
Sheila langsung membuka mata dan merasakan pening yang begitu dahsyat pada kepalanya.
Sheila mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit. Sheila merasakan tubuhnya terasa begitu lelah dan aneh dibagian... Oh astaga, Sheila merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa dia sejalang itu semalam. Dia merayu suaminya untuk... Oh gila! Sheila merasa dia benar-benar gila.
"Pagi sayang," ucap Bima kemudian saat melihat Sheila sudah cukup sadar dari kantuknya. Tak lupa dia mengecup kening Sheila sayang sembari turun dari tempat tidur.
"Kamu mau mandi atau sarapan dulu?"
Sheila hanya diam menatap Bima. Membuat Bima mengerutkan dahi. Jangan-jangan Sheila tidak ingat dengan kejadian semalam.
"Kamu tidak lupa kan? Jangan bilang kamu lupa?"
"Hem?" Sheila merasa bingung harus menjawab apa.
"Kamu benar-benar lupa? Serius?" tanya Bima tak percaya.
Entah kenapa Sheila tak tahu harus menjawab apa. Dia merasa otaknya tiba-tiba saja tak mau berfungsi dengan baik. Sekarang dia hanya merasa malu untuk mengakui kalau dia mengingatnya.
Bima mengangguk mengerti saat tak mendapati jawaban dari Sheila. "Bukan masalah jika kamu melupakannya. Aku hanya akan mengingatkanmu kembali," ucap Bima sembari mendekat ke arah Sheila bermaksud untuk menciumnya.
Mata Sheila membola kaget. Dia tiba-tiba saja mundur dan langsung mendorong Bima untuk menjauh. "Aku ingat, tentu saja aku ingat," ucapnya sambil memejamkan mata.
Bima tersenyum geli melihat wajah malu Sheila. Dia berniat untuk sedikit mengerjai istrinya. Lagipula siapa suruh dia berpura-pura lupa.
"Seberapa banyak yang kamu ingat?" tanya Bima jail dan semakin mendekat ke arah Sheila. Bima juga mengamankan kedua tangan Sheila agar tak mendorongnya lagi.
Sheila merasa dipaksa untuk menatap mata Bima. Tubuhnya kini bergetar takut bercampur malu. Dia tak tahu apa yang akan Bima lakukan padanya sekarang. Apa sebaiknya dia jujur saja. Persetan dengan rasa malunya. Sheila lebih takut jika Bima marah.
"Se-semuanya.." lirihnya.
"Apa? Apa yang kamu katakan? Aku tak mendengarnya. Apa suaramu tiba-tiba habis gara-gara berteriak semalam?" tanya Bima yang terus menggoda Sheila.
"Aku berteriak? Benarkah? Tapi aku hanya meracau menyebutkan nama..." Sheila menghentikan kalimatnya saat melihat Bima tersenyum kegirangan. Kini Sheila sadar bahwa dirinya sedang dipermainkan.
"Mas jahilin aku ya?!" ucap Sheila kesal sambil melempar bantal ke arah Bima. Membuat sang suami tertawa lepas. Bima sangat terhibur dengan reaksi Sheila. Wajah Sheila itu benar-benar sangat ekspresif. Raut wajahnya selalu mudah ditebak, seperti buku cerita bergambar anak.
"Hahaha.. maaf, maaf. Kalau gitu kamu mandi dan siap-siap, kita akan ke pantai pagi ini. Aku akan memesan sarapan dulu." Bima mengacak rambut Sheila sayang. Membuat rambut Sheila semakin berantakan dibuatnya.
Setelah Bima keluar kamar, Sheila langsung buru-buru pergi ke kamar mandi. Entah kenapa Sheila merasa malu jika Bima melihatnya saat keluar dari selimut.
__ADS_1
#
Saat Bima mengatakan pantai, Sheila berpikir bahwa mereka hanya akan bermain pasir di pantai dan menikmati pemandangan ombak lautan, tapi ternyata Sheila salah saat suaminya itu pergi membawanya ke dermaga.
"Hati-hati." Bima membantu Sheila untuk naik ke atas yacht.
Sheila hanya bisa menganga tak percaya. Melihat apa yang kini dia naiki. Berapa uang yang dihabiskan Oma untuk bulan madu mereka.
"Tuan Bima dan Nyonya Sheila." Sapa seorang awak yang berjalan mendekat kearah mereka.
"Oh Pak Aryan. Sayang, kenalkan ini Pak Aryan. Beliau orang yang akan menjadi nahkoda kita hari ini." Jelas Bima.
"Seneng bertemu, Pak Aryan." Ucap Sheila sambil tersenyum ramah.
"Tentu Nyonya Sheila. Sudah siap untuk berlayar?"
"Tentu saja. Saya mohon bantuannya." Balas Sheila tersenyum bahagia.
"Tentu saja. Semuanya aman jika berada dalam kendali saya." Kata Pak Aryan yakin. Tentu Sheila juga yakin dengan kemampuan Pak Aryan mengemudikan kapal. Lagipula suaminya tak mungkin mengerjakan orang sembarangan.
Pak Aryan mempersilahkan keduanya masuk ke dalam yacht. Beliau juga mulai mengintruksikan para awak untuk segera berlayar.
Sheila tak pernah gagal untuk dibuat takjub. Bahkan dia sempat terkejut saat melihat ada kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang karaoke dan tempat bersantai lain di dalamnya. Tentu saja dengan dekorasi artistik dengan warna dominan coklat kayu, membuat nuansa dalam ruangan lebih mewah dan elegan.
"Mau istirahat di dalam atau diluar?" tanya Bima setelah mengajak Sheila berkeliling.
"Sepertinya diluar lebih menarik. Aku ingin menikmati pemandangan laut." Bima mengangguk mengerti mendengar jawaban istrinya.
Sheila memejamkan mata sejenak menikmati angin yang menerpa wajah serta membuat rambutnya menari liar.
Bima menawarkan untuk mengikat rambut Sheila supaya istrinya itu lebih nyaman dengan hembusan angin. Tentu saja Sheila menerima tawaran Bima dengan senang hati.
Mereka berdua akhirnya duduk bersantai sambil menikmati berbagai desert yang sudah disiapkan oleh koki kapal.
"Bukankah ini luar biasa. Sampai kapan kita bisa berada disini?" tanya Sheila akhirnya setelah merasakan suasana laut yang ramai oleh suara ombak dan burung tapi juga terasa menenangkan. Dia hanya ingin memanfaatkan setiap menit yang dimilikinya disini.
"Tergantung kapan kamu ingin kembali ke hotel?"
"Pasti Oma menghabiskan banyak uang hanya untuk bulan madu kita."
__ADS_1
"Kamu pikir begitu?"
Sheila menatap Bima menyelidik. Mencoba mencari maksud dari ucapan Bima tadi. "Ini Oma juga kan yang menyewanya?" tanya Sheila memastikan.
Bima tak membalas dan lebih memilih menikmati wine sambil tersenyum ke arah istrinya.
"Mas Bima yang nyewa kapal ini?" tanya Sheila terkejut.
"Aku tidak menyewanya."
"Lalu siapa?" sebenarnya Sheila sudah menebak jawaban apa yang akan Bima katakan. Tapi dia hanya tak berani membayangkannya.
"Ini kapal milik kita. Kenapa juga kita harus membayar uang sewa?"
Benar kan. Sheila menganga tak percaya. Seharusnya Sheila berani membayangkannya, mengingat seberapa kaya suaminya ini. Sheila selalu mencoba untuk terbiasa, selalu. Tapi nyatanya dia tidak bisa terbiasa semudah itu untuk menerima semua kemewahan yang diberikan Bima kepadanya.
Santai Sheila. Tarik nafas buang, tarik nafas buang. Terima saja semuanya. Lagipula tak ada ruginya juga memiliki suami kaya raya.
Sheila melihat beberapa yacht lain yang juga berlayar di sekitar mereka. Sepertinya orang kaya lain juga tengah menikmati liburan mereka.
Bedanya mereka datang berkelompok sedangkan Sheila menikmati yacht ini hanya berdua dengan suaminya.
Ternyata tidak hanya Sheila yang mengamati. Beberapa orang dari yacht lain juga tengah melihat ke arah mereka.
Bima mengisyaratkan kepada Pak Aryan untuk menjauh dari kapal lain, agar mereka lebih memiliki privasi tentunya.
Sheila melihat ke arah tempat nahkoda, membayangkan dirinya berada di balik kemudi yang dijalankan oleh Pak Aryan.
"Ingin mencobanya?" tanya Bima seakan bisa membaca pikiran Sheila. "Aku bisa mengajarimu," tambah Bima.
Sheila menatap kearah suaminya tak percaya. "Mas Bima bisa?"
"Aku bahkan punya lisensi resmi untuk mengemudikannya. Ingin mencoba?"
Sheila menggeleng kencang. "Lebih baik kita duduk saja disini dan menyerahkan sepenuhnya kendali kapal pada Pak Aryan," balas Sheila tak ingin ambil resiko. Sebenarnya bukan karena dia tak percaya pada suaminya. Sheila hanya tak percaya pada dirinya sendiri.
Bima tersenyum mengerti. Lagipula tujuan Bima sekarang juga ingin menikmati setiap moment yang ada bersama istrinya.
#
__ADS_1