
Sesuai janji, Bima membebaskan Dewa dengan menggantikan Hendra sebagai pelaku utama. Keyra sangat bersyukur akan hal itu. Dia sudah menerima pesan dari kuasa hukum Dewa bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang. Tentu saja sebagai istri yang baik, Keyra harus menyambut suami yang sangat dia cintai itu.
Sheila berkacak pinggang di depan pintu saat suaminya baru saja masuk ke dalam rumah. Dewa tahu istrinya pasti sangat marah sekarang, tapi bukannya meminta maaf, Dewa berjalan lenggang begitu saja. Tak menanggapi kemarahan sang istri.
"Kamu mengabaikanku?" Tanya Keyra tak percaya saat dilewati Dewa sama halnya seperti angin lalu.
"Apa yang kamu lakukan, berdiri disana?" Dewa berhenti dan berbalik menatap ke arah sang istri.
"Apa kamu tidak merasa harus mengatakan sesuatu kepadaku?" Tanya Keyra tak percaya.
"Apa yang kamu harapkan dariku?"
"Tentu saja permintaan maaf. Bagaimana bisa kamu berani ingin menceraikanku. Apa kamu tahu aku bahkan memohon-mohon pada Bima agar kamu dibebaskan dan begini caramu berterima kasih, huh? Dasar laki-laki!"
"Aku pikir kamu tidak akan mau memiliki suami seorang narapidana. Dan juga, aku sama sekali tak memintamu memohon pada Bima. Kamu melakukannya atas kemauanmu sendiri. Kenapa kamu jadi melimpahkan kekesalanmu padaku?"
Mulut Keyra menganga tak percaya mendengar ucapan menyebalkan suaminya. Dia langsung mendekat ke arah Dewa dan menendang betisnya sekuat tenaga.
Dewa yang tak mengira akan diserang seperti itu, refleks kaget dan tak sempat menghindar. Alhasil dia harus puas merintih kesakitan sambil memegang betisnya.
"Wahhh.. rasanya benar-benar melegakan. Sepertinya aku harus sering-sering menghajarmu." Ucap Keyra tersenyum puas saat melihat suaminya merintih kesakitan di lantai.
"Aku memang benci menjadi istri seorang narapidana, tapi aku lebih benci jika harus menjadi janda. Jadi jangan pernah berharap kamu bisa menceraikanku. Ingat itu baik-baik!"
Keyra naik ke lantai dua menuju kamarnya. Persetan dengan suaminya yang mungkin butuh pertolongan. Beberapa orang rumah mungkin akan menolongnya.
Dewa hanya tak menatap punggung istrinya yang pergi menjauh. Apa salahnya menjadi janda? Dewa pikir perempuan mandiri seperti istrinya tak akan perduli tentang hal itu. Dia bahkan melihat banyak wanita diluaran sana yang tampak lebih bahagia setelah bercerai.
Sepertinya Dewa masih belum tahu maksud dari perkataan Keyra. Setidaknya dia tahu kalau bercerai bukanlah pilihan yang bagus kalau Dewa masih ingin hidup tenang.
Diam-diam Dewa tersenyum. Dia pasti akan mengingat perkataan istrinya baik-baik. Dia tidak akan pernah membuat istrinya menjadi janda. Tidak akan.
#
Setelah keluar dari penjara, keesokan harinya Dewa sudah harus masuk kantor seperti biasa. Tentu saja ini tidak akan mudah seperti yang dia duga. Banyak dari para karyawan yang bergunjing tentangnya.
Hal ini tidak terlalu buruk. Bahkan tendangan dari Keyra kemarin masih sedikit lebih menyakitkan. Bahkan dia masih bisa merasakan nyerinya sampai sekarang. Siapa sangka wanita dengan badan sekecil Keyra memiliki tenaga luar biasa. Sepertinya dia harus berpikir dua kali jika ingin berurusan dengan istrinya.
Tok.. tok..
__ADS_1
"Hai.." Di ambang pintu sudah berdiri Listy yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Listy ramah.
"Untuk sementara aku akan melakukannya sendiri sebisaku. Aku akan menghubungimu jika perlu bantuan."
"Benar, jangan pernah sungkan kepadaku. Bagaimana menurutmu tentang kembali lagi ke kantor?"
Dewa menimang sejenak. "Yah.. cukup melegakan. Rasanya seperti mengambil cuti yang sangat lama."
"Aku hampir lupa. Sebenarnya aku datang kemari untuk marah kepadamu. Bisa-bisanya kamu tidak menerima kunjungan dari siapapun saat berada di sel. Tidakkah itu keterlaluan?"
"Kamu datang?"
"Tentu saja, dasar bodoh. Dan juga.. kamu tahu. Padahal aku tak setiap hari datang kesana, tapi aku selalu melihat Keyra. Kamu bahkan juga menolak kunjungan istrimu sendiri?"
"Itu demi kebaikannya."
"Kebaikan pantatmu! Kedepannya kamu harus memperlakukan istrimu lebih baik. Aku mendengar dia berusaha sangat keras agar kamu bisa bebas. Dia bahkan bisa meyakinkan Bima bahwa kamu tidak bersalah, bukankah dia mengagumkan."
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan disini? Kamu mau membantu atau hanya ingin mencaciku saja?"
"Karena Bima sudah kembali pada Sheila?"
"Benar dan juga tidak. Setelah kembali bekerja, dia bahkan tak ada waktu untuk makan siang bersamaku."
"Lalu kamu menjadikanku penggantinya?"
"Oh ayolah.. kamu tahu bukan itu maksudku. Lemaskan sedikit otot-otot wajahmu. Lagipula aku sudah berteman dengan istrimu karena kita terlalu sering bertemu akhir-akhir ini. Tapi kamu malah menjadi semakin menyebalkan."
Dewa hanya memutar bola mata dan mengacuhkan Listy. Jujur dia tidak ada waktu mendengarkan curhatannya.
"Aku sebenarnya penasaran. Kenapa kamu tidak menyangkal saat pertama kali polisi menangkapmu?"
Dewa hanya menatap Listy sebentar dan kembali pada pekerjaannya lagi. "Aku sibuk. Bisa kamu minggir sebentar?"
"Kamu tidak ingin menjawabnya? Baiklah, aku juga bukan pengangguran. Sebaiknya aku pergi. Jangan lupa nanti makan siang denganku."
Tak mendapat jawaban dari Dewa, Listy semakin mendekat. Menatap Dewa tajam sampai Dewa menjawab ajakannya.
__ADS_1
"Terserah."
"Oke. Aku anggap kamu setuju. Sampai nanti saat jam makan siang." Kemudian Listy berlalu pergi.
Tok.. tok..
"Bukannya sudahku bilang..." Kalimat Dewa terhenti saat melihat ternyata bukan Listy, melainkan Bima yang berada di depan pintu.
"Apa aku mengganggu?"
Dewa menggeleng. "Sebenarnya ada seseorang yang lebih mengganggu dan baru saja pergi dari sini."
Bima tersenyum kecil saat tahu siapa orang yang dimaksud Dewa. Karena dia sempat berpapasan dengan Listy tadi.
"Jangan bilang kamu datang untuk meminta maaf?" Tanya Dewa sanksi.
"Sejenisnya."
"Tak perlu repot melakukannya. Kamu tidak sepenuhnya salah. Lagipula aku juga ikut terlibat dalam semua kebusukan papaku."
"Kamu membenciku benar atau salah?"
"Apa aku bisa untuk tidak membencimu? Dari kecil aku sudah terdekte untuk selalu membencimu."
Bima berjalan mendekat ke arah Dewa. Untuk mengamati lebih dekat apa yang tengah adiknya lakukan
"Melihat bagaimana reaksi Listy tadi, aku pikir dia belum tahu jika kamu akan mengundurkan diri."
"Bukan akan, tapi sudah. Aku sudah membereskan beberapa barangku yang masih ada disini."
"Apa kamu yakin ingin keluar? Aku pribadi tidak ingin kamu keluar."
"Kenapa? Kamu bisa menghandle pekerjaanku saat aku tidak ada. Tentu hal ini bukan masalah yang besar. Aku harap kamu tidak akan membesarkan hal ini. Aku hanya ingin pergi tanpa keributan."
"Baik, jika itu maumu. Tapi yang perlu kamu tahu, kamu bisa kembali kesini kapanpun."
Dewa mengangguk kecil kemudian membawa bok kotak l keluar. Beberapa karyawan melihat kepergian Dewa. Tentu pemandangan ini berhasil membuat mereka saling berbisik. Sepertinya dia harus segera pergi sebelum Listy tahu dan membuat keributan.
#
__ADS_1