
"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Sheila khawatir karena akhir-akhir ini suaminya terlihat lebih banyak melamun dari biasanya.
Bima menggeleng kecil sambil tersenyum, lalu meraih tubuh Sheila dalam dekapannya. Beruntung hari ini Arjuna mau untuk tidur bersama Nek Isha.
Sebelumnya Arjuna sama sekali tak ingin lepas dari Bima. Walaupun awalnya Arjuna bingung saat tiba-tiba Bima mengaku sebagai ayahnya. Apalagi dari yang Arjuna tahu Bima merupakan ayah dari Jasmine.
Bima cukup mengerti jika mungkin Arjuna akan menolak keberadaannya, tapi nyatanya hal itu tak berlangsung lama. Bersyukur gadis kecilnya, Jasmine juga ikut membantu Bima untuk meyakinkan Arjuna.
Para anak justru lebih tahu bagaimana membuat mereka saling mengerti satu sama lain. Disitulah akhirnya Arjuna luluh dan berbalik tak ingin lepas darinya.
Untuk kedepannya pelan-pelan Bima ingin anaknya itu bisa terbiasa untuk tidur di kamarnya sendiri. Tentu saja dia akan melakukan hal itu secara perlahan.
Apalagi mereka baru bersatu kembali. Bima ingin merasakan kebersamaan mereka terlebih dahulu dan membayar waktu yang telah hilang bersama anaknya.
"Tidak ada. Kamu tidak perlu khawatir."
"Mas.. kalau misalkan dengan memenjarakan Dewa membuatmu tak nyaman, aku tak masalah untuk tak memperpanjang hal ini. Aku hanya minta untuk sementara tidak bertemu dengannya dulu."
Dahi Bima mengerut. Dia tak suka dengan perkataan Sheila barusan. "Orang yang bersalah tentu harus dihukum. Tidak perduli siapapun mereka."
"..."
"Tenang saja.. aku tidak sedang memikirkan hal itu. Aku sedang memikirkan perihal yang lain."
"Apa aku boleh tahu apa hal yang memganggu pikiranmu?"
"Hanya sedikit mengingat masa lalu. Aku hanya tiba-tiba teringat dengan papa dan mama."
"Maaf, aku tidak bermaksud..."
"Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Bima tersenyum ke arah istrinya sambil memainkan anak rambut Sheila. Seperti halnya dulu, melakukan kegiatan yang sering dia lakukan sebelum mereka tidur.
"Karena kita sudah berkumpul kembali, aku jadi teringat kedua orangtuaku. Aku juga membayangkan bagaimana bahagianya mereka memiliki cucu sepintar Arjuna."
"Tentu saja mereka bangga. Arjuna seperti duplikatmu dalam versi mini. Bahkan Tuhan tak memberikan genku sedikitpun padanya."
Bima terawa riang mendengar istrinya seperti merajuk pada Tuhan. "Bukannya itu bagus?"
"Apa maksudmu? Apa aku sejelek itu?"
Bima menggeleng cepat tak setuju. "Siapa yang berani mengatakan Nyonya Rahadi jelek? Apa dia sudah bosan hidup?"
"Mau kamu apakan orangnya jika benar ada yang mengatakanku jelek?"
"Eemmm..." Bima memegang janggutnya seakan tengah berpikir sesuatu hal yang serius. "Itu bisa dikatakan sebagai pencemaran nama baik. Apa sebaiknya aku melaporkannya ke polisi? Tidak, tidak.. itu terlalu mudah. Mungkin aku sendiri yang akan turun tangan untuk membungkam mulutnya. Bagaimana?"
Sheila bergidik ngeri membayangkan ide gila suaminya. "Kenapa kamu sesadis itu? Lakukan dengan cara manusiawi."
Dahi Bima mengernyit. Bukankah semua yang dia katakan tadi sangat manusiawi? "Lalu bagaimana seharusnya?"
"Marahi dia."
__ADS_1
Mulut Bima membuka seakan berkata 'ah' sambil mengangguk mengerti. "Hanya itu? Kamu hanya puas seperti itu?"
Sheila mengangguk. "Sebenarnya aku lebih suka jika kamu menatap mata orang itu tajam dan kemudian pergi begitu saja. Itu juga lebih baik."
Bima mengangguk lagi. "Baik, siap dicatat. Aku akan mengingatnya dengan baik. Sekarang sebaiknya kita segera tidur."
Sheila mengangguk kecil dan membenarkan posisinya agar lebih nyaman. Tentu saja posisi paling nyamannya berada diperlukan Bima. Ya, mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.
#
Juwan mengetuk pintu ruangan Bima. Setelah mendengar Bima memperbolehkannya masuk, Juwan masuk dan melaporkan pekerjaannya.
"Tuan, ada hal yang harus Anda ketahui tentang Tuan Hendra."
"Katakan."
"Ada dana keluar tak lazim dari kantor cabang. Dana itu mengalir setiap tahun ke bank yang telah di daftarkan di luar negeri. Kemungkinan pemilik rekening ini adalah Tuan Hendra."
"Dia mencuri uang perusahaan?" Tanya Bima tak percaya.
"Berapa lama?"
"Sudah terjadi selama 20 tahun lebih."
Bima menahan tawa tak percaya. Astaga.. dimana dia selama bertahun-tahun? Bagaimana bisa dana perusahaan dapat dicuri darinya begitu mudah?
"Bagaimana dengan penculikan Sheila, apa ada bukti bahwa Om Hendra terlibat?"
"Kamu menemukan orang yang diperintahkan Om Hendra untuk mencari Sheila?"
"Sudah, Tuan."
"Aku akan menemui mereka secara langsung."
"Baik, Tuan."
"Terimakasih, kamu bisa pergi."
"Baik, Tuan."
Seperginya Juwan meninggalkan ruangannya, Bima kembali membaca laporan keuangan kantor cabang yang diserahkan Juwan tadi.
Bima memencet tombol telepon di mejanya untuk terhubung dengan Jessica. "Jessica, bawakan laporan keuangan kantor cabang tahun kemarin."
"Baik, Pak."
Tok.. tok.. tok..
"Masuk."
Jessica masuk sambil memberikan berkas yang diminta Bima.
__ADS_1
"Ini berkas yang Bapak minta. Apa Pak Bima membutuhkan hal lain?"
"Panggil Handyan ke ruangnku."
"Baik, Pak."
"Terimakasih, kamu bisa kembali."
"Baik."
Bima membuka laporan yang tertulis di berkas dan membandingkannya dengan laporan penyelidikan Juwan. Tentu banyak yang diolah dalam laporan yang telah diserahkan pada perusahaan.
Bima semakin menertawakan kebodohannya selama ini. Bagaimana bisa dia tertipu begitu mudahnya?
Tok.. tok.. tok..
"Masuk."
Dengan langkah perlahan Handyan masuk ke dalam ruangan Bima. Tentu dia memiliki perasaan was-was dan pasti bukan hal baik jika dia dipanggil kesini.
Mengingat terakhir kali dia hampir dihajar dan mati tercekik oleh Bima. Seharusnya Handyan percaya pada dirinya sendiri untuk segera resign dan menghiraukan semua ucapan teman-temannya.
"Duduk."
Seperti ada tekanan yang dirasakan Handyan saat mendengar setiap perintah dari Bima. Sekalipun Bima mengucapkannya tidak dalam kondisi marah.
Membuatnya harus serba hati-hati dalam bertindak. Jika salah dia takut mungkin tak akan keluar dari ruangan ini dengan selamat.
"Aku akan bertanya satu hal lagi padamu. Apa kamu yakin orang yang menyuruhmu menculik Sheila itu Dewa?"
"Tentu saja, Pak. Meskipun sebelumnya Pak Dewa selalu menghubungi saya dengan nomer yang berbeda, tapi pada malam itu Pak Dewa datang sendiri untuk menerima flashdisk dari saya."
"Pada saat memerintahmu dia tak datang sendiri?"
"Tidak, Pak. Tapi saya sangat yakin bahwa itu adalah Pak Dewa."
"Kenapa orang yang sebelumnya menyembunyikan jati dirinya dengan nomer yang berbeda bisa tiba-tiba berubah pikiran dan menampakan diri?"
"Itu karena saya yang meminta, Pak. Karena Pak Dewa menjanjikan saya sebuah jabatan, tentu saya juga harus memegang kata-katanya dengan cara bertemu dengan Pak Dewa secara langsung."
Bima mengangguk mengerti. "Baik. Kamu bisa pergi."
Bima mengambil ponsel di mejanya. Sepertinya dia harus berterima kasih kepada seseorang untuk hal ini.
'Halo?'
"Sepertinya kamu benar. Aku akan menyelidiki lebih lanjut tentang Om Hendra. Jika benar dia dalang dari penculikan Sheila, maka aku berjanji akan membebaskan Dewa."
'Terimakasih...'
"Aku juga berterima kasih. Jika kamu tak mengatakannya. Mungkin aku tak akan tahu semua kebusukan yang disembunyikan Om Hendra."
__ADS_1
#