
Setelah Valentine tentu saja ada white day. Hari dimana para laki-laki yang berganti memberikan cokelat kepada perempuan.
Sebenarnya guna White day ini untuk menjawab bagaimana perasaan para perempuan yang menyatakan cinta mereka saat Valentine. Tapi seiring berkembangnya zaman artinya pun ikut berubah.
Biasanya para laki-laki hanya akan memberikan cokelat ke beberapa perempuan yang meminta kepada mereka. Karena tak mau ambil pusing mereka hanya akan membelikan permen cokelat atau jajanan rasa cokelat di kantin sekolah.
Untuk itu Jasmine juga tak berharap banyak tentang hari ini. Karena pada dasarnya Arjuna juga sama saja seperti laki-laki lain. Laki-laki itu tak ada romantis-romantisnya.
Walaupun sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam Jasmine sangat berharap tiba-tiba saja ada dewi cinta yang mendatangi Arjuna dan membuat laki-laki itu datang untuk memberikannya sepotong cokelat.
Jasmine tak perduli walaupun cokelat itu Arjuna beli dari kantin sekolah sekalipun. Dia hanya berharap hari ini bisa mendapatkan cokelat dari Arjuna.
Sebenarnya dia sendiri sudah menerima beberapa cokelat dari siswa laki-laki lain di kelasnya saat di parkiran tadi. Padahal Jasmine sama sekali tak memberikan cokelat pada mereka.
Seingatnya, Jasmine memberikan cokelat hanya pada Arjuna.
"Tumben masih pagi udah ngelamun. Ngelamunin apa?" Tanya Arjuna saat mereka sudah berada di kantin sekolah.
Karena mamanya sedang keluar kota dan mbak yang bekerja di rumahnya sedang pulang kampung, alhasil Jasmine hanya harus berpuas diri dengan sarapan di kantin sekolah.
Tentu saja Arjuna juga belum sarapan karena biasanya dia ikut sarapan bersama Jasmine di rumahnya.
Dia tak tahu kalau hari ini tidak ada orang di rumah Jasmine. Tahu begitu Arjuna meminta mamanya membawakan makanan untuk mereka.
Karena Jasmine itu lebih sering kesiangan. Entah Arjuna tak tahu apa yang Jasmine lakukan di kamarnya. Makanya mereka tak sempat untuk kembali ke rumah Arjuna hanya untuk sarapan.
Jasmine menggeleng kecil. Dia mencoba menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak berharap terlalu tinggi.
"Ini." Arjuna memberikan kotak persegi putih polos berukuran sedang pada Jasmine.
"Apa ini?" Tanya Jasmine menyembunyikan rasa bahagianya. Dia masih berusaha untuk tidak berharap.
"Cokelat. Mama yang milih. Katanya harus ngasih hari ini. Padahal makan cokelat kan bisa kapan aja."
Jasmine menerima kotak itu dengan senyuman lebar. Setelah memberikan cokelat Arjuna berjalan mendahului Jasmine. Karena keduanya sudah menyelesaikan sarapan mereka.
Karena saking tak percayanya Jasmine memfoto cokelat dari Arjuna dan langsung mempostingnya sebagai status.
Jasmine ingin orang-orang di sekelilingnya tahu dan mengatakan kepadanya bahwa semua ini bukan mimpi. Arjuna benar-benar memberinya sekotak cokelat.
Kemudian setelah itu dia baru berlari menyusul langkah kaki lebar Arjuna.
'Kamu sudah menerimanya?' Sebuah pesan dari Tante Sheila muncul di layar ponsel Jasmine.
Sepertinya saat ini Sheila baru saja melihat status Jasmine. Jasmine jadi malu sendiri karena lupa memprivasi statusnya ini dari mama Arjuna.
'Sudah, Tante. Terimakasih ya Tante untuk cokelatnya. Kalau bukan karena Tante mungkin Jasmine nggak akan nerima cokelat dari Arjuna.'
__ADS_1
'Apa yang Arjuna katakan padamu?'
'Kata Arjuna, Tante Sheila yang mengusulkan untuk membeli cokelat dan memberikan pada Jasmine hari ini.'
'Arjuna bilang begitu? Dasar anak itu. Kamu jangan percaya apa katanya.'
'Lalu cokelat ini? Apa jangan-jangan Arjuna sendiri yang membelinya?'
'Bukan hanya membeli. Bahkan Arjuna sendiri yang datang pada Tante untuk diajari membuat cokelat.'
Tante Sheila pasti bohong. Jasmine nggak percaya. Mana mungkin Arjuna melakukan hal itu.
'Tante Sheila pasti berpikir aku akan sakit hati, kan? Tante nggak perlu khawatir. Aku nerima ini aja udah seneng banget. Lagian mana mungkin Arjuna mau repot-repot buat cokelat untuk Jasmine.'
'Tante punya buktinya. Sebentar.'
Setelah itu puluhan foto masuk dikirim oleh Sheila. Arjuna tampak manis dengan celemek kuning dengan motif bunga-bunga kecil.
Jasmine melihat foto-foto itu sambil tersenyum. Dia begitu senang melihat Arjuna terlihat sangat berusaha membuat cokelat.
Dan yang paling membuat Jasmine tersenyum lebar adalah foto dimana wajah Arjuna putih penuh dengan tepung.
Sepertinya dia berusaha membuka bungkus tepung dengan tangan kosong. Karena tangan Arjuna tengah memegang plastik tepung saat difoto.
"Apa yang kamu tertawakan? Kenapa dari tadi asyik sendiri?" Tanya Arjuna tak suka karena Jasmine seperti berada di dunianya sendiri tanpa mengajaknya.
Padahal dia baru saja memberinya cokelat, tapi Jasmine seperti tak membahasnya dan malah asyik dengan ponselnya.
"Bukan apa-apa. Aku hanya melihat sesuatu yang lucu."
"Apa yang lucu. Coba tunjukkan padaku." Arjuna mencoba merebut ponsel Jasmine dari tangannya.
"Eits.. jangan coba-coba. Ini privasi. Kamu tahu apa yang namanya privasi? Kalau aku bilang nggak boleh lihat, ya berarti nggak boleh."
Arjuna semakin sebal mendengar jawaban dari Jasmine. Sejak kapan ada rahasia diantara mereka?
Tidak diragukan lagi pasti Jasmine sedang membaca pesan dari laki-laki yang memberinya cokelat tadi
"Oh... Sekarang mainnya udah rahasia-rahasiaan. Oke." Ucap Arjuna dengan nada ketus.
"Apaan sih? Kok jadi ngambek. Kayak anak kecil aja."
"Makanya kasih lihat."
"Jangan. Nanti kamu nyesel lihatnya."
"Nggak bakal. Sini aku lihat dulu."
__ADS_1
"Jangan. Percaya deh sama aku. Ini semua demi kebaikan kamu."
Arjuna semakin menjadi-jadi. Dia bahkan sampai mengggelik Jasmine supaya dia mau memperlihatkan apa yang baru saja dilihat Jasmine di ponselnya.
"Oke, oke.. kalau kamu maksa aku kasih tunjuk. Stop.. geli.."
"Kamu janji ya."
"Iya, iya.."
Akhirnya Arjuna menurut dan berhenti menggelitik Jasmine.
Melihat ada kesempatan, Jasmine langsung mencoba untuk kabur namun gagal. Arjuna lebih dulu meraih tangan Jasmine dan menahannya untuk lari.
"Kan.. mau curang."
"Oke, oke aku kasih tunjuk. Tapi nanti kamu jangan nyesel ya. Aku udah ngasih peringatan. Jangan bilang kalau aku nggak ngingetin."
"Udah ah lama. Jadi kasih lihat nggak."
"Iya, ini. Lihat sendiri."
Merasa menang Arjuna tersenyum senang saat menerima ponsel Jasmine. Dia akhirnya bisa melihat apa yang membuat Jasmine terus tersenyum di sepanjang lorong.
"Ini... Mama!!"
"Haha... Kamu harus sering-sering pakai celemek itu. Kamu cocok banget pakai itu." Komentar Jasmine saat Arjuna mulai membuka foto yang dikirim mamanya.
Merasa foto-foto itu hanya berisi aibnya. Arjuna langsung mencoba menghapus gambar-gambar yang dikirim oleh sang mama pada Jasmine.
Jasmine yang melihat gelagat aneh Arjuna langsung tahu apa isi dalam otaknya.
"Kamu mau hapus ya. Jangannnn...."
Jasmine melompat mencoba merebut ponselnya kembali saat Arjuna mengangkat tinggi-tinggi lengannya.
Kini Arjuna menahan kepala Jasmine dengan sebelah tangannya agar dia oebih leluasa untuk menghapus semua foto-foto itu.
Semua gambar sudah berhasil di hapus oleh Arjuna. Setelah itu Juna membiarkan Jasmine mendapatkan ponselnya kembali. Dia mengecek gambar-gambar itu. Benar saja, Arjuna sudah menghapus semuanya.
Jasmine tampak kesal melihat Arjuna tersenyum penuh kemenangan setelah menghapus semua foto-foto itu.
"Tapi nggak pa-pa sih. Aku sudah menyimpan fotonya di cloud juga." Ujar Jasmine sambil berlalu dan tersenyum mengejek pada Arjuna.
Senyum Arjuna langsung menghilang. "Kamu gila ya? Hapus nggak."
Arjuna kembali berusaha merebut ponsel Jasmine kembali. Tapi kali ini Jasmine lebih gesit untuk bisa kabur.
__ADS_1
"Nggak mau. BeTeWe makasih buat cokelat dari mamanya. Jangan lupa bilang sama Tante Sheila aku akan memakannya dengan baik." Ucap Jasmine yang semakin membuat Arjuna malu bercampur kesal.
#