.


"Kamu masih marah?" tanya Bima saat Sheila sudah keluar dari kamar mandi dan hanya berdiam diri saat naik ke atas tempat tidur.


"Siapa yang marah?" Tanya Sheila dengan nada ketus.


Bima tersenyum tipis. Bukankah sudah jelas, semua orang pasti tahu bahwa Sheila sedang marah hanya dengan mendengar nada ketusnya.


"Aku minta maaf kalau apa yang aku lakukan saat makan malam tadi membuatmu marah "


"Aku nggak marah kok sama Mas Bima." Jelas Sheila dengan penuh penekanan disetiap katanya.


"Terus? Kamu marah sama Listy?"


Sheila hanya terdiam. Bima akhirnya mendekat, berinisiatif untuk menghapus jarak diantara keduanya.


"Kamu cemburu?"


Sheila menatap Bima jengkel dan kemudian mendorong tubuh besar Bima untuk menjauh, tapi sepertinya Sheila lupa bahwa tenaganya tak akan mampu membuat tubuh Bima mundur.


"Apa yang membuatmu cemburu? Bukannya sudah kubilang kami tidak ada hubungan yang istimewa selain teman?"


"Tapi dia lebih tahu banyak hal tentang Mas Bima daripada aku, istrimu sendiri."


"Tentu saja. Aku dan Listy sudah saling mengenal selama hampir 30 tahun. Kita sudah seperti saudara yang tumbuh bersama. Bukannya akan lebih aneh jika dia tak tau apa-apa tentangku?"


"Tapi aku merasa bersalah pada Mas Bima. Bagaimana bisa aku yang seharusnya menjadi istri, tapi tidak tahu apa-apa soal suaminya sendiri."


"Kamu mungkin belum tahu semua tentangku karena kita memang baru beberapa bulan saling mengenal. Tapi jangan salah, kamu juga tahu beberapa hal yang tak Listy ketahui tentangku."


"Contohnya?"


"Kamu tahu Fila di puncak yang Listy tak tahu kalau keluarga kami memilikinya, tahu bagaimana aku saat tidur dan kamu juga tahu rasa masakanku."


"Listy tak tahu rasa masakannya Mas Bima? Serius?"


"Sebenarnya aku tak pernah memasak untuk orang lain selain untuk diriku sendiri, kamu seharusnya merasa terhormat menjadi orang yang pernah merasakan masakanku."


Setelah mendengar ucapan Bima, wajah masam Sheila langsung berubah penuh senyum.


"Lagipula kita masih memiliki banyak waktu untuk saling mengerti satu sama lain."

__ADS_1


Sheila mengangguk setuju.


"Apalagi sekarang Listy sedang pacaran dengan Dewa, apa yang lagi yang membuatmu khawatir?"


Sheila menatap Bima tak percaya. "Pasti Mas Bima bohong? Sejak kapan mereka pacaran?"


"Kenapa aku harus berbohong? Apa untungnya untukku? Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya langsung ke Dewa."


"..."


"Sekarang, karena masalah sudah diluruskan, sebaiknya kita segera tidur."


Bima kembali mendorong dirinya untuk berada di ujung tempat tidur, tapi tiba-tiba saja Sheila menarik salah satu lengan Bima dan kemudian menggunakan lengan itu sebagai bantal.


"Aku ingin tidur seperti ini." Ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam tubuh Bima..


Bima tentu saja kaget bukan main. Bukankah sebelumnya Sheila bahkan berpura-pura tidur duluan karena malu, tapi sekarang malah dia sendiri yang berinisiatif untuk tidur dengan posisi yang lebih intim.


Bima hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang istri. Bima semakin melebarkan senyumnya saat melihat betapa merahnya telinga Sheila sekarang karena malu.


Tak ambil pusing, Bima segera memiringkan tubuhnya dan membenarkan letak selimut. Bima memeluk tubuh kecil Sheila dengan tangannya yang lain.


"Selamat malam," ucap Bima sambil mengecup kening Sheila.


"Selamat malam," balas Sheila tak terlalu jelas karena masih menenggelamkan wajahnya.


#


Tempat pertama yang ditujunya tentu saja dapur. Dia sangat kehausan karena tak sempat mengisi ulang gelas di meja kamarnya.


Saking bahagianya, Sheila bahkan tak sadar bahwa ada Listy juga di dapur.


"Jadi seperti ini pagi harimy setiap hari? Membiarkan suami bangun lebih dulu dan memilih bermalas-malasan di kamar?"


Sheila mengembuskan nafasnya berat. Kenapa Listy harus merusak pagi harinya yang indah.


"Sebenarnya kamu tak perlu ikut campur bagaimana cara kita bangun ataupun cara kita tidur. Kamu bahkan tak tahu bagaimana aku sudah bekerja keras semalam. Tentu Mas Bima sangat mengerti." Bohong Sheila. Padahal keduanya hanya tidur saling berpelukan dan tidak lebih.


Mendengar hal itu Listy membuang nafas berat "Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun?"


"Oh, aku pikir kamu ingin mengetahuinya? Apa aku salah?"


"Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu? Bima takkan mau menyentuh wanita sepertimu?"

__ADS_1


Sheila menggeleng pelan sambil tersenyum mengejek. "Maaf, tapi tidak semua hal dari Mas Bima yang kamu ketahui. Dan juga, berhenti mengurusi rumah tangga kami. Kenapa kamu tidak mengurus pacarmu sendiri?"


Merasa geram akhirnya Listy menyiramkan air digelasnya kepada Sheila.


"Ah..." Sheila kaget dengan tindakan Listy.


"Listy! Apa yang sudah kamu lakukan?"


Dengan wajah marah, oma mendatangi Sheila dan Listy di dapur. Oma langsung menyuruh pelayanan untuk mengambilkan handuk untuk Sheila.


"Listy, coba jelaskan apa yang terjadi. Kenapa kamu menyiram Sheila?"


Listy hanya terdiam, begitupun dengan Sheila. Keduanya pasti lupa kalau sekarang mereka berada di tempat yang salah untuk bertengkar.


"Sebaiknya salah satu dari kalian harus segera menjelaskan. Sebelum oma mengecek CCTV dan menjadi lebih marah dari ini."


"Ada apa ini oma?" Tanya Dewa yang baru selesai dari lari pagi bersama Bima.


Bima yeng melihat Sheila sedikit basah langsung menghampirinya. "Kamu tidak apa-apa? Ayo ganti baju dulu, kita ke atas."


"Tidak ada yang bileh pergi dari sini sebelum menjelaskan apa yang terjadi." Ucap Diana tegas.


"Oma.. oma maafkan Listy. Sebenarnya Listy suka sama Bima oma." Ucap Listy yang mulai meneteskan air mata.


"..."


"Bima maafkan aku," ucap Listy sambil menatap Bima sendu.


"Apa maksudmu? Bukannya kamu berpacaran dengan Dewa?" Tanya oma tak percaya.


"Maaf oma, sepertinya Listy harus pergi." Tanpa menjawab pertanyaan dari Diana, Listy memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Biar Dewa yang kejar," ucap Dewa sebelum pergi mengejar Listy.


"Oma? Oma baik-baik saja?" Tanya Bima yang melihat ima hanya terdiam.


"Apa kamu juga tahu semua ini? Bukannya kamu bilang kalian memilih untuk berteman setelah putus?"


Bima menggeleng. "Bima tidak tahu sama sekali oma."


Oma menggeleng pelan. "Sebaiknya oma bicara dengan Listy sendiri nanti. Kamu naik saja ke atas, Sheila harus segera ganti baju."


"Baik oma, kita permisi dulu ke atas."

__ADS_1


Sebelum pergi ke atas, Sheila menuangkan segelas air putih untuk oma. Bima juga menyuruh pelayanan untuk mendampingi oma.


#


__ADS_2