Good Husband?

Good Husband?
Sepuluh (Bulan Madu)


__ADS_3

"Selamat atas pernikahannya!" ucap para staf hotel saat menyambut Sheila dan Bima di lobi.


Tidak hanya staf, bahkan beberapa tamu juga berada disana ikut andil dalam memeriahkan penyambutan dan ucapan kebahagiaan pernikahan mereka.


Sheila menatap Bima bingung. Daripada penyambutan, semuanya terlihat seperti pesta kecil yang diadakan hotel untuk mereka.


"Oma." Tebak Bima memberikan jawaban pada Sheila sambil menggedikan bahu. Sheila hanya menggeleng tak percaya. Jelas keluarga Rahadi sangat menyukai perayaan.


Saat mereka akan menuju kamar, beberapa tamu hotel menahan mereka untuk ikut perayaan pesta kecil ini.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Bima khawatir pada istrinya. Takut jika Sheila memaksakan diri untuk mengikuti keinginan mereka.


Sheila menggeleng. "Sebaiknya kita berpesta sebentar." Balas Sheila tak ingin mengecewakan mereka yang mungkin sudah lama menunggu mereka tiba. Jelas setidaknya mereka harus tinggal walaupun hanya sebentar.


Bima mengisyaratkan seorang Bell Boy untuk menaruh koper mereka ke kamar terlebih dahulu. Dan melanjutkan berpesta seperti keinginan istrinya.


#


Bima membaringkan hati-hati Sheila pada tempat tidur. Dia menggeleng pelan saat Sheila menggeliat nyaman dan sedikit meracau dalam tidurnya.


Bima tak habis pikir bagaimana istrinya langsung mabuk hanya dengan meminum segelas wine.


Bima mulai melepaskan mantel dan sepatu yang Sheila pakai. Tak lupa Bima juga mengganti pakaian Sheila dengan kemeja putih polos karena pakaian yang Sheila kenakan saat ini sepertinya tak nyaman digunakan untuk tidur.


"Kamu siapa? Kamu mau ngapain pegang-pegang?" tanya Sheila menyipitkan mata sambil menepis tangan Bima.


"Aku suamimu dan sebaiknya kamu diam agar aku bisa mengganti bajumu," balas Bima masih dengan kegiatan mengganti pakaian Sheila.


Sheila semakin memajukan wajahnya untuk melihat wajah Bima dengan jelas. "Kenapa kamu ada 1, 2.. hehe, kamu ada banyak," racau Sheila yang semakin membuat Bima tertawa geli.


"Angkat lenganmu." Titah Bima dan Sheila menurut untuk mengangkat tinggi-tinggi kedua lengannya.


"Tidak perlu setinggi itu, hanya angkat sedikit." Sheila mengangguk mengerti lalu menurunkan sedikit lengannya.


Bima tersenyum bangga saat baju itu sudah terpasang dengan baik dan Sheila juga kembali tertidur dengan lelap. Bima tertawa sejenak saat mendapati dirinya begitu kerepotan dan menguras banyak tenaga hanya untuk mengganti baju pada tubuh kecil istrinya.


Bima akhirnya memutuskan untuk mandi karena dia tidak akan bisa tidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.


Tak perlu berlama-lama untuk Bima berada di dalam kamar mandi. Dan dalam waktu singkat itu juga Bima dibuat terkejut dengan tidak adanya Sheila di atas tempat tidur.

__ADS_1


Merasa panik Bima langsung menyisir setiap sudut kamar. Dia juga menyalakan lampu yang sebelumnya sudah dia matikan.


"Mas Bima nyari aku?" tanya Sheila yang ternyata berada di dapur.


Bima akhirnya bernafas lega setelah menemukan istrinya yang tengah duduk jongkok di atas kursi meja makan. Sepertinya Sheila belum sadar dari mabuknya.


"Sedang apa disini? Kenapa tidak tidur?" tanya Bima datang menghampiri Sheila.


"Haus."


Bima mengangguk mengerti. "Ayo kembali ke tempat tidur. Ini sudah malam."


Mendengar perintah, Sheila menurut dan turun dari kursinya. Tapi kemudian dia mendorong Bima ke sofa dekat meja makan. Membuat Bima terkejut dengan apa yang terjadi dengan istrinya. Apa Sheila ingin berkelahi atau bagaimana?


Sebenarnya Bima paling tak suka menghadapi wanita yang sedang mabuk. Tapi mau bagaimana lagi, yang di depan sekarang adalah istrinya. Mau tak mau Bima harus bersabar menghadapinya.


Bima menegakkan posisi duduknya, mencoba bicara pada Sheila yang semoga saja berhasil. "Ayo kita tidur, bergadang bukan hal baik untukmu."


Bukannya menjawab, Sheila malah mendudukkan dirinya di atas pangkuan Bima. "Mas Bima?" tanya Sheila sambil meraba wajah Bima.


"Iya, ini aku."


Bima berusaha menurunkan tangan Sheila dari wajahnya tapi Sheila menipis tangannya kasar. "Diam! Ssssttt..." ucapnya dengan meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Bima.


"Kamu pernah cium aku sama bibir ini." Sheila mengelus bibir Bima perlahan dan kemudian menekan dan memainkan bibir Bima dengan jarinya.


"Kamu dendam karena itu?" tanya Bima tak mengerti dengan ulah Sheila sekarang.


Sheila hanya berdiam diri dan menelungkupkan tangannya pada wajah Bima. "Mas tuh tahu nggak sih kalau ganteng banget?" keluhnya pada Bima. Kemudian mengecup bibir Bima sekilas.


"Sudah. Kita impas," balas Sheila tertawa girang. "Tapi kenapa beda.." tambah Sheila sambil meraba bibirnya sendiri. "Kenapa beda?" Racaunya lagi lirih.


Bima yang berhasil mengendalikan diri dari rasa terkejutnya mengangkat sedikit dagu Sheila dan kemudian meraup bibir Sheila tanpa ampun.


Padahal Bima sudah bersusah payah menahannya tapi bukan salahnya kan kalau istrinya sendiri yang meminta.


"Bagaimana? Apa sudah sama?" tanya Bima lirih setelah menyudahi ciuman panjang mereka. Sheila tertunduk malu sambil mengangguk kecil.


Hal itu semakin membuat Bima tak bisa mengontrol dirinya. Bukankah istrinya begitu menggemaskan. Membuat Bima memutuskan sekali lagi untuk menciumnya. Dan kali ini Bima juga ingin merasakan setiap inchi tubuh istrinya dalam genggamannya.

__ADS_1


Bima terus memperdalam ciuman keduanya dan mengangkat tubuh Sheila, memperbaiki posisi keduanya. Bima mendorong Sheila sedikit hingga terbaring di atas sofa.


Membuat Sheila melenguh saat Bima semakin hilang kendali dan terus meminta lebih. Bahkan kini Bima memindahkan ciumannya pada leher Sheila.


"Mas... enghhh..." Sheila semakin menggila tak karuan.


Bima membuka matanya lebar. Ini tidak benar. Mereka memang sudah resmi menikah, tapi Bima tidak bisa melakukan hal ini dalam keadaan Sheila yang tak berada pada akal sehatnya.


"Mas Bima.." ucap Sheila yang kini mengalungkan tangannya ke leher Bima.


"Kita berhenti, aku tak ingin membuatmu membenciku besok."


Tapi bukannya menurut, Sheila semakin menghujani wajah Bima dengan ciuman. "Aku nggak akan benci sama Mas Bima." Sheila mengarahkan tangan Bima untuk menyentuhnya lagi.


Gila! Bagaimana bisa Bima menahannya lagi. Masa bodoh dengan besok. Kini Bima mengangkat tubuh Sheila ke tempat tidur. Bima mencari sesuatu pada kantong kopernya dengan tergesa-gesa.


"Mas Bima cari apa?"


"Kamu akan tahu nanti," ucap Bima setelah menemukan benda yang dicarinya. Bima kembali pada Sheila, mencium dan mulai mendorongnya ke tempat tidur.


Sheila hanya bisa terus melenguh nikmat sambil mencengkeram rambut dan berpindah turun ke bahu Bima dengan jarinya.


"Jangan pernah mabuk lagi tanpa aku. Paham?!" bisik Bima di tengah kegiatan intim mereka.


Sheila tak menjawab dan hanya terus melenguh sambil meracaukan nama Bima.


"Jawab sayang. Kamu paham?"


"Emmmhhh..." balas Sheila mengangguk tertahan.


#


Hangat. Sheila merasa nyaman dengan kehangatan yang dirasakannya saat ini. Sheila juga merasakan sesuatu benda berat menimpa bagian pinggangnya. Perlahan dia juga mulai merasa ada hembusan nafas hangat di atas kepalanya.


"Ini masih gelap. Kamu bisa tidur lagi." Ucap seseorang yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Sheila.


Sheila mendengar lirihan suara yang entah bagaimana membuatnya nyaman dan kembali melanjutkan tidurnya.


#

__ADS_1


__ADS_2