
Seminggu setelah kepulangan mereka dari bulan madu. Sheila memutuskan untuk belajar memasak pada Tiwi.
Setelah menerima segala kemewahan, Sheila juga ingin melakukan sesuatu untuk Bima. Dia tak ingin hanya menjadi orang yang selalu menerima tanpa memberikan apapun.
Tidak hanya belajar memasak, sebenarnya hubungan keduanya juga lebih intim dari sebelum mereka bulan madu. Sekarang Sheila juga bisa berbicara lebih santai pada Bima dan dia sangat bersyukur akan hal itu.
Drrt.. drrt ..
Sheila melihat layar ponselnya, ada panggilan masuk dari Bima.
"Iya Mas, ada apa?"
'Yang, kamu repot apa di rumah?'
"Nggak repot apa-apa sih. Kenapa, Mas?"
'Aku bisa minta tolong kamu ke ruang kerja aku sebentar? Disana ada amplop coklat di atas meja, bisa minta tolong kamu antarkan ke kantor aku? Aku butuh dokumennya untuk rapat nanti.'
"Iya, bisa Mas."
'Alamatnya aku kirim via chat ya.'
"Iya, Mas."
'Makasih. Hati-hati di jalan.'
"Iya, Mas." Sambungan telepon pun terputus.
Sheila langsung bergegas menuju kantor untuk mengantar dokumen yang diminta suaminya.
#
RAHADI CASTLE
Sheila menatap nama yang tertulis pada puncak tertinggi gedung 30 lantai di depannya. Bahkan dari kejauhan pun Sheila sudah sangat yakin bahwa dia tidak mungkin salah tempat.
Sheila merasa sedikit bingung saat semua karyawan disana menyapa dan ternyata mengenal dirinya. Padahal dia belum pernah kemari sama sekali.
Mungkin karena beberapa hari yang lalu wajahnya terpampang nyata dalam media berita. Sheila tak mengerti kenapa pernikahannya bisa menjadi bahan yang menarik untuk diberitakan.
Sheila langsung menuju ke arah lantai 30, tempat dimana ruangan Bima berada. Baru saat pintu lift terbuka, Sheila sudah mendapati Jessica yang menunggu kedatangannya.
"Selamat siang, Bu Sheila. Sebelah sini."
Sheila mengikuti arahan dari Jessica. Dia juga sempat menyapa balik beberapa wanita yang berada di belakang meja, sepertinya mereka juga sekretaris dari suaminya.
"Pak Bima sedang ada tamu. Beliau meminta Bu Sheila untuk menunggu di dalam. Silahkan ini kuncinya." Jessica memberikan sebuah kartu pada Sheila. Sheila mengangguk mengerti sambil mengucapkan terimakasih sebelum Jessica pamit keluar dari ruangan Bima.
Sheila menatap kartu di tangannya bingung dan mencoba melihat sekeliling. Ternyata ada pintu lain di dalam sini.
Sheila akhirnya mencoba membuka pintu itu dan mendapati sebuah kamar di dalamnya. Dengan tempat tidur berukuran king size, kamar mandi, dan juga beberapa peralatan olah raga.
__ADS_1
"Bu Sheila.." Sheila berhenti mengamati ruangan karena mendengar panggilan dari Jessica.
"Iya?" Sheila keluar dan mendapati Jessica dengan secangkir teh dan kue kering.
"Apa tidak apa-apa jika saya menaruhnya disini?" tanya Sheila menunjuk ke arah meja yang berada di depan meja kerja Bima.
"Tentu saja, kamu bisa meletakkannya dimana pun."
"Baik, Bu. Jika Bu Sheila membutuhkan sesuatu, ibu bisa memanggil saya."
"Tunggu, dulu.." ucap Sheila menahan Jessica pergi. "Apa aku boleh tahu berapa sekretaris yang dimiliki Mas Bima?"
"Tentu saja, Bu. Untuk kantor ini sendiri Pak Bima memiliki tiga sekretaris, termasuk saya."
Sheila mengangguk mengerti, lalu dia beralih pada ruangan yang baru saja dimasukinya.
Ceklek
Padahal baru saja Sheila mau bertanya tapi Bima sudah kembali dari pertemuannya.
"Saya baru saja mengantarkan cemilan untuk Ibu Sheila, Pak."
Bima mengangguk mengerti. "Iya. Terimakasih. Kamu bisa kembali bekerja."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Jessica pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dokumennya aku taruh di atas meja kerja Mas Bima."
Sheila menggeleng. Sebenarnya dia akan makan siang saat Bima menelepon tadi.
"Apa kamu mau makan siang bersama?" Tentu saja Sheila tak akan menolak ajakan menyenangkan Bima. Sebenarnya tadi Sheila ingin membawakan makan siang untuk Bima. Tapi dia tak cukup percaya diri membawa masakannya yang dia rasa belum cukup baik.
"Baik, kalau begitu tunggu sebentar disini. Kita akan makan siang bersama setelah selesai rapat." Bima mengecup kening Sheila sayang sebelum pergi meninggalkan Sheila lagi. Sepertinya Bima sangat sibuk hari ini.
Sheila akhirnya masuk lagi ke dalam kamar. Dia mengambil sebuah buku yang terletak di meja untuk mengisi waktu.
Tapi tak berselang lama Sheila merasa bosan dengan buku itu. Lagipula siapa yang betah membaca buku berbahasa Inggris setebal itu. Tentu saja hanya suaminya.
"Ahhhhh.." Sheila lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hal ini tentu lebih pas untuk dirinya.
"Apa Mas Bima sering tidur disini? Padahal jarak kantor dan apartemennya tidak jauh. Kenapa tidak pulang saja?" tanyanya pada diri sendiri.
"Karena lebih efisien."
"Mas Bima?" Sheila langsung bangun dan melihat sosok Bima berdiri di dekat pintu. Sheila memutuskan untuk menghampiri suaminya itu.
"Rapatnya sudah selesai? Kok cepet?"
"Iya, masih ada beberapa yang perlu dibenahi. Jadi kita adakan rapat ulang nanti. Ayo makan, kamu mau makan siang apa?"
"Apa saja. Aku bisa makan apa saja. Dan perutku tidak akan pilih-pilih makanan kalau lagi lapar."
__ADS_1
"Kalau begitu kita pergi ke restoran depan kantor saja," usul Bima yang langsung disetujui oleh Sheila.
#
Sheila sangat menikmati pasta di restoran ini. Benar-benar sesuai dengan lidah Indonesia-nya. Padahal biasanya dia tak begitu suka dengan makanan bule.
"Enak?" tanya Bima sambil tersenyum melihat bagaimana Sheila seperti menikmati setiap suapannya.
"Enak banget," ucap Sheila sambil mengangguk antusias.
"Oh iya, Mas Bima memangnya sering ya tidur di kantor?" Sheila kembali teringat dan penasaran dengan kamar yang ada di kantor Bima.
"Kalau dulu aku bahkan hampir tidak pernah tidur di rumah. Aku lebih memilih untuk tidur di kantor, lebih hemat waktu, uang dan tenaga."
"Ohh .." Mendengar hal itu tiba-tiba saja membuat Sheila jadi tak nafsu makan. Apalagi kemudian Sheila seperti melihat sosok Listy di seberang jalan. Apa benar itu Listy atau Sheila hanya salah lihat saja?
"Apa Kak Listy juga sering ke kantor Mas Bima?" tanya Sheila tak senang. Sebenarnya dia cukup takut mendengar jawaban yang sebenarnya dari Bima.
"Tentu saja. Listy juga ikut rapat tadi, kita sedang ada proyek bisnis baru."
"Baru? Kalian sering punya proyek bersama?" tanya Sheila semakin tak suka dengan pembahasan mereka tapi masih ingin tahu bagaimana hubungan keduanya di masa lalu.
"Cukup sering, sepertinya.." balas Bima menanggapi setiap keingintahuan Sheila dengan santai.
"Benar juga. Mas Bima kan sama Kak Listy teman dari kecil. Kenapa kalian tidak bertunangan?" tanya Sheila penasaran. Bukannya hal itu malah lebih baik.
"Hal itu tidak akan mungkin terjadi."
"Kok gitu? Kenapa memangnya?"
"Keluarga Ismawan dan Keluarga Rahadi sudah menjadi saingan sejak dulu. Sebenarnya Ayah Listy juga sangat menentang kerja sama kita saat ini, tapi perempuan itu terlalu keras kepala untuk mendengarkan."
"Kalau Oma bagaimana?"
"Oma tidak pernah membenci siapapun. Oma tidak akan keberatan untuk bekerjasama dengan siapapun."
Bima menatap Sheila seakan menunggu pertanyaan lain untuknya dan Sheila baru sadar akan hal itu. Sepertinya dia terlalu banyak bertanya dan ikut campur. Bahkan Bima tak berbalik bertanya tentang dirinya. Tapi tidak ada yang perlu ditanyakan juga tentang hidup Sheila. Hidupnya tak ada yang menarik.
Membahas tentang Listy jadi membuat Sheila mengingat tentang ucapan Dewa minggu lalu. Jangan-jangan benar kalau dulu mereka saling mencintai dan kemudian hubungan mereka harus ditentang oleh keluarga keduanya. Apa sebaiknya Sheila bertanya juga tentang hal ini?
"Kapan-kapan apa aku boleh mampir ke kantor lagi?" tanya Sheila yang berbanding terbalik dengan isi hatinya. Sepertinya Sheila belum siap menanyakan perihal hubungan keduanya di masa lalu.
"Tentu saja. Suamimu adalah pemimpin di perusahaan ini. Tentu saja kamu boleh datang ke sini kapanpun kamu mau."
"Makasih," balas Sheila kemudian. Sepertinya dia akan mencari tahu sendiri apa hubungan diantara keduanya di masa lalu.
"Oke. Waktu makan siang sudah selesai. Waktunya kembali bekerja. Juwan akan mengantarmu pulang."
Sheila mengangguk setuju dan sudah melihat sosok Juwan yang berada di depan restoran.
#
__ADS_1