
Hangatnya api unggun membuat Sheila merasa nyaman berbaring dengan hamparan bintang-bintang indah malam.
Bima sengaja membuat camping mini di halaman fila untuk menebus keinginan Sheila menginap di rumah pohon. Setidaknya jika malam mulai semakin dingin, mereka bisa pindah tidur di dalam fila.
Mereka juga membuat barbeque mini, karena Sheila berpikir itu akan menyenangkan, sayangnya dia salah. Keduanya tak ada yang pernah melakukan barbeque. Malangnya kini semua daging dan jagung menjadi hitam tak berbentuk.
"Yah.. yah.. yah.. hahahaha.." Sheila menertawakan dirinya sendiri yang tak berhasil menyelamatkan jagung di tangannya.
"Ini tidak akan berhasil." Bima menyerah dan membiarkan daging itu terbakar di api.
"Apa sebaiknya kita bakar marshmellow aja?" tanya Sheila yang kemudian berlari masuk ke dalam fila.
Sheila kembali sambil membawa dua tusuk besi yang menyerupai garpu tapi cukup panjang.
"Apa itu?" tanya Bima mengarah kepada tusuk panjang yang dibawa istrinya.
"Ini? Oh.. apa ya tadi namnya? Pokoknya tadi kata Pak Mamat ini alat buat bakar marshmellow." Bima mengangguk mengerti lalu membantu sang istri meletakkan barang di tangannya.
Marshmellow itu menyelamatkan acara barbeque mereka yang sebelumnya gagal.
"Ini enak." Girang Sheila setelah menyuap dua marshmellow.
Pada dasarnya Bima tak terlalu suka manis dan memberikan marshmellow yang dia bakar untuk istrinya. Tentu saja Sheila menerimanya dengan senang hati.
Setelah itu mereka memilih berbaring di dekat api unggun. Sheila mengamati bulan sabit yang terbentuk sempurna.
"Sudah 20 tahun lamanya, tapi langit-langit ini masih saja sama," ujar Bima yang membuat Sheila cukup tertarik.
Sheila memiringkan wajahnya agar bisa melihat Bima lebih jelas. "Mas Bima dulu sering ke sini bareng Oma?"
"Bukan Oma."
Sheila mengerutkan keningnya tak suka. Dia tak ingin nama Listy yang akan disebut Bima.
"Aku sering ke sini sendirian. Oma pernah ke sini beberapa kali, tentu saja hanya untuk menjemputku pulang."
"Bohong? Tapi Mas Bima bilang sudah mendaki dari umur 10 tahun. Mana mungkin anak umur 10 tahun pergi ke puncak sendirian?"
"Kedengarannya memang mustahil. Tapi aku benar-benar melakukannya. Aku selalu kabur ke sini."
Sheila menatap Bima tak enak. Dia tak ada niat memancing Bima untuk menceritakan tentang masa lalunya.
"Mau tahu kenapa aku kabur?"
"Aku tidak akan memaksa Mas Bima cerita. Kalau Mas Bima keberatan bercerita juga tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku akan bercerita."
"Dan aku akan mencoba menjadi pendengar yang baik."
"Aku mendengar Oma sudah bercerita secara garis besarnya padamu. Seperti yang kamu dengar dari Oma, masa mudaku benar-benar dihantui oleh rasa bersalah."
__ADS_1
"..."
"Setiap kali aku berulang tahun, aku akan kabur ke sini. Fila ini adalah hadiah ulang tahun Mama dari Papa. Di sini juga kami pernah sekali merayakan ulang tahunku secara sederhana, tentu saja setelah berhasil kabur dari Oma. Tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Aku sudah memaafkan diriku sendiri dan menerima semuanya."
"..."
"Jadi sekarang giliranmu. Kenapa kamu tak pulang ke rumah kemarin?"
Sheila kaget. Dia tak tahu bahwa cerita Bima akan tiba-tiba berbalik seperti ini? Sheila langsung salah tingkah dan tak tahu harus menjawab apa.
"Eeee.. anu, itu..."
Bima menatap Sheila dengan sabar. Seolah dia tak akan menyerah dan akan menunggu dengan sabar jawaban dari Sheila.
"Sebelum aku cerita soal itu, aku mau tanya satu hal ke Mas Bima. Apa benar Mas Bima pernah pacaran sama Listy?"
Kini giliran Bima yang terkejut. Dia tak tahu Sheila mendengar hal itu dari siapa, tapi sepertinya pertanyaan Sheila sudah menjelaskan alasan Sheila tak pulang ke rumah kemarin.
"Benar."
Sheila membeku tak percaya. Jadi ternyata Dewa berkata jujur. "Terus kenapa Mas Bima tidak menikah dengan Listy? Kenapa Mas Bima lebih memilih untuk dijodohkan?"
"Seharusnya aku tak boleh menceritakan hal ini kepada siapapun, tapi karena kamu istriku dan aku tak ingin berbohong padamu, mungkin ini bisa jadi pengecualian. Dan, aku akan bercerita dengan syarat cerita ini akan menjadi rahasia kita berdua."
Sheila mengangguk semangat. Dia juga mengulurkan jari kelingking ke arah Bima. "Iya, janji."
Awalnya Bima ragu mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Sheila. Bukankah ini terlalu kekanak-kanakan untuknya? Namun akhirnya dia memilih untuk melakukannya walaupun sambil terkekeh.
"Aku pikir kalian putus karena tidak direstui oleh keluarga Listy?"
"Keluarga Listy memang tidak terlalu menyukai keluarga Rahadi, tapi bukan berarti kita bermusuhan. Mereka hanya tak ingin anak semata wayangnya mendapatkan sial, tapi untuk bisnis kami masih saling bekerja sama."
"Sial? Sial bagaimana?"
"Kamu belum mendengarnya? Tapi mengingat kamu belum masuk ke dunia bisnis, sepertinya kamu memang belum mendengarnya."
"..."
"Mungkin karena dulu nenek bercerai dan kedua orang tuaku yang tak berakhir dengan baik, mereka berpikir bahwa kesuksesan keluarga Rahadi berakhir meninggalkan kesialan dalam hal percintaan. Maka dari itu, maaf karena kamu harus menikahiku."
"Omong kosong. Tahayul macam apa itu? Bagaimana bisa mereka membual seperti itu?"
"Entahlah."
"Mas Bima tidak pernah cari siapa dalang penyebar cerita ini?"
"Buat apa? Biarkan aja mereka bicara semau mereka."
"Tapi bukannya masih banyak yang ingin menjadikan Mas Bima menantu?"
"Iya, tapi mereka tiba-tiba saja berubah pikiran begitu cepat. Entahlah, pikiran manusia siapa yang tahu."
__ADS_1
Drrt.. drrt.. drrt..
Bima menghentikan ceritanya dan melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Aku angkat telepon dari Listy dulu ya?"
"Iya."
Sheila pikir Bima akan beranjak pergi, tapi nyatanya Bima hanya duduk dan mengangkat telepon itu di sana. Entah kenapa Sheila merasa bersyukur dengan keputusan Bima itu.
"Iya, Lis. Gimana?"
"..."
"Aku tidak di rumah."
"..."
Bima menatap Sheila sebentar. "Mungkin aku baru bisa pulang besok pagi."
"..."
"Oke. Thanks."
Bima menatap Sheila sebentar. "Maaf ya. Sepertinya kita harus memajukan jam pulang kita. Ada rapat bisnis dan ini cukup penting."
Sheila mengangguk mengerti. "Tentu saja. Tentu kita bisa pulang besok pagi."
Bima menatap Sheila hangat. Dia benar-benar beruntung memiliki istri yang sangat pengertian seperti Sheila. Padahal Sheila terbilang masih sangat muda dan Bima akan sangat mengerti jika Sheila akan bertingkah kekanakan. Tapi nyatanya Sheila cukup mudah dipahami dan tak rewel sama sekali.
"Aku cukup kaget sebenarnya Oma juga cerita soal Listy padamu," ucap Bima kemudian.
"Oh itu aku tahu bukan dari Oma kok, tapi dari Kak Dewa."
"Dewa?"
Sheila akhirnya mulai menguap lebar karena sekarang memang sudah tengah malam
"Kamu mengantuk?"
Sheila mengangguk lemah.
"Mau pindah ke dalam atau tidur disini?"
"Disini aja. Aku sudah nyaman disini," balas Sheila sambil memperbaiki posisi tidurnya.
"Baik. Kalau gitu mari kita tidur."
Bima mengambil selimut lain di dalam tenda. Menutup tubuh Sheila dengan selimut lain agar lebih hangat.
#
__ADS_1