Good Husband?

Good Husband?
Epilog


__ADS_3

Semua siswi tampak berhimpitan untuk memberikan cokelat pada seorang siswa. Sejak pagi tadi, sekolah tampak begitu bersemangat. Hari ini merupakan hari dimana para remaja merayakan hari kasih sayang dengan memberikan cokelat pada orang yang mereka suka.


Tentu saja pada setiap tahun Arjuna selalu mendapat bagian terbanyak dari para siswi. Bahkan mungkin lebih dari setengah siswi di sekolah memberikan cokelat padanya.


Melihat kerumunan yang semakin banyak, bahkan sampai membuat Arjuna tak bisa bergerak, Jasmine langsung mengambil ancang-ancang untuk membelah benteng manusia itu


Dia menyisingkan lengan bajunya kemudian berjalan menghalau mereka semua. Dengan susah payah Jasmine berusaha melihat keberadaan Arjuna. Walaupun hanya bagian tertentu dari tubuhnya, Jasmine akan langsung menarik bagian itu dan membawa Arjuna kabur dari mereka.


"Kembalikan Arjuna! Dasar wanita sialan!"


Mereka semua terus memaki sambil mengejar Jasmine dan Arjuna, sampai akhirnya Arjuna menarik Jasmine untuk bersembunyi di gudang tempat sekolah menaruh semua peralatan olahraga.


Susah payah Jasmine mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Para wanita itu memang sudah gila. Sebenarnya mereka ini zombie atau apa?


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arjuna khawatir melihat Jasmine yang terus berusaha mengambil oksigen.


Arjuna melihat sekeliling, sepertinya mereka salah memilih tempat untuk bersembunyi. Disini terlalu kotor dan banyak debu. Apalagi Jasmine sangat suka kebersihan.


"Apa sebaiknya kita ke UKS saja?" Tanya Arjuna, tapi Jasmine menggeleng menolaknya.


"Aku baik-baik saja. Kalau kita pergi ke UKS, disana hanya akan menjadi lebih buruk. Apa kamu tidak tahu kalau UKS itu sarangnya para wanita?"


Arjuna mengangkat bahu tanda tak mengerti. Jasmine hanya bisa menggeleng tak percaya, Arjuna benar-benar telalu polos sebagai laki-laki. Bagaimana bisa dengan wajah setampan ini, dia malah memiliki hati seputih kapas. Membuatnya begitu sulit untuk menolak mereka semua.


Jika Jasmine menjadi Arjuna, dia hanya akan menolak mereka semua dengan kata-kata kasar. Toh tidak akan ada yang membenci atau menyalahkannya. Karena peraturan tak tertulis dari semua wanita adalah, laki-laki tampan itu bebas.


"Kenapa kamu terus saja menanggapi mereka? Jika kamu tak sanggup menolak mereka, maka kamu sendiri yang akan kerepotan."


"Maafkan aku, aku selalu saja merepotkanmu."


Jasmine menatap Arjuna kesal. "Bukan begitu maksudku!"


Arjuna hanya bisa terdiam saat diteriaki Jasmine. Pada dasarnya Jasmine memang selalu suka meneriakinya. Entah sejak kapan, bahkan Arjuna sudah terbiasa dengan hal itu. Dia tidak akan marah ataupun keberatan.


"Jika kamu masih tetap seperti ini, jumlah mereka akan semakin bertambah banyak. Sebenarnya mereka zombie atau virus sih? Kenapa mereka seperti terus memamah biak."


Arjuna tertawa tertahan mendengar kalimat Jasmine. Ada sedikit gambaran dikepalanya tentang apa yang Jasmine katakan tentang mereka.


"Tertawa saja sesukamu." Ucap Jasmine kesal.


"Kenapa kamu terus saja marah-marah. Nanti kerutanmu bertambah banyak."


Jasmine berbalik ke arah Arjuna, memasang wajah takut. "Apa aku benar-benar punya kerutan?"


Arjuna menggeleng. "Kamu percaya? Aku hanya bercanda."

__ADS_1


Jasmine mencibilkan bibirnya lucu sambil memukul tubuh Arjuna sekuat tenaga. Mana ada orang bercanda dengan wajah sedatar itu. Tentu saja semua orang akan percaya jika Arjuna yang mengatakannya.


"Aw.. sakit, sakit.. berhenti memukulku." Mohon Arjuna meminta ampun."


"Rasakan! Siapa suruh kamu menyebalkan."


Arjuna hanya bisa tertawa saat melihat Jasmine semakin kesal. Namun setelah itu Jasmine terdiam beberapa saat.


"Hey, apa kamu juga akan menerima mereka jika ada yang menembakmu?"


"Kenapa aku harus menerimanya?"


"Karena kamu tidak pernah menolak permintaan mereka."


"Tapi itu namanya bukan permintaan."


"Bagaimana kalau mereka memaksamu untuk menjadi pacar bohongan mereka. Mungkin seperti agar mantannya tak mengganggu mereka lagi atau sebagainya?"


Beberapa hari yang lalu Jasmine sempat mendengar pembicaraan para gadis tentang hal ini. Mereka seakan mau melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan Arjuna. Mereka ingin memanfaatkan kebaikan Arjuna agar rencana mereka berhasil.


"Aku akan tetap menolaknya."


"Kenapa?"


"Karena aku sudah memiliki orang yang aku suka."


"Kenapa kamu bertanya, disaat kamu sudah tahu siapa orangnya. Bahkan aku membiarkannya memukul dan mengomeliku setiap hari. Jujur sekarang aku sangat menantikan cokelat darinya. Jadi.. mana cokelat untukku?"


Wajah Jasmine berubah menjadi semerah tomat saat Arjuna mengatakannya. Dasar laki-laki! Bagaimana bisa dia mengatakan hal memalukan dengan begitu mudahnya? Perlahan Jasmine mengambil sebuah kotak kecil berbalut pita dari saku celana olahraganya.


"Nih." Jasmine memberikan cokelat tanpa melihat wajah Arjuna sedikitpun. Membuat Arjuna terkikik geli melihat kelakuannya.


"Terimakasih."


"Sama-sama."


Kemudian Jasmine berdiri. Merasa kikuk, Jasmine memilih membersihkan pantatnya yang mungkin saja kotor sebelum akhirnya berjalan cepat meninggalkan Arjuna.


Melihat reaksi Jasmine yang menggemaskan, Arjuna memutuskan untuk mengejarnya.


"Kenapa kamu berjalan begitu cepat? Tunggu aku."


"Jangan ikuti aku! Seharusnya kamu tahu kode etiknya."


"Kode etik apa?" Tanya Arjuna yang sudah berada di sebelah Jasmine.

__ADS_1


Membuat Jasmine terkejut dengan keberadaannya yang tiba-tiba. Arjuna harus berterima kasih pada kaki jenjangnya yang membuat ini mungkin.


Jika tidak, dia tidak mungkin bisa menyusul Jasmine secepat ini.


"Kode etik wanita. Sudah aku nggak mau jelasin ini ke kamu."


"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu nggak menjelaskan."


"Terserah. Pokoknya kamu pergi sana.. jangan ikuti aku."


Jasmine mendorong Arjuna hingga dia terdorong kebelakang beberapa langkah.


Sebenarnya Arjuna tidak benar-benar terdorong karena kekuatan Jasmine. Dia yang membiarkan dirinya sendiri terdorong kebelakang.


Karena bagaimanapun tubuh kecil itu tak akan kuat menyamai badan Arjuna yang sekarang.


Padahal saat mereka masih kecil tinggi mereka sama. Bahkan besar tubuh mereka juga sama.


Sekarang Arjuna tumbuh begitu cepat dan mengalahkan Jasmine jauh beberapa senti ke atas.


Jangankan tinggi. Bahkan otot Arjuna juga telah terbentuk meskipun dia tidak melakukan olahraga yang cukup ketat.


Padahal dia baru berada di bangku SMA. Bahkan kakak kelasnya banyak yang iri melihat otot-otot tubuhnya.


Gen dari papanya memang luar biasa hebat. Sepertinya setelah ini Arjuna akan berterima kasih sekali lagi pada papanya.


Walaupun terkadang gen ketampanan dari papanya sering membuatnya kesulitan.


"Baik, kalau itu maumu."


CUP


"Terimakasih untuk cokelatnya."


Arjuna melenggang berjalan di depan Jasmine. Membiarkan Jasmine kembali mematung akibat ulahnya.


Mata Jasmine membola saking terkejutnya. Dia memegang pipi dimana bekas Arjuna menciumnya tadi.


"ARJUNA!!!! Kamu curang!" Teriaknya sambil berlari menyusul Arjuna.


Sedangkan si pelaku hanya terkikik senang sambil menyantap cokelat di tangannya.


Menunggu sampai kaki kecil Jasmine menyamai langkahnya dan menghajarnya seperti biasa.


Arjuna memang sangat suka dihajar. Tentu saja hanya Jasmine yang boleh melakukan itu. Karena dia memang hanya akan membiarkan Jasmine yang melakukan hal itu pada dirinya.

__ADS_1


#


__ADS_2