Good Husband?

Good Husband?
Tujuh (Kabar Dari Keyra)


__ADS_3

Sheila melirik Bima bingung saat duduk di kursi belakang mobil. Saat Bima mengatakan bahwa akan mengantarnya ke kampus, Sheila berpikir kalau Bima yang akan menyetir mobilnya sendiri. Nyatanya mereka masih saja menggunakan sopir.


Kalau tahu begitu bukannya lebih mudah jika mereka berangkat sendiri-sendiri saja?


Lamunan Sheila terhenti saat mendengar ponselnya berbunyi nyaring. Sheila langsung mengangkatnya saat melihat kontak sang Papa yang tertera pada layar ponselnya.


"Iya, gimana Pa?"


'Sheila, apa akhir-akhir ini Keyra ada menghubungimu?'


"Enggak, Pa. Emangnya ada apa?"


'Sampai sekarang Sheila belum juga pulang. Papa udah berusa buat nanya ke temen-temennya tapi nggak ada yang tahu.'


"Oke, nanti coba Sheila cari tahu ya, Pa. Papa tenang aja. Nanti kalau Sheila dapat kabar Kak Keyra, Sheila langsung hubungi Papa."


'Iya, makasih ya sayang.'


"Iya, Pa. Sama-sama." Kemudian sambungan telepon terputus.


"Ada masalah apa?" tanya Bima melihat wajah Sheila yang berubah khawatir setelah menerima telepon.


Sheila sebenarnya ingin bercerita pada Bima, tapi dia bingung bagaimana harus memulainya. Belum lagi Sheila tak yakin apa Bima tidak keberatan jika harus mendengar cerita tentang kakaknya.


"Apa ini tentang kakakmu?" Sheila menatap Bima kaget. Apa Bima mendengar percakapannya tadi di telepon?


Mau tak mau Sheila memilih untuk membahasnya. Lagipula Bima terlihat tak keberatan jika mereka membahas Keyra.


Melihat bagaimana reaksi Sheila saat Bima bertanya, Bima bisa menyimpulkan bahwa tebakannya benar. Bertemu dengan banyak orang membuat Bima bisa membaca apa yang orang lain pikirkan hanya dengan melihat ekspresi wajah atau gelagatnya. "Jadi... Apa yang terjadi dengan Keyra?"


Sheila membuang nafas panjang. "Jadi dari 3 hari yang lalu Kak Keyra belum juga pulang ke rumah dan Papa sangat khawatir."


"Aku bisa membantu mencari jika kamu mau."


"Benarkah? Apa tidak akan menyulitkanmu?"


Bima menatap Sheila lagi. Tatapan yang selalu membuat Sheila lemah. Dia hampir membuang muka jika saja sorot mata Bima mengatakan 'jangan coba-coba', membuat Sheila harus menahan hawa intimidasi dari Bima.


"Kenapa kamu begitu sungkan kepada suamimu sendiri?"


"Bukan begitu. Aku hanya.. tidak ingin merepotkan. Lagipula Mas Bima kan kemarin sudah lembur. Takutnya nanti waktu istirahatnya berkurang."


"Ini tidak akan menggangu waktu istirahatku. Bahkan aku sangat senang jika bisa membantu istriku."


Sheila mengangguk mengerti. "Baik. Kalau begitu mohon bantuannya. Aku sangat senang jika Mas Bima bisa membantu."


"Tidak masalah," balas Bima yang kembali menatap lurus ke depan. Membuat Sheila bisa kembali bernafas lega.


Mobil berhenti tepat di area depan kampus. Sheila tak pernah berpikir mobil bisa masuk sampai ke area ini. Atau mungkin hanya belum ada yang berani mencoba.


Sheila melirik keluar, tapi nyalinya menciut saat melihat beberapa siswa memandang ke arah mobil mewah Bima.


Bima keluar dari mobil membuat Sheila merasa heran. Apa Bima juga ada perlu di kampusnya?


Ceklek.

__ADS_1


"Kamu bisa turun sekarang," ucap Bima ramah saat membukakan pintu mobil untuk Sheila.


Sheila semakin tak ingin keluar dari mobil setelah apa yang baru saja Bima lakukan untuknya. Sekarang kerumunan diluar terlihat semakin banyak yang melihat kearah mereka.


Bisa-bisanya Bima terlihat santai menjadi tontonan banyak orang seperti sekarang. Tahu begitu Sheila memilih berangkat sendiri saja tafi.


Benar juga. Gara-gara ciuman tadi pagi, Sheila sampai lupa membahas tentang masalah mobil. Ahh.. mengingat soal ciuman membuat wajah Sheila kembali bersemu. Padahal kejadian itu sempat terlupakan sejenak.


"Benar-benar tidak ingin keluar?" ulang Bima yang sedikit meninggikan intonasi suaranya.


Gawat. Sheila merasa sepertinya Bima akan marah jika dia tidak segera keluar dari mobil.


"Sheila?" tanya Gia meyakinkan dirinya sendiri saat melihat wanita yang keluar dari mobil.


Sheila tersenyum canggung pada Gia dan Handyan. Ya, Gia sedang bersama Handyan di sebelahnya. Keberadaan Handyan membuat Sheila merasa lebih canggung puluhan kali.


"Ini?" tanya Gia bingung saat melihat pria maskulin yang membukakan pintu mobil untuk sahabatnya. "Jangan bilang..." Gia menutup mulutnya sendiri tak percaya saat mengingat ucapan Sheila kemarin.


Sheila mengangguk mengerti apa yang dimaksud Gia saat melihat dari reaksinya.


"Kamu pasti Gia teman dekatnya Sheila. Perkenalkan saya Bima, suami Sheila. Dan ini?" Tanya Bima saat menatap ke arah Handyan. Sebenarnya wajah Bima terlihat seperti sudah mengenal Handyan. Atau apa mungkin dia hanya tak perduli dengan pria itu.


"Handyan," balas Handyan ikut menyambut uluran tangan Bima. Terasa ada admosfir aneh dari tatapan keduanya. Seperti saling menyatakan kepemilikan masing-masing.


Mungkin karena keduanya laki-laki tampan dan hanya ingin saling menyatakan siapa yang paling unggul diantara keduanya.


Bima mengecup pucuk kepala Sheila tiba-tiba. Membuat Gia terpekik tertahan saat melihatnya. "Aku berangkat kerja dulu. Nanti pulang kampus aku jemput," ucap Bima sebelum kembali masuk ke dalam mobil. Sheila dibuat membeku dengan perlakuan manis Bima.


"Sheila! Lo beneran udah nikah?!" tanya Gia histeris tak percaya. Membuyarkan lamunan Sheila.


"Kan kemarin udah gue bilang," balas Sheila malas. Sepertinya dia tertular Bima yang tak ingin mengulang-ulang kalimatnya.


"Tapi kayaknya dia punya perbedaan umur yang cukup jauh ya di atas kita?" tanya Handyan penasaran.


Sheila sempat terkejut mendapati Handyan masih berjalan bersama mereka. Padahal biasanya dia hanya akan datang menyapa dan pergi.


"Iya, Kak bener. Emang umur kita terpaut lumayan jauh."


"Berapa? Beda berapa tahun?" tanya Gia penasaran.


"Rahasia. Males ah ngasih tau. Ntar lo nggak percaya lagi sama gue," balas Sheila acuh.


"Ada sepuluh tahun?" tanya Handyan lagi. Sheila mengangguk mengiyakan.


"Woahhhhh.. hot daddy," tambah Gia histeris. "Lo nemu cowok model begitu dimana, Sheila. Gue pengen juga."


"Enak aja nemu. Nyarinya susah itu."


"Dasar pelit," ucap Gia manyun kesal. Tapi kemudian Gia baru tersadar bahwa Handyan masih bersama mereka.


"Loh Kak Handyan masih disini? Bukannya tadi bilang ada kelas ya?"


"Oh iya sampe lupa, untung diingetin. Thanks ya, Gi. Duluan semua."


"Iya, Kak."

__ADS_1


Sheila dan Gia pun juga berjalan menuju kelasnya sendiri. Sepanjang perjalanan Gia masih berusaha mengorek informasi tentang Bima dari Sheila. Dia ingin tahu rasanya punya suami pengusaha seperti Bima.


#


Sheila terperanjat terkejut saat ponselnya tiba-tiba saja berdering. Ini telepon dari Papanya lagi. Pasti Papanya ingin menanyakan mengenai kabar Keyra.


Masalahnya adalah Sheila sudah mencoba menghubungi kakak perempuannya itu, tapi tak kunjung dapat jawaban.


Dia jadi enggen untuk menjawab panggilan Papanya. Sheila takut membuat Papanya kecewa.


"Tidak mau mengangkatnya?" tanya Bima yang berada di sisi lain tempat tidur.


"Aku jawab kok," balas Sheila akhirnya mengangkat telepon karena tak ingin bunyi berisiknya mengganggu Bima.


'Sheila, terimakasih ya sayang. Kamu sudah bantu Papa buat nemuin kakak kamu...'


Kalimat Papanya membuat Sheila kebingungan. "Apa? Gimana, Pa maksudnya?"


'Pokoknya Papa berterima kasih. Ucapkan terimakasih Papa juga sama Bima ya sayang. Kamu gimana kabarnya, nak?'


Sheila menatap Bima bingung. "Sheila baik, Pa. Papa nggak perlu khawatir."


'Syukurlah kalau begitu. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan telepon Papa ya sayang.'


"Iya, Pa."


'Kalau begitu Papa tutup teleponnya.'


"Baik, Pa." Klik.


"Mas Bima udah nemuin Kak Keyra?"


"Iya." Balas Bima tanpa mengalihkan pandangannya pada tab di tangannya.


"Makasih ya, Mas. Tadi Papa telepon untuk nyampein rasa terimakasihnya juga."


Bima menatap Sheila sambil mengangguk dan tersenyum ramah.


"Benar juga. Besok malam Oma mengadakan jamuan para relasi bisnis untuk merayakan pernikahan kita."


"Apa? Besok? Tapi aku nggak punya gaun sama sekali."


"Jangan khawatir, Jesicca akan menyiapkan segala keperluanmu nanti."


Mendengar itu membuat Sheila bernafas lega. Tapi tunggu dulu, Sheila bahkan tak pernah ke pesta sebelumnya. Bagaimana kalau besok dia mempermalukan diri dihadapan tamu?


"Tenang saja. Itu hanya jamuan biasa. Mereka biasanya hanya akan menyapa kita sebentar kemudian dan akan kembali membicarakan bisnis dengan para tamu yang lain. Lagipula aku akan selalu di sampingmu. Jadi tak perlu ada yang kamu khawatirkan. Sekarang tidurlah." Sheila mengangguk mengerti.


Drrt... drrt...


Sheila melihat Keyra mengirimkan sebuah pesan untuknya.


'Dek, maafin kakak ya. Gara-gara kakak kamu harus menikah dengan orang yang kamu nggak cinta. Kakak nggak tahu kalau kamu harus menanggung keegoisan yang kakak buat. Maaf ya, Dek.'


"Kakak nggak perlu minta maaf. Kita nggak perlu menyesali semua yang udah terjadi. Kakak nggak perlu khawatir."

__ADS_1


Sheila tersenyum membalas pesan dari kakaknya. Kemudian menarik selimutnya sampai menutup batas lehernya.


#


__ADS_2