
Hari ini pun Arjuna tak muncul sama sekali di daycare. Membuat Bima harus menepati janjinya untuk mencari anak itu di sepanjang jalan.
Bahkan Bima masuk ke dalam gang-gang kecil yang berkemungkinan bisa dimasuki oleh mobilnya.
Sekarang Jasmine yang paling antusias untuk mencari Arjuna. Karena tak ingin Jasmine bersedih, bahkan Bima juga turun ke jalan untuk menanyakan nama anak yang bernama Arjuna pada orang-orang sekitar.
Bima sedikit terbantu karena sepertinya anak itu cukup terkenal. Mendengar bagaimana para tetangga memberikan ciri-ciri seperti, 'anak yang tampan' atau 'Arjuna lucu' dan pujian baik lainnya saat Bima bertanya, semakin membuat Bima ingin bertemu dengan anak itu.
Bagaimana bisa ada anak yang lebih menggemaskan dari Jasmine-nya. Bahkan sampai membuat Jasmine sendiri sangat ingin bertemu dengan anak itu lagi.
"Maaf, apa benar disini rumah anak bernama Arjuna?" Tanya Bima pada seorang nenek yang tengah menunggu toko kecil di pinggir gang. Nenek itu tampak bingung melihat ke arah Bima.
"Daddy lihat, itu dia!" Teriak Jasmine antusias saat Arjuna keluar mengejar anak kucingnya.
"Hai." Sapa Jasmine antusias pada anak laki-laki itu.
Nenek di dalam toko langsung menghampiri Arjuna dan berdiri di sebelahnya. Sedangkan Arjuna nampak ketakutan berdiri di belakang sang nenek.
Bima terdiam sejenak melihat anak laki-laki itu. Dia jadi tahu alasan Jasmine terus bersikeras untuk menemuinya lagi. Juga, para tetangga itu tak berbohong saat mengatakan bagaimana rupawannya anak ini.
Anak ini seperti berlian langka yang terkubur begitu dalam dan tak terjamah oleh siapapun.
Bukannya Bima merendahkan, tapi dia tak habis pikir anak setampan ini bisa berada di sini. Bukankah kedua orangtuanya pasti sangat tampan juga. Tentu saja mereka juga sangat bangga memiliki anak laki-laki setampan ini.
"Maaf sebelumnya, Tuan ini siapa ya? Ada perlu apa dengan cucu saya?"
Bima langsung kembali pada niatnya untuk datang kesini. Dia tidak terkejut bahwa sang nenek khawatir jika orang asing tengah mencari cucunya.
"Jasmine ingin bantu Arjuna untuk membawa kucing itu ke dokter." Jelas Jasmine sambil tersenyum ke arah Arjuna dan menunjuk kucing kecil yang masih berada di tangannya.
Nenek Isha tampak terkejut saat gadis kecil itu mengetahui nama cucunya.
"Apa anak ini temanmu?" Tanya Nek Isha pada Arjuna.
"Iya, Jasmine berteman dengan Arjuna." Balas Jasmine menjawab pertanyaan Nek Isha.
Nek Isha menatap Jasmine bingung, tapi kemudian Arjuna berkata sangat lirih. "Kami pernah bertemu."
"Benar, sekarang kami berteman. Benar, kan?" Tanya Jasmine mengulurkan tangannya pada Arjuna.
"Namaku Jasmine, kamu harus mengingat namaku dengan baik."
Perlahan Arjuna menjabat tangan Jasmine, "Arjuna, kamu bisa memanggilku Juna." Ucap Arjuna memperkenalkan diri
Jasmine tersenyum bahagia dan menatap Bima sebentar. "Ayo kita bawa kucingmu ke dokter. Dia perlu diberikan vitamin agar tidak sakit." Celoteh Jasmine lagi.
"Apa boleh, Nek?" Tanya Arjuna meminta persetujuan pada Nek Isha. Karena kata ibunya neneknya bisa mengetahui orang asing itu baik atau jahat.
Arjuna sangat berharap mereka adalah orang baik. Karena dia ingin melihat kucingnya tak sakit-sakitan lagi. Arjuna tak ingin kucingnya pergi meninggalkannya.
"Tapi maaf, kami tidak memiliki uang untuk membawa seekor kucing pergi ke dokter." Tolak Nek Isha. Beliau juga tak yakin pada Bima. Bagaimana bisa orang kaya seperti Bima bisa datang kesini hanya karena seekor kucing, walaupun kenyataannya memang benar adanya.
"Nenek tak perlu memikirkan tentang biaya. Saya melakukan ini karena permintaan putri saya. Dia sangat sayang pada kucing dan juga khawatir bahwa kucing temannya akan sakit. Nenek bisa ikut sekalian dengan kami untuk pergi ke dokter." Ucap Bima berusaha meyakinkan Nek Isha.
__ADS_1
Nek Isha kembali melihat Arjuna yang sepertinya ingin membawa kucingnya ikut dengan mereka. Akhirnya Nek Isha menyetujui ajakan mereka dan bergegas menutup tokonya.
Nek Isha cukup terkejut saat keluar dari gang ada sebuah mobil mewah di depan. Nek Isha bertanya pada Arjuna apa benar gadis kecil ini adalah temannya.
Karena dilihat dari manapun tidak mungkin Arjuna bisa berteman dengan anak dari kalangan orang kaya. Tapi Arjuna berkata yakin bahwa gadis itu memang temannya.
Walaupun kenyataannya Arjuna baru mengetahui nama Jasmine hari ini. Arjuna tak keberatan menyebut mereka sebagai teman.
"Siapa nama kucing itu?" Tanya Jasmine menengok ke arah Arjuna yang berada di kursi belakang.
"Namanya Molly, dia betina."
"Bagaimana kamu bisa memelihara kucing itu?"
"Ada yang membuangnya di dekat gang, jadi aku membawanya pulang karena dia terus mengikutiku."
Jasmine mengangguk mengerti. Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sekotak susu rasa cokelat dan sebuah benda yang menyerupai gelang pada Arjuna. "Untukmu dan juga kucingmu."
"Terimakasih." Arjuna menerimanya dengan senang hati.
"Itu kalung untuk kucingmu. Kamu bisa memakaikannya agar dia tidak hilang. Aku membuatnya sendiri." Ucap Jasmine tersenyum bangga.
"Terimakasih."
#
Setelah pulang dari dokter hewan, Jasmine mengajak mereka untuk makan diluar terlebih dahulu. Mereka berhenti disalah satu restoran pizza ternama di ibukota.
Anehnya Arjuna hanya menatap makanan itu dan tak kunjung memakannya. Jasmine jadi merasa sedikit kecewa saat ternyata pilihannya tak sesuai dengan selera Arjuna.
"Apa kamu tak suka makanannya? Mau pindah ke tempat lain?" Tanya Jasmine menawarkan.
Bima menatap Jasmine tak percaya. Bahkan mereka belum menghabiskan sepotong pizza yang mereka pesan, tapi dia sudah memiliki ide untuk pergi ke tempat lain.
"Apa yang kamu katakan? Katanya kamu mau makan disini?" Tanya Bima menjelaskan bahwa Jasmine sendiri yang memilih tempat bahkan makanannya.
"Tapi Daddy, Juna tidak suka dengan makanannya. Jadi sebaiknya kita cari tempat lain saja."
"Bukan begitu. Aku bahkan belum pernah makan ini. Bagaimana bisa aku tidak menyukainya. Aku hanya berpikir apa boleh bagianku dibungkus saja?" Tanya Arjuna ragu.
"Kenapa? Apa makan disini membuatmu tidak nyaman?" Tanya Bima hati-hati.
Arjuna menggeleng. "Juna hanya ingin memakannya bersama ibu."
Bima mengangguk mengerti. "Kita bisa membungkus satu untuk kamu makan bersama dengan ibumu nanti. Sekarang kamu bisa makan ini terlebih dahulu. Jasmine bisa sedih jika kamu tak ingin memakannya."
Arjuna menatap Jasmine yang mengangguk mengiyakan perkataan Bima.
Dengan begitu akhirnya Arjuna mau mengambil sepotong pizza dan mulai memakannya.
"Apa ibumu sedang bekerja?" Tanya Jasmine penasaran.
Arjuna mengangguk semangat sambil mengunyah pizzanya.
__ADS_1
"Mamaku juga sedang bekerja. Mama baru akan pulang lima hari lagi. Iya kan, Daddy?" Tanya Jasmine memastikan. Bahkan dia mencoba menghitung dengan jarinya takut salah menghitung.
Jasmine tersenyum bangga saat Bima membenarkan hitungannya.
"Ibuku pulang setiap hari, tapi ibu selalu pulang malam."
"Lalu bagaimana dengan papamu?"
"Papa?" Tanya Arjuna bingung.
Melihat Nek Isha tampak tak nyaman dengan pertanyaan Jasmine, Bima langsung berusaha menghentikan rasa keingintahuan gadis kecil itu.
"Sayang, habiskan dulu makananmu baru bicara."
"Eum.. Daddy apa kata lain papa?" Tanya Jasmine yang sepertinya masih ingin melanjutkan pembicaraan ini.
"Apa itu ayah? Bisa juga bapak, benar kan Daddy?" Tanya Jasmine terus berceloteh.
"Iya kamu benar. Sekarang habiskan dulu makananmu."
"Ayah? Aku tidak punya ayah, jika kamu bertanya. Aku hanya punya ibu dan nenek." Jawab Arjuna dengan wajah datar.
Bima menatap Nek Isha tak enak hati. Dia juga langsung menyuruh Jasmine untuk meminta maaf pada Arjuna.
Jasmine sedikit bingung, bagaimana bisa seseorang tidak memiliki ayah. Bukankah semua orang punya ayah?
Jasmine tidak tahu apa yang salah dengan tidak punya ayah. Dia juga bingung kenapa dia harus meminta maaf pada Arjuna, tapi walaupun begitu dia tetap meminta maaf pada Arjuna seperti yang diminta Bima.
"Benar juga. Miss Iren memperbolehkan kamu untuk main di daycare. Jadi kamu tak perlu khawatir dihukum jika ingin bermain disana."
"Miss Iren? Daycare? Apa itu?" Tanya Arjuna bingung.
"Miss Iren itu pengasuh di daycare dan daycare itu tempat saat kamu ambil kucing kemarin." Jelas Jasmine secara rinci. Bahkan Nek Isha tampak takjub bagaimana Jasmine bisa sepandai ini berbicara.
"Juga, Mamaku adalah pemiliknya, Mama pasti juga mengizinkan kamu bermain disana. Jadi jangan takut untuk datang bermain lagi. Kita bisa bermain ayunan bersama di taman daycare."
Arjuna berbinar senang saat mendengarnya, tapi dia kembali pada mode tenang saat mengingat sesuatu. "Aku akan minta izin ke ibu dulu nanti."
"Kalau diizinkan kamu harus janji datang bermain ya."
Jasmine mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Arjuna. Dia ingin membuat pinky promise dengannya, tapi Arjuna tampak tak mengerti dengan ajakan Jasmine.
Jasmine kemudian turun dari kursinya untuk meraih tangan Arjuna dan mengikat kedua jari kelingking mereka bersama.
"Ini namanya pinky promise. Dengan begini kamu tidak bisa mengingkari janji yang kita buat karena kita sudah menguncinya bersama."
Walaupun tak begitu mengerti, tapi Arjuna tetap mengikuti apa yang Jasmine katakan padanya.
Sedangkan Bima hanya menggeleng sambil tersenyum. Seperti dugaan, gadis kecilnya sudah benar-benar terpikat.
Setelah menghabiskan semua makanan, mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari juga mulai gelap dan para anak itu harus bergegas beristirahat.
#
__ADS_1