Good Husband?

Good Husband?
Tiga Puluh Delapan (Dalang Penculikan)


__ADS_3

Hari-hari Bima kini lebih baik dari sebelumnya. Meskipun Bima tahu ini masih terlalu dini untuk merasa bahagia. Setidaknya dia tahu bahwa keberadaan Sheila sudah berada dalam jarak pandangnya.


Lebih mengejutkannya lagi, kini dia sudah menjadi seorang ayah. Satu fakta yang membuat Bima bahagia sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan.


Senang karena memiliki anak setampan Arjuna, tapi dia juga menyesal tidak bisa mendampingi tumbuh kembang anaknya selama ini.


Rasanya Bima tak sabar untuk menunjukkan Arjuna pada oma dan juga kedua orang tua Sheila.


Lagi dan lagi, Bima terus memandang layar ponselnya dan membaca semua pesan yang berisi laporan Juwan tentang Sheila.


Semoga Sheila tidak keberatan dengan apa yang tengah dia lakukan untuk mengetahui kesehariannya sekarang.


Drrt... Drrt...


Bima melihat ada pesan masuk dari nomer tak di kenal. Tidak ada kata atau pesan lainnya. Hanya ada sebuah video yang terkirim.


Awalnya Bima ingin mengabaikan pesan itu. Hanya rasanya ada sedikit dorongan yang membuatnya ingin memutar video walaupun hanya sebentar.


Wajah Bima mengeras saat melihat siapa orang yang ada di video. Walaupun ruangan itu gelap, Bima masih bisa mengenali istrinya dengan sangat baik.


Bima mencoba menelepon nomer yang mengiriminya video, tapi hanya suara operator yang dia terima. Membuatnya semakin geram.


Bima mengetikan beberapa pesan kepada Juwan. "Selidiki nomer yang kukirimkan dipesan. Cari tahu orang-orang yang ada difoto."


"Baik, Tuan."


"Dan selidiki ulang penculikan Sheila 5 tahun lalu. Tangkap semua pelaku Difoto yang kukirim. Segera laporkan secepatnya!!"


"Baii, saya akan mencari mereka secepatnya."


Bima mengakhiri panggilannya, melempar ponselnya keras ke lantai. "Agggrrhh...!!!"


Bima mengusap wajahnya kasar. Bodohnya dia yang selama ini mengira Sheila hanya pergi karena masalahnya dengan Keyra.


Seharusnya dia mencari tahu lebih banyak. Bukankah sudah jelas tidak mungkin dia kabur dan meninggalkan ponselnya begitu saja tanpa membawa apapun ditangannya.


Semarah apapun Sheila saat itu. Bagaimana mungkin Sheila masih bisa pergi ke kampus? Seharusnya Bima tahu.


"Maafkan aku... Maafkan aku..." Sesalnya yang mulai meneteskan air mata.


#


Setelah Bima sudah berbicara pada Sheila, kini Listy juga lebih berani untuk mendekati Sheila.

__ADS_1


Sebenarnya yang kasihan disini adalah Intan. Karena dia sudah mengetahui fakta siapa Sheila sebenarnya yang merupakan istri dari keluarga Rahadi. Ada sedikit rasa sungkan jika dia ingin meminta bantuan.


Masalahnya adalah Keluarga Rahadi berada dalam level yang jauh lebih tinggi dari keluarganya. Tidak hanya itu, Listy tak berhenti memohon kepadanya untuk terus mengawasi keberadaan Sheila.


Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah membiarkan Sheila melakukan apa yang ingin dia lakukan di rumahnya.


Sebenarnya dia juga sudah bercerita kepada suaminya. Sama seperti dirinya, suaminya juga sangat terkejut.


Beruntung mereka memperlakukan Sheila cukup baik selama ini. Jadi sepertinya mereka aman dan tak perlu takut menimbulkan masalah yang harus membuat mereka berurusan dengan Keluarga Rahadi.


"Hai, apa kamu sibuk? Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Listy menghampiri Sheila di dapur.


"Aku disini untuk bekerja."


"Aku tahu. Aku sudah meminta izin pada Intan. Dia tidak mungkin keberatan, ini tidak akan lama."


Sheila menghembuskan nafas panjang, meletakkan kain lapnya dan berjalan pergi dari dapur. "Kita bicara diluar."


Listy tersenyum tipis kemudian menuruti permintaan Sheila untuk berbicara diluar.


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?"


"Aku ingin minta maaf."


"Aku melanggar janjiku untuk tidak bekerja sama lagi dengan Bima."


Sheila menggeleng lemah. "Itu bukan salahmu. Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu telah menjaganya dengan baik."


Listy tampak tak setuju dengan pendapat Sheila. "Kamu salah, aku tak pernah menjaganya, namun sebaliknya dialah yang menjagaku."


"..."


"Kamu ingat setelah kejadian kita waktu itu, aku pergi ke Amerika dan menikah dengan kolega bisnisku disana. Sangat disayangkan pernikahan kami berjalan begitu singkat. Dia meninggalkan kami begitu cepat."


"..."


"Aku hancur, tentu saja.. setelahnya aku kembali ke Indonesia dan baru mengetahui fakta bahwa kamu pergi meninggalkannya. Aku cukup terkejut melihat bagaimana keadaan Bima saat itu begitu buruk yang anehnya membuatku merasa iba dan entah bagaimana bisa bangkit lagi."


"Kamu harus tahu saat itu Bima benar-benar hancur. Hal yang tak pernah aku bayangkan ada didiri Bima. Dia bahkan meninggalkan jabatannya di perusahaan. Bima sudah seperti mayat hidup yang selalu berkeliling dan mencarimu disetiap jalan."


"Hingga dia melihat Jasmine, putriku yang terus bertanya tentang ayahnya. Aku tak tahu apa alasannya tapi Bima mengizinkan putriku memanggilnya ayah dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih dengan hal itu."


"Aku tahu, aku tidak berhak ikut campur dengan masalah kalian berdua, yang aku tahu dia membutuhkanmu. Bima membutuhkan untuk selalu berada disisinya."

__ADS_1


"Entah apa salahnya sampai membuatmu marah dan pergi meninggalkannya seperti ini, tapi tidak bisakah kamu memberinya kesempatan sekali saja?"


Sheila mulai terisak dan berlinang air mata. Dia terus menggeleng dalam tangisnya saat mendengar penjelasan dari Listy.


Siapa yang tak ingin pulang? Sheila sangat ingin kembali pulang. Dia ingin Arjuna tahu bahwa dia punya ayah yang luar biasa. Dia ingin kedua orangtuanya tahu bahwa mereka telah memiliki cucu setampan Arjuna.


Tapi ada hal yang Sheila tak ingin mereka ketahui bahwa dia telah hancur. Sheila tak berani pulang.


"Mama..." Panggil Jasmine yang tengah mencari keberadaan mamanya.


Listy mengusap sudut matanya dan tersenyum tipis. "Sepertinya aku harus pergi. Kamu harus memikirkan semuanya lagi. Demi Arjuna juga..."


"Mama dimana?"


"Iya sayang, Mama datang."


Listy akhirnya meninggalkan Sheila yang masih terisak disana.


#


Tendangan dan pukulan secara bertubi-tubi Bima lepaskan kepada tiga orang yang sudah tersungkur dilantai.


Tak perduli dengan darah yang berlumuran dikepalan tangannya. Amarahnya bahkan tak kunjung padam hanya melihat mereka tersungkur dan lemas di lantai gudang.


"Ma-af.. maafkan.. ka-mi hanya.. suruhan." Ucap salah seorang dari mereka yang sepertinya masih memiliki sedikit kesadaran.


Bima langsung menarik rambut pria itu yang membuat si pria terpekik kecil dengan seluruh tenaga yang masih tersisa. "Siapa?!"


"Han-Handyan..."


Bima melepaskan tangannya setelah sebuah nama tersebut. "Juwan, cari tahu dimana bedebah Handyan itu sekarang!"


"Apa mungkin yang Tuan Bima maksud, Handyan wakil kepala manager pemasaran diperusahaan?"


Bima menatap Juwan tak percaya. "Haha... Bedebah sialan itu bekerja di perusahaanku?"


"..."


"Bawa dia kehadapanku. Akan aku buat dia menyesal dengan apa yang telah dia perbuat."


"Baik, Tuan."


Bima pergi keluar dari gudang, diikuti oleh Juwan di belakangnya. Meninggalkan ketiga manusia yang telah dia hajar habis-habisan tadi di dalamnya.

__ADS_1


#


__ADS_2