
Sudah 5 tahun lamanya Sheila memulai hidup baru. Bahkan selama itu pula Nek Isha sama sekalipun bertanya tentang masa lalu Sheila.
Bahkan saat Sheila hamil dan melahirkan, Nek Isha sama sekali tak banyak bertanya mengenai siapa ayah dari anaknya dan kenapa dia memilih untuk pergi dari rumah.
Sheila sangat bersyukur Nek Isha selalu menyayangi dia dan anaknya seperti keluarganya sendiri.
Selama 5 tahun juga, kini hidup keduanya lebih membaik. Sheila membawa Nek Isha pindah ke sebuah kontrakan kecil dan membuka toko kelontong kecil untuk beliau.
Toko itu adalah sebuah tanda terima kasih dari Sheila karena Nek Isha telah menolong dan membantunya membesarkan Arjuna, anak laki-lakinya.
Sheila juga tak ingin diumur beliau yang tak muda lagi, Nek Isha masih harus bekerja keras.
Masalahnya adalah beliau sangat sulit dirayu untuk berhenti bekerja. Jadi Sheila membukakan toko kecil yang bisa beliau jaga sambil menjaga Arjuna.
Sedangkan Sheila sendiri awalnya bekerja sebagai penjaga toko di sebuah pasar, tapi setelah Arjuna lahir, Sheila bersyukur mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi.
Dia bekerja sebagai asisten rumah tangga disebuah perumahan mewah menggantikan tetangganya yang harus kembali ke kampung.
Dengan pekerjaan barunya sangat membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Sheila juga berharap bisa menabung agar bisa menyekolahkan Arjuna nantinya.
#
Bima tersenyum lebar sambil menggendong seorang anak perempuan cantik bak boneka.
Dia tengah berdiri di depan daycare tempat biasa anak perempuan itu dititipkan.
"Jasmine, mulai hari ini ke daycare-nya diantar Daddy ya.. seperti yang Mama bilang kemarin." Ucap Listy berpamitan dengan anaknya.
"Eem, nanti Mama kerja lalu seminggu lagi baru pulang bawain Jasmine mainan yang buanyak." Celoteh bocah manis itu sambil tertawa riang.
"Iya.. pinternya anak Mama. Jangan nakal ya."
"Jasmine nggak pernah nakal, Mama."
"Iya, Mama tahu. Jasmine kan anak pinter."
Setelah menitipkan Jasmine pada pengasuh yang bertugas, Bima melajukan mobilnya untuk mengantarkan Listy ke Bandara.
#
Kedua pengasuh tampak kerepotan memisahkan beberapa anak yang berkelahi. Bahkan suasana semakin riuh karena anak-anak yang lain tak tinggal diam.
Ada yang menyoraki dan ada juga yang membantu untuk memisahkan, tapi pada akhirnya menjadi korban dari anak yang tengah berkelahi.
__ADS_1
Karena hari ini ada pengasuh yang izin, maka mereka sangat kewalahan mengimbangi jumlah anak yang ada, membuat siang ini menjadi hari paling melelahkan selama di daycare.
Jasmine yang tak tertarik dengan perkelahian teman-temannya hanya duduk terdiam di dekat jendela.
Bocah itu merasa apa yang teman-temannya perbuat sekarang sangat tidak dewasa. Padahal dirinya sendiri juga masih berusia 4 tahun.
Entah karena mamanya yang selalu mengajarinya dengan baik atau mungkin karena memang bocah itu cerdas, pemikiran Jasmine selalu selangkah lebih dewasa dari anak seusianya.
Pandangan Jasmine tiba-tiba teralihkan pada bocah laki-laki yang sedang duduk sendirian di bawah perosotan taman daycare.
Jasmine yang penasaran memutuskan untuk keluar ruangan dan menghampiri anak yang tak pernah dia lihat selama berada di daycare itu. Daripada dia harus ikut-ikutan repot dengan perkelahian mereka.
Saat dilihat dari dekat, Jasmine bisa melihat anak itu berjongkok membelakanginya dan tengah menenangkan sesuatu.
"Kamu siapa? Kenapa disini?" Tanya Jasmine yang membuat bocah laki-laki itu terkejut dan berbalik ke arahnya.
Jasmine sedikit terpana saat mengetahui ternyata bocah itu begitu tampan.
Melihat seseorang melihatnya berada di sana bocah itu buru-buru keluar dari bawah perosotan sambil membawa seekor anak kucing ditangannya.
"Ma-maaf.. aku tidak bermaksud masuk kesini tanpa izin. Aku hanya ingin mengambil kucingku yang lari masuk ke dalam sini."
Jasmine melihat kucing jelek dengan bulu tiga warna di tangan si bocah laki-laki.
"Kamu memelihara kucing ini?"
Entah kenapa Jasmine refleks menahan tangan bocah itu, menghentikan bocah itu pergi.
Bocah itu menatap Jasmine bingung. Dia merasa sedikit takut jika masuk kesini adalah suatu kesalahan. Bagaimana jika nanti dia akan dihukum? Dia hanya ingin mengambil kucingnya.
"Arjuna.. Arjuna.."
"Iya, Nek." Bocah itu langsung menyahut panggilan seseorang yang entah berada dimana.
"Maaf, aku harus segera pergi sebelum nenekku khawatir. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud masuk kesini tanpa izin." Ucap bocah itu sebelum berlari keluar dari taman.
Untuk kali ini Jasmine tak bisa menghentikan bocah itu lagi. Dia hanya bisa mencoba mengintip bocah itu dari kejauhan. "Namanya Arjuna?" Tanya Jasmine pada dirinya sendiri.
"Tapi kucing itu begitu jelek. Bagaimana bisa dia memeliharanya." Gerutu Jasmine saat kembali masuk ke dalam.
#
"Daddy..."
Bima merentangkan kedua tangannya menyambut si cantik Jasmine yang berlari ke arahnya.
__ADS_1
Bima langsung menggendong Jasmine yang tampak begitu gembira hari ini. Berbeda dengan hari-hari biasanya.
"Apa ada yang menarik hari ini? Kenapa sepertinya kamu senang sekali?"
"Eem.. Daddy? Apa kucing dijalanan bisa dipelihara?"
Bima mengerutkan kening mendengar pertanyaan Jasmine. "Kamu ingin punya kucing? Kalau ingin kucing jangan ambil dijalan. Nanti Daddy belikan."
"Kenapa? Apa kucing dijalanan tidak bisa dipelihara?"
Bima berpikir sejenak. "Bisa, tapi lebih baik jika kita membelinya saja. Karena kalau kita ambil kucing dijalanan takutnya nanti banyak kutu, mungkin bisa berjamur dan tidak sehat."
"Tapi Daddy, bocah itu memelihara kucing jalanan."
Bima terkekeh geli mendengar perkataan Jasmine yang mengatakan anak lain bocah. Padahal dia sendiri juga masih bocah. "Bocah siapa? Temanmu di daycare?"
Jasmine menggeleng semangat. "Bukan Daddy. Ada tadi bocah. Apa nanti kalau kita pelihara kucing jelek dijalanan, kita bisa sakit?"
"Tidak juga. Kalau memang Jasmine ingin pelihara kucing dijalanan, kita bisa bawa kucing itu ke dokter hewan lebih dulu untuk divaksin dan diberikan vitamin."
Jasmine mengangguk lucu mendengar penjelasan Bima.
"Kenapa Jasmine tiba-tiba tertarik sama kucing jalanan?"
"Em, penasaran. Soalnya dia bilang kucing itu peliharaannya, tapi kucingnya jelek banget."
"Sayang tidak boleh begitu. Kalau dia bilang itu peliharaannya, berarti dia sangat menyayangi kucing itu dan kucing itu sangat berharga baginya. Kamu tidak boleh mengatakan hal buruk pada sesuatu milik orang lain."
"Tapi Daddy, apa kita tidak bisa membawa kucingnya ke dokter untuk diobati seperti kata Daddy tadi?"
"Bagaimana bisa kita membawa peliharaan orang lain ke dokter. Kita tidak bisa membawanya tanpa izin."
"Bagaimana kalau dia memberi izin?"
Bima mengangguk mengerti. "Tidak masalah. Itu akan lebih bagus."
"Daddy mau membawanya ke dokter?"
"Iya, boleh."
"Yeay..." Jasmine bersorak gembira di dalam mobil. "Kalau begitu besok Jasmine akan meminta izin.
Bima juga ikut senang melihat Jasmine gembira. Walaupun tampak riang, biasanya Jasmine hanya akan terlihat bosan pada banyak hal.
Dia hanya akan bertingkah riang di depan keluarganya dan juga hal lain yang membuatnya senang.
__ADS_1
#