
Di depan Bima sekarang sudah ada 5 orang preman suruhan Hendra saat mencari Sheila. Ternyata mereka bukanlah orang-orang Hendra. Melainkan sekelompok preman yang memang biasa dipekerjakan oleh orang untuk melakukan suatu hal ilegal. Seperti halnya menculik, memukul orang dan hal buruk lain. Tidak hanya hal kotor, mereka juga bisa dibayar sebagai bodyguard.
Mereka terbilang cukup loyal pada penyewanya. Kecuali jika ada yang membayar lebih, maka mereka akan buka mulut seperti sekarang. Mereka hanya akan berpihak pada uang.
Bima akui mereka memang cukup hebat. Bahkan Juwan mengatakan mereka menyerahkan diri kepadanya hanya demi uang dan sudah tahu bahwa Juwan tengah menyelidiki mereka.
Daripada menangkap, sebenarnya lebih seperti mereka yang mendatangi Juwan secara langsung.
Bima tersenyum ke arah mereka. Dia selalu suka dengan orang-orang yang menyembah uang. Karena mereka akan bisa ditangani lebih mudah.
Tentu saja alasan utamanya karena Bima memiliki banyak uang. Jadi kontrol mereka ada ditangannya.
"Akan aku bayar 2 kali lipat dari ini, tapi kalian laporkan padaku semua yang Om Hendra perintahkan pada kalian." Ucap Bima sambil menunjukan koper yang berisi penuh uang.
"3 kali lipat." Tawar ketua dari kelompok itu
"Oke deal. Aku bayar 3 kali lipat dan laporkan semuanya padaku tanpa terkecuali."
Mata mereka semua tampak berbinar saat Bima menyanggupi permintaan mereka dengan mudah.
Mereka saling memandang dan tersenyum satu sama lain saat melihat tumpukan uang di depan mereka. Pandangan mereka serentak tertuju pada ketua preman yang bertugas sebagai pengambil keputusan mutlak.
"Itu mudah." Ucap si ketua mengambil segepok uang dalam koper dan menghirup aromanya seperti halnya menghirup aroma bunga.
Setelah kesepakatan dibuat, Bima pergi dari tempat itu bersama Juwan. Dia tak ingin berlama-lama di tempat penuh dosa ini. Bahkan Bima bisa mencium bau amis darah. Entah darah milik siapa.
"Bagaimana dengan penyelidikan tentang kecelakaan orangtuaku?" Tanya Bima setelah keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Saya masih mencari keberadaan sopir truk yang menjadi tersangka kecelakaan, Tuan. Tepat setelah dia bebas, dia seperti menghilang begitu saja."
"Sengaja menghilang atau sengaja dihilangkan?"
"Saya sudah mencari tahu di sekitaran tempat tinggalnya yang dulu. Dia sempat pulang dan kemudian keesokannya dia membawa keluarganya untuk pindah."
"Segera temukan sopir itu."
"Baik, Tuan."
"Kita pulang ke rumah."
__ADS_1
"Baik."
#
"Papa..." Arjuna berlari ke arah Bima tepat saat dia baru membuka pintu rumah.
Merasa senang ada pangeran kecil yang tengah menyambutnya. Bima tersenyum sangat lebar saking bahagianya. Bima juga menuruti permintaan Arjuna yang meminta untuk digendong.
"Juna tadi buat kukis loh sama ibu."
"Woahh.. anak papa sudah pinter buat kukis. Sudah jadi belum kukisnya?"
Arjuna menggeleng lucu sambil menunjuk ke arah oven. "Kukisnya masih di dalam sana."
Sheila menghampiri keduanya yang tengah berceloteh ria tanpa dirinya. Dulu Arjuna selalu saja tak bisa lepas darinya, tapi sekarang lihat.. dia bahkan tak dilirik sedikitpun saat Bima sudah berada di rumah.
"Sebentar lagi kukisnya matang. Jadi kita bisa memakannya bersama-sama."
Arjuna mengangguk semangat. "Papa besok kata ibu, papa libur ya?"
Bima mengangkat Arjuna untuk dipindahkan ke sofa ruang tengah. Agar mereka bisa mengobrol lebih nyaman.
Arjuna menggeleng kecil. "Juna cuma mau main sama papa seharian di rumah."
"Sebenarnya papa ingin mengajak Juna bertemu dengan nenek dan kakek besok."
"Tapi.. kita baru kesana kemarin."
"Bukan nenek dan kakek dari ibu, tapi nenek dan kakek dari papa."
Mata bulat Arjuna menatap Bima bingung. Sedangkan Sheila terdiam mendengar usulan dari suaminya.
"Apa besok kita akan pergi ke pemakaman?"
Bima mengangguk. "Apa kamu keberatan?"
"Tidak. Aku malah senang mendengarnya. Aku belum pernah pergi mengunjungi papa dan mamamu. Menantu macam apa aku ini."
"Tentu saja menantu Keluarga Rahadi." Balas Bima sambil mengecup puncuk kepala Sheila.
__ADS_1
"Juna juga.. Juna juga, papa.." Rengek Arjuna sambil merentangkan tangan mungilnya. Membuat Sheila dan Bima saling berpandangan dan tersenyum melihat tingkah lucu anak mereka.
"Baik, sini anak pintar."
Arjuna langsung mendekat ke arah Bima sambil merentangkan tangannya. Kemudian Bima dan Sheila secara bergantian mengecup pipi Arjuna di masing-masing kedua belah sisi. Arjuna tertawa riang setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
#
"Papa, ini tempat apa?" Tanya Arjuna saat berada di tengah pemakaman. Ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat seperti ini.
"Katanya kita mau bertemu kakek dan nenek?" Tanyanya bingung.
"Iya sayang.. kita sekarang sudah berada di depan kakek dan nenek." Jelas Sheila berjongkok agar menyamai tinggi anaknya.
"Ini kakek dan nenek. Mereka tinggal di dalam sini" Tambah Bima menunjuk dua makam di depan mereka.
"Kenapa mereka tinggal di dalam sini? Apa didalam tidak gelap?" Tanya Arjuna polos.
"Tentu saja gelap."
"Kenapa? Apa mereka tidak memiliki lampu di dalam?"
"Mereka tidak memiliki lampu. Mereka tidak boleh menyalakan lampu di dalam."
"Kenapa begitu? Kenapa mereka mau tinggal di tempat gelap ini?"
"Karena itu harus. Tidak hanya kakek dan nenek.. nanti kalau papa dan ibu sudah tua. Kita juga akan menyusul kakek dan nenek untuk tinggal disini "
"Nggak boleh. Nanti Arjuna sama siapa kalau papa dan ibu tinggal disini? Arjuna nggak mau tinggal disini. Arjuna takut gelap.." Arjuna mulai menangis histeris. Membuat Sheila dan Bima jadi panik. Karena Arjuna tidak pernah menangis sampai seperti ini.
"Mas, aku nenangin Juna dulu ya.." Sheila pamit sambil membawa Juna pergi. Takut jika mengganggu orang lain yang berziarah. Bima mengangguk mengerti.
Bima kembali berjongkok di depan makam kedua orangtuanya. "Ma, Pa... Aku minta maaf karena terlambat mengetahui kebenarannya. Aku janji untuk segera membuat orang yang melakukan hal ini kepada kalian mendapat balasan yang setimpal."
"... Dan juga, kalian sekarang sudah punya cucu, namanya Arjuna. Banyak orang bilang dia sangat mirip denganku. Bahkan mereka mengatakan Arjuna seperti duplikatku saat masih kecil. Tidak biasanya dia menangis sekencang itu. Tidak.. Juna tidak membenci kalian. Tapi kalian harus tahu bahwa dia anak yang pintar, tampan dan juga ceria. Aku sangat berharap kalian bisa bersama kami di sini walaupun harapan itu tidak mungkin." Bima mulai meneteskan air mata di pipi. Dia menghapus air mata itu dan bangkit berdiri.
"Sepertinya aku harus pergi menyusul Sheila. Aku janji akan lebih sering kesini setelah semuanya selesai. Lain kali kita akan menyapa kalian dengan benar. Kalian baik-baik disana. Aku sangat merindukan kalian."
Tak ingin menangis dan bersedih lebih lama, Bima memutuskan untuk segera menyusul Sheila dan Arjuna.
__ADS_1
#