
Sheila mengerjabkan mata sebentar. Kepalanya terasa berat dan seluruh badan rasanya sakit.
Sheila melihat Bima sedang berbincang dengan seorang wanita yang memakai pakaian putih.
"Mas Bima..." Ucap Sheila lirih.
Mendengar suara istrinya memanggil, Bima langsung berbalik dan menghampiri Sheila.
"Kamu sudah sadar? Apa kamu mau minum?"
Sheila mengangguk lemah.
Bima mengambil gelas air dan membantu Sheila untuk minum menggunakan sedotan.
"Ada yang kamu butuhkan lagi?"
Sheila menggeleng. "Apa yang terjadi, Mas? Kenapa aku bisa berada di rumah sakit?" Tanya Sheila kemudian.
"Semalam kamu demam tinggi dan menggigil hebat."
"..."
"Maaf ya, karena aku kamu jadi sakit. Seharusnya aku tak membiarkanmu tidur diluar."
"Mas Bima nggak salah apa-apa. Kan, aku sendiri yang ingin tidur diluar. Seharusnya aku yang minta maaf, karena selalu ngerepotin Mas Bima."
Bima menatap Sheila enggan. Sebelum membalas Sheila, Bima harus teralihkan oleh suara ketukan pintu.
Tok.. tok.. tok..
Keduanya langsung berbalik ke arah pintu ruang inap. Ternyata sudah ada oma dan Listy disana.
"Oh sayang..." Oma bergegas menghampiri Sheila. Menatap sendu Sheila yang terbaring lemah.
"Kamu ini bagaimana?! Bisa-bisanya tidak menjaga istrimu dengan baik!" Oma langsung marah-marah saat melihat Bima yang masih berdiri dan di sana.
Bima mengecup kedua pipi omanya sayang. Berharap hal itu bisa sedikit meredakan amarah beliau.
"Oma, jangan nyalahin Mas Bima. Ini semua salah Sheila kok."
"Sayang.. udah, kamu istirahat aja dulu. Oma mau ngomong sebentar sama suami kamu. Bima, ayo ikut oma!"
Bima pun dibawa keluar oleh oma. Sepertinya Bima akan mendengar kuliah panjang dari oma.
"Listy, maaf ya.. gara-gara aku sakit, Mas Bima jadi terkendala kerjanya."
Listy duduk di sofa yang berada sekitar 2 meter dari tempat Sheila. Dia membalas Sheila tanpa ada rasa ingin menatap ke arah Sheila.
"Aku bukan orang yang seharusnya kamu mintai maaf. Kamu harus tahu bahwa Bima baru saja kehilangan klien besar karena membatalkan rapatnya."
"Iya, aku juga sangat merasa bersalah pada Mas Bima."
Listy menatap marah kepada Sheila. "Seharusnya kamu tahu. Walaupun tidak berguna, setidaknya jangan menjadi beban untuknya. Bima terlalu sempurna untuk memiliki istri tak berguna sepertimu."
"Kamu tahu kan, aku juga..."
"Andai saja itu kakakmu, mungkin aku masih bisa menerimanya. Tapi kamu? Kamu bahkan masih seorang masiswa dan tanpa prestasi."
Sheila yang akan membuka mulut untuk membalas Listy mengurungkan niatnya. Sepertinya apa yang nanti dia ucapkan takan pernah menyenangkan Listy.
__ADS_1
Lagipula Sheila tak bisa membantah semua ucapan Listy yang nyatanya memang benar. Selama ini dia hanya selalu merepotkan Bima.
"Aku tahu kok..." Lirih Sheila kemudian.
Walaupun lirih, tapi Listy masih bisa mendengar ucapan Sheila dengan baik. Dia mencibir tak suka dan merasa apa yang diucapkan Sheila hanyalah pembelaan tak berguna.
"Kalau kamu tahu, seharusnya kamu sadar diri dan biarkan dia bahagia dengan pasangan yang lebih layak mendampinginya."
"..."
"Jangan salah sangka hanya karena Bima baik padamu. Bima baik pada semua orang dan tentu saja, dia tak ingin mengecewakan oma."
Listy menghentikan kritikannya saat mendengar suara oma yang sepertinya sudah mendekat.
"Makanya, dikasih tahu itu dengerin..."
"Iya, iya oma."
"Iya, iya, doang kamu itu."
"..."
"Sheila bagaimana? Apa ada yang sakit sayang? Apa kamu butuh sesuatu?"
"Tidak, oma."
"Oma... Tinggalkan Sheila sendiri. Biarkan dia beristirahat."
"Baik, baik.. sebaiknya oma segera pulang dan membiarkan kalian beristirahat. Ayo Listy, sebaiknya kita segera pulang."
"Baik, oma."
"Tidak perlu. Cukup jaga Sheila disini. Baru selesai oma mengomel dan kamu sudah minta diomeli lagi?"
"Baik oma, kalau begitu hati-hati dijalan. Listy, titip oma ya."
Listy mengangguk sambil tersenyum hangat. "Kamu juga jaga kesehatanmu, jangan terlalu kelelahan."
Bima mengangguk mengerti.
Setelah oma pulang, beberapa jam kemudian kedua orangtua Sheila juga datang. Mereka hanya berbincang sebentar dengan Sheila dan setelah itu berpamitan.
Mereka juga menyarankan agar Sheila menginap di rumah orangtuanya setelah dipulangkan dari rumah sakit.
Karena keduanya merasa mungkin Bima akan kerepotan jika harus menjaga Sheila sendiri selama sakit. Apalagi dia juga harus bekerja.
Bima sebenarnya sedikit keberatan, karena dia bisa meminta tolong Dokter Han, dokter keluarga mereka dan juga Tiwi untuk menjaga Sheila, tapi Bima akhirnya mengizinkan saat Sheila sendiri setuju dengan usulan orangtuanya.
#
Bima membaringkan Sheila hati-hati di atas ranjang. Sebenarnya Sheila sudah terlihat sangat sehat. Bahkan Sheila memaksa untuk masuk kuliah saja.
Tentu saja Bima menolak ide itu mentah-mentah dan meminta Sheila untuk beristirahat.
"Setelah pulang kerja aku akan mampir."
"Jangan dipaksakan kalau Mas Bima sibuk."
Bima mengerutkan keningnya. "Kenapa aku harus sibuk."
__ADS_1
"Tapi sebelumnya Mas Bima sudah membatalkan rapat. Bahkan absen juga."
"Aku bisa meng-handle semuanya. Jangan khawatir."
"Walaupun begitu, tetap jangan dipaksakan. Aku sudah baik-baik saja."
Bima mengangguk mengerti. Kemudian mengecup kening Sheila dan pamit berangkat untuk kerja.
#
Drrt.. drrt.. drrt..
Sheila meraih ponselnya yang berada di nakas. Sheila mengangkat telepon saat melihat nama Gia yang tertera di layar.
"Iya. Kenapa, Gi?"
"Lo beneran sakit, Shel?"
"Cuma demam aja kok."
"Serius cuma demam? Kok bisa sampai masuk rumah sakit?"
"Ceritanya panjang. Kok lo bisa tahu gue masuk rumah sakit?"
"Lo nggak tahu? Berita sakit lo tuh sampai masuk artikel."
"Serius?" Tanya Sheila tak percaya.
"Iya. Artikelnya udah dihapus sih, tapi udah ada yang baca dan sekarang nama lo jadi booming seantero kampus. Sebentar gue kirim gambar Screenshot-nya. Btw.. lo oke, kan? Atau masih ada di rumah sakit?"
"Gue udah pulang kok, paling besok udah ngampus lagi."
"Serius?"
"Iya serius. Ini aja sebenernya gue udah sehat, tapi ya orang rumah pada lebay."
"Oke deh, GWS aja. Gue cuma mau nginfo itu aja. Biar besok lo nggak syok tiba-tiba jadi famous, hehe.."
"Aduh.. jadi males ngampus gue."
"Hahaha.. udah tenang aja. Paling mereka cuma bakal SKSD sama lo."
"Semoga aja deh."
"Oke, gue tutup kalau gitu. GWS sekali lagi."
"Iya, thanks ya, Gi."
"Ship."
Kemudian sambungan telepon pun terputus. Sheila masih terdiam tak percaya saat membaca berita dari artikel yang dikirimkan Gia tadi.
Sheila hanya demam biasa. Apa menariknya sampai ada yang menulis artikel tentang itu?
Sheila tak percaya sebegitu berpengaruhnya kah keluarga Rahadi sampai hal sekecil apapun bisa dijadikan berita?
Melihat artikel itu sudah dihapus, sepertinya juga ada campur tangan dari keluarga Rahadi, tapi kenapa Bima tak mengungkit masalah itu sama sekali. Sepertinya dia harus menanyakan hal ini kepada Bima secara langsung nanti.
#
__ADS_1